
Dengan semangat baru, Deswita Adriana memulai paginya hari ini dengan berdoa sejak bangun tidur. Hatinya sudah mulai lega dan menerima. Jiwanya kini seolah kembali merasa bahagia, sekalipun keadaan tidak berubah.
Selepas mandi, wanita itu menyiapkan sarapan untuknya dan Kelan. Tak lupa, bekal sekolah Kelan juga sudah siap dan tinggal di bawa ke sekolah. Wita bersyukur, perekonomian pribadinya sudah mulai stabil.
Sudah berkali-kali Andika berusaha untuk membuatnya menerima pemberian Andika, tetapi tidak, Wita tak ingin menerima sepeserpun yang dari Andika, dengan dalih ia ingin mandiri. Lagi pula, dirinya sudah bukan tanggungan lagi untuk Andika, rasanya aneh saja, bila dirinya harus dinafkahi oleh Andika.
Nasi dengan lauk sayur sop dan udang goreng, menjadi menu sederhana Wita. Demikian pula dengan Kelan yang menikmati makanannya dengan lahap.
"Pelan-pelan makannya, sayang. Nggak akan ada yang merebut jatah sarapan Kelan," ujar Wita seraya terkekeh geli.
"Iya, ma. Masakan Mama memang selalu enak" jawab anak itu seraya mengacungkan jempol pada Wita. Tentu saja Wita senang.
"Besok aku mau dimasakin ayam woku ya, ma. Tapi cabenya satu," pinta Kelan.
"Siap. Doakan mama lancar rejekinya, ya? Mama akan masakin yang enak-enak untuk Kelan," ungkap Wita.
"Iya. Tapi kan, jatah Kelan dari Papa ada," ujar anak itu.
"Iya. Ya sudah, ayo lanjut lagi makannya," ujar Wita berniat menyudahi obrolan di meja makan.
"Oh ya, ma. Sabtu dan Minggu depan, Papa bilang sama Kelan, kalau Kelan akan diajak Papa untuk berlibur. Kelan maunya ke kebun stroberi yang tempatnya dingin itu loh, ma. Boleh? Kan sudah lama Kelan nggak kesana?" tanya anak itu dengan sorot penuh pengharapan. Tentu saja Wita sebagai ibu tidak tega dibuatnya.
"Boleh. Tapi Kelan jangan nakal, ya, kalau ikut Papa berlibur. Kalian berdua harus saling menjaga," kata Wita.
"Mama nggak ikut? Kelan maunya mama ikut. Kita bertiga kayak dulu lagi, pasti seru," jawab Kelan dengan nada memaksa.
"Lagian hari Sabtu dan Minggu kan Mama libur kerja?"
__ADS_1
Tentu saja Wita tak mampu menolak. Demi langit yang masih setia diatas, Wita tak menyangka Kelan tumbuh menjadi anak yang begitu cerdas. Usianya tidak lebih dari tujuh tahun, namun anak itu seolah mengerti dengan apa yang terjadi pada kedua orang tuanya.
"Ini idenya Kelan atau idenya Papa?" tanya Wita seraya tersenyum keibuan.
"Kalau jalan usulnya Kelan, tapi kalau ke kebun stroberi, itu usulan Papa. Tapi Kelan juga suka kok kesana. Kan, kita juga udah lama nggak kesana, ma," Kelan menjawab ringan.
Wita menghembuskan napasnya perlahan. Jika ia terus bersama dengan Andika, Wita khawatir akan mudah luluh dan cepat merespon Andika dengan baik. Tetapi sayangnya, Wita tak ingin hal itu terjadi.
Memaafkan memang mudah bagi Wita, tetapi menerima segalanya dan berlaku seolah tak terjadi apapun, Wita tak bisa.
"Maaf, sayang. Lain waktu saja, ya? Besok mama harus kerja, juga ada janji urusan pekerjaan dengan om Ardian, mungkin dengan waktu seharian. Jadi, Kelan berdua sama Papa saja, ya, liburannya?" tanya Wita tak enak hati.
"Tapi Kelan nggak mau berdua sama Papa, ma. Kelan khawatir nanti Tante Amira ikutan. Kelan nggak mau," ungkap anak itu seraya memanyunkan bibirnya.
"Tante Amira ya meskipun istrinya Papa, tapi dia bukan ibunya Kelan."
Wita menyadari satu hal, tak mudah bagi kelan menerima orang asing dalam rumahnya. Dari rumah megah dengan bertabur fasilitas mewah, beralih ke rumah minimalis dimana didominasi oleh kesederhanaan di segala sudut.
Mungkin Kelan memang terlihat tidak masalah dan baik-baik saja, tetapi jauh di dasar hati anak itu, ada kehancuran yang jelas hanya bisa dilihat dan di rasakan oleh Wita.
"Mama tahu, Tante Amira bukan ibunya Kelan. Sampai kapanpun, akan selalu begitu dan hanya Deswita Adriana yang menjadi satu-satunya Mama Kelan hingga akhir hayat. Tetapi jangan khawatir, Papa dan Tante Amira tidak akan jalan bersama lagi. Ada beberapa hal yang membuat mereka nggak bisa jalan atau piknik berdua. Jadi, Kelan jangan kotori hati Kelan dengan hal-hal yang tidak perlu, oke?" Wita berusaha meredam hal negatif pada hati putranya.
"Terus, jadi Mama nggak bisa ikut Kelan dong, ya? Atau gini aja, nanti Kelan bilang Papa kalau liburannya nunggu Mama libur kerja," ujar anak itu, masih enggan menyerah dan berusaha menawar keadaan.
"Nggak usah. Lebih baik Kelan tetap liburan sama Papa. Nanti, Mama akan bicarakan lagi dengan Papa," ujar Wita.
Kelan mengangguk, hingga lantas keduanya sarapan dalam diam. Kedatangan Andika yang tiba-tiba, tentu saja membuat Kelan senang bukan main.
__ADS_1
"Kelan mau diantar Papa ke sekolah," pinta anak itu, ketika Andika baru saja masuk ke dalam rumah Wita.
"Tentu Papa yang akan antar dengan senang hati," jawab Andika. Tatapan matanya tak lepas dari sosok Wita yang tampak cantik. Bahkan dari ke hari, Wita semakin cantik di mata Andika.
"Kalau Mama mau, Papa juga bersedia antar Mama kerja."
Wita seketika beralih menatap Andika, dengan tatapan datar.
"Nggak usah, terima kasih. Aku bisa berangkat sendiri. Yang penting Kelan bisa berangkat," tolak Wita dengan halus.
Andai tidak ada Kelan, Wita lebih suka memaki Andika atas tawarannya itu.
"Ya sudah, Kelan mau pakai sepatu sekalian mau ambil tas," ujar anak itu, berhambur menuju kamar dan meninggalkan kedua orang tuanya berdua di ruang tamu.
"Kenapa nggak sekalian ikut bareng Kelan saja, Wita? Saya nggak akan keberatan," tanya Andika.
"Nggak usah, Mas. Aku bisa sendiri," jawab Wita mengulang penolakannya.
"Kamu masih marah sama saya?" tanya Andika memancing Wita.
"Setelah semua yang kamu lakukan, apa menurutmu aku nggak marah karena suamiku main serong dengan wanita lain? Aku cuma manusia biasa yang bisa marah kalau dibodohi. Aku bukan Tuhan," jawab Wita, menampar keras harga diri Andika.
"Saya minta maaf," ujar Andika.
"Sudah aku maafkan. Tapi untuk kembali seperti dulu, aku nggak bisa. Entah berapa waktu lagi yang aku perlukan, untuk memulihkan hatiku yang hancur, Mas," ungkap Wita lagi.
"Aku tahu, usiaku nggak semuda Amira. Aku juga bukan wanita sempurna. Tapi kamu perlu tahu, Tuhan mungkin hanya menciptakan satu wanita dengan kadar tulus paling tinggi, untuk setiap laki-laki."
__ADS_1
**