Cinta Mantan Suami

Cinta Mantan Suami
29. Curhatan Wita.


__ADS_3

Sore merambah menuju malam. Deswita baru saja selesai makan malam, dan hendak istirahat. Seharian ini, rasa lelah begitu membuat seluruh otot dan sendi-sendinya berteriak protes.


Wanita itu duduk di ruang tamu, menikmati acara televisi yang menampilkan acara pembahasan tentang busana dan kecantikan wanita. Setoples kue kacang kesukaannya, menjadi temannya malam ini.


Tidak ada Kelan begini, tentu membuat Wita kesepian. Setelah menghabiskan waktu cukup lama bersama Ardian tadi siang, makan siang hingga berbelanja beberapa kebutuhannya, Wita akhirnya pulang, dan masih harus membersihkan beberapa sudut rumah yang kotor. Alhasil, lelah membuat Wita tak ingin melakukan apapun saat ini.


Suara motor tiba-tiba mendekat ke arah rumah Wita. Tentunya Wita bisa melihat kedatangan Amanda, sahabatnya itu dari balik jendela. Sekitar satu jam lalu, Manda mengabari Wita untuk makan malam bersama. Tentunya Manda yang membawa makanan dari rumahnya.


"Sendirian? Suami kamu mana?" tanya Wita setelah Manda turun dari motor. Tak lupa, Wita juga membantu Manda untuk membawa makanan yang Manda buat untuk makan malam mereka.


"Sedang tugas di luar kota. Belakangan dia sibuk banget, sore tadi baru jalan," jawab Manda.


"Gimana kabar kamu, Ta, sehat?" tanya Manda sembari keduanya terus berjalan masuk ke dalam rumah Wita.


"Sehat, dong. Tapi ya lelah masih kerasa banget. Aku kangen banget sama kamu, tau," ungkap Wita seraya mengulas senyum. Tangannya dengan cekatan memindahkan makanan ke atas wadah.


"Sama. Aku pikir kamu terlalu bahagia akhir-akhir ini, karena kamu terlalu sibuk sama seseorang," ledek Manda tertawa kecil.


Pertemuan tak sengaja tadi di sebuah restoran, spekulasi Manda sudah kemana-mana tentang Wita dan Ardian.


"Sibuk? Maksudnya?" tanya Wita tak mengerti. Wanita itu masih tidak paham dengan apa yang sahabatnya katakan.


"Tadi aku nggak sengaja lihat kamu makan siang bareng sama Dian, teman sekolah kamu yang waktu itu ketemu kita," jawab Manda.


Keduanya lantas duduk di meja makan. Mereka makan dalam suasana hangat dan lanjut membicarakan tentang kedekatan Dian dan Wita.


"Oh itu, tadi itu makan siang bareng karena dia yang ngajak, Manda. Ada hal yang kami bahas dan diskusikan," Wita mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya secara perlahan.

__ADS_1


"Oh ya? Apa itu?" tanya Manda penasaran.


"Apa Ardian suka sama kamu?" tanya Manda lagi.


"Ya, waktu itu dia bicara jujur. Tentunya aku nolak dan aku mau kami berteman saja," jawab Wita.


"Hah? Kapan itu? Kok aku ketinggalan berita, sih?" tanya Manda kemudian.


"Waktu itu sebelum aku pulang ke kampung. Dan kemarin, em . . . nanti lah kita bahas. Ayo makan dulu. Aku akan cerita beberapa hal ke kamu," ujar Wita mencoba untuk menyelesaikan makan malamnya.


Dalam diam, Wita memikirkan banyak hal. Selepas ia sampai di rumah tadi, ia mempertimbangkan kembali tawaran Dian. Jujur saja, Wita tentu tergiur. Terlebih, Dian menawarkan beberapa posisi yang cukup lumayan bagi Wita.


Hanya saja, disini Wita merasa tak nyaman sendiri pada Manda, jika dirinya harus berhenti bekerja di tempat lama. Maklum saja, dulu, Manda yang membantunya agar segera dapat pekerjaan.


Hingga makan malam keduanya usai, Wita segera mencuci piring dan mengajak Manda untuk duduk di ruang tamu.


"Ada apa? Kamu mau bicara apa tadi?" tanya Manda setelah keduanya duduk di ruang tamu.


"Manda, Ardian menawariku pekerjaan dengan posisi yang bagus dan peluang yang lebih besar di tempatnya bekerja. Menurut kamu, bagaimana?" tanya Wita, tak segera mengungkapkan ketertarikannya untuk mau pada tawaran Dian.


"Ya, terserah kamu, dong. Tapi menurut aku, itu baik dan kamu patut mencoba. Lagian selagi ada peluang yang lebih baik dan penghasilan yang bisa lebih besar, kenapa enggak? Ya, kan?" tanya Manda.


Wita mengerjapkan matanya beberapa kali, tidak menyangka Manda akan bersikap jauh dari apa yang ia takutkan.


"Iya, sih. Aku juga berpikir mau nerima tawaran Ardian. Tapi ya, mau gimana lagi? Aku bekerja di tempat kakak kamu. Gimana cara pamitnya, coba. Aku nggak enak juga sama kamu karena kamu yang sudah bantu aku masuk kesana. Disana juga, gajinya lumayan," ungkap Wita jujur.


Tawa renyah terdengar dari bibir Manda yang dibalut lipstik warna merah cerah.

__ADS_1


"Nggak masalah, nanti aku bantu ngomong ke kakakku. Jangan khawatir, kakakku bukan tipe orang yang suka menekan," ungkap Manda.


"Semoga kamu betah kerja di tempat baru. Jangan lupa juga, kabari aku kalau hubunganmu dan Dian ada perkembangan."


"Perkembangan apa? Aku sudah cerita sama kamu, aku nggak bisa nerima Dian. Lagi pula, aku nggak ada rasa apapun sama dia," ungkap Wita.


"Kamu harus mulai buka hati setelah bercerai dari Andika, Wita. Kamu berhak bahagia. Kamu juga nggak boleh menutup diri begini. Bisa-bisa mantan suami kamu itu mengira kalau kamu nggak bisa move on dari dia," ujar Manda.


"Rasa itu nggak bisa dipaksakan, Manda," bantah Wita.


"Mungkin setahun lagi aku bakalan rujuk sama mas Andika. Aku belum crita ke kamu, kalau mas Andika menemukan bantak bukti bahwa Amira menjebak mas Andika dengan sengaja malam itu, hingga Amira hamil."


Manda yang baru mendengar kabar ini pun, menjadi syok seketika. "Apa?" tanya Manda sedikit lantang.


"Ya. Mas Andika mau kamu rujuk, tapi aku nggak akan langsung menerima. Kalau dia sabar, ya pasti aku akan menerimanya. Kalau tidak, ya aku akan tetap menjanda," ujar Wita menerangkan.


Tatapan Deswita terarah pada langit-langit ruangan. Ia ingat betul, bagaimana tatapan Andika sebelum mantan suaminya itu pulang kembali ke ibukota. Cinta Andika tak pernah berubah padanya. Hanya saja, pernikahan mereka tengah dihantam badai hingga mereka harus berpisah untuk sementara waktu.


"Kamu tahu, Manda? Tidak ada hubungan pernikahan tanpa badai satu pun. Tidak ada jalan mulus yang akan dilalui semua orang. Aku awalnya nggak percaya kalau mas Andika bilang dia nggak bersalah. Tetapi setelah tahu semua buktinya, aku percaya kalau mas Andika itu cintanya hanya buat aku," sambung Wita.


Baru saja Manda hendak kembali bersuara, suara deru mobil terdengar masuk ke dalam halaman rumah kontrakan Wita. Wita bisa menebak, bahwa itu adalah mobil Andika.


Baik Manda maupun Wita saling tatap.


"Panjang umur si Dika itu. Apa aku harus pulang?" tanya Manda tidak enak.


"Jangan. Lebih baik kamu disini dulu sampai dia pulang. Kelan lagi tinggal di rumah Bapak dan Ibu sementara waktu. Andika itu bakalan kurang ajar nantinya kalau di rumah hanya ada aku. Kamu tahu gimana sifat Andika," pinta Wita dengan suara lirih.

__ADS_1


Malam ini, perjuangan Andika dalam mendapatkan hati Wita kembali, dimulai.


**


__ADS_2