Cinta Mantan Suami

Cinta Mantan Suami
9. Calon suami.


__ADS_3

Deswita sudah pulang dengan rasa bahagianya, disertai rasa lelah yang menyenangkan baginya. Hati wanita itu merasa terhibur, dengan pertemuannya bersama Ardian, teman kala menempuh pendidikan di masa lalu.


Mungkin, kedengarannya Deswita egois, dengan mencari kesenangan sendiri tanpa memikirkan bagaimana Kelan yang ia titipkan pada mantan suaminya, Andika. Mengapa egois? Toh dulu Andika yang lebih egois dengan tidak berperasaan berselingkuh dengan Amira hingga hamil.


Baru saja Wita selesai membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, suara ketukan pintu terdengar menyapa telinganya.


Wita hanya diam, malas untuk membuka pintu. Mungkin dia Andika yang hendak mengantar Kelan. Biarlah, sesekali Wita ingin bersikap dingin dan menjaga jarak dengan mantan suaminya itu.


Hingga lantas dering ponselnya, terdengar di telinganya. Wita segera melihat, si penelepon yang hanya tertera nomor asing.


"Halo," sapa Wita dengan malas.


"Wita, buka pintunya. Aku di depan pintu rumahmu. Ini aku, Ardian."


Jawab si penelepon kemudian.


"Astaga, Dian. Kamu ngikutin aku diam-diam sampai rumah? Ya ampun, tunggu bentar, aku buka pintu sekarang juga," ujar Wita yang tergopoh-gopoh.


Mama Kelan itu bahkan tidak peduli, dengan penampilannya yang hanya mengenakan daster rumahan sepanjang bawah lutut, dan menemui seorang kenalan lamanya.


"Ya ampun, Ardian," Wita membuka pintu, membiarkan Dian masuk dan menatap lelaki itu yang tampak rapi, "kamu tahu rumahku dari mana?"


"Kabar angin. Kamu nggak perlu tahu dari siapa aku tahu alamat rumah kamu," jawab Dian tersenyum, menatap sekeliling ruang tamu rumah Wita yang tampak sederhana. Minimalis, namun tertata rapi.


"Tapi, aku baru pulang. Kamu pasti menguntit ya?" tanya Wita, menaikkan sebelah alisnya. Mantan istri Andika itu lantas berbalik, dan segera menuju ke arah sofa, "ayo masuk, silahkan duduk," ajak Wita kemudian.


"Enggak juga. Sekadar iseng saja pengen cari tahu tempat tinggal kamu. Oh ya, kamu tinggal sendiri?" tanya Dian penuh selidik.


"Enggak, aku tinggal sama anakku, Kelan namanya. Sekarang dia sedang ada sama Papanya, nanti juga pasti dia pulang," jelas Deswita.


"Aku pikir, kamu tinggal sendiri," timpal Ardian kemudian.

__ADS_1


"Oh ya, kamu mau minum apa? teh dingin, atau hangat?" tawar Deswita kemudian.


"Boleh deh kalau teh hangat," jawab Dian.


Wita mengangguk, dan berlalu pergi, meninggalkan Ardian yang duduk seraya mengedarkan pandangan. Kesan sederhana, namun elegan begitu melekat pada diri Deswita, sejak dulu.


Ardian masih sangat ingat, betapa dulu dirinya sangat mendamba janda satu anak itu. Sayangnya, ia tak memiliki keberanian selayaknya jantan, untuk bisa mengutarakan isi hatinya pada sang pujaan.


Hingga tak lama kemudian, Wita datang, dengan nampak dengan secangkir teh hangat khusus untuk Dian. Tak hanya itu, ada sepiring kukis coklat yang tersaji, bersandingan dengan secangkir teh hangat.


"Aku buatkan teh hangat, sama kukis lemon buatan temanku yang namanya Manda tadi, Dian. Semoga suka. Maaf, aku memang nggak punya banyak stok camilan," ungkap Wita tak enak hati.


"Nggak masalah, aku kesini nggak nyari camilan, tapi pengen ketemu kamu," jawab Dian seraya menatap Wita, dengan tatapan lain.


Wita merinding di tempatnya. Ini aneh, Dian tak pernah memandangnya begini selama mereka berteman. Wita jadi takut, jika Dian memiliki niat tak baik padanya.


"Dian, kamu baik-baik saja?" tanya Wita kemudian.


"Aku baik, maaf kalau bikin kamu jadi risih. Oh ya, akhir pekan depan aku ada agenda jalan-jalan, tapi karena aku sendirian, kamu mau nggak, bepergian sama aku?" tanya Dian secara terang-terangan.


"Gimana, ya, Dian? Bukannya aku mau nolak, tapi aku punya anak yang nggak mungkin aku titipkan terus menerus sama Papanya. Apalagi, jika harus terus berinteraksi dengan ibu tiri anakku. Aku khawatir saja, takut-takut jika nanti terjadi sesuatu yang nggak diinginkan," jawab Wita secara gamblang. Ia tak memiliki banyak akal jika harus membohongi orang lain.


"Kenapa Kelan harus di titipkan? Biarkan Kelan sama kita, dan nanti kita jalan bareng, liburan bareng. Aku nggak keberatan, pasti nanti bakalan rame kalau ada anak kamu," sahut Dian.


Lelaki tinggi putih berkacamata itu tersenyum, menyadari tak enak hati yang Wita rasakan.


"Hah?" Wita menatap polos ke arah Dian, "kamu serius?" tanyanya kemudian.


"Memangnya aku kelihatan bercanda?" Dian bertanya balik, hingga menerbitkan senyum di bibir seksinya itu.


"Enggak sih, ya udah deh kalau gitu, aku mau nerima tawaran kamu," jawab Wita, "Oh ya, ayo diminum tehnya."

__ADS_1


Hening lantas menghiasi, membiarkan Dian yang menyesap tehnya dan Wita yang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Entah mengapa, Wita menerima begitu saja tawaran Dian.


Suara deru mobil terdengar, ketika Dian baru saja meletakkan cangkirnya. Entah siapa yang datang.


Siapa sih, yang datang? Tumben hari ini banyak tamu?


Batin Wita kemudian.


"Sebentar ya, Dian. Aku intip keluar dulu, kayaknya lagi ada tamu yang datang," ucap Wita sedikit segan.


"Silahkan, Wita," jawab Dian.


Langkah Wita terlihat ringan, saat ia keluar. Hal mengejutkan terjadi, Andika keluar dari mobil, di susul dengan Kelan yang membawa banyak mainan, serta banyak kebutuhan dapur. Hati Wita mencelos, merasa seolah dirinya di kasihani dan dianggap tidak mampu oleh mantan suaminya.


"Kelan," sapa Wita, berusaha meredam tanya yang terus berseliweran dalam otaknya.


"Mama, lihat, Papa beliin Kelan mainan banyak banget," ungkap anak itu, tak bisa menahan rasa bahagianya.


"Bagus, sekarang Kelan ayo masuk dan segera bawa semua mainannya ke dalam kamar, ya?" perintah Wita secara halus.


Beruntung Kelan mengangguk, dan segera masuk ke dalam kamar tanpa peduli, ada Dian yang duduk di ruang tamu.


Rungu Dian yang memang peka itu, membuat Dian mengintip keluar dari jendela.


"Lain kali kalau antar Kelan, nggak usah bawa barang-barang kayak gini, Mas. Aku lebih dari sekadar mampu untuk membeli!" tegas Wita tanpa basa-basi.


"Saya tahu kamu mampu, tapi ini nggak cuman buat kamu, Deswita, tapi juga untuk anak saya," jawab Andika, seraya melirik sebuah mobil sport hitam, yang terparkir di samping mobilnya, "mobil siapa ini?"


Tatapan mata Andika tajam, tertuju pada Deswita.


"Ini? Mobil calon suami aku. Jadi, tolong kamu jangan ganggu aku terus!" seru Wita, menjawab dengan ketusnya, membuat Ardian yang mendengar dari dalam rumah, mendadak seperti jantungan.

__ADS_1


Hati Andika seolah tercabut paksa dari rongga dadanya.


**


__ADS_2