
LUCAS POV
Pkl 23:22
Aku menatap Jenny yang sedang tertidur lelap di pelukanku, sepertinya dia lelah setelah menangis berjam-jam. Mata dan pipinya membengkak, namun dia masih terlihat cantik. Aku membelai lembut rambutnya. Ingin dia tidur lebih lelap dan nyaman.
Aku menatap wajah tenangnya, masih sangat melekat dalam ingatanku bagaimana Jenny yang ku kenal dulu adalah Seorang wanita baik, ceria, dan ramah. Namun, semuanya berubah setelah ayah tirinya melecehkannya, pria itu kurang ajar. Hatiku hancur saat melihat keadaannya, dia kabur dari rumahnya karena ibunya tidak mempercayainya.
Saat itu aku sangat marah dan benar-benar akan membunuh bajingan itu, namun Jenny menahanku. Dia terisak, tidak ingin aku dalam masalah. Semenjak itu Jenny mulai berubah dalam memandang dunia ini, dia banyak melakukan permainan bahaya, melakukan banyak hubungan badan untuk memenuhi egonya. Dia merasa dirinya kotor karena telah disentuh oleh bajingan itu, aku selalu mengatakan padanya bahwa yang kotor adalah bajingan itu dan ibunya yang lebih memilih suami mudanya. Aku bahkan membujuknya untuk rutin melakukan terapi ke psikolog. Aku hanya ingin dia baik-baik saja dan menjalani hidup dengan lembaran baru yang baik. Namun apa dikata, jiwanya sudah sangat terluka. Yang bisa aku lakukan saat ini adalah, menyayanginya, dan ada disetiap momen-momen terburuknya.
Namun sekarang dia memberitahuku bahwa jatuh cinta pada seorang pria paru baya yang sudah beristri dan mempunyai anak. Aku benar-benar hawatir untuknya, aku yakin seteguh apapun direkturnya menolak, pada ahirnya dia juga akan sama seperti yang lain. Memanfaatkan ego Jenny untuk memenuhi kebutuhan birahinya.
“Hmm, ini sudah jam berapa? Kamu tidak pulang?” Jenny menggeliat sambil memelukku erat. “Ini hampir jam 12 malam, dan aku tidak akan pulang, aku akan menemanimu di sini.” Aku menyisir rambut panjangnya yang halus, merapikan rambutnya yang menghalangi matanya. “Lalu kenapa kamu tidak tidur? Ayo tidur.” Jenny menatapku dengan mata bengkaknya, itu lucu dan menyedihkan disaat yang bersamaan. “Hey kenapa kau tertawa? Kamu sedang mengejekku.” Jenny merengek melihatku menertawakannya. “Kamu lucu dengan mata sipitmu.” Aku mengusap mata, dan pipinya dengan hati-hati. “Aku senang kamu di sini.” Jenny mencium tanganku. “Aku merasa aman saat bersamamu.”
Aku merebahkan tubuhku disampingnya, wajah kami berdekatan. Entah mengapa, bagaimanapun aku tahu tentang rahasia kelamnya, dimataku dia tetap seseorang yang polos dan murni, seorang wanita yang hanya sedang bingung mencari cinta dan perhatian. Aku mendekatkan dahi kami, aku bisa berasakan nafasnya berhembus di wajahku.
“Terkadang aku menyesal, aku tidak ada untuk menolongmu waktu itu.” Kataku sambil menatapnya, dan merengkuh tubuhnya, ingin dapat menyalurkan perasaan tulusku padanya. Aku sangat ingin melindunginya seumur hidupku. “Ini bukan salahmu, jangan pernah merasa bersalah (dia balas memelukku erat), meskipun begitu aku sangat senang kau tetap disisiku, menyayangiku dengan tulus, aku berharap kita akan tetap menjadi teman dan keluarga selamanya.”
“Benar, kau tidak perlu hawatir, aku adalah keluargamu, dan jangan pernah merasa sendirian.”
“Ngomong-ngomong, besok malam Rania mengadakan pesta dirumahnya, dia juga mengundangmu” “Benarkah? Wah tentu saja aku akan datang, aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Apakah pacarmu sudah selesai dengan pekerjaanya di luar negri?” tanyanya gembira.
__ADS_1
“Kurasa belum, dia bilang akan berada di sini selama beberapa bulan, lalu pergi lagi ke London”
“Waah dia sangat sibuk, apakah kamu tidak berniat ikut dengannya?” Matanya menatapku polos.
“Tidak, dia akan baik-baik saja. Aku akan ada sini untuk menjagamu.” “Jangan lagi, kamu bisa pergi berkencan, lalu menikah, aku akan baik-baik saja.”
“Tidak apa-apa, bukankah kamu bilang kita keluarga? Aku senang untuk menjaga keluargaku.” Dia tersenyum menatapku. “Rania pasti bahagia denganmu, apakah dia semakin cantik?”
“Yaaa. Aku rasa dia dan kamu selalu bertambah cantik setiap hari.” Jenny memukul dadaku pelan.
“Dasar buaya, apakah kamu mengatakan hal seperti itu pada setiap wanita?” Jenny cekikikan, aku senang melihatnya tertawa.
...****************...
Hari ini adalah hari yang buruk dan membosankan. Tuan Ruby pergi karena ada panggilan darurat dari klien. Dia pergi lebih awal dan keluar sepanjang hari.
Aku merindukannya. Dia hanya menelfon untuk memberitahuku bahwa aku bisa pulang lebih awal. Karena dia akan pergi ke sebuah acara pribadi setelah bertemu klient.
“Hy Cantik, kenapa kamu seperti sedang bersedih.” Daniel datang secara tiba-tiba dan menarik kursi untuk duduk disampingku. Aku memperhatikan sekitar, tidak ada karyawan lainnya. Mungkin karena jam makan siang, dan aku tidak sadar sedang sendirian karena terlalu sibuk memikirkan Tuan Ruby.
“Apa kamu punya waktu senggang?” Daniel mengedipkan sebelah matanya, aku benar-benar sedang tidak ingin berurusan dengannya. “Tidak, saya sibuk.” Jawabku singkat. "Waah kenapa kamu menjadi sangat jutek.? Apakah kamu tidak puas denganku setelah kegiatan panas kita terahir kali?” Daniel menyeringai nakal. “Tuan tolong, disini banyak cctv, saya tidak ingin Tuan Ruby berfikir bahwa saya hanya bermain-main selama dia tidak ada disini.” Aku mencoba mendorongnya menjauh.
__ADS_1
“Benar juga, Ruby sedang pergi dan tidak akan kembali." Aku dapat melihat seringai liciknya. “Kau tahu kan, di ruangan Ruby ada kamar khusus dengan ranjang. Aku bisa meminta izin Ruby untuk meminjamnya sebentar.” Dia berbisik di dekat telingaku sambil menjilatnya. Aku tahu apa maksudnya, dia benar-benar lelaki yang mesum.
“Tuan tolong, saya adalah asisten Tuan Ruby, jangan
bertindak berlebihan hanya karena saya menerima ajakan Tuan terahir kali, saya tidak ingin Tuan Ruby menganggap saya kurang ajar dengan Tuan Daniel yang memberikan perhatian lebih terhadap saya.” Kataku kesal, aku sedikit membentaknya.
“Hey kenapa kamu menjadi sangat marah, aku hanya mengajakmu bersenang-senang, jangan mengatakan sepeti hanya aku yang menikmatinya.” Aku dapat melihat dimatanya dia kesal, karena egonya terluka.
“Sekarang tinggal kau pilih, mau di ruangan Ruby, atau disini saat aku memulai, karyawan lain mungkin akan datang tiba-tiba dan melihat adegan panas kita.” Daniel menyingkap rokku mencubit pangkal pahaku. “Tolong jangan, apakah anda tidak mengerti apa yang saya katakan?" Aku membentaknya sambil memukul dadanya.
Daniel tampak terkejut “Hey tidak perlu kasar." Daniel membenarkan kemejanya yang lusuh. "Kenapa suasana hatimu tampak sangat buruk?" Daniel membelai pipiku.
"Tidak apa, saya hanya merasa sedikit sakit kepala." kataku berbohong. "Apa Ruby memberimu banyak pekerjaan?"
"Tidak juga." Aku sangat ingin dia segera pergi dari dekatku.
"Sayang sekali, kamu tidak seru hari ini."
"Maaf, tapi saya rasa perlu menekankan kepada anda, kejadian kemarin bukan apa-apa untuk saya, tolong jangan berlebihan, meskipun anda tipe saya secara fisik, tapi saya sedang tidak ingin bermain-main."
Daniel tertawa mendengarku, aku memandangnya heran. "Jadi kau pemain ya?" Daniel menyalakan rokoknya.
__ADS_1
Selama beberapa menit kami hanya diam dan membiarkan suasana tenang.