CINTA GADIS PENDOSA

CINTA GADIS PENDOSA
PENIPUAN


__ADS_3

“Kebenaran Sering Kali Menyakitkan”.


Mungkin hampir bosan mendengar kata-kata kuno itu, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa itu benar.


Banyak orang yang membenci kebenaran karena menyakitkan lalu memilih kebohongan dan tipuan sebagai kesenangan. Mencari pujian, tidak peduli apapun, menolak mengetahui makna tersembunyi di balik pujian itu karena senang mendenganya. Pujian hanya kebohongan dan penuh tipu daya, sengaja menipu agar mereka bisa mendapatkan sesuatu sebagai balasannya.


Memasuki ruang Pertemuan, semua orang membungkuk saat Tuan Rubby masuk. Ini pertama kalinya bagiku menghadiri rapat penting. Banyak pujian terdengar saat kami memasuki ruangan, ruangan penuh dengan pria paruh baya, kebanyakan adalah seorang pria, hanya ada beberapa wanita yang duduk di sekitar ruangan.


“Selamat malam, Tuan Ruby.” Mereka semua berdiri menyapa bosku yang berwibawa. “Kamu punya asisten baru?"


Tuan Ruby tersenyum menatapku. Aku membalas tersenyum, aku adalah orang yang percaya diri. Aku dapat melihat beberapa pasang mata yang memolotiku, memutar mata ke arahku seakan muak. Sungguh lucu bagaimana wanita dewasa itu bertingkah kekanak-kanakan.


“Ini asisten baru saya, Jenny lucia. Anda bisa menghubunginya saat ada keperluan dengan saya." Aku membungkuk sedikit setelah Tuan Ruby memperkenalkanku kepada dewan investor. Beberapa dari mereka menatapku dengan seringai dan senyum nakal mereka, bahasa tubuh mereka sangat jelas, sayang sekali tidak ada yang menarik.


Bagian dari peserta adalah Daniel, dia wakil direktur. Tidak heran mengapa dia menghadiri rapat ini. Kami saling memandang, setelah kegiatan panas kami tadi siang, aku harap dia tidak menceritakan apapun pada Tuan Ruby meski mereka bersahabat. Daniel adalah pria yang keren, diusianya yang tidak muda lagi, dia masih bertindak seperti pemuda yang bebas, menyenangkan dan mudah bergaul. Aku tersenyum saat dia mengedipkan mata padaku dan aku dapat melihat bagaimana mata asistennya seperti akan keluar karena melotot dan mengerutkan kening.


“Haruskah kita mulai?” tuan Ruby mengumumkan sebelum memberi isyarat padaku untuk mempersiapkan materi presentasi. Melihat Tuan Ruby melakukan presentasi dengan tegas dan cerdas membuatku semakin jatuh cinta padanya. Tidak peduli beberapa kali audiens mencoba memojokkannya, dia akan dapat terlepas dengan cara yang keren dan kata-katanya yang lugas.


Setelah hampir 1 jam rapat berjalan. Aku meninggalkan tuan Ruby yang masih mengobrol dengan beberapa anggota dewan. Menghirup udara segar pergi ke balkon.


“Apakah kamu berfikir kamu dapat percaya diri karena kamu adalah asisten direktur?” Seorang wanita yang kupastikan adalah asisten Daniel, dia menatapku marah.


“Apa yang kamu bicarakan?” Aku balas menatapnya dengan angkuh. Dia tertawa seolah mengejek.

__ADS_1


“Kamu berpura-pura polos, tapi aku tahu kamu mengerti maksudku.” Aku benci dengan nada bicaranya, jelas dia sedang meremehkanku.


“Bosku yang memilihmu.” Dahiku berkerut, benar-benar tidak mengerti. “Apa yang kamu bicarakan? Aku melamar sebagai asisten direktur dan bukan asisten Tuan Daniel.”


Wanita itu tertawa lagi, semakin mendekatiku. “Tentu saja, tapi bosku yang menyeleksi dan melihat resume mu, lalu mendesak direktur untuk memilih mu.”


Sialan, aku ingat bahwa Daniel yang menelfonku mengatakan terpilih menjadi kandidat asisten direktur. Wanita ini tidak berbohong. Tapi aku tidak ingin terlihat lemah.


“Lalu apa masalahnya? Aku baik dan mampu dalam pekerjaanku. Direktur tidak mengeluh apapun, terlepas dari fakta bahwa Tuan Daniel yang memilihku, tapi aku mumpuni dalam pekerjaanku. Aku disini untuk bekerja sebagai asisten direktur, tidak masalah jika Tuan Daniel condong padaku lalu memilihku. Apakah kamu cemburu?”


Dia mengatupkan rahangnya, tangannya terkepal.


“Apakah kamu salah satu dari pel*cur Tuan Daniel yang hoby melakukan one night stand? Itu sebabnya kamu keluar dari ruangannya tadi siang, dengan pakaian lusuh.”


“Beraninya kamu” tangannya terayun hendak menamparku tapi aku menahannya.


“Jangan fikir aku akan diam, jika kamu sangat tertarik untuk tidur dengan Tuan Daniel, aku akan memberitahunya untuk segera meniduri mulut kotormu itu.” Aku menyeringai padanya sebelum meninggalkannya yang sedang tertegun.


Tepat pada waktuya, Tuan Ruby telah selesai mengobrol dengan rekan-rekannya. Saat kami menaiki lift menuju kantor, emosiku campur aduk setelah mendengar kebenaran dari asisten Daniel. Dia penuh tipu daya, dia memilihku, memujiku, dan mendekatiku karena menginginkan aku jatuh di tempat ditidurnya. Fakta bahwa dia merekrutku, aku yakin 99% itu karena penampilanku.


Memikirkannya lagi membuatku senang bahwa Tuan Ruby memujiku karena aku pintar, cekatan, dan berani. Tapi entah kenapa aku tidak puas, karena dia menginjak egoku. Aku ingin dia melihatku sebagai sesuatu yang lebih dari seorang asisten. Itulah daya tariknya, penolakannya terhadap godaanku lebih memotivasiku untuk semakin mendapatkannya. Aku ingin hari itu segera datang. Aku menatap banyangannya di dinding lift.


“Kamu bisa langsung pulang setelah meletakkan semua dokumen ini.” Tuan Ruby buru-buru masuk ke dalam ruangannya, lalu tidak lama keluar.

__ADS_1


“Ayo pulang, ini sudah malam, apakah kamu memesan taxi?” dia bertanya padaku yang sedang merapikan banyak dokumen. “Teman saya berjanji akan menjemput tuan.” Aku tersenyum padanya.


“Oh kalau begitu ayo turun bersama, seluruh kantor sudah gelap." Aku mengangguk mengikutinya dari belakang, hari ini benar-benar melelahkan.


Sampai di depan aku menatap sekitar, Lucas belum datang. Dia bilang akan menjemputku setelah membereskan acara pameran seninya. “Temanmu belum datang?” Tuan Ruby berdiri di sampingku, dengan tangan disakunya, dia sangat keren. “Saya rasa sebentar lagi,, oh itu dia.” Aku menunjuk pada mobil putih yang sekarang berhenti di depanku. “Dia temanmu?” Tanya Tuan Ruby tampak penasaran. Aku hanya mengangguk.


Lucas keluar dengan setelan kemeja berwarna putih biru, sangat cocok dengan kulit putihnya.


“Maaf aku telat." Lucas mencium pipiku, lalu melirik ke arah Tuan Ruby dan sedikit membungkuk.


“Tidak apa-apa, aku tahu kamu sibuk” aku menggenggam tangannya yang hangat.


“Selamat malam tuan Ruby, sampai jumpa besok pagi” Tuan Ruby hanya tersenyum mengangguk, lalu pergi ke mobilnya.


“Bagaimana harimu? Kamu lelah?” lucas menyetir dengan kecepatan rata-rata.


“Ya, benar aku sangat lelah sekali, badanku sakit.” Aku memeluk lengannya yang kokoh, mencari rasa aman dan nyaman di sana.


“Kenapa kamu bersama direkturmu diluar?”


“Kami baru saja selesai rapat. Tolong bahas hal lain, jika ini hanya akan menjadi perdebatan.” Aku mengatakannya jujur, aku tidak ingin bertengkar dengan lucas tentang bagaimana aku menyukai direkturku.


“Apakah kamu akan menginap?” aku mendongak menatap wajahnya yang juga terlihat lelah. “Ya, aku akan menginap”

__ADS_1


__ADS_2