
"Karena saya tidak yakin jika Ibu kamu benar-benar sakit. Bisa saja, yang menyuruh kamu meminta uang saya bukan ibu kamu, melainkan selingkuhan kamu itu. Oh bukan selingkuhan, tapi kekasih lama kamu sedari kamu belum menikah dengan saya!"
Amira mematung ditempatnya. Ia tak tahu lagi bagaimana caranya melembutkan hati Andika, sang suami saat ini. Rasanya lelah, tapi ia tak memiliki pilihan lain selain bertahan sekalipun Andika mengusirnya berkali-kali.
Wanita itu menyesal, telah membohongi Andika di masa lalu. Tetapi sungguh, itu sebuah khilaf yang ingin Amira tebus segera. Mengenai pacar Amira, namanya Anton. Sayangnya, Amira sudah tak memiliki hubungan spesial lagi dengan Anton.
"Kalau ngomong jangan ngasal, mas. Aku sama Anton nggak ada hubungan apapun lagi. Aku dan dia cuman sebatas mantan, nggak lebih," Amira mencoba untuk memberitahu Andika.
"Oh ya? Mantan yang keterusan? Begitu? Saya memergoki kamu sewaktu kamu ketemu sama dia, dan itu belum ada dua puluh empat jam, Amira! Masihkah kamu mau menyangkal? Saya tidak mengerti, dimana otak kamu!" hardik Andika dengan kasarnya.
Amira diam-diam kembali meneteskan air mata. Rasanya tak tahan dengan siksaan batin dari Andika, yang ia terima terus menerus setiap hari. Kesabaran Amira, kini mendadak terkikis.
"Oke kalau kamu nggak percaya, aku nggak masalah. Aku akan cari uang sendiri untuk Ibuku. Bilang aja kalau kamu nggak mau kasih, nggak usah ungkit-ungkit nama Anton, padahal aku dan dia bukan lagi pacar," sahut Amira sebelum berbalik dan pergi, meninggalkan Andika yang kian berang.
"Kembali kamu Amira!" teriak Andika dengan lantang. Sayangnya, Amira terus melanjutkan langkah tak peduli.
Wanita itu segera masuk ke kamar dengan menangis, melewati mbok Yem tanpa menyapa.
"Kenapa, Bu Mira?" tanya mbok Yem, yang hanya diacuhkan begitu saja.
Suara brak keras pintu kamar tamu yang Amira tempati selama ini, cukup membuat mbok Yem kaget. Amira sudah tak peduli, andai nanti dirinya di cap sebagai wanita tak tahu aturan. Emosi ibu hamil yang satu itu, benar-benar tak terkontrol.
"Amira, kembali!" teriak Andika seraya berjalan cepat menuju ke arah kamar Amira.
"Kenapa lagi, Pak? Bertengkar lagi?" tanya mbok Yem berbasa-basi. Wanita paruh baya itu tahu, bahwa majikannya itu tiada hari tanpa bertengkar hingga berteriak-teriak.
__ADS_1
"Amira meminta uang untuk Ibunya yang sakit, mbok. Saya nggak tahu lagi, gimana caranya menghadapi Amira. Bukan perkara jumlah uang yang mau dia kirimkan ke Ibunya, tapi dia selalu menyangkal semuanya," ujar Andika.
Lelaki itu mendesah lelah, duduk di sofa ruang tengah dan memejamkan matanya. Bahunya ia sandarkan pada sandaran sofa yang empuk, berusaha meredam lelah.
Sudah emosinya tersulut oleh Deswita, tetapi lihatlah sekarang, ia pulang ke rumah bukannya mendapat ketenangan, tetapi justru bertengkar dengan Amira dan dibuat pening karenanya. Andika tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi dua wanita itu.
"Duduk, mbok. Saya mau cerita," perintah Andika pada pembantunya.
Lelaki itu benar-benar kelelahan kali ini.
Mbok Yem ikut duduk. Seperti biasa, selama ini selalu mbok Yem yang mendengar segala keluh kesah yang Andika rasakan. Lelaki itu memang pernah khilaf di masa lalu, tetapi mbok Yem sangat tahu, jika Andika juga sama sakit.
"Cerita apa, pak?" tanya mbok Yem.
"Bagaimana menurut mbok Yem, mengenai Amira? Apa sebaiknya saya pindahkan saja dia dengan saya belikan rumah sendiri? Saya tidak betah seatap sama dia, dan harus bertengkar terus menerus," ungkap Andika.
"Kalau bapak dan Bu Amira berpisah, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kandungan Bu Amira, sementara tidak ada orang yang menjaga Bu Amira? Lagi pula sudahi bertengkarnya kalau menurut mbok Yem. Ibu hamil memang suka tersulut emosi. Emosinya itu loh, tidak stabil. Jadi, jangan sering dibuat menangis," ujar mbok yen.
Andika masih setia memejamkan matanya. Lelaki itu benar-benar lelah bukan main.
"Dia sendiri yang memancing kegaduhan dalam rumah tangga kami, mbok," ungkap Andika.
"Jika boleh mbok Yem tanya, apa Bapak masih sangat mencintai Ibu? maksudnya, Bu Wita?" tanya mbok Yem hati-hati.
Mendengar nama Wita disebut oleh mbok Yem, Andika segera membuka matanya dengan cepat.
__ADS_1
"Saya masih sangat mencintai dia, mbok. Tapi Wita memilih pergi karena kedatangan Amira di rumah ini. Saya tidak menyalahkan Wita, saya yang salah. Wajar saja jika dia pergi," jawab Andika seraya menegakkan punggungnya.
"Bapak sering marah dan bertengkar dengan Bu Amira, karena di hati bapak hanya ada Ibu. Tapi bapak juga harus bijak, Bu Amira juga tidak meminta ada di posisi ini dan tidak mau di salah-salahkan seorang diri," ungkap mbok Yem memberi petuah, sebagai orang yang lebih tua.
"Tapi saya nggak yakin kalau anak yang Amira kandung, itu anak saya. Sampai sekarang dia masih berhubungan dengan lelaki itu, lelaki yang sejak dulu berseliweran dalam hidupnya," sahut Andika lirih.
"Terlepas dari itu anak bapak atau bukan, yang jelas bapak sudah pernah berhubungan badan dengan Bu Amira, saat bapak masih menjadi suami Bu Wita. Inilah masalahnya, membahagiakan Bu Mira juga menjadi bagian dari tanggung jawab bapak. Mau anak Bapak atau bukan, tapi kasihan bayinya, Pak, harus menerima kebencian Bapak," sambung mbok Yem pelan.
Suasana mendadak hening. Amira sudah keluar entah kemana membawa tasnya.
"Bapak ada yang mau disampaikan lagi?" tanya mbok Yem pelan.
"Deswita sedang dekat dengan lelaki lain, mbok. Apa saya salah, kalau saya cemburu?" tanya Andika dengan gamblangnya.
"Tidak salah karena saya tahu Bapak masih sangat mencintai Ibu. Tetapi jangan sampai, nanti Bapak membuat diri bapak terjebak dan menjadi bahan amukan Ibu. Jaga perasaan Ibu, Pak. Biar bagaimana pun, Ibu berhak bahagia," jawab mbok Yem masuk akal.
Andika diam sejenak, bingung hendak bagaimana mengutarakan satu pernyataan.
"Mbok, bagaimana jika saya dan Wita rujuk saja? Saya tidak mau kehilangan Wita. Cinta saya sangat besar untuknya. Terjebak bersama Amira, membuat saya menyesali kekhilafan itu," ujar Andika lagi.
"Terus, bagaimana dengan Bu Amira?" tanya mbok Yem.
"Saya akan menceraikan Amira setelah anak itu lahir. Kalau Amira keberatan, saya akan mengadopsi anak itu jika Amira keberatan mengurusnya, mau itu anak saya atau bukan. Yang terpenting, saya tidak bisa jauh dari Wita lebih lama lagi," jawab Andika.
"Jangan terburu-buru mengambil keputusan, Pak. Pikirkan lagi agar Bapak tidak salah jalan. Saya mengerti perasaan Bapak, saya yakin kalau Bapak tahu yang terbaik untuk semua orang," mbok Yem akan mendukung, jalan apapun yang akan di tempuh majikannya.
__ADS_1
**