Cinta Mantan Suami

Cinta Mantan Suami
13. Ceraikan aku!


__ADS_3

Andika menatap nanar sebuah dokumen yang ada dalam genggaman tangannya. Lelaki itu seperti tengah merasakan moodnya tak membaik, ketika melihat bahwa rupanya memang ada yang tak beres dengan kejadian malam sial itu.


Beberapa orang suruhan Amira, sudah mulai membuka keterangan. Siapa memangnya yang berani menantang Andika? Nyatanya, semua orang bayaran Amira yang terlibat dalam penjebakan Andika malam itu, telah kalah oleh sejumlah uang sebagai suapnya.


Dalam hati Andika, lelaki itu juga menjadikan rekaman cctv hotel untuk menyerang balik Amira. Ia dijebak, meski faktanya, bayi yang Amira kandung adalah anaknya dan Andika meragukan hal itu.


"Rud, tolong hubungi Amira, suruh dia pulang sekarang," perintah Andika pada Rudi, teman Andika yang membantu Andika selama ini.


"Hmm," jawab Rudy. Lelaki itu memang tak banyak bicara, namun ia memiliki kinerja yang menakjubkan di mata Andika.


"Kamu yakin mau dia pulang segera? Nanti kamu ribut lagi sama dia," sambungnya.


Andika memang begitu orangnya.


"Aku mau bicara sama dia," ujar Andika, seraya menatap lurus ke arah laptop yang setia menemaninya.


"Bicara dan berakhir bertengkar? Sudahlah, Andika. Apa kamu nggak lelah, setiap hari ribut terus kerjaannya? Amira mungkin memang salah caranya untuk bisa mendapatkan kamu, tapi, bukan berarti kamu bisa semena-mena sama dia. Kalau kamu meragukan anaknya Amira itu bukan anak kamu, itu sah-sah saja, tapi gimana kalau beneran itu anak kamu? Ingat, penyesalan itu selalu di belakang," entah untuk yang ke berapa kalinya, Rudi memberikan nasihat.


Seseorang memang selalu memiliki kesalahan di masa lalu, baik itu kesalahan kecil, maupun kesalahan besar. Tetapi bukan berarti, orang lain ataupun kita sendiri boleh menghakimi dan memberi hukuman begitu saja, bukan?


"Dia tetap salah, Rud. Saya tidak bisa memberikan toleransi lagi," ungkap Andika.


Bila ingat dengan jebakan Amira malam itu, rasanya Andika ingin sekali mencincang habis tubuh Amira. Wanita baik-baik tak akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan seorang lelaki, dan Andika tak suka itu.


"Ya sudah kalau itu keputusan kamu, tapi setelah saya menghubungi Amira, kamu selesaikan urusan kamu dengan Amira, dengan cara bicara baik-baik sama dia. Jangan kasar, jangan main tangan, mengumpat kasar atau apapun itu yang bisa bikin kamu berdosa sama perempuan," kembali Rudi memberikan petuahnya sebagai sahabat.


Spontan saja Andika menatap tajam Rudi yang dianggapnya banyak bicara, seraya berkata, "kamu ngatur saya?"


"Bukan ngatur, tapi mengingatkan sebagai teman. Kalau menurut kamu nasihatku jadi perkara, ya itu urusan kamu," jawab Rudi dengan cueknya, "lagian kalau kamu yang punya kepentingan dengan Amira, kenapa saya yang bukan suaminya, yang harus menghubungi?"

__ADS_1


Lelaki berperawakan tinggi gagah itu, meraih ponselnya dan memilih menghubungi Amira cepat. Ia kesal, sebab Andika selalu memandangnya salah, tanpa peduli bahwa sebenarnya Rudi sangat prihatin atas nasib rumah tangga sahabatnya itu.


"Kamu selalu menyebalkan. Untungnya kamu bukan sahabat baikku," seloroh Andika kemudian, seraya tergelak kencang. Siapa yang mengira, bahwa Andika sejak tadi hanya melempar candaan pada Rudi?


Usai menghubungi Amira, Rudi segera bangkit dan pamit, "saya pulang dulu. Dia sedang dalam perjalanan pulang," ujarnya.


"Hmm, terima kasih," sahut Andika sedikit lega. Pasalnya, usai bertengkar dengan Amira tadi tersebab Amira meminta uang, Andika tak melihat batang hidung wanita itu hingga selarut ini.


Dalam diam, Andika mendesah lelah saat ini. Apa yang Rudi katakan memang benar. Meski malam terlah larut, namun, matanya masih terjaga dan enggan untuk terpejam. Usai perdebatan dengan Amira beberapa jam lalu, Andika seperti merasa bersalah dan marah di saat bersamaan.


Entahlah. Berumah tangga dengan Wita, tak pernah Andika merasa sehancur ini batinnya. Setelah kehilangan Wita, barulah hampa itu terasa. Kehadiran Amira tak juga mampu menandingi peran Wita dalam hidup Aditya.


Lama Andika menunggu kedatangan Amira, namun, wanita itu tak juga datang. Meski begitu, kantuk tak juga datang melanda Andika. Hingga setelah Andika nyaris menyerah, lelaki itu berniat untuk menuju kamar utama.


"Maaf, kamu nyari aku?" suara Amira menghentikan langkah Andika, setelah lelaki itu keluar dari ruang kerjanya. Terlihat Amira sedikit sembab matanya.


"Ya, ikut saya," kata Andika seraya menuju ke kamar tamu yang Amira tempati. Amira hanya diam mengekor, ia sudah lelah, seharian harus menerima kata-kata pedas dari suaminya yang maha benar itu.


"Sakit apa Ibu kamu?" tanya Andika. Selama menikah dengan Amira, ia tak pernah merasa sepeduli ini pada keluarga Amira.


"Tekanan darah tinggi dan mengalami gejala stroke ringan," jawab Amira.


"Berapa biaya yang kamu butuhkan untuk pengobatan Ibu kamu?" tanya Andika lagi.


"Nggak perlu kamu kasih uang. Aku sudah dapat pinjaman dari temanku," jawab Amira singkat. Mata wanita itu menatap datar Andika.


Di tempatnya, Andika hanya mengerutkan keningnya. Meminjam? Lantas, akan di bayar dengan apa?


"Kamu pinjam? Mau di bayar pakai apa?" tanya Andika yang jelas sekali meremehkan.

__ADS_1


Hati Amira tersayat perih seketika.


"Ceraikan aku, Mas. Kembalilah pada mbak Wita. Jangan khawatir, semua hutang-hutangku untuk biaya pengobatan Ibu, aku pastikan aku akan membayarnya sendiri. Aku juga sudah dapat pekerjaan, jadi kamu nggak perlu membayarnya. Aku bisa bayar sendiri," ujar Amira tenang.


Tenang?


Meski terlihat tenang, nyatanya, Amira tetap merasakan hatinya bergemuruh.


"Katakan saja, Amira. Jangan banyak bicara dan membantah. Saya akan bayar semuanya," ungkap Andika datar.


Entah mengapa, bicara dengan Amira, membuat emosi Andika tersulut seketika.


"Terima kasih untuk niat baiknya. Sebaiknya simpan saja uang kamu, untuk kebutuhan Kelan dan mbak Wita. Aku sadar, cintaku ke kamu itu salah. Aku ngaku sekarang, aku memang menjebak kamu lebih dari enam bulan lalu, supaya aku hamil anak kamu dan dinikahi kamu. Tapi setelah semua terjadi, egoku terlalu banyak melukai orang lain. Jadi, sebaiknya kita cerai saja, Mas," kata Amira panjang lebar.


"Kamu ngaku?" tanya Andika seraya menaikkan sebelah alisnya, "punya nyali kamu mengakui semuanya? Kamu siap kehilangan saya dan kemewahan yang kamu dapat selama ini dari saya?"


"Ya, aku siap lahir batin. Aku nggak bisa bayangkan harus membesarkan anakku, dengan jiwa yang sakit karena lama hidup dengan kamu dan di bawah intimidasi kamu," entah sejak kapan, Amira menjadi berani pada Andika seperti ini.


Andika melipat tangannya di depan dada. Rasanya mendengar pengakuan Amira, antara lega, namun juga kasihan.


"Apa yang kamu mau sebenarnya, Amira?" tanya Andika yang tak habis pikir. Mata pria itu menyorot tajam pada Amira.


"Aku mau cerai. Aku nggak peduli harus kembali hidup miskin, daripada hidup sama kamu yang setiap hari makan hati!" seru Amira, seraya bangkit dan mengambil kopernya di almari paling ujung, dekat dengan toilet.


"Amira, Hentikan!" tegas Andika dengan nada dingin.


Sayangnya, ucapan dan titah Andika, tak lagi membuat Amira gentar. Ia sudah lelah. Andika pikir, hanya Andika yang menjadi korban?


Nyatanya, Amira pun juga sama menderitanya dengan Andika. Percayalah, menerima perlakuan Andika selama ini, cukup membuat Amira nyaris kehilangan kewarasannya.

__ADS_1


**


__ADS_2