
Menatap foto yang Jenny kirimkan padaku beberapa hari yang lalu, aku tidak begitu yakin harus mengatakan apa, jadi aku tidak membalas pesan Jenny, aku terlalu gugup dan hancur. Aku rasa berbicara langsung lebih baik dari pada harus berkirim pesan.
Aku memberitahu Leo bahwa kami akan pulang ke Seoul, tentu saja dia sangat senang. Dia sudah sangat merindukan Ruby, Ketrin dan kakaknya Irene. Namun sebelum itu aku bertanya tentang tanggapannya jika dia punya seorang adik, di malam setelah aku menerima pesan.
"Leo, bolehkah ayah bertanya sesuatu padamu?" Leo menghentikan permainan game nya saat Daniel duduk disampingnya dengan tampang serius.
"Tentu saja ayah, tanyakan saja." Menatap Daniel dengan mata polosnya.
"Begini, Leo selalu anak ayah tentu saja. Leo juga punya ayah Ruby dan mama, itu tidak akan berubah sampai kapanpun. Tapi, ayah baru mengetahui sesuatu bahwa ayah punya seorang putri kecil." Leo hanya menganggukkan kepalanya walaupun tidak mengerti maksud ayahnya.
"Jadi, apakah tidak apa-apa jika ayah mungkin pada suatu hari membawa putri ayah tinggal bersama kita?" Daniel sangat berhati-hati saat bicara dengan putranya, dia sebenarnya ragu untuk membicarakannya pada Leo. Tapi Daniel rasa Leo harus tahu itu.
"Tentu saja tidak apa-apa ayah, aku senang aku akan punya teman di rumah. Tapi ayah, kenapa ayah Ruby tidak memberitahuku bahwa mama melahirkan lagi?" tanya Leo polos.
"Tidak, tidak sayang bukan begitu," Daniel melambaikan tangannya panik. "Putri ayah bukan anak dari mama Leo, dia punya ibu sendiri." Daniel menatap mata Leo yang tampak bingung, anak berumur 11 tahun itu, belum sepenuhnya mengerti.
"Maaf sayang, mungkin ini membingungkan Leo. Tapi suatu saat, ketika Leo beranjak dewasa Leo pasti akan bisa mengerti. Maaf ayah membuat Leo bingung." Daniel menarik Leo dalam pelukannya, membelai kepala anak itu lembut, ingin memberitahu dengan tindakannya bahwa semua akan baik-baik saja.
...****************...
Aku punya anak perempuan. Seorang putri berusia lima tahun bernama Yoon Haru. Sangat sulit untuk mendefinisikan apa yang aku rasakan tetapi hari ini, aku dapat mengatakan bahwa itu adalah kegembiraan yang bercampur dengan kegugupan.
__ADS_1
Ketika aku mengantarkan Leo pada Ruby, dengan tidak sabar aku bertanya alamat Lucas. Aku yakin Jenny dan putriku ada di sana. Aku yakin Lucas akan selalu memberi Jenny perlindungan. Ketika Ruby bertanya padaku apakah ada yang salah, tentu saja aku tidak memberitahunya. Aku ingin cepat sampai disana. Dan aku tidak sabar untuk melihatnya, untuk memeluknya, untuk mendengarnya. Yang terpenting, senyumnya berasal dariku. Itu terbukti. Dia milikku.
Meskipun aku sadar bahwa aku harus mengkonfirmasi ini pada Ruby dan Ketrin, karena tentu saja ini juga berkaitan dengan bagaimana Leo hidup bersamaku. Tapi, untuk saat ini fokusku adalah putriku."
Jantungku berpacu menjadi lebih cepat ketika aku menunggu pintu rumah berwarna putih itu terbuka. Itu rumah yang luas dengan taman bunga di depannya. Tak lama bunyi kenop pintu berputar, dan pintu terbuka. Yang aku lihat pertama kali adalah bagaimana Lucas menatapku terkejut, itu terlihat dimatanya. Meskipun dia tidak berekspresi seperti biasanya.
"Hai, sudah lama sekali," aku menyapanya, tidak bisa tersenyum seperti biasanya mengingat betapa gugupnya aku, kakiku gemetar.
"Silahkan masuk,"
Aku berjalan masuk, mengikuti Lucas dibelakang punggungnya. Namun belum sampai di ruang tamu, aku bertanya dengan tidak sabar. "Bisakah aku melihat putriku? Apakah putriku ada di sini?" aku mendengar suaraku hampir pecah.
Lucas melihatku, aku yakin dia tahu bahwa aku gemetar. Berbalik dia memanggil sebuah nama, anakku. Dia berteriak tapi tidak keras.
Aku melihatnya keluar dari sebuah kamar di seberang. Dia berlari kecil menuju Lucas dan memeluk kakinya. Aku mengepalkan tanganku di sisiku, mencoba menahan semua emosi yang ada dalam diriku semenjak beberapa hari yang lalu. Bagaimana seorang pria berusia 45 tahun bisa begitu gugup bertemu dengan seorang anak berusia 5 tahun? Mengambil napas dalam-dalam, aku mendekat ke arahnya, berlutut didepannya.
Dia sederhana tapi selalu tersenyum. Memegang erat kaki lucas sambil terus menatapku bingung
Matanya mirip ibu nya, Itu bulat dan ekspresif. Tapi keseluruhan, dia seperti kembaranku. Dia ragu-ragu untuk berbicara. Aku mengerti. Aku orang asing.
"Jangan khawatir, aku bukan orang jahat. Apakah kamu Haru?"
__ADS_1
Sekali lagi, dia tidak berbicara. Tapi aku tahu dia penasaran. Aku ingin mengatakan kepadanya bahwa aku adalah ayahnya, tetapi itu tersangkut ditenggorokanku.
Aku dengan hati-hati meraih tangannya, memberinya tatapan meyakinkan bahwa aku bukan orang jahat, aku menggendongnya, mendudukkannya di pangkuanku saat aku kembali duduk. Kami memiliki tahi lalat yang sama di bawah mata dan bibir. Aku berusaha menahan air mataku, aku tidak bisa menangis. Tidak di depannya. Kemudian dia berbicara dan jantungku berdetak kencang. "Kamu juga punya tahi lalat di sini." Suaranya sangat kecil tapi terdengar indah di telingaku. Sejujurnya aku ingin meninju diriku sendiri untuk memastikan aku tidak sedang bermimpi.
Ada saat-saat ketika aku merasa kosong. Aku bahagia tapi aku merasa kosong. Aku terus menemukan di dalam diriku apa yang aku lewatkan untuk mengisi kekosongan. Dan sekarang, aku menemukan satu hal yang hilang dalam hidupku.
Sukacita.
Perasaan puas yang akhirnya, aku bisa melihat, berbicara, dan menggendong putriku dari orang yang aku cintai. Dan berharap bahwa segera, dia akan mengakui aku sebagai ayahnya.
Aku memejamkan mata. Dadaku terasa sangat sakit. Aku diliputi kegembiraan yang berani aku hadapi hari ini. Aku melihat lucas mengelus rambut Haru dengan hati-hati.
"Haru... sayang... dia ayahmu."
Haru dengan cepat mengalihkan pandangannya ke Lucas lalu kembali padaku. Dia melompat turun dari pangkuanku dan menatapku sebentar. Dia menatap Lucas, matanya meminta sebuah konfirmasi. Lucas mengangguk.
Dia mendekat kembali padaku. Aku sudah bisa merasakan air mata jatuh dari mataku saat aku menatap putriku. "Halo, ayah. Namaku Haru."
Kurasa Haru kaget ketika aku memeluknya begitu erat dan membiarkannya duduk di pangkuanku sekali lagi. Haru tersenyum menyeka air mataku. Aku terus menangis tanpa suara saat memeluknya, begitu banya kerinduan, rasa sakit, yang ku tahan selama ini. Jika waktu bisa diputar kembali, aku tidak ingin pergi hari itu. Aku ingin menjadi orang pertama yang menyaksikan bagaimana putriku lahir. Aku ingin berada di sisinya setiap hari, mengantarnya sekolah, bermain, dan mendengar bagaimana putriku dengan senang menceritakanku pada teman-temannya.
Aku tidak tahu sejak kapan Lucas meninggalkan ruang tamu. Aku yakin dia memberiku dan Haru waktu untuk mengisi kerinduan selama ini.
__ADS_1
Meskipun takkan pernah cukup.