
Deswita tengah sibuk menyelesaikan pekerjaan kali ini. Menjabat sebagai wakil HRD di perusahaan tempatnya bekerja, membuat Wita kini semakin hari semakin sibuk. Tak hanya itu, rupanya kinerja Wita juga telah menarik banyak perhatian semua orang.
Siang ini, Wita sengaja menyelesaikan pekerjaan lebih awal, agar bisa menikmati waktu bersama dengan Kelan. Namun, Ardian justru datang dengan tujuan mengajak makan malam bersama. Tentu saja Wita tidak menolak.
Tanpa sadar, kedekatan Dian dan Wita bisa dibilang mengalami peningkatan. Wita sendiri mengalir saja dengan apa yang terjadi.
Mengenai Andika, ah sudahlah. Wita justru kembali merasakan sakit lebih dalam ketika Andika mengakui bahwa ia dan Amira melakukan perselingkuhan selepas malam penjebakan itu. Secara sadar, Andika tak berpikir jernih mengenai konsekuensinya. Jika kini Wita kehilangan respek pada Andika, jangan salahkan Wita atas perubahan rasa Wita saat ini.
Hingga sore tiba, Wita segera bergegas pulang sebab tak sabar untuk bertemu dengan Kelan. Beruntung selama ini Manda dengan senang hati mengasuh Kelan, karena ia belum di karuniai anak oleh Tuhan.
Selepas membawa Kelan pulang ke rumahnya, Wita segera memandikan Kelan dan mengungkapkan pada putranya itu, bahwa makan malam nanti, akan ada Ardian datang. Tentu tak ada penolakan dari Kelan, yang ada bocah lelaki itu menyambut dengan antusias kedatangan Ardian.
Deswita sudah bertekad, dia tak akan menutup pintu hatinya untuk siapapun.
Tentang rumah tangganya yang hancur akibat pengkhianatan Andika? Tentunya Wita tidak trauma. Baginya, tidak semua laki-laki memiliki sifat yang sama dengan Andika. Buktinya, ayah Wita adalah orang yang pantang berselingkuh. Menikah lagi pun, itu atas izin dari sang ibu.
**
Malam tiba dengan gerimis menyertai malam ini. Sepertinya, musim hujan telah tiba secara perlahan. Gerimis yang tadinya hanya sedikit membasahi bumi, kini mendadak menjadi deras disertai dengan suara petir sesekali.
Ardian yang beruntung sudah tiba di rumah kontrakan Wita yang sederhana, tak henti-hentinya tersenyum. Kelan juga demikian, sangat antusias menyambut kedatangan Ardian di rumah.
"Om Dian apa kabar?" tanya Kelan ketika kini Dian telah duduk di sofa milik Wita. Lelaki itu tampak lebih menawan dengan setelan kasual celana pendek krem, dipadu dengan kaos tanpa kerah berwarna putih. Potongan rambutnya juga terlihat baru.
"Baik, selama Kelan dan Mama baik-baik saja, om Dian tentu juga ikut baik," jawab Dian dengan sorot mata penuh binar.
"Oh ya, om Dian bawa apa?" tanya Kelan seraya melirik barang bawaan Dian.
"Om Dian bawakan kamu dan Mama menu udang saus asam manis. Kata Mama, kamu suka?" tanya Dian.
"Oh, ya tentu aku suka," jawab Kelan terkekeh senang.
__ADS_1
Kelan lantas menyantap semangka yang telah dikupas dan diiris oleh Wita. Anak itu tampak asik menonton televisi di kamarnya, seraya menunggu masa makan malam tiba.
Di ruang tamu, Ardian dan Wita duduk berdua, membiarkan hujan turun dengan lebatnya di luar rumah.
"Setelah Kelan masuk sekolah dasar, gimana nanti, Ta? Apa kamu akan terus merepotkan Manda untuk antar jemput Kelan?" tanya Ardian tiba-tiba, seraya memandang pintu kamar Kelan yang terbuka. Suara televisi bersaing dengan lebatnya hujan malam ini, namun tak mengurangi kehangatan yang tercipta antara Dian dan Wita.
"Entahlah, Dian. Amanda menawarkan untuk bisa mengantar jemput Kelan. Maklum, dia belum dikaruniai buah hati hingga saat ini," jawab Wita apa adanya.
"Tapi kalau dipikir juga aku nggak enak, meskipun aku dan Manda sudah lama berkawan."
"Aku bersedia antar Kelan dulu pagi hari, pulang dan bersiap kerja. Jam makan siang, kita bisa jemput dia sama-sama. Kasihan Kelan kalau sehari-hari dia apa-apa sendiri. Anak itu akan merasa di abaikan, meskipun kamu kerja juga untuk dia," tawar Dian.
Wita beralih menatap Dian dengan serius. Ia tak habis pikir, bisa-bisanya Ardian sebegitu nya peduli pada keluarga kecilnya yang tercerai akibat hadirnya orang ketiga.
"Kenapa kamu terlalu peduli dengan aku dan Kelan, Dian? Kamu punya niat terselubung?" tanya Wita dengan konyol. Mata Wita menyipit padanya dengan penuh kewaspadaan, membuat Dian semakin meledakkan tawa.
"Jangan ketawa. Ini nggak lucu!"
"Nggak ada niat apapun, Wita. Ini serius, aku tulus sama kamu dan Kelan, menyangkut tentang apapun itu. Meski kamu menolakku, aku nggak mungkin menjauhi kamu karena itu. Percayalah, orang yang tulus menyayangi kamu, nggak akan pernah pergi jauh hanya karena sebuah penolakan," ujar Ardian.
Wanita mana yang tak terharu? Tentu saja Wita merasa tersanjung dan terharu atas ungkapan Dian. Sekuat apapun dirinya mencoba untuk menolak kebaikan Dian, nyatanya Dian tetap tulus padanya.
"Aku akan pikirkan nanti, Dian, untuk masalah sekolah Kelan," jawab Wita.
"Wita?"
"Hmm," Wita menjawab panggilan Dian.
"Kamu cantik sekali malam ini," ungkap Dian, membuat rona pada pipi Wita kian terlihat jelas.
"Jangan ngaco, deh," sahut Wita, memalingkan wajahnya. Tentu saja tingkah Wita ini disambut gelak tawa dari Ardian.
__ADS_1
"Jangan mulai lagi, Dian. Jangan coba merayu aku," sambung Wita.
"Mana ada merayu? Aku bicara sesuai fakta loh. Jadi, jangan mengira aku sedang modus," balas Dian seraya meledakkan tawa.
Wita terdiam, pipinya merona dan ia sedang berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Dian, akhir pekan ini Kelan dan ayahnya berencana untuk berlibur ke kebun stroberi. Anak itu ngotot aku untuk ikut. Tapi, tapi aku enggan untuk menghabiskan waktu seharian berdampingan dengan mantan suamiku," ungkap Wita tiba-tiba.
Dian tampak menghentikan tawa secara tiba-tiba, dan menatap Wita dengan serius.
"Terus?" tanyanya.
"Aku nolak sih. Gimana menurut Kamu?" tanya Wita.
"Menurutku, sih, nggak ada salahnya kalau kamu ikut. Toh itu demi Kelan juga. Jangan sampai hanya karena perceraian, Kelan harus menerima dampak buruk. Demi anak, nggak ada salahnya kamu ikut. Turunkan ego dan gengsi kamu di depan mantan suami kamu, asal kamu nanti bisa membatasi interaksi bebas dengan dia. Ciptakan batasan-batasan dan jarak yang pantas, demi perasaan kamu juga," Dian mengutarakan pendapatnya.
Meski Dian tentu tak akan suka ketika melihat Wita dengan lelaki lain, tapi Dian tidak ingin egois. Baginya, Kelan adalah sosok tak bersalah yang tak seharusnya harus menerima dampak buruk perceraian orang tuanya.
Wita mengangguk dan hanyut dalam kebisuan. Rasanya, Ardian sangatlah bijak meski ia tahu Dian menyukainya. Dian tidak menekan, tidak egois, dan juga pengertian.
Di saat yang bersamaan, mobil Andika berhenti tepat di seberang jalan. Andika mengernyitkan keningnya, saat mendapati mobil pria yang sama, seperti yang tempo hari ia temui.
"Pria itu lagi!" seru andika dengan kesal. Setelah sedikit menenangkan hatinya, Andika lantas turun dan masuk ke teras Wita dengan tergopoh-gopoh.
Suara ketukan pintu disertai salam, mengalihkan perhatian Wita dan Ardian.
Mas Andika! Kenapa orang itu suka ganggu, sih?
Batin Wita.
**
__ADS_1