CINTA GADIS PENDOSA

CINTA GADIS PENDOSA
BERTOPENG


__ADS_3

3 Hari kemudian


“Selamat pagi!” Jenny menyapa Ruby dengan gembira saat membuka pintu senin pagi itu. Dengan satu cup kopi dan wadah makanan di tangannya.


“Selamat pagi. Bagaimana kabarmu?” Ruby menatap kekasihnya dengan seksama. Menutup laptopnya untuk memperhatikan. Jenny cantik, seperti biasa dan aroma lembutnya selalu berpengaruh padanya.


Jenny meletakkan cup kopi di atas meja Ruby, dan membuka wadah makanan dengan gimbap di dalamnya. “Aku selalu baik-baik saja dan aku harap kamu juga. Tapi sebelum itu, aku membuatkan gimbap untuk sarapan dan secangkir Kopi dari Starlight Coffe. Aku tahu kamu merindukan kopi ini.”


Ruby berdiri, menarik Jenny berdiri dan membimbing lengan Jenny di lehernya. “Aku sangat menghargai perhatianmu. Aku suka fakta bahwa kamu memikirkanku saat membuat makanan itu, tapi aku merindukanmu lebih dari apapun. Kamu mengucapkan selamat pagi tetapi tidak menciumku. Aku merasa sedih dengan hal itu.”


Jenny terkikik, berjinjit untuk memberi Ruby ciuman penuh gairah. “Maaf, aku tahu kamu lapar bukan?”


Ruby tersenyum, membungkuk untuk menangkap bibir kekasihnya, lengannya melingkari tubuh Jenny seolah sedang mengukur setiap lekuk dan bentuk tubuhnya.


Ciuman itu semakin intensif. Jari-jari Jenny perlahan meluncur di kancing celana Ruby, membukanya. Erangan pelan keluar dari bibir Ruby saat Jenny bermain-main dengannya.


“Jen …”


“Aku tahu kamu merindukanku. Bukan begitu?” mata Jenny berkerudung sambil menggigit bibir bawah Ruby.


Mata Ruby menatap tajam ke arah mata Jenny. Tangannya dengan lembut membelai lekukan pinggang dan pinggul Jenny.


“Biarkan aku memberitahumu sebuah rahasia kecil,” Jenny bernafas di bibir Ruby yang terbuka. Dia bisa merasakan napas berat pria itu yang dipenuhi nafsu.


Ruby bergumam. “Beri tahu aku.”


Jenny menyeringai sambil menyandarkan kepalanya ke belakang untuk melihat lebih dekat ke mata sayu Ruby. “Pertama kali aku melihatmu, aku sudah membayangkan diriku membungkuk di atas meja kerjamu saat kau meniduriku. Keras dan cepat”


Nafas Ruby tercekat, ia melonggarkan dasinya. Dia tidak bisa membayangkan jumlah udara dan merasa pengap saat kata-kata kotor Jenny merayap di nadinya. Jenny telah membangunkan indra dan hasratnya. “Aku dengan senang hati akan membuat imajinasimu menjadi kenyataan.”


Ruby menarik bagian belakang leher Jenny, menyerang bibir yang lebih muda sambil mengantarnya ke mejanya. Membuat Jenny membungkuk ke meja dan memunggunginya. “Aku tahu kamu suka menggoda, tapi aku tidak tidak tahu kamu secabul ini.”


Jenny memiringkan kepalanya untuk dapat melihat Ruby. “Aku suka berfantasi dan senang mewujudkannya.”


Lalu yang terjadi adalah kegiatan panas di tengah dinginnya pagi. Para karyawan belum datang karena jam kantor dimulai 1 jam lagi. Ruby dan Jenny memang saling sepakat untuk datang ke kantor lebih awal.

__ADS_1


...****************...


JENNY


Terkadang aku bertanya-tanya apakah aku terlahir tidak beruntung atau karena aku dikutuk? Atau mungkin, aku sendiri yang memilih untuk menjadi sakit. Aku bisa saja menghentikan semua ini. Tapi, aku memilih untuk terluka. Dan itu menyakitkan.     


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


 


Hari berjalan seperti biasa dan membosankan. Hanya kesibukan kerja dan sedikit kegiatan panas.


Aku tahu perasaanku dan pikiranku adalah hal yang sulit di mengerti oleh orang lain bahkan diriku sendiri. Mereka mengira aku pemberani dan cerdas. Mungkin juga mereka mengira aku gila, tapi aku sedikit setuju untuk itu. Picik dan tidak masuk akal adalah deskripsi terbaik. Tapi di luar itu, aku selalu memakai topeng. Topeng yang menyembunyikan rahasiaku. Yang selalu membuatku takut dan cemas.


Berdiri di depan kekasihku, aku mulai mengancingkan kemejanya. Kain itu melekat sempurna di tubuhnya dan menonjolkan detailnya. Aku suka bagaimana aku bisa melihat sixpack perutnya dari kemeja putihya. Dia menawan.


“Aku suka dasimu,” aku mengikat dasi bawarna black gold dan membetulkan kerahnya. Aku memperhatikan bagaimana selera fashionnya meningkat. “Aku belajar darimu,” kata Ruby tersenyum.


Aku meraih mantelnya dan membuatnya memakainya, memperbaiki kerah kemejanya. Aku suka melakukan ini untuknya, mengetahui bahwa istrinya tidak baik dalam merawatnya, dengan senang hati aku akan menggantikannya.


“Aku juga senang malam ini. Kamu sangat tampan dengan setelan hitam. Dan setiap setelan, kalau boleh kutambahkan.”


Dia terkekeh saat meraih tanganku dan meletakkannya di pinggangnya. “Di usiaku, aku tidak tahu apakah itu benar-benar pujian atau kamu hanya ingin aku merasa lebih baik.”


Aku menggelengkan kepalaku dan memeluk tubuhnya. “Izinkan aku mengingatkanmu bahwa ada banyak pria yang menjadi lebih seksi dan tampan seiring bertambahnya usia dan kamu salah satunya. Bahkan lebih dari mereka."


“Kau pikir begitu? Emmm bagaimana dengan Daniel? Aku tahu dia menggodamu tempo lalu.”


“Kenapa jadi membahasnya? Aku sudah menolaknya dan tentu saja kamu jauh lebih seksi darinya.”


“Astaga kamu benar-benar pandai berbicara.” Ruby tertawa sambil menciumku. “Oke, aku harus segera pergi. Teman-temanku pasti sudah menungguku.”


Aku melihat punggungnya yang mulai menghilang dari balik pintu


...Message...

__ADS_1


Hei cantik, apakah kamu sangat bersenang-senang sehingga melupakan janjimu padaku?


^^^Aku tidak lupa, aku baru akan memastikan sesuatu itu malam ini. Aku akan menemuimu 2 hari lagi di apartemenmu. Jadi sabarlah^^^


Oh, aku tidak sabar. Apakah kamu punya sesuatu lain untukku. Misalnya tubuhmu


^^^Sial. Kamu akan berhenti menggodaku setelah aku memberitahumu sesuatu^^^


Aku tidak yakin aku bisa berhenti menggodamu


Aku tidak menjawabnya lagi, kurasa kami cocok menjadi saudara karena sama-sama pandai menggoda. Bedanya dia kurang ajar dengan terang-terangan.


Mengambil tasku. Aku segera pergi dengan taksi menemui Ketrin. Dia menghubungiku untuk menemaninya belanja pakaian. Dan aku tidak mengatakan pada Ruby. Ada hal yang harus aku lakukan tanpa melibatkan siapapun.


...****************...


“Maaf saya telat, ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.” Aku menghampiri Ketrin yang sedang duduk di bangku depan toko besar dalam mall bersama anak keduanya Leo. Anak kecil yang manis dengan gigi kelincinya.


“Tidak apa-apa, hanya telat  sedikit.”


“Terima kasih.”


Kami memasuki sebuah toko brand ternama, tentu saja karena dia kaya. Aku memilihkan beberapa pasang pakaian, dan sepatu untuknya. Tidak diragukan bahwa dia memiliki aura old money yang kuat, meskipun selera fashionnya buruk. Tapi dia tetap terlihat menawan. Seperti ada label di dahinya bahwa dia kaya.


Aku menunggu Ketrin yang sedang mengganti baju dengan Leo di pangkuanku. Leo sangat manis dan lucu. Dia bahkan tidak rewel.


Kami berbelanja cukup lama, hampir 2 jam. dan sekarang kami sedang dalam perjalanan pulang. Ketrin meminta mengantarku apartemen.


"Terima kasih sudah menemaniku. Aku sangat bersemangat belanja denganmu, mengingat fashionmu sangat modis. Aku sangat iri. Mungkin karena kamu masih sangat muda dan aku sudah ketinggalan jaman.”


“Tapi anda sangat cantik di usia anda, bahkan orang akan salah mengira bahwa anda lebih tua dari saya.” Aku tidak bohong, Ketrin memang cantik di usianya yang tak lagi muda. Dia hanya tidak tahu bergaya dan aku setuju dia  sudah ketinggalan jaman.


Ketrin tertawa. “Kamu menyenangkan dan pandai memuji orang.”


Ya, termasuk menyenangkan suamimu.

__ADS_1


__ADS_2