Cinta Mantan Suami

Cinta Mantan Suami
17. Merasa trauma.


__ADS_3

Sebuah ketukan pintu sore ini, berhasil membuat Wita terganggu. Wanita itu sedikit lebih tenang, sebab seminggu sudah mantan suaminya tak lagi mengunjunginya, semenjak malam itu Andika mendatanginya. Harusnya Wita senang, dan juga ia tak lagi peduli pada banyak hal mengenai Andika. Tetapi sayangnya, seminggu ini, secercah rindu hadir.


"Bodoh!" umpat Wita pada dirinya sendiri, seraya melempar sayur hijau yang ia beli tadi pada tukang sayur depan rumah.


"Harusnya kamu bahagia karena Andika nggak lagi datang mengusik kamu. Tetapi, kenapa kamu malah merindukannya? Tidak, tidak. Ini tidak boleh terjadi. Andika sudah memiliki penggantimu, Wita!" seru Wita pada dirinya sendiri.


Andai saja tak ada Amira.


Andai saja tak ada petaka kehamilan wanita lain.


Andai saja semua bisa di ambil kembali semudah membalikkan telapak tangan.


Andai saja Wita sanggup mengembalikan keadaan.


Andai . . .


Andai . . .


Semua perandaian itu, nyatanya harus musnah sebab tak bisa satupun diantaranya Wita penuhi.


"Mama kenapa?" tanya Kelan yang muncul di pintu ruang tengah, yang terhubung langsung dengan dapur, "ada om Dian datang," sambung putranya itu.


"Oh, katakan sama om Dian, tunggu sebentar. Mama akan ke depan sebentar lagi," jawab Wita kemudian.


Kelan mengangguk dan segera berlalu menuju ke arah ruang tamu, di mana Dian sudah menunggunya.


Wita segera membuatkan teh, agar ia tak datang lagi ke dapur.


Langkah Wita begitu ringan, menuju ke ruang tamu sederhana miliknya. Meski sederhana, namun, Wita adalah wanita penyuka kebersihan hingga membuat tamunya merasa nyaman. Hal ini juga yang membuat Dian suka pada Wita.


"Hai, Dian. Sudah dari tadi? Maaf, tadi aku ada kesibukan di dapur," sapa Wita pertama kali. Bisa Wita lihat dengan jelas, penampilan Dian yang sangat segar dan rupawan. Kacamata Dian juga tak lupa, selalu bertengger indah pada wajah Dian.


"Tidak masalah. Saya yang justru ganggu kamu. Gimana kabar kamu?" tanya Ardian. Kali ini, gaya bicara Dian jauh lebih santai bila dibandingkan dengan terakhir kali Wita bertemu dengannya. Tak hanya itu, Dian datang dengan baju kasual yang membuatnya tampak lebih muda dari usianya.

__ADS_1


Jatuh cinta memang berhasil membuat seseorang bertingkah layaknya remaja.


Apakah Dian mencintai Wita?


Jawabannya adalah iya. Bahkan di saat keduanya masih sama-sama mengenyam bangku sekolah, Dian hanya memendam cintanya seorang diri di dalam hati kala itu. Maklum saja, Dian tak memiliki banyak keberanian saat itu.


Sempat Dian merasa minder, karena penampilannya yang tak sekeren teman-teman sebayanya.


Namun sekarang, Dian yang sekarang adalah lelaki dewasa yang cukup mapan. Ia juga bukan pria buruk rupa. Yang membuat kepercayaan diri Dian sedikit berkurang, hanyalah karena kacamata yang tak bisa ia lepaskan.


"Baik, aku baik dan Kelan juga baik. Oh ya, ayo di minum tehnya," ujar Wita kemudian.


Sembari menyesap tehnya, sesekali Dian menatap ke arah Wita. Wita sekarang tampak lebih kurus tubuhnya. Mungkin selain lelah bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri, Wita juga merasa jika banyak beban pikiran yang mengganggu. Entahlah, Dian tak berani menebak-nebak.


"Ini kamu dari mana dan mau kemana, Dian?" tanya Wita dengan suara pelan.


"Dari rumah dan sengaja kemari buat ketemu kamu. Oh ya, kamu sibuk, tidak, sore ini?" tanya Dian.


Wita adalah tipe perempuan yang menebak tepat sasaran. Ia tak suka basa-basi, ataupun bicara omong kosong dalam kesehariannya. Tentunya jika itu Dian, Wita bisa menebak dengan pasti.


"Iya, kamu dan Kelan. Itu pun, kalau kamu tidak keberatan," jawab Dian, seraya meletakkan cangkir tehnya.


"Memangnya, mau ajak aku kemana?" tanya Wita tersenyum kecil.


"Menikmati keindahan Sunset di sebuah tempat. Masih ada waktu sekitar tiga puluh menit dalam perjalan, gimana?" tanya Dian menawarkan dengan hati-hati.


"Oke. Tapi hanya sekadar jalan-jalan biasa, ya? Baiklah, aku akan bersiap dulu sekalian panggil Kelan," jawab Wita yang diangguki kepala oleh Dian.


Wita berlalu cepat, memanggil Kelan dan segera bersiap untuk memenuhi ajakan Dian. Membayangkan ia akan menikmati sunset kali ini, rasanya Wita sangat rindu.


Sepanjang perjalanan, Wita lebih banyak diam, tenggelam dan hanyut dalam banyak hal yang ia pikirkan, terutama tentang Andika. Entah mengapa, rindu rasanya pada Andika sebab Andika tidak menemuinya seminggu ini.


Kelan kini jauh lebih dekat dengan Dian. Anak itu lebih banyak bercanda dengan Dian. Begitu pula dengan Dian yang sering kali banyak bertanya tentang Kelan perihal sekolah, mainan, atau apapun pertanyaan khas untuk anak kecil. Pendekatan Dian terhadap Kelan memang sempurna, hingga membuat Kelan merasa nyaman bersama Dian.

__ADS_1


Setibanya di pantai dengan pemandangan langit yang di dominasi warna merah keemasan, mereka bertiga segera turun dari mobil, saling melempar senyum bahagia. Jarang sekali rasanya, Wita bisa tersenyum selepas ini di mata Dian.


Kelan segera berlari menuju tepi pantai. Celana anak itu, ia gulung sendiri dan segera berlarian tanpa menggunakan alas kaki.


Dian dan Wita berjalan pelan, menikmati hembusan angin sore dengan berjalan kaki di sekitar pantai, seraya memantau Kelan yang asik berlarian kesana kemari.


"Agak terlambat saya bawa kalian kesini, tapi nggak apa-apa, deh. Yang penting, masih bisa menikmati langit senja. Gimana? Kamu suka, Wita?" tanya Dian.


"Aku suka, Dian. Lihat, Kelan juga menikmati. Dia tidak berhenti tersenyum. Dulu, papanya sering ajak dia ke tempat ini," ungkap Wita menjawab tanya Dian.


"Kalau dia suka dan kamu juga suka, saya akan sering luangkan waktu untuk ajak kalian datang kesini," ujar Dian dengan sorot bersungguh-sungguh.


Bisa Wita lihat dengan jelas, ada sorot lain kali ini yang tak Dian tutupi, hingga membuat sedikit tak nyaman dengan ketulusan Dian yang menurutnya berlebihan.


"Kamu bisa saja. Nanti setelah kamu berkeluarga, kamu juga pasti akan ajak anak dan istri kamu kemari," kelakar Wita seraya tertawa renyah.


"Itu pasti, karena calon keluarga saya, itu adalah kamu dan Kelan," jawab Dian jujur, hingga berhasil membuat Wita menghentikan senyumnya seketika. Langkah wanita itu terhenti, membuat Dian juga ikut menghentikan langkahnya.


Apa kata Dian tadi? Apakah Wita salah dengar barusan? Tidak. Rasa-rasanya telinga Wita masih berfungsi dengan normal.


"Maksud kamu?" tanya Wita dengan serius. Wita hanya ingin memastikan, dirinya tak salah dengar.


"Saya menyukai kamu, Wita. Sejak dulu. Bukan hanya suka, tetapi saya merasa jika saya benar-benar jatuh hati sama kamu," jawab Dian, seraya meraih jemari Wita.


Wita membeku. Wanita itu bisa saja menjawab bersedia disukai oleh Dian. Tetapi entah, hatinya masih bimbang dan tak mengira jika Dian akan mengatakan hal itu secepat ini.


"Maaf, Dian. Aku rasa kamu cuma bercanda," timpal Wita seraya tersenyum canggung pada Dian.


Hei, bisakah Wita dan Dian hanya berteman saja? Wita tidak bisa segampang itu menerima lelaki, setelah Andika menyakiti dan mengkhianati pernikahannya.


Wita merasakan semacam trauma.


**

__ADS_1


__ADS_2