
Senyum merekah dari seorang wanita cantik dengan kulit putih bersih, berhasil memikat beberapa kaum Adam yang berada di sekitarnya. Paras ayu nan lembut Deswita, menjadi pusat perhatian pengunjung mall, tempat dimana Wita dan Manda berkunjung.
Dandanan sederhana, namun memiliki daya tarik tersembunyi yang membuat beberapa pasang mata berdecak takjub.
Tak banyak uang yang mereka punya, juga tak banyak yang mereka inginkan. Yang Wita inginkan adalah, dirinya bisa menghibur diri untuk memberikan reward pada dirinya, atas lelah batin yang selama ini ia Rasakan.
Hanya sekadar bermain, melihat-lihat, dan menyegarkan mata dengan banyak pemandangan indah. Wita dan Manda berjalan beriringan, seolah mereka adalah remaja yang tengah berlibur di akhir pekan.
"Panas, Wita, ayo beli es krim sebentar. Atau beli minuman apa aja deh, yang penting dingin. Dingin di hati, dingin di otak. Kebanyakan ikutin kamu, otakku jadi tercemar virus gila," maki Manda pada sahabatnya itu.
"Kamu kalau sensi, aku rasa bakalan bosen deh, mas Bambang nantinya ke kamu. Jadi perempuan jangan sewot, jangan cerewet, biar suami tetap sayang," timpal Wita menasihati.
"Halah, kamu aja yang nggak erewet dan nggak sewot, tetep ditinggal selingkuh tuh, sama Andika," bantah Manda.
Tak lama, keduanya saling pandang, dan mereka tertawa bersama. Sepasang sahabat itu tampak asyik menikmati momen kebersamaan kali ini. Mereka bahkan tak peduli, saat tawa mereka begitu kencang layaknya wanita barbar, dan menjadi pusat perhatian semua orang.
Dari kejauhan, tampak sepasang mata tajam memperhatikan keduanya. Tatapan laki-laki itu terpusat pada Wita, dan senyum simpul terbit pada pemilik sepasang mata tajam itu.
"Ayo, sayang. Itu Mama. Kita menghampiri Mama dulu sebentar, Ya?" Andika bicara sejenak pada Kelan. Sesekali, mata pria itu melirik mantan istrinya, takut-takut jika nanti ia kehilangan jejak Wita. Kehilangan Wita, menjadi sebuah momok menakutkan bagi lelaki itu.
"Mama nyusul kita ke sini juga, Pa?" tanya Kelan antusias. Mata bocah lelaki itu mengedar ke seluruh arah, namun tak mendapati sang Mama.
"Iya, ayo kita temui Mama. Mainnya nanti lagi," ajak Andika, yang diangguki oleh Kelan.
Sepasang ayah dan anak itu berlalu, dengan Andika yang menggendong Kelan dengan gagahnya. Hanya dengan satu tangannya, sebelah kiri, Andika berhasil membuat beberapa wanita, terutama tante-tante yang juga pengunjung disana, memusatkan pandangan pada Andika.
Tubuh yang sixpack, dan juga paras tampan, menjadi sebuah daya tarik tersendiri. Di tambah lagi, kemeja cerah yang pria itu kenakan, membuat tubuhnya kian terbalut sempurna.
__ADS_1
"Wita," panggil Andika, yang membuat Deswita menoleh ke arahnya.
Manda sendiri menatap Andika dengan malas. Wanita itu entah mengapa, menjadi tak suka pada lelaki pengkhianat seperti Andika.
Andika memang seorang pengkhianat di mata Manda.
"Kamu katanya ada acara, kok disini?" tanya Andika menatap Manda dan Wita bergantian.
"Ke tempat ini juga jadi acara, Mas Andika. Kamu pikir, hanya kamu yang punya acara main kayak gini?" balas Wita dengan tersenyum miring, "Kelan, hari ini kamu main sama Papa dulu, ya? Mama sedang ada acara dengan Tante Manda," sambung Wita kemudian.
Kelan mengangguk seraya tersenyum, "Iya, Ma. Tadi juga ada Tante Amira, tapi kata Papa, Tante Amira nggak boleh temenin Papa," jawab Kelan dengan polosnya.
"Biar itu jadi urusan orang dewasa. Kelan nggak boleh ikut campur, ya? Yang penting sekarang, Kelan puas-puasin main. Mama mau ke atas dulu," ungkap Wita, tanpa menatap Andika dan berlalu pergi. Sungguh, Wita tak suka bila dirinya harus menatap mata Andika lagi.
Baik Wita maupun Manda, berlalu tanpa kata meninggalkan anak Wita dan mantan suaminya itu. Keduanya menuju ke lantai atas, tepatnya sebuah tempat yang menyediakan camilan.
Mata Wita mengernyit, demikian pula dengan Manda. Seseorang yang tengah menyapa Wita itu, terlihat tak asing di mata Wita. Namun, Wita lupa siapa dia. Seperti pernah mengenal, tapi tak tahu siapa namanya.
"Ya, kamu siapa?" tanya Wita kemudian.
"Ardian, teman sekelas masa SMP dulu," jawabnya.
Dan seketika ingatan Wita tertuju pada masa remaja dulu. Lelaki berparas tampan dengan kacamata minus yang lumayan tebal itu, dulunya adalah bocah cupu dengan rambut yang di sisir rapi ke samping kanan. Kaca mata itu juga tak ketinggalan, selalu begitu modelnya.
Hanya saja, teman Wita yang berdiri di hadapannya itu, kini tampak gagah menawan, dengan setelan seragam kerja yang membalut tubuhnya dengan seksi. Tubuh sixpacknya, menggiurkan semua kaum hawa yang tengah melintas. Rambut yang dulu tersisir rapi, kini terlihat acak-acakan dan semakin menambah ketampanan lelaki itu.
"Oh, Ardian. Jadi, kamu Ardian?" tanya Wita tersenyum.
__ADS_1
"Ya, aku Ardian," jawabnya dengan tersenyum ramah.
"Duduk disini, Dian. Kenalin, ini Manda, sahabatku sejak semasa SMP," kata Wita dengan ceria.
Seketika Ardian duduk di kursi kosong dekat Wita, "Kamu dulu cupu dan kusam. Kok, sekarang kamu cakep?" kelakar Wita.
Batin wanita itu merutuk mulutnya sendiri yang pandai menggombal. Entah sejak kapan, bakat merayu Wita muncul saat dirinya telah menjadi janda. Atau bisa jadi, perpisahan Andika yang menyisakan terlalu dalam luka, hingga membuat Wita berubah hendak menjadi siluman buaya wanita.
"Kamu bisa saja," Dian terkekeh, menatap paras cantik Wita yang sejak dulu, menjadi cinta pertama Ardian. Sayangnya, Ardian tak memiliki nyali saat masa sekolah menengah pertama dulu, untuk mengungkapkan perasaannya.
"Wita, aku ke toilet bentar, ya. Maaf ya, Mas Dian," ujar Manda tiba-tiba. Tentu saja Wita mengangguk. Entahlah, Manda mendadak mual dengan gombalan Wita yang meski hanya satu kalimat itu.
"Ya, jangan lama-lama. Nggak kuat aku, kalau harus menghabiskan camilan ini sendirian," seloroh Wita, dan Manda hanya tersenyum sebal padanya.
Wita sadar, Manda tengah marah padanya. Hanya saja, Wita membawa suasana enjoy saja dan enggan memikirkan hal tak penting.
"Kamu sudah berumah tangga, Ardian?" tanya Wita membuka percakapan kembali, selepas kepergian Manda.
"Belum, sampai sekarang nggak laku-laku. Mungkin karena cupu," jawab Dian seraya tertawa lebar, "gimana sama kamu?" tanya Ardian kemudian.
"Udah, tapi rumah tanggaku kandas. Kamu punya satu anak, namanya Kelan, dan ya ... aku minta cerai karena dia punya orang ketiga," jawab Wita tersenyum kecut.
"Nggak apa-apa. Itu artinya kalian nggak berjodoh," jawab Ardian, "kamu pasti bisa menemukan laki-laki yang tepat," sambung Dian lagi.
"Hahahaha, aku rasa nggak ada yang mau sama janda seperti aku," jawab Wita.
"Siapa bilang, kamu masih secantik dulu, Wita," ungkap Dian, yang membuat seseorang yang menguping pembicaraan mereka tanpa sepengetahuan mereka, menjadi panas kepala dan dadanya.
__ADS_1
**