Cinta Mantan Suami

Cinta Mantan Suami
21. Berkunjung .


__ADS_3

Hidup terkadang penuh dengan liku yang tak bisa ditentukan oleh manusia. Tak sedikit orang yang mengeluh, atas takdir yang menimpanya itu.


Andika Sudarma. Lelaki itu tampak sibuk menanda tangani beberapa berkas yang di sodorkan oleh sekertaris barunya, Reza. Lelaki itu beberapa waktu terakhir, selalu melarikan diri dan melarikan fokusnya hanya pada pekerjaan.


Rencananya, siang ini dirinya berencana untuk hendak mendatangi mantan mertuanya, untuk tujuan meminta maaf atas kandasnya rumah tangganya bersama Wita.


Selain tentang Wita, Andika juga membagi fokusnya pada Amira. Terakhir kali Andika mendengar dari orang-orang suruhannya, Amira pulang ke rumah ibunya. Mungkin hanya sekadar menjenguk, atau mungkin juga Amira memang sengaja memutuskan untuk tinggal disana. Entahlah, Andika tak begitu mengerti.


"Za, tolong hubungi Rudi. Saya mau bicara dengan dia. Suruh dia datang kemari," perintah Andika kemudian.


"Baik, pak," jawab Reza seraya mengangguk paham. Pria itu lantas keluar, mencari Rudi yang kini berada di luar ruang kerja Andika.


Banyak hal yang kini berada dalam pikiran Andika. Pria itu harus tegas mengambil keputusan tentang Amira, jika ia tak ingin kehilangan Wita selamanya. Baginya, masih ada waktu untuk bisa membuat Wita kembali padanya. Hanya saja, jika sampai Wita menikah dengan orang lain, bukankah kesempatan Andika benar-benar tak ada lagi?


"Jadi, aku disuruh apa lagi?" tanya Rudi yang kali ini masuk ke dalam ruangan Andika, dan duduk di sofa santai milik Andika.


Andika bangkit dan segera menyusul Rudi untuk duduk. Tak hanya itu, Andika juga mengambil air mineral di dalam showcase mini dalam ruangannya.


"Amira sudah pulang dari rumah Ibunya?" tanya Andika kemudian.


"Dua hari ini dia masih anteng di rumah ibunya. Orang yang aku suruh untuk memata-matai dia berkata kalau, ibunya memang sakit," jawab Rudi apa adanya.


Andika mengangguk seraya menimpali, "saya bingung hendak bagaimana. Saya sudah telepon dia dan suruh dia pulang untuk ketemu. Tapi dia menolak dan berdalih nyuruh saya untuk bicara melalui telepon saja," ungkap Andika.


"Ada baiknya kalau kamu memang mau bicara tentang perceraian, sebaiknya kamu datangi dia sekalian ngomong langsung sama ibunya," Rudi menyampaikan pendapatnya.


Andika mengangguk-angguk kecil tanpa suara. Kepalanya berpikir keras, mengenai tentang semua langkah yang harus ia ambil.

__ADS_1


"Boleh aku tanya sesuatu sama kamu, Dika?" tanya Rudi hati-hati.


"Apa?" jawab Andika seraya melirik Rudi.


"Kalau misalnya anak Amira itu benar anak kamu, bagaimana?" tanya Rudi hati-hati.


"Ya, di rawat. Di besarkan. Saya sudah bicarakan ini dengan Amira. Dia tidak masalah kalau saya tinggalkan. Biar bagaimana pun, mungkin dia tahu dan sudah menyerah, karena saya tidak bisa memaksakan perasaan saya untuk terus bisa sama dia. Dia tahu saya sangat mencintai Wita," ungkap Andika.


"Biar bagaimana pun, kamu terlalu menekan psikisnya. Kamu memukul mundur harga dirinya, sampai dia menyerah, Andika. Ketahuilah, Amira itu cinta sama kamu," Rudi kembali membeberkan fakta ini.


"Mencintai itu harusnya saling mendukung dan saling mengasihi, bukan justru menyakiti dengan cara-cara kotor begini. Sebelum dia benar-benar menerjunkan dirinya dalam masalah, harusnya dia pikir dulu," sanggah Andika dengan cepat.


"Entahlah, Dika. Aku lelah debat sama kamu," ungkap Rudi kemudian.


Hening beberapa saat. Netra Andika masih saja menatap rudi penuh spekulasi. Seperti ada yang aneh, namun Andika tak ingin gegabah mengambil kesimpulan.


Rudi terhenyak. Tenggorokan pria itu tercekat seketika. Tentang tanya Andika, dia sendiri tidak terlalu tahu apa jawabannya.


"Rud? Kamu dengar saya? Apa kamu mencintai Amira?" tanya Andika, yang membuat Rudi membulatkan matanya.


Pertanyaan Andika, benar-benar konyol dan diluar perkiraan Rudi.


**


Tak ada yang lebih membahagiakan bagi Amira, selain bisa berkumpul kembali dengan ibunya. Wanita itu tak henti-henti melontarkan candaan khas dirinya, pada sang ibu.


Asih sesekali tertawa lebar, mengesampingkan sakit di dadanya yang kian hari terasa kian parah. Tapi entahlah, rasanya senyum Asih tidak sebebas dulu.

__ADS_1


"Mira, pengobatan ibu yang kemarin, kamu dapat yang dari mana?" tanya Asih di sela-sela acara bercanda mereka siang ini. Wanita paruh baya itu bertanya dengan hati-hati.


"Yang itu Amira dapatkan dari meminjam ke teman Amira, Bu," jawab Amira.


"Suami kamu?" tanya Asih tak melanjutkan kalimatnya.


"Jangan bahas dia, Bu. Bicarakan yang lain saja," ujar Amira. Senyum di bibirnya perlahan menghilang, terganti dengan raut getir yang Amira rasakan.


"Ibu bisa menebak. Pasti kamu akan mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari suami kamu. Dari awal Ibu sudah memperingatkan, kalau cara kamu mendapatkan lelaki yang kamu inginkan, itu salah," ungkap Asih lirih.


"Iya. Amira yang salah. Terima kasih sudah mengingatkan. Di masa depan, Mira janji Mira nggak bakalan mengulangi kebodohan Mira lagi," jawab Amira.


Tangan wanita itu sibuk menyulam topi bayi, yang ia buat untuk calon anaknya. Entahlah, selain menulis yang menjadi pekerjaan Amira, Amira kini menemukan kesibukan lain yang menurutnya cukup menyenangkan.


"Ibu tahu rumah tangga kamu baik-baik saja," Asih menjeda kalimatnya sejenak, "tapi kamu nggak bisa menyembunyikan bahwa kamu baik-baik saja dengan situasi ini. Sebesar apa sebenarnya cinta kamu sama suami kamu, Mira? Dengan perlakuan dia yang buruk sama kamu, apakah itu nggak mengurangi rasa cinta kamu ke dia?" tanya Asih.


Amira bingung. Tangannya seketika menghentikan gerakannya menyulam.


"Sulit dijelaskan, Bu. Mira nggak tahu gimana menggambarkan rasa yang Amira miliki untuk mas Andika. Tapi Amira sadar, sakit rasanya melihat dia tersiksa karena terbelenggu pernikahan dengan Amira. Dan Amira nggak akan bisa melihat ini. Perlahan, Amira akan membujuk istrinya agar kembali sama mas Andika. Mungkin Amira memang salah, tetapi Mira benar-benar ingin mengembalikan semua keadaan yang sudah Amira hancurkan," ungkap Amira tersenyum.


Semua orang memang pernah merasa bersalah, tetapi tidak semua orang memiliki pemikiran dan keinginan untuk mencoba mengembalikan keadaan.


Amira mungkin memang telah menghancurkan rumah tangga orang lain, tetapi dirinya setidaknya sudah mencoba untuk memperbaiki semuanya, sekalipun luka di hati Andika dan Deswita tak akan pernah lenyap selamanya.


"Mas Andika dan mantan istrinya saling mencintai, dan cinta mereka sama besar. Amira yakin, Amira bisa hidup lebih baik tanpa mas Andika," Amira kembali mengulas senyum. Senyum palsu yang tepatnya untuk menutupi luka di hatinya.


Baru saja Asih hendak bicara, fokusnya teralih pada sebuah mobil mewah berwarna hitam, tengah masuk ke pekarangan rumahnya yang luas dan bersih. Mobil yang tak pernah asih lihat sebelumnya, namun berhasil membuat Mira menggumamkan sebuah nama, "mas Andika."

__ADS_1


**


__ADS_2