CINTA GADIS PENDOSA

CINTA GADIS PENDOSA
HANYA OBSESI


__ADS_3

Bel pintu mengalihkan perhatian Jenny dari TV ke pintu depan. Menekan monitor keamanan, dia melihat Ruby berdiri di depan pintunya, membuatnya segera membuka pintu.


“Aku sudah menunggumu,” Jenny tersenyum sambil membuka pintu lebih lebar agar Ruby bisa masuk.


Ruby masuk, dia hampir tersandung tetapi Jenny menahannya agar tidak jatuh.


“Kau terlalu banyak minum,” Jenny melepas jas Ruby dan menggantungnya di pengait belakang pintu. Ruby menarik pinggang Jenny dan mencium bibirnya, berjalan sampai punggung Jenny bersandar ke dinding. “Aku merindukanmu.”


Jenny tersenyum. Ia bersandar di dada Ruby sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Ruby. “Apa yang terjadi? Apakah ada yang salah?”


Tangan Ruby membelai rambut Jenny sementara yang lain berada di sekitar punggung Jenny. “Tidak apa-apa. Aku baru saja bersenang-senang dengan Daniel.”


Jenny mendongak karena tekejut. Dia bisa mencium bau alcohol dari nafas Ruby. “Daniel? Jadi kau pergi


dengannya? Untung saja kau bisa mengemudi dengan aman.”


“Daniel yang mengantarku.”


Mata Jenny sedikit melebar. “Daniel? Apakah dia tahu aku tinggal di sini? Maksudku …”


Ruby membungkuk mencium Jenny untuk menghentikannya berbicara lebih jauh. “Dia tahu tentang kita dan tolong jangan khawatirkan dia. Mulutnya tertutup.” Ruby pingsan sehabis bicara.


“Ruby, Ruby” Jenny mencoba membangunkan Ruby namun nihil. “Sial, aku harus bicara dengan Daniel.”


Jenny memapah Ruby ke tepat tidurnya, melepas sepatu dan dasinya agar Ruby lebih nyaman untuk tidur. Setelah selesai Jenny laggsung mengambil handponnya menelfon Daniel.

__ADS_1


“Kamu pergi dengan Ruby?” tanya Jenny cemas.


^^^“Hey tenang saja, aku tidak mengatakan apa-apa. Ruby hanya berbicara tentang hubungannya denganmu.” Daniel menjawab sambil tertawa karena dia juga sedikit mabuk.^^^


“Yang benar saja, katakan dengan jujur!!!” Jenny sedikit kesal karena Daniel menjawab dengan main-main.


^^^“Aku masih ada di depan apartemenmu, cepat turunlah bukankah lebih bagus bicara langsung.” Daniel mematikan panggilan.^^^


Jenny segera mengambil jaketnya dan pergi turun untuk menemui Daniel.


Sebuah mobil Hitam terparkir tepat di area parker samping apartemen Jenny, dia yakin itu mobil Daniel.


“Hay …” Daniel tersenyum menyambut Jenny yang membuka pintu mobil dan segera duduk samping Daniel.


“Aku tidak berbohong, dia berbicara tentang hubungannya denganmu dan aku hanya mendengarkannya. Hanya itu,” ucap Daniel sambil membelai tangan Jenny.


“Dia mengatakan bahwa tidak ingin kehilangan keluarganya, tapi juga tidak ingin melepasmu,” Daniel tertawa.


“Aku sangat senang belum menikah. Aku benci hal-hal rumit,” Mencium tangan Jenny dan Jenny langsung menghempasnya.


"Kamu juga rumit, kamu terus menggodaku bahkan saat tahu aku sudah bersama temanmu,” Jenny menatap tak suka ke arah Daniel yang sedang tertawa.


"Mungkin karena kamu bukan istrinya?" Daniel tersenyum sambil memegang sisi wajah Jenny untuk menghadapnya. "Aku tidak tahu kenapa kamu selalu berbicara kasar padaku sedangkan Ruby tidak?" mengusap bibir Jenny dengan ujung jarinya. "Padahal dia juga bajingan."


"Dia berbeda. Dia bukan kamu yang akan menggoda setiap wanita untuk kamu ajak ke ranjangmu."

__ADS_1


Daniel tertawa. "Aku tidak pernah menggoda siapapun. Mereka dengan senang hati datang dan merangkak di ranjangku. Hanya kamu, aku hanya menggodamu."


Daniel mengecup bibir Jenny sekilas. Melihat Jenny yang tampak tidak keberatan. Daniel mencium kembali bibir Jenny.


Sekarang cukup lembut dan dalam. Jenny membuka mulutnya menyambut lidah Daniel, saling bertukar saliva. Menyalurkan berbagai perasaan panas dan sakit bersama. Sampai Jenny memukul dada Daniel karena kehabisan nafas.


"Biarkan aku bernafas," ucap Jenny terengah-engah sambil mencoba menjauh dari Daniel.


"Aku benar-benar benci hal rumit. Tapi kamu dan Ruby telah menyeretku ke dalamnya." Daniel masih memeluk pinggang Jenny tidak mengizinkannya menjauh.


"Kamu fikir kamu jatuh cinta padanya?" tanya Daniel, menatap Jenny yang masih mengatur nafas.


"Orang-orang seperti kita tidak punya cinta."


"Apa maksudmu?" Jenny menatap Daniel penasaran.


"Aku yakin kamu punya masa lalu yang buruk sehingga menjadikanmu menjadi berani dan penggoda, kamu pasti berpura-pura kuat selama ini. Kamu fikir aku tidak menikah hanya karena ingin berganti wanita setiap malam?" Daniel tertawa Pahit.


"Tentu saja ada alasan lain. Ada hal buruk yang terjadi di masa lalu hingga aku tidak bisa percaya cinta. Aku yakin kita sama. Sadarlah, kamu tidak mencintainya. Bahkan aku yakin kamu tidak mengerti bagaimana itu cinta. Dan jika kamu mencintai Ruby, kamu tidak akan berada di sini menerima ciumanku." Daniel mendekat ke telinga Jenny. "Kita sama-sama obsesi pada pengakuan. Kita kesepian, dan tidak pernah puas."


Jenny menatap mata Daniel sebelum berkata,


"Benar, aku kesepian dan tidak pernah merasa puas."


Mereka kembali berciuman, tapi kali ini Jenny yang memulainya duluan. Mencium dengan perasaan marah dan benci. Jenny benci dengan kehidupannya yang rumit dan penuh dengan rasa sakit, benci dengan dirinya sendiri yang tidak bisa melihat cinta yang tulus setelah dirinya terluka.

__ADS_1


__ADS_2