
“Sayang, ada apa? Ibu perhatikan kamu terlihat sedih setelah perayaan kelulusan.” Aku mengusap kepala putriku dengan lembut. Sejak pulang dari acara kelulusan, Haru terlihat murung dan sedih, padahal tadi pagi dia sangat senang dan bersemangat.
Haru hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
“Hei ada apa dengan putri ibu hem? Ayo katakana saja, ibu akan mendengarkan Haru.”
Haru menatapku dengan mata polosnya yang tampak sedih. Haru adalah anak yang selalu ceria dan bersemangat, melihatnya murung membuat hatiku sakit.
“Ibu, tadi di sekolah Suzy bilang dia akan pergi ke jalan-jalan bersama ayah ibunya untuk merayakan hari kelulusan. Teman-temanku yang lain juga setiap akhir pekan juga pergi jalan-jalan bersama keluarganya.”
Aku menggenggam tangan kecilnya yang halus, aku merasa menyesal karena tidak memperhatikan keinginan putriku yang juga ingin pergi bermain seperti teman-temannya.
Semenjak tinggal Desa Gamcheon yang terletak di pelosok Busan, aku membuka kedai mie untuk menyambung hidup, juga untuk biaya Haru sekolah. Semenjak dia berusia 5 tahun, dia akan bangun pagi dan membantuku menyiapkan mie, lalu pergi mandi dan bersiap kesekolah ikut dengan Suzy anak tetangga depan rumah. Aku senang banyak yang menyayangi Haru, Haru anak yang gampang berbaur dan suka berteman. Tapi, aku malah terlalu sibuk bekerja sampai melupakan bahwa Haru adalah anak kecil yang butuh hiburan dan bermain denganku.
__ADS_1
“Maafkan ibu sayang, ibu terlalu sibuk bekerja sampai tidak tahu keinginan Haru. Bagaimana kalau besok kita pergi ke Busan kota? Haru boleh membeli apapun semua yang Haru mau.” Aku menangkup wajah kecilnya, tapi Haru tetap murung. Dia menatapku sambil menggelengkan kepalanya.
“Kenapa tidak mau? Bukankah Haru ingin pergi jalan-jalan dan berlibur?” aku mencoba mencari tau dari matanya, namun kalimat yang ku dengar dari Haru setelahnya membuatku hancur.
“Ibu aku mengerti ibu sibuk bekerja untukku, aku tidak apa-apa menghabiskan hari libur hanya bemain di rumah. Tapi aku ingin seperti Suzy dan teman-teman yang lain, mereka bermain dengan ayah dan ibu mereka.”
Aku menatapnya dengan jantung berdegup kencang, aku tidak siap untuk mendengarnya sekarang.
“Ibu …,aku ingin bermain dengan ayah juga. Aku juga ingin bercerita tentang Ayah kepada teman-temanku. Kenapa aku tidak pernah melihat ayah, ibu? Suzy bilang kalau seorang ayah mencintai anaknya, dia akan bermain dan memeluk anak-anak mereka setiap hari. Ibu …, kenapa ayah tidak ada disini bersama kita? Apa ayah tidak mencintaiku? Apa aku berbuat nakal? Sehingga ayah tidak mau bermain denganku?” Haru menumpahkan semua pikirannya.
Aku memeluknya dan mendudukkannya di pangkuanku, memeluknya erat. Air mata tanpa sadar mengalir tanpa bisa tertahan, hatiku hancur, ketika Haru mengatakan ayahnya tidak mencintainya. Aku tidak pernah tahu jawaban apa yang harus kukatakan saat Haru menanyakan ayahnya.
“Sayang, maafkan ibu,” aku mengusap punggungnya di saat aku yang menangis. “Jangan berkata seperti itu. Haru tidak nakal kok. Ayah haru …, ayah haru sedang bekerja jauh di luar negri.” Aku tergagap saat aku mencoba berbohong pada putriku.
__ADS_1
“Kapan ayah akan pulang ibu?” Haru menatapku dengan penuh harap sambil mengusap air mataku. “Kenapa ibu menangis? Ibu juga merindukan ayah?”
Aku menarik nafas berat, rasanya dadaku terhujam benda tajam, membuatku sulit bernafas.
“Ibu menangis karena menyesal tidak mengetahui keinginan Haru. Dengarkan ibu sayang, ibu tidak tahu kapan ayah pulang. Bagaimana kalau kita pergi ke Seoul untuk menemui paman Lucas. Haru ingatkan? Ibu pernah bercerita tentang saudara ibu di kota?”
Haru mengangguk sebagai jawaban.
“Untuk sementara apakah tidak apa-apa Haru bermain dan pergi berlibur dengan paman Lucas dulu, sementara ibu akan mencoba menghubungi ayahmu, apakah dia bisa segera menemui Haru. Oke?”
“Apakah ibu berjanji?” aku menatap Haru ragu, aku tidak tahu apakah ayahnya mau menemui dan mengakui Haru sebagai anaknya.
“Iya sayang, ibu berjanji.” Aku memeluk dan mencium kening Haru.
__ADS_1
Aku belum siap untuk apa yang akan datang. Aku tidak pernah memikirkan apa tanggapan Daniel tentang Haru. Aku hanya takut. Aku takut mendengar kata-kata yang menyakitkan. Mungkin aku bisa menahan sakit demi Haru. Tapi aku tidak ingin melihat satu-satunya mata yang tulus menatapku setiap pagi akan terluka.