CINTA GADIS PENDOSA

CINTA GADIS PENDOSA
KESALAHAN TAK BERUJUNG


__ADS_3

Aku menahan napas saat memikirkan apa yang telah terjadi. Duniaku perlahan runtuh tepat di depanku. Aku telah mengalami banyak hal. Banyak yang aku pikir rasa sakitnya akan hilang begitu saja seperti sebelumnya. Aku pikir cinta sudah cukup. Ternyata tidak. Cinta dapat menyebabkan banyak rasa sakit, khawatir, takut, marah, benci. Beberapa orang akan menunjukkan kepada kita bagaimana dicintai sebagaimana kita ingin dicintai. Perhatian yang kita cari dari seseorang. Percikan yang kita semua impikan. Namun terkadang, seseorang itu adalah orang yang salah. Ironis.


Dia orang berdosa. Aku orang berdosa. Kita adalah orang berdosa. Kami semua melakukan hal-hal berdosa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku suka saat dia terkubur jauh di dalam diriku. Rasanya luar biasa enak. Dia luar biasa, kurasa inilah sebabnya mengapa wanita selalu datang padanya untuk dia bawa ke tempat tidurnya. Dia tidak berbohong saat mengatakan, dia orang yang menyenangkan. Saat merasakannya sendiri, aku tahu itu.


Bau alkohol mungkin menempel di kulitku. Aku memiliki tanda ungu di sekitar pahaku, dia menghisap dan menggigit setiap inci kulit ku di sana. Dia tidak terlalu berbeda saat mabuk, tetap seorang penggoda. Hanya saja dia menjadi pria yang jauh lebih panas. Aku suka kasar. Aku suka saat kulit kami saling menampar. Rasanya bagus. Saking bagusnya, mataku berputar, jari kakiku melengkung, bibir dan setiap ototku gemetar.


Aku belum pernah bercinta di mobil. Ini sempit dan tidak bebas, namun menyenangkan. Salah satu kakiku berada di pundaknya dan tangannya berada di belakang pahaku. Aku terus mengerang saat dia terus mendorong, keras, sangat keras sampai mobil besar ini bergoyang.


“Sialan Jen! Kamu sangat nikmat!” Dia mengerang. Dorongannya cepat dan dalam. Dia tahu bagaimana


cara menyenangkanku. Aku bisa merasakan seluruh tubuhku bergetar, saat dia mendengus sebelum menyemburkan cairannya dalam diriku. Dia tidak memakai pelindung, rasanya hangat. Aku tidak tahu mengapa aku mengizinkannya melakukan tanpa pengaman. Aku hanya perlu meminum pencegah kehamilan kan?.


Daniel ambruk di atasku, aku sedikit mengeluh karena berat badannya. Dia meminta maaf, lalu membalik badanku sampai aku aku berada di atasnya. Dadanya naik turun, napasnya berat.


Lengannya adalah hal berikutnya yang kurasakan. Dia menarikku lebih dekat dengannya. Aku menyandarkan kepalaku di dadanya. Aroma parfumnya bercampur alkohol begitu membuat ketagihan. Itu menenangkanku.


“Maaf, aku lupa tidak memakai pengaman.” Kata Daniel sambil mengelus pelan punggungku. “Tidak apa-apa, aku akan meminum pil pencegah kehamilan.”


Daniel tertawa tiba-tiba, aku melihatnya bingung. “Kenapa kamu tertawa?”


Dia menatapku, mengecup singkat bibirku. “Aku benar-benar tidak suka berebut wanita dengan seorang teman. Tapi sekarang aku meniduri pacar temanku. Ini gila.”


“Kamu menyesal?” Aku merasa sedih mendengar kata-katanya. Daniel memelukku erat, mencium keningku. “Tidak, aku tidak menyesal. Hanya saja aku merasa ini bukan diriku. Aku mempertaruhkan pertemananku untukmu.”


“Kamu sudah menghianati temanmu sejak membantuku mengambil berkas penting Ruby. Kamu sudah mempertaruhkan pertemananmu sejak itu.” Aku menusuk-nusuk pelan dadanya dengan ibu jariku.

__ADS_1


Daniel tertawa. “Benar, aku mempertaruhkan semuanya untukmu. Kurasa kamu benar-benar harus berhenti sampai di sini. Kamu akan menyakiti dirimu sendiri.” Aku tidak menjawabnya. Itu aneh karena dia terdengar peduli padaku, kata-katanya seperti Lucas.


...****************...


“Selamat pagi!” Aku menyapa Ruby saat dia memasuki dapurku. Dia duduk di salah satu kursi meja makan. Dia terlihat pusing. “Aku membuat sup mabuk. Makanlah sebelum kau pergi.” Ruby merentangkan tangannya, memintaku untuk menghampirinya dan aku melakukannya. Aku duduk dipangkuannya saat dia meletakkan dahinya di pundakku. “Terima kasih telah merawatku. Apa aku menyusahkanmu tadi malam?”


“Sama-sama, dan tidak. Kamu tidak menyusahkanku, aku hanya melepas sepatu dan dasimu, lalu aku ikut berbaring tidur denganmu,” aku berbohong tentu saja. Melingkarkan lenganku di lehernya, memainkan rambut coklat halusnya. Baunya seperti vanilla, shampoku, dia sudah mandi.


Ruby tetap diam. Mungkin efek samping dari alkohol muncul. Dia mengangkat kepalanya dan tersenyum padaku. “Maaf, aku sakit kepala parah. Aku senang kau disini bersamaku.” “Aku peduli padamu. Aku ingin kau tahu itu.”


Mata Ruby menatap mataku sebelum memberiku senyum malu-malu. Tangannya bersandar di pinggangku dan meremasnya. Dia membungkuk untuk mencium pipiku. “Terima kasih. Aku berharap bisa membalasmu lebih banyak. Maaf jika aku tidak bisa.”


Aku berdiri dan meletakkan semangkuk sup di atas meja. Memberinya sendok agar dia bisa makan. “Makan lah selagi masih panas, dan berhenti memikirkan itu. Aku tahu aku hanya orang lain dan aku tahu keterbatasan kita. Sekarang makanlah, sebelum istrimu mulai mencarimu.”


Aku melihatnya makan sup yang aku siapkan. Dia terus memuji bagaimana rasanya. Aku menikmatimemasak untuk Ruby. Caraku dulu untuk mendapatkan perhatiannya sekarang berubah menjadi kebiasaan. Aku sadar, tampaknya aku hanyalah pilihannya.


“Bisakah kamu menyimpan tanggal 16 bulan depan untukku?” tanyaku saat kami menuju lift.


“Ulang tahunku.”


Ruby memberiku senyum lebar sebelum mendaratkan ciuman di bibirku. “Tentu saja! Aku milikmu di hari ulang tahunmu! Aku akan memasukkannya ke dalam kalenderku.”


Melingkarkan lenganku di pinggangnya, selama 7 tahun terakhir, aku selalu merayakannya sendirian atau bersama Lucas. Lucas special tapi sebagai ‘keluarga’. Ruby berbeda, dia separuh lainnya. Meskipun aku hanya seperempat di hatinya.


“Terima kasih. Harap berhati-hati. Sampai jumpa di kantor,” kami berciuman sekali lagi.


“Sampai jumpa.”


...****************...

__ADS_1


RUBY


Aku duduk di tepi tempat tidur diawasi oleh Ketrin, melepas sepatu dan kaus kakiku. “Apakah kamu menikmati malammu?” Ketrin bertanya masih memperhatikanku saat aku mulai menanggalkan pakaian. Kepalaku masih berdenyut karena mabuk. Aku jarang minum banyak.


“Ya. Daniel selalu menjadi teman terbaik, kami bersenang-senang. Bagaimana denganmu?” Aku menatapnya dan dia tersenyum. Berjalan ke arahku dan melingkarkan tangannya di tubuhku. “Jenny adalah teman belanja yang menyenangkan. Tentu saja aku menikmatinya.” Aku mengangguk dan mencium keningnya. Pikiranku berpacu. Aku perlu memejamkan mata, tetapi setiap kali aku melakukannya, bayangan Jenny muncul.


Aku merasakan lengan Ketrin mengendur di pinggangku.” Aku meminta pelayan untuk memasak untukmu. Juga, hanya untuk memberitahumu, aku mendaftar di sekolah memasak agar aku bisa memasak untukmu setiap hari.”


Mataku terbelalak mendengarnya. Dia mengatakan sesuatu yang kuharap dia katakana sejak lama. “Dan apa yang membuatmu memutuskan untuk belajar memasak?” Ketrin memunggungiku dan duduk di tepi tempat tidur dengan senyum matanya yang khas.


“Aku tahu kamu ingin aku memasak untukmu, tetapi aku tidak bisa karena ibuku gagal mengajariku dan aku tidak tertarik. Sean memberitahuku bahwa Jenny selalu membawa makanan masakannya sendiri untukmu. Irene juga memberi tahuku bahwa seorang istri setidaknya harus tahu cara memasak satu atau dua hidangan untuk keluarganya. Itu kekuranganku. Aku merasa telah lalai dengan tanggung jawabku sebagai istri dan seorang ibu. Aku menyadari bahwa aku harus lebih memperhatikan kebutuhanmu dan anak-anak. Jadi karena itu aku mendaftar. Aku ingin melakukannya untukmu."


Aku terdiam setelah mendengar itu. Aku pikir mabukku hilang begitu saja dalam sekejap. Terlalu banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku, kenapa baru sekarang? Mengapa setelah dua puluh tahun?


“Salma juga memasak untukku. Setelah dua puluh tahun, kamu baru menyadarinya sekarang?” Ketrin terlihat terkejut dengan pertanyaanku. Mungkin, lebih karena nada bicaraku. Aku tahu, aku terdengar bingung dan kurang senang. Tapi ini sangat tiba-tiba.


“Apakah kamu tidak bahagia? Maksudku, kupikir kamu akan senang mendengarnya. Aku tidak bermaksud apa-apa dengan itu. Aku hanya ingin belajar. Aku senang orang-orang baik disekelilingmu memasak dan peduli padamu. Tapi pada saat yang sama, itu membuatku merasa tidak berguna. Tolong jangan salah paham. Niatku itu positif.”


Matanya memohon. Sudah lama tidak melihatnya sedih dan itu langsung membuatku merasa bersalah.


Dia mencoba dan berusaha menjai istri yang baik. Aku mengahargai itu, tetapi pada saat yang sama, aku merasa ini agak terlambat.


Aku menariknya dan memeluknya. Aku mencium keningnya, “Maaf, aku tahu aku terdengar kasar. Aku menghargai niat baikmu. Aku hanya bingung kenapa tiba-tiba. Maaf, aku minta maaf. Aku senang kamu mau belajar dan aku menantikan makanan yang akan kamu siapkan.” Ketrin tersenyum. Dia menyandarkan kepalanya di dadaku dan aku mendengar dia menghela nafas.


“Sejujurnya, ketika Sean memberitahuku bahwa Jenny sering membawakanmu makanan, aku mulai merasa tidak aman. Aku tahu aku memiliki banyak kekurangan. Tidak hanya dalam memasak, dalam merawat kamu dan anak-anak kita , tetapi juga di tempat tidur. Aku memiliki dorongan se*ks yang rendah selama bertahun-tahun sekarang dan aku tidak mengerti mengapa. Maaf. Aku ingin menjadi istri yang baik tetapi rasanya aku gagal.”


Aku bisa merasakan beban dalam suaranya dan rasanya seperti ada yang meremas hatiku. Aku tahu


kekurangannya seharusnya tidak menjadi alasan bagiku untuk selingkuh. Tetapi aku tidak dapat menahan diri untuk tidak mencari kekurangannya dari orang lain. “Tolong jangan katakan itu. Aku minta maaf jika aku membuatmu merasa seperti itu. Aku tahu terkadang aku tidak peka dan banyak menuntut. Maaf, dan tolong tidak ada alasan untuk merasa tidak aman. Jenny adalah asistenku. Aku hanya senang dan puas karena pekerjaannya. Aku harap kamu mengerti.”

__ADS_1


“Terima kasih telah mengerti, dan aku senang kamu suka aku mendaftar di kelas memasak. Aku tidak sabar untuk bisa memasak untukmu.” Menciumnya, aku tidak menutup mata. Itu aneh, aku tidak bisa mengerti perasaanku. Hatiku terkoyak karena bingung. Aku mencintai Ketrin tentu saja, namun pada saat yang sama aku tidak ingin kehilangan Jenny.


“Mari kita makan malam keluarga pada hari jumat?” Ketrin tersenyum dan aku tidak bisa mengabaikannya. Aku mengangguk sebelum memeluknya lagi, “Tentu.”


__ADS_2