CINTA GADIS PENDOSA

CINTA GADIS PENDOSA
TERGODA


__ADS_3

Ada monster yang selalu berteriak di kepalaku


"Aku pernah memilkki keluarga yang bahagia. Itu adalah kenangan yang menyenangkan. Namun setelah semua hal buruk yang aku alami, kebencian mulai menguasai diriku. Aku tidak punya saudara kandung, karena aku adalah anak tunggal. Aku tumbuh dengan begitu banyak cinta dan kebahagiaan di sekitarku. Tapi hanya dalam sekejap, itu hancur berantakan. Aku berpegangan pada seseorang. Seseorang yang mencintaiku, melindungiku dan memahamiku. Seseorang yang mendengarkan dan sabar denganku. Aku bersyukur. Terbesit bahwa mungkin hubungan kami bisa berkembang, namun pikiranku mengatakan bahwa itu terlalu jahat untuk bersamanya karena aku hanya mencari rasa aman dan nyaman. Dia terlalu baik untuk seorang wanita yang tidak suci sepertiku. Dia akan mendapatkan wanita yang sama baiknya dengannya. Dan aku akan terus berkelana mencari cinta dari pria yang dapat melindungiku dan memberi rasa aman. Kupikir Ruby akan bisa memberikan semua perasaan itu, jadi aku memutuskan untuk mengejarnya dan menjatuhkannya dalam jeratanku"


AWALNYA ....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Menatap bayanganku dicermin. Aku tidak pernah kecewa dengan penampilanku yang menarik banyak orang. Tapi terkadang aku berharap orang-orang juga tertarik dengan kepribadianku, kepribadian yang baik.


Terkadang aku membenci kecantikan. Aku percaya itu alasan utama mengapa aku dilecehkan. Seharusnya tidak. Penampilan orang lain tidak boleh disalahgunakan untuk alasan apapun.


Aku memikirkan Lucas. Dia pasti mengkhawatirkanku. Aku tahu dia cemas dengan keputusanku. Penyesalan? Konsekuensi? Aku sadar. Tapi aku tidak peduli.


Pintu kamarnya terbuka. Dia sangat tampan dengan pakaian serba hitam. Aku tersenyum saat dia memakai dasi yang kusarankan. Dia melangkah ke samping untuk membiarkan aku masuk. Sebelum mengambil tas laptopnya, aku berbalik dan memperbaiki dasi dan kerahnya. Aku merasakan napasnya tercekat sesaat. Aku melihat jakunnya naik turun. Aku memakai parfum favoritku, yang belum pernah dia cium. Mungkin itu alasannya.


“Pakaian warna hitam terlihat sangat cocok untuk anda, Tuan Ruby,” aku tersenyum sambil membawa tas laptop. Dia balas tersenyum. Wajahnya sedikit memerah. “Terima kasih. Apakah kamu membawa flash disk?,” aku mengambil flash disk kecil hitam dari  kantongku dan menunjukkan kepadanya. Aku memastikan laporannya lengkap dan teratur sebelum datang kesini ke kamarnya. Bagaimanapun dia adalah bosku. Aku ingin segala hal disini  menjadi sempurna dan berkesan.


Mata para eksekutif begitu jelas. Mereka mengincar ku. Seringai kecil di sudut bibir mereka. Aku berharap


Ruby akan melihatku seperti itu atau lebih dari itu, aku berharap kami merasakan hal sama.


Lucas memberitahuku bahwa tindakanku bertentangan dengan kata-kata dan pikiranku. Dia bilang aku terlalu banyak berfikir dan narsis. Aku setuju. Terkadang aku tidak bisa memahami diri


sendiri setelah kejadian menyakitkan yang aku alami. Kemarahan, rasa sakit, rasa tidak aman, penyesalan, balas dendam, kebencian, dan pikiran aneh lainnya


adalah hal-hal yang tidak dapat ku pahami.


Pertemuan itu berlalu. Aku tidak menyadari bahwa dua jam sudah berlalu. Tuan Ruby sangat pintar dan


pembicara yang baik. Dia menjelaskan setiap detail kecil dengan sangat komprehensif. Dia terlihat dan terdengar luar biasa saat berbicara di depan podium. Aku melihat bagaimana para eksekutif tampak senang dengan bagaimana Tuan Ruby mempresentasikan proyek tersebut. Kerja kerasku terbayarkan.

__ADS_1


“Jadi Salma sudah pensiun?” kata salah satu eksekutif usai presentasi proyek. Aku mulai mengepak barang-barang Tuan Ruby, tapi aku bisa merasakan mata genit mereka menatapku.


“Ya. Ini Jenny, asisten baru saya.”


Aku menatap mereka dan tersenyum kecil. Aku membungkuk untuk menunjukkan rasa hormat.


“Hmm … muda dan cantik. Presentasinya luar biasa. Asistenmu melakukan pekerjaannya dengan baik.”


Aku mendengar tuan Ruby tertawa kecil. “Dia sangat terorganisir dan kreatif. Terima kasih.”


Aku senang percakapan memuakkan di antara mereka dan tuan Ruby tidak bertahan lama. Ruby dan aku segera kembali ke mansion kami. Di perjalanan terasa canggung dan sunyi. Aku bertanya-tanya


apa yang dia pikirkan, karena aku memikirkan sesuatu yang kotor tentang dia.


“Kamu hebat,” suara berat Tuan Ruby mengalihkan pandangaku dari menatap lantai.


“Terima kasih. Aku tahu kamu membutuhkan proyek itu. Kamu juga melakukan presentasi dengan sangat baik. Mereka terkesan,” kata-kataku tidak dibuat-buat. Dia memang luar biasa.


Sesampainya di mansion, Tuan Ruby memutar kunci kamarnya dan terbuka. Aku langsung menuju meja kerjanya dan meletakkan barang-barangnya di sana. Aku punya sesuatu yang lain dalam pikiranku. Aku bersumpah akan mewujudkannya. Jika bukan malam ini, di hari-hari yang mendatang aku yakin itu akan terwujud.


Teleponku berdering. Dengan mata yang masih terpejam, aku meraih ponselku.


Ruby


“Pak?” suaraku rendah. Aku sudah tertidur. Aku tidak mengharap panggilannya di jam ini.


“Hey, maaf. Aku sudah menerima filenya dari klien, tapi aku butuh data di flash disk yang kamu simpan. Bisakah aku datang ke sana untuk mengambilnya?”


Surel. Dia mendapat emailnya. Aku mencoba untuk mengumpulkan pikiranku terlebih dahulu. Aku melihat ponselku lagi dan mencoba memastikan panggilan itu nyata. Ini sudah jam 2 pagi dan dia masih bekerja. “Tidak apa-apa tuan Ruby. Aku akan membawanya kesana setelah mencarinya.”


Masih mengantuk, aku pergi ke kamar mandi untuk berkumur dengan obat kumur. Menyisir rambut dengan jari-jariku, aku keluar. Entah mungkin efek mengantuk, aku lupa menaruh flash disk ku dimana. Membongkar tas-tas dan lemari file aku tidak menemukannya.

__ADS_1


Sekitar 5 menit kemudian, kamarku di ketuk, aku yakin itu tuan Ruby yang sudah tidak sabar karena aku terlalu lama mencari flsh disk. Membuka pintu, aku mempersilahkan tuan Ruby masuk dan aku kembali mencari flash disk ku segera.


“Maaf pak, kurasa aku lupa dimana meletakkannya. Tapi, tenang saja itu tidak akan hilang, aku yakin flash


disk ku masih ada di kamar ini,” tak menerima jawaban, mungkin Ruby kesal.


Aku berbalik terkejut melihat Ruby yang menatapku tajam, matanya berkabut. Aku memperhatikan arah


pandangannya, dia menatap pahaku yang terbuka. Aku mengenakan kemeja pink berbahan sutera yang panjangnya hanya menutupi separuh pahaku. Dibawahnya ada celana d*lam favoritku yang lembut berwarna hitam. Aku terbiasa tidur seperti ini.


“Oh maaf, saya terbiasa tidur dengan pakaian seperti ini,” aku pura-pura tidak peduli dengan tatapan


yang penuh nafsu di matanya. Menunduk untuk mencari flsh disk di meja nakas, aku sengaja menghadapkan bok*ngku ke arahnya, supaya dia melihat bahwa aku hanya mengenakan celana dal*m yang tipis.


Benar ternyata flash disk ku ada di meja nakas tertimpa dokumen-dokumen.


“Akhirnya aku menemukannya tuan,” aku berbalik untuk menghadapnya namun terdorong ke belakang sampai membentur meja. Ruby mencengkram pinggangku, mengangkatnya membuatku duduk di atas meja.


“Kamu menggodaku?” suaranya berat dan hampir terdengar berbisik.


“Apakah kamu tergoda?”


“Kamu menggoda”


“Kamu sudah menikah.”


Ruby menghela nafas. Keningnya menempel didahiku. Tangannya perlahan masuk ke dalam kemejaku membelai punggungku, menarikku lebih dekat ke tubuhnya.


“Aku sudah berusaha sangat keras untuk menolakmu, tapi kamu telah mengacaukan pikiranku selama berminggu-minggu sekarang. Kamu sangat cantik Jenny, aku tidak bisa melepas bayang  wajah dan tubuhmu dari fikiranku.”


Dan bahkan sebelum aku bisa tersenyum, bibir kami bertabrakan.

__ADS_1


Keras.



__ADS_2