
"Beberapa momen akan mengubah hidup selamanya. Baik atau buruk, ada saat-saat yang tidak bisa di hindari."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
POV Ruby
Hari ini adalah hari yang menyenangkan. Aku menerima banyak pujian dari calon mitra bisnis ku di masa depan. Salma biasa memberiku laporan tapi dia tidak benar-benar teknisi. Di usianya, aku tidak bisa menyalahkannya. Tapi, Jenny membuat pekerjaanku lebih mudah. Dia melakukan pekerjaan dengan sangat baik, tanpa perlu banyak di ingatkan dan di instruksikan.
Memeriksa emailku dan melihat beberapa pesan. Satu pesan adalah kesepakatan dengan klien eksekutif dan aku perlu data yang ada pada Jenny. Tanpa pikir panjang aku menelfonnya.
Dia menjawab. Suaranya rendah dan mengantuk. ketika aku menutup telepon, saat itulah aku menyadari bahwa itu jam 2 pagi. Selama beberapa menit dia belum datang dan aku memutuskan untuk mengetuk kamarnya, memastikan dia tidak tidur lagi karena sedikit lama. Yang mengejutkanku adalah, dia mengenakan kemeja sutra tipis yang hanya menutupi setengah pahanya, dan dengan jelas menampakkan celana dal*mnya yang berwarna hitam. Aku terkejut dan tidak mampu berkata-kata.
Jenny mengabaikan tatapanku, mencari flash disk di meja nakas. Dia sedikit menungging dan mengarahkan bok*ngnya ke arahku. Aku bisa melihat jelas di sana dan ****** ******** yang terlihat tipis juga. Aku merasa dia sengaja menggodaku, darahku berdesir, suhu tubuhku meningkat. Ketika dia berbalik, aku mendorongnya, mengangkatnya sampai duduk di meja.
"Kamu menggodaku?" suaraku rendah dan dalam karena nafsu. "Apakah kamu tergoda?" dia menatap mataku dengan seringai nakal, dia benar-benar penggoda. "Kamu menggoda."
"Kamu sudah menikah," dia memainkan cicin pernikahanku di tanganku yang sedang mencengkram erat pinggangnya.
Aku mendengus, menyatukan dahi kami. Aku tidak sanggup lagi menahannya, aku sudah berusaha berkali-kali untuk menghiraukan setiap sikap genitnya. Tapi kurasa malam ini, aku sudah terjatuh, melihat tubuh cantiknya membuat pikiranku berkabut. Aku menciumnya dengan keras, dan lambat. Menikmati setiap aliran listrik di setiap sendiku yang terjadi karena mendengar suara cab*lnya. Dia pencium yang baik.
"Kamu menang," kataku sambil membelai kulit halus punggungnya, menarik tubuhnya menjadi lebih dekat denganku. "Tentu saja, kamu tidak akan tahan telalu lama," Jenny mengalungkan tangannya dileherku, Kedua kakinya memeluk pinggangku.
__ADS_1
"Cepat hancurkan aku di tempat tidur," katanya dengan nafas panas ditelingaku.
Aku mengangkatnya tanpa memutuskan ciuman kami. Menjatuhkannya di tempat tidur, aku menatapnya yang sangat dengan senang hati memintaku menghancurkannya. Dia gila, dia berani, dan dia tidak terbantahkan. Tapi, kurasa kali ini aku juga gila karenanya, aku tidak bisa memikirkan hal lain selain berbagi panas dan keringat bersamanya sepanjang malam, sepanjang waktu.
...****************...
Narkoba
Jenny seperti itu, dia membuat ketagihan. Aku tidak bisa menghitung berapa kali kami melakukannya tadi malam. Aku tidak yakin sebenarnya. Kami bercinta sampai pagi dan tidur karena kelelahan
Aku melihat jam yang tergantung di dinding. Saat itu jam 7 pagi. Aku duduk di belakang meja kerja di kamar Jenny selama hampir 1 jam. Aku menatap Jenny di tempat tidur, tidur nyenyak, dan di bawah selimut putih itu ada tubuh telanj*ngnya.
Jenny itu sangat cantik dan seksi, bahkan tanpa melihat tubuhnya dan hanya melihat wajahnya semua orang bisa melihat bahwa dia seksi. Kulitnya halus, lembut dan harum. Selain fitur fisiknya, dia cerdas dan percaya diri. Tapi di atas itu semua dia berani. Dia menyadari apa yang dia lakukan, tapi aku tidak yakin dia tahu konsekuensinya. Hal yang sama terjadi di kepalaku, aku menyadari konsekuensinya dan aku tidak peduli.
"Maaf aku membangunkamu," bisikku. Dia menggelengkan kepalanya dan mulai mengangkat tubuhnya, "Maaf aku tertidur sangat lama, ini sudah terlambat untuk pergi ke rapat selanjutnya." Meraih lengannya dan menariknya kembali ke tempat tidur, aku melingkarkan lenganku di pinggangnya dan menariknya lebih dekat. "Aku sudah membatalkan semua pertemuan, jangan khawatir."
Aku bisa merasakan tubuhnya tegang untuk beberapa saat, tapi setelah itu dia menciumi wajah dan leherku, tangannya di dadaku. "Aku menyukaimu Ruby." Gumamnya membuatku ingin menarik diri dan mempertanyakan pikirannya, tetapi sebaliknya, aku menariknya lebih dekat. Ini adalah pertama kalinya dia memanggilku dengan namaku.
"Aku bersedia menunggumu,"
"Tolong jangan"
__ADS_1
"Aku akan," bisiknya. "Ayo kita kembali tidur."
...****************...
Aku terbangun karena cahaya menyilaukan yang berasal dari jendela kamar. Aku menutupi wajahku dengan selimut, tapi seseorang menariknya ke bawah. Wajah cantik tersenyum menyambutku. "Hey bangun daddy. Sudah jam 11 siang."
Aku bisa mencium bau makanan di tempat tidur dan Jenny meletakkan meja pangkuan di tempat tidur sebelum mencium bibirku. "Aku keluar untuk membeli kopi di kedai terdekat, minumlah selagi hangat."
"Jika kita berada di apaertemenku, aku akan memasak untukmu," katanya sambil merangkak ke tempat tidur untuk duduk disampingku. "Kamu selalu memassak untukku. Sandwich yang kamu bawa setiap hari." Jenny tersenyum saat dia memotong sepotong ham dari piringku dan menyuapkannya padaku, menyeka sudut bibirku dengan ibu jarinya. "Sandwich bukanlah mahakarya. Tunggu sampai kamu mencicipi Shrimp Scampi ku. Kamu akan meminta lebih."
Tentu salah membandingkan Jenny dengan istriku. Ketrin penuh kasih dan perhatian, tetapi dia kurang memperhatikan kebutuhanku sehari-harinya. Dia tidak bisa memasak. Dia selalu menyiapkan jas ku setiap pagi, tapi dia hanya secara acak mengambilnya. Dia tidak peduli itu kusut atau apapun. Dia tidak pernah menyiapkan sepatu dan kaos kakiku. Dia tidak ada di depan pintu setiap kali aku pulang dari kantor. Apakah aku menjadi picik sekarang? Aku tahu itu hanya hal kecil, tapi aku tidak bisa tidak mengagumi Jenny atas semua upaya dan pemikiran mendalam yang dia lakukan dalam segala hal.
"Jenny ..."
"Kamu sudah menikah, aku tahu," dia memotong buah dan menyuruhku memakannya sebelum menatap mataku. "Aku memang baru berusia 25 tahun, tapi aku tahu pasti apa yang kulakukan. Aku hanya berselingkuh dengan pria yang sudah menikah. Oh Tunggu! Dengan pria menikah yang tampan dan seksi. Dengarkan aku Ruby, aku tidak peduli jadi berhentilah khawatir. Rahasianya aman bersamaku."
Jenny mengejutkanku dengan menyingkirkan meja pangkuan dan meletakkannya di samping sebelum mengangkangiku. Dia melingkarkan tangannya di leherku dan mencium hidungku. "Aku tahu kamu khawatir. Kamu tidak memiliki tanggung jawab apapun jika kamu juga menginginkanku. Jadi lebih baik kamu mengusirku sekarang jika kamu tidak menginginkan ini, karena begitu kamu memutuskan untuk memulainya denganku, tidak ada jalan mundur."
Kata-katanya bergema di seluruh tubuhku. Bagaimana dia bisa begitu berani? Ini adalah pertama kalinya aku bertemu seseorang yang berani seperti dia. Menatap matanya, aku mulai bertanya pada diri sendiri, bagaimana aku bisa menolaknya? Aku tidak pernah berfikir untuk selingkuh sampai aku bertemu Jenny."
"Aku ingin kau tinggal," jawabku dengan berani, sementara mataku terpaku padanya sebelum menangkap bibirnya yang lezat.
__ADS_1
Aku kalah dan terjatuh dalam pesonanya