Cinta Mantan Suami

Cinta Mantan Suami
14. Isi hati Istri kedua.


__ADS_3

Akhir pekan adalah masa yang di tunggu-tunggu semua orang, di tengah-tengah padatnya aktivitas. Banyak orang yang memilih untuk berlibur, atau menghabiskan masa akhir pekan dengan hal-hal lain, terutama dengan keluarga.


Ardian dengan semangat membawa Wita dan Kelan menuju sebuah pantai, destinasi wisata yang begitu membuat Wita betah berlama-lama di sana.


"Kamu senang, Wita?" tanya Ardian. Mata lelaki itu tetap terfokus pada Kelan yang mengukir istana dari pasir. Tak hanya itu, Ardian juga terus mengukir senyum tanda bahagia.


"Ya, senang dong. Sudah di traktir, masa nggak senang, sih?" ujar wanita itu terkekeh.


"Kalau gitu, aku akan sering-sering ajak kamu untuk main ke pantai. Aku rasa, itu menyenangkan," ujar Dian kemudian.


Wajah Wita mendadak mendung. Ada kabur kesedihan yang jelas Wita sembunyikan dari Ardian. Tentunya, Dian bisa menangkap gelagat itu. Sungguh, Dian sama sekali tak memiliki niatan untuk melukai perasaan wanita yang bersamanya saat ini.


"Kamu, kenapa sedih? Apa aku melukai perasaan kamu?" tanya Dian kemudian.


"Enggak, sama sekali kamu nggak melukai perasaanku. Aku cuman ingat seseorang," jawab Wita dengan tatapan sendu.


"Mantan suami kamu?" tanya Dian sekadar menebak.


"Bukan," Wita menggeleng lemah, "dulu aku punya adik, adik beda Ibu tepatnya. Tapi sekarang entah dimana dia."


Dian mengernyit dahinya sebagai reaksi penasaran, "adik? Beda Ibu? Maksudnya?"


Tatapan Wita berubah menjadi tatapan kosong. Ada perih yang sampai sekarang Wita rasakan. Meski dulunya Wita memiliki saudara beda Ibu, namun hubungan Wita dan istri kedua ayah Wita, begitu akur. Tak pernah ada perselisihan, tak pernah ada pertengkaran. Hubungan keluarga mereka hanya di warnai dengan perdebatan kecil, yang kerap kali dibuat oleh Wita dan adiknya.


"Dulu sahabat ayahku meninggal, dan meninggalkan wasiat agar istrinya dinikahi sama bapak. Hingga bapak memiliki anak dari istri sahabatnya itu, mereka menghilang entah kemana. Dulu, waktu kami masih bersama-sama, adikku selalu mengajak ke pantai setiap hari Minggu. Sekarang tinggal kenangan. Entah di mana dia sekarang, aku dan bapak lelah mencarinya," jawab Wita.


"Dan ibu kamu nggak keberatan kalau di madu?" tanya Ardian. Pikir Ardian, begitu sulit menemukan wanita yang rela di duakan. Tetapi apalah daya, memang terkadang pikiran seseorang, kita tak dapat menebaknya.


"Enggak," jawab Wita lirih, "justru Ibu mendukung sekali hal itu. Malahan, yang menolak adalah Ayah. Ah, tapi sudahlah. Jangan bahas itu lagi," sambung Wita, seraya mengusap sudut matanya yang berair.


Tanpa terasa, kenangan itu masih membekas hingga saat ini. Rasanya sangat sakit, saat tiba-tiba kita ditinggalkan seseorang terkasih, tanpa pamit dan tanpa kata perpisahan.

__ADS_1


"Maaf, kalau aku banyak tanya dan membuat kamu sedih," ungkap Ardian tak enak hati.


Wita menatap Dian, seraya mengumbar senyum, "nggak apa-apa. Jangan khawatir, aku baik-baik saja," ujar Wita menjawab Dian.


Hingga tak lama kemudian, mata Wita tertuju pada seseorang yang tengah duduk termangu sendiri di bawah pohon. Wita menyipitkan mata, sebab mengenali wanita yang ia kenal sebagai istri dari mantan suaminya.


"Siapa itu?" tanya Ardian yang penasaran.


"Dia, dia istrinya mantan suamiku," jawab Wita kemudian, "aku samperin dulu. Kamu disini saja dulu, tolong, aku titip Kelan sebentar. Hanya sebentar, oke?"


"Baiklah, dengan senang hati," jawab Ardian.


Langkah Wita tertuju pada Amira yang duduk termenung seorang diri. Mata ibu hamil itu menatap kosong pada layar laptopnya. Dinginnya angin laut, nyatanya tak juga mengusik lamunan Amira.


Tak dipungkiri, Wita sendiri masihlah menyimpan amarah pada wanita itu. Tetapi sayangnya, amarah Wita tak sampai menggerus sisi manusiawinya. Tentunya Wita juga ada sedikit rasa khawatir, saat melihat Amira yang posisinya tak mudah di jalani oleh wanita lain.


"Amira, kamu ... ngapain disini? Sendirian lagi? Bukannya ... kamu harusnya ada di rumah jam segini?" tanya Wita tak nyaman.


"Aku, aku lagi kerja, mbak Wita," jawab Amir lembut, dan mengulas senyum palsu.


Ya, mungkin ke depannya, Amira akan mengulas senyum palsu. Bibir yang menawan itu tersenyum, namun hatinya penuh dengan luka.


"Kerja? Emm, boleh aku gabung sebentar?" tanya Wita hati-hati. Ia khawatir, suasana hati Amir tak baik-baik saja saat ini.


"Boleh, mbak. Silahkan," ungkap Amira kemudian. Wanita itu mematikan laptopnya, dan membiarkan pekerjaannya tertunda.


"Maaf, bukannya aku mau ikut campur dengan urusan rumah tangga kamu, tapi kalau boleh tahu, kenapa kamu keluar di akhir pekan tanpa suamimu? Dan ini, kenapa kamu bilang kamu lagi kerja?" tanya Wita kemudian.


Wanita itu duduk dengan anggun, dan menatap penasaran pada Wita.


"Aku sedang mencoba peruntungan di dunia menulis, mbak. Siapa tahu hoki," jawab Amira singkat. Meski tersenyum, namun Wita tahu bahwa Amira bahkan lebih kacau dari waktu ke waktu.

__ADS_1


"Kenapa kamu harus kerja? Bukannya setahuku mas Andika punya banyak uang?" tanya Wita.


Senyum yang semula terukir di bibir Amira, sontak saja memudar seketika.


"Jika diceritakan, akan panjang. Biarlah itu jadi masalah rumah tanggaku, mbak. Oh ya, mbak Wita kesini sama siapa?" tanya Amira untuk mengalihkan pembicaraan.


"Sama Kelan, juga sama temanku masa sekolah dulu," jawab Wita.


Sejujurnya, Wita sangatlah penasaran dengan alasan Amira bekerja. Namun, Wira sadar bahwa dirinya tak boleh ikut campur urusan rumah tangga orang lain.


"Oh," sahut Amira singkat.


Selanjutnya, hanya keheningan yang terjadi. Baik Amira maupun Wita sama-sama bungkam.


"Amira, maaf. Apa kamu baik-baik saja?" hanya Wita yang tak tahan sama sekali.


"Aku baik-baik saja, mbak. Jangan khawatir. Mbak Wita juga bebas mengantar Kelan untuk ketemu sama Papanya. Aku sudah nggak tinggal di sana lagi," ungkap Amira pelan. Tangan wanita itu beralih memainkan ponselnya.


"Maksudnya?" tanya Wita tak mengerti, "kenapa kamu nggak tinggal di sana? Kamu dan Andika pisah ranjang?"


"Aku sudah tinggal terpisah selama dua hari ini. Pengen tenang saja sih, mbak. Mungkin sampai anak ini lahir, mas Andika baru akan bersedia menceraikan aku," jawab Amira.


"Heh, kamu ini ngomong apa sih? Kenapa jadi melantur begini?" tanya Wita, "mungkin kamu hanya sedang emosi sesaat. Kamu harus sabar, kan kamu tahu sendiri gimana sifat Andika. Cuek saja dan kamu harus kembali. Ada anak yang haknya harus kamu pertahankan dan kamu harus berjuang untuk itu," kata Wita.


Deswita ingat betul, bagaimana dulu Amira mengiba untuk haknya sebagai wanita yang tengah mengandung anak Andika.


"Dulu memang aku kekeh untuk bisa menjadi istrinya mas Andika, mbak. Tapi percayalah, belum setahun menjadi istrinya, aku nyaris sakit jiwa karenanya. Harusnya aku sadar, tapi kwsadaranku benar-benar terlambat sekarang," ungkap Amira dengan penuh kesadaran.


Segala yang menjadi unek-unek dan isi hati Amira, kini perlahan mulai tumpah. Mungkin Amira memang sudah lelah.


**

__ADS_1


__ADS_2