
Ruby Pov
Dia menggiling pinggulnya lebih banyak. Pant*tnya menampar pahaku. Aku bisa merasakan kursi pesawat bergerak saat dia memantul di atasku. Keringat kami bercampur dengan nafsu yang kuat saat aku mengarahkan pinggulnya dengan tanganku. Dia bergerak dengan ahli, seperti itu adalah pekerjaannya. Dia luar biasa. Tubuhnya menggigil dan lengannya menegang di leherku. Aku bisa merasakan kejang di perutku. Aku memejamkan mata, aku akan datang.
“J-jenny …”
“Tuan Ruby?”
Aku membuka mata, itu ruang sempit. Ruangan itu redup dan dingin tapi aku bisa merasakan keringatku mengalir di pelipisku dan menetes ke leherku. Dadaku naik turun dan nafasku cepat. Kain dibawah celana ku tampak mengembung dan keras.
“Tuan Ruby?”
Jenny menatapku. Wajahnya tidak bingung tapi agak geli. Aku bisa tahu dari senyum di wajahnya. Aku baru menyadari bahwa aku sedang berbaring di tempat tidur pesawat. Aku hanya bermimpi. Semuanya adalah mimpi.
Aku melihat bagaimana mata Jenny berlama-lama di dadaku, ke perutku. Aku cepat-cepat bergeser di tempat tidur saat aku menyadari ke mana matanya akan pergi selanjutnya. Aku tahu akan memalukan begitu dia melihat gumpalan yang terbentuk di bawah sana. Aku duduk, menarik baju di samping bantalku dan memakainya.
“Kita akan mendarat dalam 1 jam. Jadi, kupikir kau harus tahu.”
Jenny memberiku seringai sebelum keluar dari kamar. Aku tidak percaya akan memimpikan sesuatu seperti itu. Apakah aku menyebut namanya dengan keras? Apakah aku mengerang namanya dalam tidurku? Pikiran itu membuatku merasa bersalah. Aku harus memikirkan istriku bukan orang lain.
...****************...
Jenny memberiku kartu untuk penthous yang sudah dia sewa, untuk kami tempati selama 5 hari. “Saya memesan penthous yang tidak terlalu besar, semacam vila. Itu penthous mewah yang sederhana. Kamar anda berada di dekat ruang santai. Dan kamar saya berada di dekat dapur.”
Dalam beberapa minggu terahir aku memilikinya sebagai asisten, aku dapat mengatakan bahwa dia cerdas, cepat, dan berpendirian keras. Dia bisa menyelesaikan pekerjaannya, tidak peduli seberapa banyak dan terburu-buru, dia selalu tepat waktu. Dengan salma, aku selalu mengoreksi laporannya, tetapi dengan Jenny, aku kagum melhat bagaimana laporan itu dapat diselesaikan dengan sempurna. Saya sangat terkesan dengan bagaimana dia menangani pekerjaannya.
Sisi negatifnya, dia adalah seorang penggoda. Aku ingat Sean memperingatkanku tentang Jenny untuk memindahkannya ke departemen lain. Aku bertanya-tanya mengapa, tapi mungkin Sean tahu sesuatu bisa saja terjadi. Aku mencoba meyakinkan diriku, mempercayai diri sendiri bahwa meskipun aku tertarik tidak akan sejauh itu.
Penthous yang dia pesan adalah yang belum pernah dipesan Salma. Bagiku tidak jauh berbeda satu sama lain. Tapi kali ini, Jenny melakukan sesuatu yang membuatku takjub.
__ADS_1
“Saya meminta tirai dan seprai coklat tua, pembersih udara untuk area ruang tamu, ruang makan, dan kamar tidur anda juga. Juga saya meminta untuk kamar anda fasilitas yang sudah disiapkan lengkap.”
Jenny membuka tirai. Merupakan nilai tambah bahwa dia tahu warna favoritku dan berusaha untuk membuatku nyaman. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan Salma dan sayangnya Ketrin juga.
Jenny meletakkan tas laptop dan tas bisnisku di atas meja dekat jendela besar yang menghadap ke kolam. “Ini kursimu. Kamu bisa mengatur kemiringan dan sudutnya. Dan juga ini kursi pijatmu.”
Akhirnya, matanya tertuju padaku, seolah dia menunggu reaksiku. “Jen, sejujurnya aku tidak bisa berkata apa-apa. Maksudku aku sudah terbiasa dengan Salma yang hanya memesankan Rumah atau hotel untukku. Tapi apa yang kamu lakukan benar-benar luar biasa. Sungguh, terima kasih.”
Dengan seringai di wajahnya, dia berjalan ke tempatku berdiri dan dengan gerah memperbaiki kerah kemejaku. “Aku tahu persis bagaimana menyenangkan pria.”
“Jen …”
Jenny terkikik saat dia melangkah mundur. “Ayahku biasa membawaku dalam perjalanan bisnisnya. Itu sebabnya. Omong-omong, apakah kamu ingin aku membuatkan makan siang? Atau, kamu ingin jalan-jalan dan makan bersamaku di suatu tempat?”
Suaranya sangat rendah dan terkesan menggoda. Wajahnya yang seksi hanya menambah kesan untuk suaranya. Jika aku adalah orang yang lemah, aku rasa aku sudah menghimpitnya di atas meja kerjaku.
“Ya. Aku rasa memang perlu makan, itu jika kamu tidak keberatan membuatkanku makan siang.”
“Baiklah, saya tidak keberatan untuk membuatkannya.”
“Kalau begitu aku akan menyegarkan diriku untuk berenang selagi menunggu.” Aku meletakkan jaketku dan menuju pintu. Parfumnya yang lembut memberitahuku bahwa dia tepat dibelakangku. Dan aku tahu mengapa aku merasa dia menatap saat aku berjalan, membuat bulu kudukku berdiri.
...****************...
Melihat Jenny saat dia makan, aku memperhatikan etiket makannya. Cara dia memotong daging dan memakannya, aku yakin bahwa dia tumbuh dalam keluarga kaya. “Apakah kamu masih tinggal dengan orang tuamu?”
Dia selesai mengunyah makanannya dan dengan lembut meletakkan pisau dan garpu di piringnya. “Aku sudah hidup sendiri selama 7 tahun, dulu aku tinggal bersama Lucas. Tapi, dia pindah sejak berpacaran dengan Rania dan memberikan apartemennya untukku."
“Dengan Lucas?”
__ADS_1
Dia mengngguk, senyumnya halus, aku tahu dia menyimpan sesuatu.
“Kau tinggal berdua dengan Temanmu?”
“Aku kabur dari rumah, dan lucas merawatku seperti aku adalah adik kecilnya yang selalu dia lindungi. Aku menganggapnya sebagai keluargaku sendiri.”
Jenny menyesap anggur. Aku tahu bahwa dia tidak nyaman berbicara tentang kehidupan pribadinya. Meskipun aku masih sangat penasaran dengan pria bernama Lucas itu.
“Maaf sudah bertanya. Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman.”
Dia menggelengkan kepalanya, tangannya perlahan melintasi dan memegang tanganku. “Tidak apa-apa. Aku tidak tersinggung. Itulah kebenaranku, tidak ada yang disembunyikan.”
Dia melepaskan tangannya dari tanganku, tapi aku masih bisa merasakan kelembutannya. Aku ingin tahu mengapa dia menginginkan perhatianku. Sebenarnya, aku ingin percaya bahwa dia hanya mencari figure cinta seorang ayah. Keberaniannya menggoda membuatku penasaran, apa yang membuatnya melakukan itu? Apa dia benar-benar tertarik padaku?
“Ayahku meninggal 9 tahun yang lalu. Aku berusia 16 tahun. Ibuku menikah lagi setelah beberapa bulan dengan seorang pria muda yang menganggur. Aneh bagaimana dia berfikir hidupnya sempurna dengan seorang pria malas sialan yang bahkan pemabuk. Aku minta maaf atas kata-kataku. Tapi ya, aku sangat kecewa dengan keputusan ibuku.”
Aku perhatikan matanya berkaca-kaca. Jadi aku benar, dia memang mencari figure seorang ayah. “Aku sedih mendengarnya. Apakah kamu bertanya pada ibumu alasan mengapa dia menikah dengan pria itu?”
Jenny terkekeh. “Kurasa pertanyaannya seharusnya, mengapa dia memilih ibuku? Ibuku suka pujian. Dia terjatuh dalam perangkapnya. Aku tidak keberatan jika ibuku jatuh cinta dengan pria yang lebih muda. Usia hanyalah angka, tapi kuharap dia menikah dengan seseorang yang bertanggung jawab dan tidak hanya mengejar uangnya.”
Aku tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Jenny adalah orang yang sangat misterius. Satu hal yang pasti, aku yakin masalahnya dengan ibunya begitu serius sehinga dia melarikan diri dari rumahnya.
“Kita terlalu serius di sini,” dia tertawa sambil memasukkan sepotong brokoli ke dalam mulutnya. “Bagaimana denganmu? Apakah kamu tertarik pada wanita muda?”
Aku bisa mengabaikan pertanyaannya, tapi aku bisa merasakan bahwa dia mengarahkanku untuk menjawab jika aku tertarik padanya. “Aku ingin pria dewasa.”
“Hm ...,” aku melihat matanya menatap cincin di jariku. “Aku tahu kamu berfikir bahwa aku hanya mencari figure cinta seorang ayah. Biar kuperjelas, aku tidak. Aku tahu persis apa yang kuinginkan dan … bisa jadi orang yang duduk tepat di depanku adalah orang yang sangat ku inginkan.” Jenny menyeruput anggurnya sekali lagi, bibirnya melengkung ke atas, matanya menatapku panas.
Satu hal yang aku pelajari tentang Jenny hari ini, dia berani dan suka mengambil resiko.
__ADS_1