Cinta Mantan Suami

Cinta Mantan Suami
31. Kelahiran.


__ADS_3

Hari terus berganti, bulan terus berlalu hingga tanpa terasa, Wita mendengar kabar jika Amira telah melahirkan. Bayi perempuan sehat dan begitu mirip dengan Amira.


Satu hal yang cukup membuat Wita terkejut tentunya. Andika melakukan tes DNA, untuk memastikan bahwa bayi Amira memang anaknya. Tentu saja Mira semakin terpojokkan, merasa bahwa ia seperti terdakwa yang bersalah.


Pernyataan medis yang menguak fakta, bahwa rupanya bayi Amira adalah putri biologis Andika, tak membuat tekad Andika untuk berpisah dengan Amira, menjadi surut. Ada sebuah kebahagiaan yang tak terhingga, ketika pada akhirnya Amira tetap bersedia bercerai darinya sekalipun anaknya itu juga anak Andika.


Egoiskah Andika?


Andika tak akan menyangkal sekalipun dirinya di cap orang jika ia egois.


Hari ini, Amira diperbolehkan pulang. Wanita itu tak memiliki banyak biaya untuk kelahiran sang putri, hingga membuatnya mau tak mau tentu ditanggung seluruhnya oleh Andika segala biaya rumah sakit.


"Bagaimana? Sudah siap untuk pulang?" tanya Andika dengan suara datar. Lelaki itu lantas bergegas menghampiri Amira yang tengah mengemasi barang-barangnya sendiri.


"Sudah. Tapi, aku akan langsung pulang ke rumah Ibu saja, mas," ungkap Amira.


"Kenapa begitu? Pulanglah ke rumah saya lebih dulu sampai kondisi kamu benar-benar pulih. Mbok Yem yang akan bantu kamu. Lagi pula rumah Ibu kamu jauh, Amira," pinta Andika.


Amira menggeleng pelan, berusaha untuk tetap kekeh pada pendiriannya, "di rumah juga ada Ibu yang bisa membantuku. Cara berjalan Ibu juga sudah normal. Kondisinya sudah membaik. Jadi, nggak ada alasan bagiku untuk nggak pulang," bantah Amira.


"Kamu memang keras kepala, Amira," ungkap Andika seraya mendudukkan tubuhnya pada sofa, "kalau kamu mau pulang, pulanglah. Rudi yang akan mengantar kamu. Tapi ingat, tidak dengan Mikha Sudarma."


Mikha Sudarma, adalah putri Andika dengan Amira. Hingga kini, bahkan Wita tak menunjukkan adanya tanda-tanda untuk menjenguk Amira.

__ADS_1


Mengingat Deswita, membuat Andika tersenyum getir. Pastilah di tempatnya si mantan istrinya itu tengah merasakan ngilu di hatinya. Mana mungkin wanita itu tidak sakit hati, sementara ada putri Andika yang baru terlahir dari wanita lain.


Di tempatnya, Amira terkejut. Baru saja ia selesai berkemas untuk pulang, kalimat Andika begitu menusuk hatinya. Mana bisa Andika menahan Mikha begitu saja. Bukankah dari awal Amira sudah memutuskan untuk mengasuh Amira dengan tangannya sendiri.


"Dari awal aku sudah bilang sama kamu, mas. Aku akan merawat anak kita dengan tanganku sendiri. Kamu nggak bisa seenaknya begitu. Mikha juga anakku," ungkap Amira dengan gusar.


"Tidak. Berpisah ataupun tidak, saya nggak akan pernah melepas anak saya jauh dari saya. Karena kamu sudah melahirkan anak saya, saya akan berusaha berlaku baik sama kamu. Saya juga janji untuk tetap menjalin komunikasi yang baik dengan kamu. Kalau kamu butuh sesuatu apapun itu baik moril ataupun materiil, saya akan berusaha bantu semampu saya. Tapi tidak boleh jika kamu mengharap saya akan izinkan kamu membawa Mikha dari saya," Andika melipat kedua tangan di dada. Matanya menyorot tajam pada Amira.


"Enggak, aku akan bawa Mikha, mas. Kamu boleh menjenguk Mikha, kapanpun yang kamu mau. Aku nggak akan pernah menghalangi kamu. Lagi pula aku sudah janji sama Ibu, aku akan bawa anakku pulang bersamaku," Amira mulai putus asa. Wanita itu memanfaatkan kemampuannya yang tersisa untuk memohon.


Namun, sekuat apapun Amira memohon, tetap saja Andika tidak akan pernah mengubah keputusannya. Sosok Andika memiliki sifat keras kepala.


"Kalau begitu, saya yang akan bicara dengan ibu kamu. Pengacara saya yang akan mengurus semuanya. Kamu jangan khawatir," Andika menimpali dengan tegas.


Amira tak memiliki pilihan lain. Ia sudah pasrah. Selain tentang Mikha yang menjadi beban pikirannya akibat tak diperbolehkan ikut dengannya oleh Andika, Amira juga kepikiran dengan keinginan sang ibu yang berniat membawanya pada Ayah kandungnya.


**


Di sudut lain dalam satu waktu, Deswita tengah berjalan menuju ke arah dimana motornya terparkir dengan sempurna. Wanita itu hendak pulang dari bekerja sore ini.


Beberapa hari terakhir, Amira merasa moodnya terganggu. Kelahiran anak Andika bersama Andika yang menjadi penyebabnya.


Deswita merasa jika Kelan seolah tersisih. Andika tidak rutin lagi mendatang rumahnya untuk mengunjungi Kelan. Biasanya setiap sore atau malam, Andika akan selalu datang. Tetapi dua Minggu terakhir, Andika tidak lagi menjenguk Kelan.

__ADS_1


Sebagai seorang ibu, tentunya Wita merasa tak nyaman.


"Hei, aku dari tadi nunggu kamu," sapa Manda pertama kali, ketika Wita melakukan motornya dengan pelan.


Manda berdiri di depan pusat perbelanjaan menunggu sahabatnya itu. Pasalnya, Manda mengajak dirinya untuk menjenguk anak Andika bersama Amira. Tentu saja hal ini ditemtang mati-matian oleh Wita.


"Nunggu? Mau apa? Kalau ngajak aku ke rumah Andika, aku nggak mau. Lupakan saja keinginan kamu itu," jawab Wita seraya memutar bola matanya malas.


"Ayo ngopi dulu di kedai dekat sini. Kita ngobrol sebentar," ajak Manda seraya naik motor Wita di sisi belakang.


Wita tak membantah. Anjata itu nurut saja melakukan motornya menuju ke arah kedai yang tak jauh dari tempatnya bekerja.


"Ada apa?" tanya Wita ketika ia telah duduk di sebuah kursi yang Manda pilih. Mata Deswita beralih menatap pelayan yang tengah berjalan menjauh darinya, untuk menyiapkan pesanan dirinya dan Manda.


"Ayo kita menjenguk Amira dan anaknya. Sudah dua Minggu ini Amira melahirkan, apa kamu nggak ingin menjenguk Amira?" tanya Manda hati-hati.


"Sudah aku jelaskan berkali-kali, aku bukan kaum masokis yang akan dengan senang hati menyakiti hati sendiri, Manda! Kamu ini kenapa, sih? Kamu terlalu berpihak sama Amira?" tanya Wita memutar bola matanya malas.


Bukan kali ini saja, bahkan tiga hari setelah Amira melahirkan, Manda sudah mengajak Wita untuk menjenguk wanita perebut suami orang itu. Ditanya berkali-kali seperti ini, membuat Wita berang tentu saja.


"Masih sakit hati?" tanya Manda dengan konyolnya.


"Kamu pikir aku nggak sakit hati, Manda? Mari bertukar posisi, atau gini deh, suami kamu suruh selingkuh sampai punya anak. Apa kamu terima?" ungkap Wita dengan mata yang telah berkaca-kaca. Tidakkah Manda mengerti, bagaimana perasaan Wita saat ini. Kali ini, entah mengapa Manda lebih berpihak pada Amira.

__ADS_1


"Kamu nggak boleh terlihat kalah, sekalipun kamu nggak baik-baik saja, Wita. Kamu harus tunjukkan pada dunia, kebesaran hati kamu. Aku tahu ini nggak mudah, tapi aku percaya kamu bisa. Kamu wanita kuat, Wita. Toh sebentar lagi, Kamu akan kembali ke rumah besar Andika sebagai nyonya Sudarma," tegas Manda.


**


__ADS_2