CINTA GADIS PENDOSA

CINTA GADIS PENDOSA
TERUS MEMBAKAR


__ADS_3

"Kebanyakan  orang curang karena mereka hanya memperhatikan apa yang mereka  lewatkan, bukan apa yang mereka miliki"


Beberapa orang memiliki masa  lalu yang kelam. Masa lalu yang terus mereka rahasiakan. Banyak alasan mengapa seseorang merahasiakannya. Pertama, karena malu. Kedua, karena takut dihakimi. Dan ketiga, karena takut orang yang disayangi akan berpaling lalu pergi.


Namun pada akhirnya, orang yang benar-benar peduli akan tetap tinggal. Dan orang yang mencintai akan mendengarkan.


...****************...


JUMAT


Ruby mengemudi lebih cepat dari biasanya karena dia terlambat 20 menit untuk makan malam keluarga mereka. Dia berada di pertemuan sepanjang hari. Lalu langsung pergi ke restoran tempat istrinya membuat reservasi.


“Maaf aku terlambat,” Ruby membungkuk untuk mencium Ketrin yang tersenyum melihatnya datang. “Tidak apa-apa. Aku tahu kamu sedang rapat. Jenny memberitahuku.”


Ruby menatapnya dengan pertanyaan di matanya. Dia tidak menyadari bahwa Jenny dan Ketrin saling mengirim pesan. “Kau mengirimnya pesan?” Ketrin mengangguk. “Jadi sebaiknya kamu tidak melakukan sesuatu yang tidak biasa karena Jenny akan melaporkannya kepadaku.”


Ketrin tertawa melihat Ruby yang terlihat kaget dengan beritanya. Namun dia mencoba untuk menggoda Ketrin, “Aku yakin Jenny tidak akan melakukan itu. Dia adalah asistenku, kesetiaannya ada padaku.”


Ketrin menggelengkan kepalanya dengan senyum nakal di wajahnya. “Apakah kamu yakin? Jenny adalah temanku dan aku yakin dia tidak akan mentolerimu.”


“Tunggu, dimana Irene?” Ruby memperhatikan putrinya tidak ada disana. “Dia menunggu Jenny di luar, agar Jenny tidak bingung.”

__ADS_1


“Menunggu?” Ketrin tersenyum pada Ruby yang terlihat terkejut, “Jenny datang?”


Ketrin mengangguk, membuta wajah imut karena dia tidak memberitahu Ruby sebelumnya. “Ya. Aku minta maaf karena tidak memberitahumu. Aku mengundangnya. Dia sangat baik padaku.”


“Ya ayah. Aku juga ikut saat mama belanja dengan kak Jenny. Dia sangat baik. Lain kali aku ingin bermain dengannya.” Leo ikut menjawab dengan nada bicara lucunya. Ruby menjadi lebih terkejut, karena biasanya Leo susah untuk akrab dengan orang asing. Ruby tidak menyadari bagaimana Jenny bisa berteman dengan istrinya. Dan sekarang anak-anaknya juga.


Saat mereka asyik mengobrol, pelayan mulai menyajikan makanan dan Jenny tiba bersama Irene.


“Maaf, aku terlambat,” Jenny meminta maaf sambil duduk di samping Leo, sengaja duduk di sebrang Ruby.


“Tidak apa-apa. Aku tahu kamu mengalami hari yang panjang, tapi aku senang kamu datang.” Ketrin dengan sopan menyambut Jenny, yang memberi Ketrin sebuah tas kecil. “Oh, apa ini? Kamu manis sekali.” Jenny tersenyum, “Hanya tanda terima kasih sederhana karena telah mengundangku ke sini.”


Ketrin dengan semangat membuka tas tersebut dan ternyata Irene yang lebih terkejut dari pada Ketrin, “OMG …, itu dompet dior terbaru, aku lihat dari website mereka. Astaga, Jenny bisakah kamu juga menemaniku belanja? Seleramu benar-benar bagus.”


Makan malam itu kebanyakan sepi, terutama Ruby yang baru saja menanyakan bagaimana sekolah Leo dan Irene. Irene cukup terkejut saat mengetahui ibu mereka mendaftar di sekolah memasak. Jenny tidak senang dengan berita itu. Dia tidak suka itu.


Setelah beberapa saat mengobrol, Ruby membeku di kursinya saat dia merasakan sesuatu menggesek pahanya. Dia tahu persis apa itu, tapi dia mencoba yang terbaik untuk tetap tenang karena dia tidak ingin Ketrin menyadarinya. Dia berdehem dan bergeser di kursinya saat Jenny berusaha menyembunyikan seringai di wajahnya.


Ruby memegang lengan Ketrin membuat Ketrin melihat ke arahnya. Mencondongkan tubuh lebih dekat, Ruby membisikkan sesuatu, “Oh, apa kamu baik-baik saja? Tentu, luangkan waktumu. Aku akan meminta pelayan untuk menyiapakan makanan penutup sementara kami menunggumu.” Kata Ketrin hampir berbisik, sambil menghibur Ruby yang memegangi perutnya.


Begitu Ruby menghilang dari pandangan, Irene menggelengkan kepalanya, “Ayah mengalami hiperasiditas lagi?” Ketrin mengangguk dan menatap Jenny, “Maaf soal itu. Dia seperti itu saat setres di tempat kerja.”

__ADS_1


“Rekan bisnisnya sangat menuntut, aku tidak bisa menyalahkannya,” Jenny terlihat sedikit terkejut saat dia mengeluarkan ponselnya, “Bisakah aku permisi sebentar? Temanku mengirim pesan. Dia bilang ini mendesak. Aku hanya akan menelfonnya.”


“Tentu, tentu. Tidak masalah.”


Jenny bergegas menuju pintu sambil mengawasi Ketrin dan anak-anaknya. Setelah yakin bahwa mereka tidak melihat, dia langsung berjalan menuju toilet. Dengan senyum jahat di wajahnya, dia mencoba mendorong pintu bilik dengan lembut. Satu per satu, mencari apakah ada seseorang di dalam. Semuanya kosong, kecuali satu yang terakhir. Begitu sampai di pintu terakhir, dia langsung tahu bahwa Ruby ada di sana. Tidak menunggu lama, Ruby membuka pintu. Mata Ruby melebar saat dia melihat Jenny berdiri di depannya dan mendorongnya kembali ke dalam bilik, menangkap bibir Ruby sambil mengunci pintu.


Ciuman mereka kasar dan liar saat Jenny menyentuh anggota tubuh Ruby. Dia bisa merasakan anggota tubuhnya yang keras di balik celananya. Ruby menghentikan tangan Jenny yang akan membuka kancing celananya.


“J-jen …, kita di tempat umum …” Jenny terkekeh dan berbisik, “ Aku tahu. Jadi mari kita percepat. Oke?”


“Kamu gila. Kita tidak bisa melakukan ini di sini.” Ruby balas berbisik, gelisah.


Jenny mengabaikan apa yang baru saja dikatakan Ruby. Sebaliknya, dia menurunkan celananya, tepat di atas lututnya. Membalikkan punggungnya ke Ruby, memposisikan dirinya di dinding. Membungkuk sedikit, sambil sedikit merentangkan kedua kakinya. Memastikan Ruby melihat semuanya. Jenny menunggu Ruby yang masih memandang ragu.


Namun tak lama, Jenny merasakan Ruby menempel padanya, memeluknya dari belakang. Jenny tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Ia sangat menginginkan momen itu, sangat. Dia memimpikan saat itu akan datang. Ketika Ketrin ada di sekitar, sementara Ruby menidurinya.


Jenny tersentak, tangannya bersandar di dinding saat Ruby mulai mendorong kuat. “Jangan bersuara,” Bisik Ruby sambil memberikan kecupan lembut di leher, dan menggigit telinga Jenny dengan lembut. Jenny menggigit bibirnya saat dia menekan erangan yang mengancam akan keluar dari mulutnya. Dia melemparkan kepalanya ke bahu Ruby saat semburan air m*ni langsung memenuhi dirinya.


Dia mendengar Ruby mendengus dan menarik diri. Berlutut, Jenny membuka mulutnya saat Ruby mengelus anggotanya. Melepaskan cairannya di mulut Jenny. Memastikan Ruby melepaskan semua ke tenggorokannya.


Kembali berdiri, Jenny membenahi celana dan bajunya. Dengan senyum lebar diwajahnya, dia memberi Ruby ciuman cepat di bibir. “Aku menikmatinya.” Jenny mengedipkan mata sebelum perlahan membuka pintu. Mencuci tangan dan membasuh wajahnya di wastafel. Lalu keluar dari toilet dengan senyum jahat lebar di wajahnya.

__ADS_1


Aku mungkin akan terbakar. tapi, aku akan membawa kalian semua


__ADS_2