CINTA GADIS PENDOSA

CINTA GADIS PENDOSA
INSTING


__ADS_3

“Kamu terlihat lelah. Bagaimana lemburmu?” Ketrin bertanya sambil membantu suaminya melepas jasnya dan menggantungnya. Ruby tidak bergeming untuk menatap Ketrin. Dia memang lelah tapi bukan karena pekerjaan. Tapi dari se*ks sepanjang malam dengan wanita lain.


“Ya, aku sangat lelah. Aku akan mandi dulu,” Ruby mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Ketrin mengetuk pintu, “Sayang, apakah kamu ingin aku memasak sup untukmu?”


Setelah mendengar ya dari balik pintu, Ketrin kemudian menatap ke arah jas yang digantung. Intuisinya memberitahunya bahwa ada sesuatu yang aneh.


Mencondongkan hidungnya lebih dekat, dia bisa mencium bau parfum yang berbeda, itu bukan parfum suaminya. Dia tahu dia pernah menciumnya di suatu tempat, tetapi dia tidak ingat di mana atau siapa yang memakai parfum seperti itu.


Menutup matanya dan menepis pikiran negatifnya, dia menarik napas dalam-dalam, saat dia keluar dari kamar tidur untuk menyiapkan sup untuk Ruby.


...****************...


Beberapa hari telah berlalu. Jenny melanjutkan apa yang telah dia mulai. Masih membawakan makanan untuk Ruby. Dia selau berusaha seprofesional mungkin di kantor. Tapi Jenny merasa Ruby seperti mengabaikannya. Situasi itu membuat Jenny waspada, dia takut kalah. Jenny mencoba memikirkan cara untuk dapat membuat Ketrin dan Ruby bertengkar segera mungkin.


Sama seperti hari kerja lainnya, Jenny meletakkan secangkir kopi favorit Ruby di atas meja. Dia kemudian membuka wadah makanan dengan buah-buahan segar dan sereal. “Aku sedang terburu-buru, aku tidak bisa menyiapkan sandwich untukmu. Kuharap semangkuk sereal sudah cukup.”


“Tidak apa-apa. Aku makan sesuatu sebelum pergi ke sini.”


Jenny terkejut mendengarnya. Ruby tidak pernah sarapan di rumah karena Ketrin tidak pernah menyiapkan makanan untuknya. Dia ingat Ketrin akan belajar memasak. Mendengarnya makan sesuatu terasa seperti ancaman besar baginya dan entah bagaimana, membuat hatinya sedikit sakit. Dan Ruby menyadarinya.


“Kenapa kau tidak bergabung denganku sekarang? Aku tidak menikmati sarapan pagi ini. Aku selalu mencari sarapanmu,” Ruby berdiri dan menarik kursi. Menempatkannya di sampingnya agar Jennyy bisa duduk di sampingnya. Sambil memegang tangan Jenny, Ruby tersenyum dan menatap mata Jenny. Dia tahu dia tidak sengaja mengabaikan Jenny beberapa hari ini.


“Sudah kubilang, kamu tidak perlu melakukan apapun untuk menghiburku.”


Ruby tersenyum dan mengencangkan tangannya di tangan Jenny. “Tapi aku mau. Maaf, aku tidak sengaja mengabaikanmu. Pikiranku sedang kacau, aku tidak bermaksud menyakitimu.”


Mendekatkan wajahnya, bibir Ruby menyentuh bibir Jenny. Ciuman itu lembut pada awalnya tapi perlahan-lahan semakin intensif saat Jenny berdiri untuk duduk di pangkuan Ruby. Sebuah erangan keluar dari mulut Ruby ketika Jenny menggosokkan pant*tnya ke anggota tubuh Ruby. Mengambil jeda sejenak.


“Aku takut ada orang yang tiba-tiba masuk, jika kita melakukannya disini,” Jenny berbisik di depan bibir Ruby. Nafasnya panas.


“Aku akan berusaha cepat.” Ruby menciumnya kembali, kasar dan dalam.


Ruby berdiri, menggendong Jenny dan meletakkannya di atas mejanya. Memposisikan dirinya di antara kaki Jenny. Ruby menjauh dari ciuman itu, dia membuka lacinya hendak mengambil kond*m. Namun dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka tiba-tiba.

__ADS_1


Itu Daniel berdiri terkejut setelah menutup pintu, melihat ke arah Jenny dan Ruby dengan pakaian yang lusuh. Jenny segera turun dari meja karena malu.


“Ah, maaf. Aku tidak bermaksud mengganggu. Kupikir setengah jam yang lalu kamu mengirimiku pesan untuk datang. Jadi aku tidak menyangka, maaf.” Kata Daniel, berusaha untuk tidak melihat lagi ke arah Jenny yang sedang membenarkan kancing bajunya.


“Tidak tidak. Aku mengerti. Maaf, aku lupa kalau aku ada janji denganmu.” Ruby tersenyum gugup pada Daniel. Meskipun mereka sahabat dekat, tapi mereka tidak pernah melihat satu sama lain sedang ciuman dengan kekasihnya. Ruby merasa sedikit malu.


“Maaf. Saya akan pergi keluar untuk memberikan kalian ruang.” Jenny pamit keluar, melewati Daniel yang sama sekali tidak meliriknya.


...****************...


Setelah sekitar satu jam lebih. Daniel keluar dari ruangan Ruby. Tapi, dia tidak repot-repot untuk menyapa Jenny atau hanya sekedar melirik ke arah Jenny. Tidak ada lagi Daniel yang selalu menggoda atau tersenyum nakal pada Jenny, itu sudah berlangsung hampir satu bulan. Jenny pikir Daniel sedang berusaha untuk benar-benar belajar menjadi ayah yang baik untuk Leo di masa depan.


“Hai, selamat pagi.” Ketrin tersenyum saat menyapa Jenny yang balas tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa tadi.


“Selamat pagi. Sedikit mengejutkan anda datang kesini.”


Ketrin duduk di depan meja Jenny. Matanya bertemu dengan Jenny dan dia tersenyum seolah ingin mengatakan sesuatu. Jenny menyadarinya dan memberi isyarat untuk menekan tombol telepon untuk menelepon Ruby. Tetapi Ketrin menghentikan tangannya, menyebabkan Jenny memandang Ketrin dengan bingung. “Eh, ada yang salah?’


Ketrin tersenyum gugup ketika dia mencoba mengumpulkan pertanyaan yang tepat untuk diajukan. Pertanyaan yang selama ini menganggunya. “Yah, sebenarnya, aku hanya ingin tahu sesuatu.”


“Ruby ada lembur beberapa hari yang lalu. Bisakah kamu memberitahuku jam berapa dia tiba di kantor ini?”


Jenny menatap Ketrin sebentar, ingin membaca kemana arah pertanyaan itu. “Dia datang terlambat. Saya kira dia bersama Tuan Daniel.”


Ketrin tersenyum malu. Ruby tidak berbohong soal itu. “Ya, dia memberitahuku. Apakah dia mabuk?”


“Kurasa sedikit. Aku tidak mencium baunya. Dia duduk di ujung meja. Tapi wajahnya agak merah. Jadi kurasa dia minum lebih banyak dari biasanya.”


Ketrin mengangguk, “Apakah dia pulang lebih awal?”


Jenny ingin tertawa mendengar pertanyaan itu. Dia yakin Ketrin sudah mencugai suaminya dan dia suka setiap ekspresi cemas yang Ketrin tampilkan saat ini. “Kurasa kamu akan tahu karena kamu dirumah.”


Ketrin terkekeh, sedikit malu. “Yah, ya. Maaf aku hanya ingin tahu apakah dia setres lagi di tempat kerja.”


Jenny menggelengkan kepalanya sebelum memegang tangan Ketrin. Senyum di wajahnya khawatir tentang apa yang Ketrin rasakan, tetapi sorot matanya mengatakan sesuatu yang lain. “Yang terpenting dia pulang. Jangan khawatir. Aku akan memberitahumu jika dia melakukan sesuatu yang tidak biasa. Dan selain itu, aku yakin ada yang kamu sebut naluri?”

__ADS_1


Jenny tidak membiarkan Ketrin berbicara lagi. Dia segera menekan tombol dan Ruby menjawab telepon.


“Istri anda ada di sini."


Panggilan berakhir dan Ketrin menuju pintu ke ruangan Ruby. Tapi sebelum memutar kenop pintu, dia berhenti dan melihat ke arah Jenny.


“Jen, apa parfummu?”


Jenny mengangkat kepalanya dan tersenyum nakal sebelum menatap Ketrin, “Jo Malone Orange Blossoms.”


Ketrin terkejut mendengar aroma itu. Itu parfumnya. “Oh. Apakah kita memiliki aroma yang sama? Itu parfumku sejak lama.”


“Oh! Benarkah? Tuan Daniel merekomendasikannya kepadaku. Dia bilang itu parfum dari salah satu wanitanya. Kau tahu kan tuan Daniel agak playboy.” Jenny memperhatikan bahwa mata Ketrin berubah gugup dan dia tersenyum dalam hati. “Tapi parfum favoritku adalah Diptyque. Aku memakainya sekarang. Apakah baunya tidak enak?”


Ketrin dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak tidak. Baunya harum. Hanya saja … yah, sudahlah. Mungkin aku salah."


Jenny bergeser di kursinya untuk menghadap Ketrin dengan benar, “Pria menyukai parfumku. Itu selalu membuat mereka berlutut.”


Jenny terkikik setelah melihat perubahan reaksi Ketrin, “Jika anda mau, saya bisa menemani anda membeli parfum yang bagus dengan aroma berbeda."


Ketrin tersenyum sopan, "Baiklah. Terima kasih. Aku akan masuk sekarang.”


Jenny menunggu smapai Ketrin menutup pintu sebelum menyeringai puas. “Kasihan. Kamu sedang menghadapi orang yang lebih licik darimu."


Setelah dia menggumamkan kata-kata itu, teleponnya berdering dan itu Ruby memintanya untuk membawa beberapa dokumen. Menatap lacinya sebentar, Jenny mengeluarkan sebotol kecil parfumnya dan memasukkannya ke dalam sakunya.


Dengan dokumen di tangannya, dia mengetuk ruangan Ruby sebelum masuk dan melihat Ketrin berkeliaran di dalam kantor Ruby. Jenny memperhatikan bahwa dia bahkan sedang memeriksa keranjang sampah. Tersenyum sendiri, dia tahu Ketrin sudah memiliki petunjuk bahwa Ruby mungkin berselingkuh.


“Ini laporan Tuan Minho. Silahkan pindai dan kirimkan kepadanya dalam sehari. Aku hanya akan memeriksa beberapa dokumen di penyimpanan. Bisakah anda menungguku di sini?” Jenny ingin menertawakan profesionalisme Ruby, ketika dua jam yang lalu, mereka berciuman panas di mejanya.


"Tentu tuan,” jawab Jenny sebelum duduk di kursi di depan meja Ruby.


Ruby berdiri dan berjalan menuju ruang penyimpanan dan Ketrin mengikutinya masuk. Jenny tidak menyukainya. Dia cemburu. Mengeluarkan parfum dari sakunya, dia menyemprotkan sedikit di tangannya sebelum berdiri dan menyeka telapak tangannya di jas Ruby.


Dengan senyum jahat di wajahnya, matanya tertuju pada lorong menuju ruang penyimpanan. Dia menyadari apa yang akan terjadi. Dia tahu Ketrin sudah curiga, dan dia tidak sabar menunggu hasil dari rencananya.

__ADS_1


__ADS_2