
Pagi menyapa dengan sinar mentari yang bersinar terang. Desah angin pagi, membawa kesejukan baru dan semangat bagi Deswita Adriana.
Setelah semalam Deswita berhasil mencurahkan unek-uneknya yang mengganjal di hati pada Andika, kini Wita lebih lega. Satu jam lalu, dirinya mengajak Manda untuk membeli kado yang akan ia berikan pada anak Amira. Tak disangka, Wita sudah mulai menerima kenyataan ini.
Kurang miris bagaimana lagi? Sungguh memuakkan.
Setelah Wita selesai mandi, wanita itu memoles wajahnya dengan make up tipis khas dirinya. Dress putih dengan motif bunga sakura, membalut tubuhnya yang seksi dan berlekuk dengan sempurna.
"Wita," panggilan dari Manda yang berada di balik pintu, disertai dengan suara ketukan, membuat Wita segera menuju ke arah ruang tamu dan membuka pintu.
"Ya, sebentar," jawabnya.
Setelah membuka pintu, Wita mengulas senyum, senyum manis yang membuat Manda sedikit curiga.
Bagaimana tidak curiga? Bahkan kemarin Wita menolak keras ajakan Manda untuk menengok bayi Amira yang baru dibawa pulang oleh Andika. Melihat Wita kini tersenyum hangat dengan manis khas dirinya, membuat Manda tentu curiga.
"Kenapa kamu ceria banget? Kemarin nangis-nangis deh," ujar Manda seraya mendudukkan tubuhnya pada sofa.
"Nggak apa-apa. Aku sudah puas meluapkan emosi dan melampiaskan kekesalanku sama Andika. Ayo berangkat, kita beli kado," ajak Wita segera.
"Nggak usah beli, aku sudah bawa itu di motor. Sudah bawa dua," ungkap Manda kemudian.
"Baiklah. Tunggu sebentar, aku ambil tas dulu," ujar Wita. Tak lama kemudian, Wita keluar kamar dan mengunci pintu kamar.
"Gimana sama Kelan? Apa dia semalam rewel?" tanya Wita.
"Enggak, dia happy di rumah. Malah dia bilang mau pulang sore nanti saja karena masih asik main sama keponakan-keponakan aku," jawab Manda, yang diangguki oleh Wita.
Keduanya lantas berjalan menuju motor Manda, dan segera menuju ke rumah Andika. Sepanjang perjalanan, sesekali Manda melontarkan candaan ringan untuk memberikan penghiburan pada Wita. Tentu saja Manda tak akan terkecoh. Perasaan Wita tak sebaik yang wanita itu jabarkan.
Sebanyak dan selebar apapun tawa dan senyum Wita miliki pagi ini, nyatanya Manda tak bisa dibohongi begitu saja.
"Syukurlah kalau begitu," jawab Wita.
__ADS_1
"Manda, aku berencana untuk menyerahkan Kelan pada Andika. Bagaimana menurut kamu?" tanya Wita kemudian dengan suara pelan.
"Kenapa bisa begitu? Kenapa kamu tiba-tiba merubah keputusan? Bukannya kamu dulu yang keras kepala nggak akan sudi membiarkan Kelan berada dalam pengasuhan Andika?" tanya Manda tak mengerti.
Wanita itu lantas bungkam cukup lama, hingga motor yang dikemudikan oleh Manda, memasuki halaman kediaman Andika yang cukup luas.
"Ayo," ajak Manda segera. Meski melangkah dan menampakan raut wajah biasa saja, namun, Wita tak dapat menyembunyikan sorot mata kecewa. Sakit hati wanita itu bisa dilihat siapapun dengan jelas, sekuat apapun ia menutupi luka hatinya dengan senyuman.
Mbok Yem membuka pintu, sedikit terkejut akan kedatangan mantan istri majikannya. Namun, sesaat kemudian mbok Yem segera menyambut kedatangan Wita dan Manda dengan sukacita.
"Bu, saya kangen," ungkap mbok Yem dengan senyum hangat. Wanita itu lantas dibawa dalam pelukan oleh Wita.
"Sama, mbok. Saya juga kangen," balas Wita.
"Dimana den Kelan?" tanya mbok Yem, memisahkan diri dan celingak-celinguk untuk mencari keberadaan majikan mudanya.
"Kelan sedang ada acara, mbok. Maklum, dia mulai punya banyak teman di luar rumah, di sekolah contohnya," jawab Wita seraya mengulas senyum.
Andaikan saja Wita bukan wanita keras kepala, tentunya Wita akan mudah luluh saat itu juga.
"Mari masuk, Bu, Bu Manda," ajak mbok Yem.
"Mbok, ini ada hadiah kecil dari saya dan Kelan, ini juga dari Manda, untuk anak Amira dan Andika," kata Wita seraya memberikan dua bingkisan pada mbok Yem.
"Di mana Amira, mbok?"
Sengaja Wita tak menanyakan dimana keberadaan Andika, sebab Ia sudah tahu pasti jika setiap pagi selain akhir pekan, Andika akan berangkat ke kantor.
"Non Mira, em . . . Anu, Bu. Bu Amira tinggal di tempat kostnya. Bapak sudah menyuruh Bu Amira untuk tetap tinggal disini sementara waktu, tetapi Bu Amira menolak," jawab mbok Yem.
Wita diam tidak menjawab. Wanita itu mengikuti langkah mbok Yem menuju ke kamar tamu. Tentu saja Wita terkejut ketika mendapati bahwa putri Andika itu diletakkan dalam kamar tamu, alih-alih di kamar luas di lantai dua.
"Ini non Mikha, Bu. Yang ini suster pengasuh non Mikha. Bapak sedang bekerja, Bu. Apa saya telepon bapak saja?" tanya mbok Yem.
__ADS_1
"Ya, mbok. Katakan saja saya datang untuk menjenguk Mikha. Tapi katakan juga padahal, tidak usah pulang. Saya tidak akan lama disini," ungkap Wita.
"Baik, Bu," jawab mbok Yem.
Manda diam di sofa tunggal di sudut ruangan. Sementara Wita, wanita itu menghampiri Lila, pengasuh yang kini tengah menimang-nimang Mikha.
Tak ada niat sedikit pun untuk menyentuh apalagi menggendong Mikha. Wita hanya menatap bayi itu. Wajahnya begitu mirip dengan Amira. Senyum terulas dari bibir Wita. Baiklah, benar kata Manda, bayi ini tak memiliki dosa apapun.
"Mau minum apa, Bu?" tanya mbok Yem.
"Nggak usah, mbok. Saya mau pulang," jawab Wita.
"Kenapa terburu-buru?" tanya mbok Yem, menunjukkan keberatan bila Wita pergi begitu saja.
"Ada banyak urusan, mbok. Salam saja sama papanya Kelan," Ujar Wita seraya melempar senyum.
Di saat yang bersamaan, suara bel berbunyi dan mbok Yem kembali tergopoh untuk membuka pintu. Segera saja Manda dan Wita ikut mbok Yem keluar kamar tamu, tanpa menyapa Lila.
Sosok Amira berdiri di ambang pintu utama. Wanita itu terkejut mendapati sosok Wita di rumah Andika.
"Mbak Wita," sapanya dengan pelan. Amira tersenyum canggung, dan mendadak Tremor ketika mendapati Wita menghampirinya dengan tatapan dingin.
"Selamat atas kelahiran Mikha, Amira. Tapi jangan harap, kehadiran Mikha bisa menggantikan Kelan sebagai pewaris utama keluarga Sudarma!" ujar Wita dengan tersenyum penuh makna.
Amira merasa terpojokkan. Wanita itu seolah di tuduh hendak menguasai seluruh harta milik Andika. Bukan menyangkal, awalnya Andika memang berniat demikian, namun urung ketika ia menerima bermacam ujaran kebencian dari Andika.
Amira menyerah.
"Jangan khawatir, Mbak Wita. Keinginanku adalah membawa anakku bersamaku dan kami tinggal bersama. Mas Andika sendiri yang menetapkan Mikha untuk tinggal disini," jawab Amira. Menatap Wita saat ini, rasanya ini bukan seperti Wita yang sebelumnya.
"Andai kamu nggak menjebak mas Andika untuk membuatnya terjerat tanggung jawab, kamu tidak akan serendah sampah di mata saya, Amira," ujar Wita tersenyum simpul.
**
__ADS_1