
Ada permintaan rapat mendadak dari klien. Jenny sibuk sejak pagi, bahkan sampai lupa untuk makan siang. Proyek baru direncanakan akan dimulai pada bulan depan, dengan keuntungan yang cukup besar.
“Kamu sangat lelah?” Ruby bertanya saat Jenny meletakkan dokumen-dokumen di meja kerjanya.
“Ya begitulah. Tapi aku senang, karena sepanjang hari bisa melihatmu.” Ruby menarik lengannya. Membuat Jenny berhadapan dengannya dan memelukku erat.
“Aku juga senang bisa melihatmu sepanjang hari di tengah kesibukan kita.” Ruby mengelus punggung Jenny lembut. “Apakah aku bisa menginap malam ini denganmu?” Ruby bertanya menatap Jenny.
“Aku sangat merindukanmu. Tapi maaf, Lucas mengajakku untuk menemaninya menata galerynya. Dia akan mengadakan pameran seni minggu depan. Dia akan menjemputku ke sini, sepulang kerja. "Jenny membuat wajah yang tampak menyesal.
“Oh baiklah tidak apa-apa,” mencium kening Jenny. “Aku akan menginap kapan-kapan. Dan aku harap kamu jangan terlalu lelah, oke?” Ruby menatapnya sayang.
“Iya sayang.”
Jenny mengambil jam pulang lebih dahulu. Ruby menyuruhnya untuk pulang karena Jenny berkata akan pergi bersama Lucas.
“Bagaimana kabarmu?” Lucas mencium pipinya, saat Jenny masuk dan duduk di mobilnya.
“Hari ini melelahkan sekali.” Jenny tersenyum padanya. “Aku di beri izin untuk pulang terlebih dahulu. Dan omong-omong aku menolak Ruby untuk menginap dan bilang padanya akan pergi denganmu malam ini.” Lucas menatap bingung dengan informasi itu. “Hanya berjaga-jaga. Takut dia ingin memastikan, meskipun minim kemungkinan.”
“Siapa yang akan kamu temui malam ini?” mobil melewati persimpangan jalan memasuki kawasan apartemen mewah. “Hey ini tempat berkelas. Kau bermain-main dengan orang lain?” Lucas mencoba memarkirkan mobilnya sambil menunggu jawaban Jenny.
“Dia seorang teman. Kami akan membahas tentang sesuatu jangan khawatir.” Aku tidak ingin Lucas mengetahui lebih banyak.
“Aku akan mengantarmu.” Lucas mengikuti Jenny saat keluar dari mobil. “Tolong, aku bukan anak kecil yang harus di antar sampai depan pintu rumah temannya.” Jenny memutar matanya malas karena Lucas yang selalu memperlakukannya seperti anak Sembilan tahun.
“Tidak apa-apa untuk berjaga-jaga. Aku hanya ingin tahu siapa yang akan kamu temui.” Menariknya menuju lift. Tentu saja dia tidak akan menyerah. Jenny menekan tombol angka 12 sambil sebelah tangannya terus digandeng Lucas. Jenny benar-benar merasa seorang anak kecil yang di antar ayahnya untuk bermain. Mereka tidak banyak bicara. Selain kelelahan, hari ini Jenny sedikit sakit kepala karena sedang banyak pikiran.
Bunyi lift terbuka. Jenny menuju salah satu apart. Menekan bel dan untuk beberapa saat, sang penghuni membuka pintu.
“Hay cant …” kata-katanya berhenti saat melihat Jenny bersama Lucas. “Oh, kamu membawa teman?” dia menatap Jenny setelah tersenyum untuk menyapa Lucas.
__ADS_1
“Tidak. Kakakku ini sedang mengantarku karena tidak ingin aku tersesat.” Ucap jenny malas. Melihat Lucas yang menatap Daniel tanpa ekspresi. Daniel tertawa mendengar pernyataan Jenny.
“Hey bung, tenang saja. Aku hanya ingin membahas beberapa hal penting dengan adikmu. Dia akan aman. Dan perkenalkan aku Daniel. Kami masih satu perusahaan.” Daniel memperkenalkan diri seperti biasa, dengan gayanya yang sok akrab. Tapi Lucas hanya mengangguk tak menjawab.
“Aku akan pergi, hubungi aku jika ada apa-apa.” Akhirnya melepaskan tangan Jenny yang sejak tadi dia gandeng. “Oke, hati-hati di jalan. Aku mencintaimu.” Mencium pipinya, Jenny menunggu sampai benar-benar tidak melihat Lucas sebelum masuk ke dalam apartemen.
“Dia benar-benar bertindak seperti seorang kakak untukmu,” kata Daniel dibelakang setelah menutup pintu. Jenny cukup terpukau melihat apartemen Daniel. Semua nuansa putih dan terlihat sangat bersih. Semua barang tertata rapi. Banyak lukisan yang menggantung indah di dinding.
“Ya. Dia memang sangat menyayangiku,” berbalik melihat Daniel. “Apartemenmu sangat bagus dan rapi.” Daniel merangkul pinggang Jenny menuju ke ruang tamu. Terdapat sofa-sofa besar yang hanya dengan melihatnya Jenny tau pasti harganya sangat mahal.
“Apa aku terlihat seperti orang yang berantakan?” dia menarik Jenny untuk duduk dipangkuannya. “Aku merindukanmu.” Memberikan kecupan singkat di bibir Jenny.
“Aku akan memberikanmu informasi yang aku janjikan,” Jenny mengacuhkan pertanyaannya. Berdiri, Jenny duduk di samping Daniel sambil mengeluarkan amplop putih besar dari tasnya. Melemparkan pada Daniel yang terlihat bingung.
“Aku sangat terkejut saat menerima amplop itu tadi pagi. Lihatlah seberapa pembohongnya dan bajingannya kamu.” Daniel menatap Jenny bingung sambil segera membuka amplop dan mengambil selembar kertas di dalamnya. Ekspresinya tidak dapat disembunyikan setelah membaca kertas tersebut, matanya tampak terkejut.
“Apa ini?” dia menatap seperti orang bodoh.
Dia menatap mata Jenny, seolah mencari sesuatu di dalamnya. Ekspresinya bingung dan terkejut. Tak lama dia mendengus kasar sambil melemparkan kertas itu ke meja.
“Jujur aku sangat terkejut.” Daniel menatap dinding kosong didepannya dengan pandangan yang sudah cukup tenang.
“Jawaban apa itu? Kamu bahkan tidak repot-repot menjelaskannya karena apa yang aku katakan semuanya benar?” nada bicaranya meninggi. Jenny merasa kesal dengan responnya yang hanya seperti itu.
“Apa yang perlu di jelaskan? Kamu sudah menyimpulkan semuanya. Dan aku tidak punya kewajiban untuk menjelaskan kehidupan pribadiku padamu.” Jenny sedikit terkejut dengan bagaimana dia menatapnya dan berbicara. Dia sangat serius, hal yang belum pernah Jenny lihat darinya. Biasanya Daniel menanggapi segala hal dengan main-main dan acuh tak acuh.
Jenny menatap lekat matanya, ingin tahu perasaan apa yang ada di dalam matanya yang telihat marah.” Aku ingin tahu. Aku datang ke sini untuk mendengar penjelasanmu. Aku akan mendengarkan," Jenny bisa melihat tatapan Daniel semakin berkabut. Menarik pinggang Jenny, Daniel menciumnya kasar. Mengangkat tubuh Jenny untuk duduk di pangkuannya.
Ciuman itu kasar dan tergesa-gesa. Namun dari ciuman itu dia mencoba menyalurkan emosinya. Dia marah dan mencoba menahan sakit. Tangannya merengkuh pinggang Jenny erat, menariknya untuk lebih dekat dengannya sampai tidak ada ruang yang tersisa. Mereka berciuman dengan kasar dan liar. Sampai Jenny mendorong pelan dada Daniel karena kehabisan nafas.
Daniel menjatuhkan kepalanya ke sandaran sofa, dengan napasnya yang terengah-engah. Jenny dapat melihat jelas betapa frustasinya dia. Hal baru yang dia lihat dari Daniel yang biasanya selalu tenang dan santai.
__ADS_1
“Dia jal*ng gila sialan.” Daniel berkata lirih sambil menatap Jenny. “Dia berselingkuh dengan Sean entah sejak kapan.” Jenny mengerahkan semua atensinya pada Daniel, meyakinkannya bahwa dia benar-benar mendengarkan.
“Suatu malam aku mengunjungi Sean di kantornya untuk mengajaknya minum. Tapi aku dikejutkan dengan suara-suara cabul dari ruangannya. Aku pikir dia hanya sedang bersama wanita bayaran. Namun, saat hendak pergi, aku mendengar suara Ketrin mengerang nama Sean. Aku terkejut dan langsung mendobrak pintu. Tentu saja seperti yang aku pikirkan. Sean dan Ketrin sedang berbagi panas di sofa ruangannya. Aku memukul Sean tanpa memikirkan apapun, menghajarnya habis-habisan sampai dia pingsan. Aku marah karena dia telah menghianati pertemanan kami bertiga. Aku melihat Ketrin sangat terkejut dan tidak mengatakan apa-apa bahkan sampai aku pergi. Sepanjang malam aku memikirkan bagaimana cara memberitahu Ruby tentang istrinya.” Daniel mendengus, menutup mata mengingat semua kejadian 5 tahun yang lalu.
Flashback
Ketrin menelfon Daniel tengah malam, setelah kejadian Daniel memergoki Ketrin dan Sean selingkuh. Memaksa Daniel untuk bertemu di sebuah restoran di salah satu hotel.
“Apa yang ingin kamu bicarakan? jangan harap dengan memohon akan membuatku untuk tidak membongkar kebusukanmu dengan Sean,” Daniel menatap jijik kearah Ketrin yang sedang duduk dihadapannya.
“Aku mohon, biarkan aku memberitahu sendiri pada Ruby. Itu benar-benar tidak seperti yang kamu pikirkan. Kemarin aku sedang berkeluh kesah pada Sean karena dia sahabatku. Dan kami hanya terbawa suasana. Aku tidak selingkuh dari Ruby dalam waktu yang lama, kemarin hanya kecelakaan.” Ketrin menatap Daniel dengan mata
memohon.
Daniel meneguk minumannya, tenggorokannya terasa kering saat dia terus membentak Ketrin.
“Kamu kira aku akan percaya? Kecelakaan atau tidak, aku tidak peduli. Kalian benar-benar bajingan sial …” Daniel tidak dapat menuntaskan kalimatnya. Kepalanya tiba-tiba pusing, dan pandangannya kabur.
Hanya itu yang di ingat Daniel. Sebelum dia terbangun di sebuah kamar hotel dengan telanj*ang. Kepalanya masih sedikit berdenyut.
“Bagaimana keadaanmu sayang?” sebuah suara perempuan yang tidak asing. Daniel mencoba untuk membuka mata. Menoleh ke samping, Ketrin sedang duduk dengan kaki menyilang di sofa hotel. Dia menyeringai.
“Sial, apa yang kamu lakukan padaku?” Daniel terkejut melihat dirinya tengah berada di bawah selimut tebal dalam keadaan tanpa busana.
Ketrin tertawa keras. Berdiri menghampiri Daniel sambil melempar sebuah handphone yang tengah memutar video. Daniel mengambilnya. Itu video dirinya dengan Ketrin sedang melakukan se*ks yang liar. Daniel tampak sangat ganas di video itu. Namun dia tidak mengingat apapun.
“Apa-apaan ini? Wanita sialan. Apa yang kamu lakukan?” Daniel melempar handphone itu sampai layarnya hancur.
Ketrin tertawa sekali lagi, sangat puas dengan bagaimana reaksi Daniel. “Sekarang kau juga telah meniduri istri temanmu. Kau sama dengan Sean. Jika kamu coba-coba melaporkan apa yang terjadi denganku dan Sean. Maka aku akan memperlihatkan video itu pada Ruby. Jelas dia akan mempecayaiku. Bukankah kamu tampak sangat menikmati kegiatan kita?” Ketrin tersenyum mengejek sambil mengedipkan mata pada Daniel yang masih syok.
“Baiklah, aku harus pergi. Ingat baik-baik kata-kataku. Jika kamu tidak ingin pertemananmu hancur, maka tutuplah mulut seksimu itu.” Ketrin berjalan ke arah pintu, namun berbalik. “Ngomong-ngomong, tidak heran banyak wanita tergila-gila padamu. Kamu benar-benar hebat, aku sangat menikmati malam kita.” Ketrin tertawa sampai hilang di balik pintu. Meninggalkan Daniel yang terperangah.
__ADS_1
“Wanita iblis,” Daniel melempar bantal dan benda-benda yang ada disekitarnya. Kepalanya terasa sakit lagi. Ini adalah hari yang buruk untuk Daniel. Dia adalah orang yang sangat menghargai pertemanan. Dan sekarang dia telah menghianati temannya, meskipun itu di luar kendalinya. Daniel di pengaruhi obat, sehingga dia benar-benar tidak bisa mengingat apapun meskipun saat melihat video itu.