CINTA GADIS PENDOSA

CINTA GADIS PENDOSA
MENJADI LIAR


__ADS_3

Musik pesta sedang diputar.


“Mau menari?” Aku menawarkan Ruby untuk menari, seperti yang kukira, dia melambaikan tangannya untuk menolak sambil tersenyum malu-malu. Tapi sebagai wanita yang gigih, aku memohon dengan mata lembut dan segera menariknya ke lantai dansa.


Ruby sangat ragu untuk menari, tapi aku bisa melihatnya dia mencoba menyesuaikan diri. Dia menggerakkan sedikit badannya sambil mengikuti irama. Yang aku inginkan saat ini adalah membuatnya nyaman. Aku bisa merasakan Ruby sangat gelisah melakukan sesuatu seperti ini. Aku menari dengan sederhana, bertepuk tangan, menggoyangkan sedikit pinggulku, dan mengangkat tangan dari waktu ke waktu. Mataku memperhatikan sekitar, aku tidak ingin lucas melihatku sedang menggoda Ruby, itu akan menjadi masalah.


Aku bergerak dan menari lebih dekat dengan Ruby. Ruby tidak bergerak, dia bahkan melakukan kontak mata dengaku ketika aku terus melangkah maju, menggiling pinggulku ke pinggulnya. Aku memegang tangannya dan meletakkan disisi pinggulku, kaki ku bergantian dengannya saat kami mulai menari bersama. Saya bisa merasakan dia mulai merasa nyaman.


Aku berbalik dengan punggungku didadanya, dia tidak menolak. Aku mengayunkan pinggulku kedepan dan kebelakang sengaja untuk menggodanya. Senyum perlahan terbentuk di bibirku saat tangannya semakin erat di pinggangku. Wajahnya kini terkubur dilekukan leherku.


Ini dia, ini dia yang ku tunggu-tunggu


Aku berbalik untuk menghadapnya kembali dan bibir kami hanya berjarak beberapa centi. Mata kami bertemu dan matanya berkabut. Ruby lebih tinggi dariku sehingga aku perlu melihat ke atas hanya untuk melihat sekilas wajahnya yang tampan. Aku bergerak perlahan untuk menciumnya, tapi dia melangkah mundur dan menarikku kembali ke meja bar.


“Aku tidak terlalu nyaman untuk menari.” Dia tersenyum gugup. Aku  tahu dia sengaja menjauh, tapi berpura-pura tidak mengerti apa yang ku inginkan. Dia merasakannya, aku tahu itu. Aku tahu dia merasakan ketegangan se*sual. Aku tidak dapat menyangkal bahwa aku sangat kesal dan kecewa. Tidak ada yang pernah menolakku seperti ini. Aku merasa marah dan malu di saat bersamaan. Bagaimana mungkin dia bisa menolakku?


“Apakah kamu dengan seseorang?” Dia bertanya, memutar kursinya dan berusaha menghindari pahaku yang mendesak. Aku berdiri dan menarik kursiku mendekat. Mengabaikan niatnya yang ingin menghindariku. “Saya sedang bersama dengan seorang teman. Dia pacar sang tuan rumah.” Aku menunjuk Lucas yang sedang sibuk mengobrol dengan Rania. Ruby  menoleh ke arah Lucas dan mengangguk.


“Oh dia …, ku kira dia pacarmu karena terahir aku lihat kalian bertindak seperti pasangan.”

__ADS_1


Aku menyeringai menatap matanya. “Saya tidak akan berada di sini di depan anda,  jika saya bersama  pacar saya. Saya tidak punya pacar kalau-kalau anda penasaran.”


Tuan Ruby mengangguk dan meneguk minuman di gelasnya. Aku tidak pernah mengalihkan pandanganku darinya. Dia semakin tampan saat sedang gelisah, dan aku kecanduan. Bentuk wajahnya, senyum kecilnya, bau alcohol di nafasnya dan parfumnya yang musky.


“Aku sudah menikah.”


Tiga kata itu tarasa seperti pecahan kaca yang menggores kepalaku. Hatiku serasa diremas, lalu dikeluarkan dari dadaku. Sakit sekali mendengarnya. “Saya tahu,” kataku tersenyum padanya. “Kenapa anda mengatakan hal itu padaku?”


Matanya menatap mataku untuk beberapa saat sebelum menatap gelas minumannya. “Tidak apa-apa, aku hanya ingin membuat batasan antara hubungan professional dan kehidupan pribadi kita, maksudku ….”


Aku terkekeh memotong ucapannya dan dia melihat tampak bingung. “Saya tahu saya adalah asisten anda, tidak apa-apa saya suka tantangan, hanya itu.” Dia menatapku cemas.


Aku akan mematahkan tembok yang dia bangun, atau aku akan melompatinya. Kau tidak bisa menolakku Ruby. Menyerah tidak ada dalam kamusku, dan pertarungan baru saja dimulai. Aku akan memastikan kamu akan menjadi orang yang menarikku terlebih dahulu untuk ciuman, kamu akan jatuh. Dan aku akan menang.


Aku suka serigala. Serigala yang hanya hidup di alam liar. Mereka tidak bisa dijinakkan. Mereka ganas, agresif, kuat dan bebas. Aku senang menjadi serigala. Sejak aku hidup mandiri, aku selalu memiliki segalanya dengan caraku.


Ketika hal-hal tidak berjalan seperti yang aku inginkan, aku tidak bisa tidur akhir pekan itu. Aku tidak percaya seorang pria paru baya akan menolak wanita sepertiku? Apakah aku terlalu percaya diri?. Dari awal, aku sudah menganggap Ruby sebagai tantangan. Tapi tidak sekeras apa yang dia coba pura-pura tampakkan.


Aku mencoba untuk rendah hati, dan lembut. Mungkin, istrinya adalah manusia halus yang bersuara lembut. Kebalikan dari diriku. Aku mencoba untuk menjadi seimbang, tapi itu tidak berhasil. Jadi aku kira mulai sekarang aku perlu menunjukkan diriku yang sebenarnya.

__ADS_1


“Selamat pagi Tuan Ruby.” Aku menyapanya dengan cara paling formal yang bisa diucapkan suaraku. Aku meletakkan secangkir kopi di atas meja dan sandwich yang kubeli dari kedai kopi favoritnya. Bukan dari kedai favorit dan bukan makan buatanku sendiri seperti yang biasa aku buat.


Aku memperhatikan bagaimana ekspresinya berubah. Sudah lama sejak aku menyajikan kopi dari kedai kopi favoritku dan makanan sehat buatanku untuknya. Hari ini berbeda karena aku ingin dia merasakan kekecewaanku tentang apa yang terjadi akhir pekan lalu.


Dia melepas kacamatanya dan meletakkan penanya. “Kopi kesukaanku bukan yang itu lagi. Kukira kamu sudah tahu." Aku menatapnya dan mengangguk sopan. “Itu kopi dan sandwich yang tertulis dicatatan yang diberikan bu.salma. Tapi saya akan mencatat favorit barumu. Permisi.”


Aku berbalik memunggunginya dan aku berharap dia akan memanggilku kembali, dan itu terjadi. “Jenny, tolong duduk kembali." Aku tersenyum dikepalaku ketika aku berhenti. Menoleh ke belakang tanpa ekspresi diwajahku saat aku duduk di salah satu kursi di depan mejanya.


“Apa ada yang salah?” Aku tidak percaya dia akan menanyakan itu padaku. Aku mengharapkan permintaan maaf darinya. “Salah? Maaf Tuan, tapi saya tidak mengerti. Tidak ada yang salah, atau aapakah saya melakukan kesalahan?” Aku berusaha sepolos mungkin menanggapi pertanyaannya.


Ruby berdehem, mengendurkan dasinya. “Jenny, aku tahu kamu tahu apa yang aku maksud. Kamu adalah wanita pintar yang aku kagumi. Kamu masih muda, kamu memiliki banyak hal di depanmu …, lebih besar dan lebih cerah. Beberapa hal seharusya tidak berkembang. Aku harap kamu mengerti.”


Aku menyeringai mendengar kata-kata yang baru saja dia ucapkan. Aku hampir ingin muntah dan tersedak muntahanku. Dia membuatku malu untuk kedua kalinya. “Tuan Ruby  terima kasih telah melihat saya sebagai seseorang yang cerdas. Saya sama sekali tidak memikirkan apapun. Saya tidur nyenyak akhir pekan lalu dan saya harap anda juga. Dan juga sekedar tambahan, saya harap anda tidak terlalu percaya diri dengan masa depan, siapa yang tahu.?”


Aku menatapnya lekat, namun senyum Ruby membuatku bingung. Dia memijat pelipisnya dan bersandar di kursinya. Apakah kata-kataku terdengar lucu? “Kamu benar-benar berbeda.” Dia balas menatap lurus mataku.


”Ngomong-ngomong, aku akan mengirim email detail lengkapnya tentang perjalananku kepadamu, tapi aku juga akan mengatakan ini secara langsung padamu. Aku ada pertemuan di Las Vegas 2 hari lagi. Ini mendesak dan sangat penting, jadi harap batalkan semua janji temuku minggu ini sampai 5 hari kedepan dan jadwalkan ulang jika memungkinkan. Kamu perlu memesan jet pribadi, seluruh hotel satu lantai atau jika penthouse tersedia maka akan bagus. Aku ingin kamar mu berada di seberang kamarku sehingga kapanpun aku membutuhkanmu, aku dapat dengan mudah menghubungimu. Dan terakhir silahkan periksa catatan Salma tentang apa yang perlu kamu bawa setiap kali aku berada di luar negri. Apakah kamu mengerti?”


"Ya Tuan Ruby, saya mengerti dengan sangat jelas.” Aku menggaris bawahi kata satu lantai dan kamar di seberang, itu terdengar seksi. Aku rasa ini adalah kesempatan bagus untukku. Aku memohon diri setelah mencatat semuanya dibuku catatanku. 

__ADS_1



*Tuan Ruby yang menolak godaan Jenny, sampai kapan dia mampu menolaknya???


__ADS_2