
"Maaf Tuan, ada tamu yang ingin berjumpa dengan anda," Jeon yang merupakan sekretaris Ruby memberitahu.
"Aku sedang tidak ada janji dengan siapapun, jadi tolak saja," perintah Ruby tegas.
"Maaf Tuan dia bilang hanya sebentar, dia mengatakan namanya Jenny dan Tuan Ruby mengenalnya," Kata Jeon ragu-ragu. Ada hening sebentar sampai Ruby menjawab.
"Baik, suruh masuk."
Jeon menutup telfon dan melihat ke arah Jenny yang berdiri dengan gugup sambil terus tersenyum sopan.
"Anda bisa masuk Nyonya."
"Oh baik terima kasih banyak," Jenny membungkuk beberapa kali kepada Jeon.
__ADS_1
Dengan sangat gugup Jenny membuka pintu kantor yang tak asing baginya, dia sangat takut dan cemas, namum Jenny tidak bisa mundur kali ini. Dia sudah bertekad, untuk meminta maaf kepada orang-orang yang telah dia sakiti.
"Selamat siang," Jenny masuk dengan hati-hati. Matanya bertemu dengan tatapan Ruby yang nampak terkejut dan terpaku di depan mejanya.
"J-jenny?"
Jenny ragu-ragu namun terus melangkah, "Y-ya ini aku, bagaimana kabarmu?"
Mereka duduk berhadapan, dengan Jenny yang menunduk menatap sepatunya. Rasanya jantungnya berdetak sangat cepat, seiring banyaknya penyesalan yang dia rasakan atas apa yang terjadi di masa lalu.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Lucas sangat mencemaskanmu, dia terus berusaha mencarimu," Ruby menatap Jenny yang tampak sangat berubah. Tidak ada lagi Jenny dengan image seksi dan berani. Jenny di hadapannya adalah seorang wanita yang terkesan sopan, malu dan sangat gugup.
"Aku juga baik-baik saja," Jenny akhirnya berani menatap Ruby. "Aku ke sini berniat untuk minta maaf padamu, maaf aku telah menghancurkan keluargamu. Aku sangat menyesal, aku tahu aku tidak pantas di ampuni. Tapi aku ingin perasan takut dan sesal dihatiku dapat berkurang." Mata Jenny berkaca-kaca saat mengucap maaf.
__ADS_1
Ruby menyandarkan dirinya di kursinya. "Aku juga salah, waktu itu aku juga yang memilih untuk selingkuh. Awalnya mungkin aku marah padamu, tapj lambat laun aku berfikir meskipun bukan karena kamu waktu itu, aku yakin di masa yang akan datang semua kebohongan juga akan terbongkar."
"Bagaimana kabar Irene dan Leo?"
"Ah ..., mereka sangat baik-baik saja. Irene telah menjadi dokter gigi, dan Leo selalu mendapat juara di kelasnya. Aku sangat bersyukur apa yang terjadi di keluargaku tidak mempengaruhi bagaimana mereka berkembang. Aku juga sangat berterima kasih pada Daniel, karena dia telah menjadi ayah yang sangat baik untuk Leo." Ruby tersenyum cerah saat menceritakan tentang anak-anaknya.
Jenny berdebar saat Ruby mengucap nama Daniel, dia ingin menanyakan sesuatu tapi sangat ragu dan itu tidak luput dari perhatian Ruby. Ruby menghela nafas sebelum melanjutkan. "Daniel sudah memberitahuku bahwa dia pernah tidur denganmu. Dia menceritakan karena tidak ingin ada kebohongan lain lagi. Jika itu yang membuatmu gelisah, aku sudah memaafkan semuanya kok, tenang saja. Di usiaku yang sekarang aku benar-benar hanya ingin bersantai menatap anak-anakku dengan bahagia. Aku senang menikmati kebenasan yang tidak aku dapatkan sewaktu muda."
"Itu bagus, aku senang kau benar-benar baik saja. Itu membuat sebuah kelegaan dalam hatiku." Jenny melihat Ruby sambil tersenyum canggung. "Bisakah aku meminta nomer Daniel? Aku ingin membicarakan sesuatu padanya. Tapi jika menurutmu itu mengganggunya tidak apa-apa tidak usah."
"Tentu saja aku akan memberimu, kenapa kau berfikir seperti itu. Aku yakin kalian memang perlu menyelasaikan sesuatu di antara kalian. Aku akan memberitahumu sebagai sahabat Daniel. Aku belum pernah melihatnya peduli pada siapapun selain sahabatnya kecuali kamu. Mendengar bahwa dulu dia membantumu, menurutku memang ada sesuatu antara kamu dan Daniel."
Jenny menatap Ruby, entah dia harus merasa senang atau cemas dengan apa yang disampaikan Ruby.
__ADS_1