CINTA GADIS PENDOSA

CINTA GADIS PENDOSA
SAKIT TANPA AKHIR


__ADS_3

JENNY POV


“Aku berharap kamu adalah ibuku.”


Kalimat yang di ucapkan Leo akhir pekan lalu terus berputa-putar dikepalaku. Aku tidak pernah berpikir hal seperti itu bisa menyentuh hatiku. Aku terus bertanya apakah semua ini benar? Tentu saja jawabannya salah, tapi aku tidak bisa menghentikan ini sekarang.


Akhir pekan lalu adalah akhir pekan yang luar biasa. Semuanya tampak jatuh pada tempatnya. Aku pergi berbelanja dengan Irene, mengambil semua kepercayaannya untukku. Lalu mengajak Leo keluar untuk bermain. Aku ingin mereka merasa bahwa ibu mereka bukan ibu yang baik. Aku senang rencanaku tampaknya berhasil. Beberapa bahkan melebihi harapan. Namun beberapa hal juga menggangu.


Setelah Daniel menceritakan semuanya, tentang bagaimana buruknya Ketrin dan Sean, dia menghindariku. Bahkan aku tidak tahu rencananya, apakah dia akan mengambil hak asuh  Leo atau tidak. Leo benar-benar menggangguku. Aku sudah bertekad untuk menjadi kejam tanpa belas kasih. Tapi bocah 4 tahun itu tidak mengerti apa-apa, dia bahkan tidak tahu ayah kandungnya. Ibu dan ayahnya yang selingkuh. Ku rasa aku harus sedikit berbelas kasih padanya.


Hari ini aku meminta cuti pada Ruby, kepalaku terasa penuh. Aku pura-pura sakit, dia memaksa untuk merawatku, namun aku beralasan bahwa ada Lucas yang menjagaku. Benar, aku juga sangat kesal pada Lucas yang sampai sekarang bahkan dia tidak berbicara apapun padaku tentang rasa sakitnya. Bagaimana bisa dia setegar itu. Aku benci siapapun yang menyakitinya.


Aku memikirkan semua perkataan Daniel. Seharusnya aku bahagia, dengan semua kenyataan itu. Bukankah lebih mudah menghancurkan semuanya. Daniel, Sean, Ketrin, Ruby akan mengusir mereka semua dari hidupnya. Itu yang aku harapkan, tidak ada siapapun di sisi Ruby. Hingga dia merasa hancur dan kesepian. Tapi aku ingin melindungi Leo, anak kecil itu harus mendapatkan keluarga yang layak.


Saat sedang memikirkan semuanya, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara pintu yang di pukul-pukul berapa kali dengan keras. Jelas tidak mungkin itu Lucas maupun Ruby. Aku segera ke depan dan membuka pintu. Terkejut melihat ibuku dengan wajah merahnya dan penampilan yang sedikit berantakan.


“Untuk apa kamu datang ke si …” tamparan keras menghentikan kalimatku. Aku memegang pipiku yang sakit. Air mataku menggenang secara tiba-tiba.


“Dasar anak kurang ajar, tidak tahu di untung,” ibuku mendorongku sampai masuk ke dalam apartemen, menutup pintu. Dia memukulku sekali lagi. Aku tidak bisa melawannya karena sangat terkejut. Mengingatkanku pada 9 tahun lalu saat dia menyiksaku karena aku mengadu bahwa suami mudanya telah memperkosaku.


“Aku sangat yakin sejak awal, kamu adalah seorang penggoda. Kamu pasti menggoda suamiku terlebih dahulu agar dia menidurimu dan sekarang kamu mencoba membunuhnya dengan memasukkan suamiku ke dalam penjara,” aku di seret sampai ke kamar mandi dengan dia yang menjambak rambutku.


“Tolong lepaskan ini sakit ibu, aku tidak mengerti apa yang kamu katakan,” suaraku pecah, aku sangat takut tidak ada siapapun yang bisa menolongku. Aku memeluk kakinya memohon supaya dia berhenti menyiramku dan memukulku.


“Kalau sampai suamiku benar-benar membusuk di penjara, aku akan membunuhmu. Dasar anak tidak berguna,” menendang punggungku sampai aku jatuh tertelungkup.


“Hentikan ibu …, ini sakit. Aku tidak mengerti apa yang kau katakan,” aku kesakitan, seluruh tubuh ku, jiwaku, hatiku. Kuharap dia membunuhku sekalian, aku lelah.

__ADS_1


“Dengar,” ibu menarik rambutku sampai wajahku mendongak menghadapnya. “Cepat hubungi pria jal*ng mu itu untuk segera mencabut tuntutannya. Aku yakin kamu menggunakan tubuhmu untuk merayunya dan menguras hartanya. Dasar pelac*r kecil. Aku malu telah melahirkanmu.” Dia menendang kakiku sebelum pergi meninggalkanku yang penuh luka.


Luka tubuh akan hilang setelah mengobatinya, tapi dia telah menambah luka batinku yang tidak akan pernah sembuh. Aku kesakitan, aku ingin mati, aku tidak sanggup lagi menahan sakitnya jiwaku. Kepalaku pusing, dan perlahan-lahan pandanganku kabur.


...****************...


Aku membuka mataku perlahan, kepalaku dan seluruh tubuhku sangat sakit. Seseorang tengah menggenggam tanganku erat.


“Jen, Jenny …, kamu sudah sadar sayang,” itu suara Ruby. Aku melihat ke samping. Dia duduk dengan cemas sambil menggengam tangaku.


“Bagaimana? Apa yang kamu rasakan? Apakah sakit,” aku tidak mampu menjawab, pikiranku tersadar kembali. Aku mengingat bagaimana ibuku menyiksaku untuk kesekian kalinya dan aku mengingat semua umpatan kebenciannya.


“Hey jangan takut, ada aku di sini,” Ruby menghapus air mataku yang membasahi pipiku. Aku melihat-lihat ke samping, ke belakang Ruby. Aku berharap ada Lucas. Aku ingin Lucas. Aku ingin dia memelukku.


“Siapa yang kamu cari?” Ruby ikut menengok ke belakang. “Kamu mencari Lucas?” aku hanya mengangguk sebagai jawaban. “Aku sudah menelfonnya kemarin sore, dia langsung melakukan penerbangan dari London. Dia akan segera sampai.” Ruby mengelus tanganku mencoba menenangkan. Dia terus berbicara dan bertanya, tapi aku benar-benar tidak ingin berbicara dengan siapapun kecuali Lucas.


Aku  tertidur kelelahan karna banyak menangis


...****************...


Lucas menangis setelah melihat keadaan adiknya yang penuh luka. Dia sedang tertidur dengan Ruby disampingnya.


“Bagaimana keadaannya?” Lucas berjalan mendekat, suaranya lemah.


Ruby segera berdiri dan mempersilahkan Lucas untuk disamping Jenny.


“Dia sedang tertidur karena banyak menangis. Sejak tadi dia tidak mau berbicara, dia terus memanggil

__ADS_1


namamu.” Ruby memperhatikan Lucas yang menangis tanpa suara.


“ Aku menemukannya di kamar mandi dengan keadaan pingsan. Aku berniat membawakannya makanan. Dia cuti karena sakit, tapi dia berbohong. Dia bilang ada kamu yang menjaganya, ternyata kamu ada di luar negri. Siapa yang melakukan ini padanya? Kau pasti tahu bukan?” Ruby menepuk pundak Lucas yang bergetar karna menangis.


“Aku sangat berterima kasih kamu telah mengubungiku segera. Maaf aku tidak bisa memberitahumu. Di waktu yang tepat mungkin Jenny akan menceritakannya padamu.” Ruby mengangguk mengerti.


“Maaf, tapi bisakah kau tinggalkan kami berdua? Ada banyak hal yang harus kami bicarakan. Kamu juga terlihat sangat kelelahan." Lucas menatap Ruby yang tampak lelah.


“Ya tentu saja. Sepertinya dia memang sangat membutuhkanmu saat ini. Aku akan pulang, harap kabari jika ada apa-apa,” Ruby mengambil jas yang di letakkan sofa.


“Terima kasih telah menolongnya,” Lucas berkata sebelum Ruby keluar dari pintu, ini pertama kali baginya berbicara dengan Ruby.


“Ya sama-sama. Aku harap kamu bisa menenangkannya.” Ruby pergi dan menutup pintu.


Lucas memandangi wajah Jenny yang tampak kesakitan, kedua pipinya lebam. Tangan dan kakinya terdapat luka dan lebam ungu. Lucas sudah bisa menebak siapa yang melakukannya. Dia sudah pernah melihat keadaan Jenny yang seperti ini dulu.


Jenny menggeliat, membuka mata perlahan sambil meringis kesakitan.


“Hey kamu bangun? Aku disini,” Lucas mengusap lembut kepala Jenny saat dia membuka pintu.


“Lucas?” suaranya serak karena terlalu lama menangis. Matanya bengkak dan merah.


“Ya aku disini. Kamu tidak perlu takut.” Lucas memeluk Jenny, tangis keduanya pecah.


“Aku lelah, aku ingin mati saja. Hatiku sakit, dia bilang malu telah melahirkanku.” Jenny menangis histeris di pelukan Lucas.


“Jangan berbicara seperti itu. Ada aku disini, aku tidak akan membiarkan kamu pergi sebelum kamu bahagia. Maaf …, lagi lagi aku tidak ada disaat kamu membutukanku. Ini salahku.” Jenny menggeleng. “Tidak ini bukan salahmu, bukan.”

__ADS_1


“Jangan takut lagi, aku benar-benar akan menjagamu. Aku akan pindah ke apartemen lagi bersamamu. Aku tidak akan biarkan ibumu bahkan siapapun dapat menyakitimu lagi. Aku akan menampar siapapun yang menamparmu. Aku janji.” Lucas menangis sambil memeluk erat Jenny, hatinya hancur melihat Jenny yang kesakitan.


Lucas menahan diri untuk tidak bertanya apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa ibunya tiba-tiba memukul Jenny. Yang terpenting saat ini baginya adalah kesembuhan dan keamanan Jenny.


__ADS_2