Cinta Mantan Suami

Cinta Mantan Suami
35. Pemaksaan.


__ADS_3

Dalam masa pagi yang diharapkan bisa mengembalikan ceria dan sukacita Deswita, Wita kini justru dihadapkan dengan situasi menyedihkan. Dua puluh menit yang lalu, Wita terpaksa menghubungi Ardian dan izin untuk cuti sehari demi Kelan. Sayangnya, itu dusta tentu saja.


Dengan karakter Andika yang sesekali suka menang sendiri, tentu Wita mendapat paksaan disertai dengan berbagai ancaman agar ikut Andika ke suatu tempat. Usai mengantar Kelan pergi ke sekolah, Andika melajukan mobilnya menuju sebuah restoran mewah dengan ruangan VVIP.


Semarah apapun Wita, nyatanya ia tak bisa menolak keras ajakan Andika.


"Aku sudah sarapan, Andika! Apa kamu nggak dengar dari tadi?" tanya Wita dengan judesnya, dan sayangnya itu mendapat balasan senyum kecil dari Andika.


Entah mengapa, dengan sikap Wita yang sebegitu judesnya, membuat Andika semakin penasaran dibuatnya. Andika justru suka dengan sikap Wita. Baginya, Wita jauh lebih menantang dengan keberaniannya yang sekarang.


"Panggil saya mas Andika, Wita. Apa susahnya?" tanya Andika seraya terkekeh ringan. Ini seperti ledekan bagi Wita.


"Jangan harap. Cepat ngomong kalau ada yang mau disampaikan. Aku mau pulang!" tegas Wita tanpa basa-basi.


"Saya ingin menghabiskan waktu berdua dengan kamu, Wita. Saya merindukanmu," ungkap Andika dengan lekat menatap Wita. Sorot matanya menampakan nostalgia.


"Entah sudah berapa lama kita tidak bersama begini, Wita. Saya rindu menghabiskan waktu berdua dengan kamu."


Wita masih diam, enggan menimpali sedikitpun ucapan Andika. Tentu saja Wita menatap Andika dengan senyum mencibir.


"Rindu? Omong kosong. Mana mungkin kamu rindu aku setelah semua yang kamu lakukan padaku. Semoga kamu nggak lupa, bagaimana peselingkuh seperti kamu bisa membohongi saya," jawab Wita enteng.


"Saya tahu saya salah."


"Dan kamu masih tetap melakukannya. Bukannya selepas malam penjebakan Amira, kamu masih mencari Amira dan sempat tidur bersamanya dalam kondisi sadar?" kalimat Wita demikian menohok hati Andika.


"Coba kamu jawab aku dengan jujur, mas. Setelah malam itu, kamu masih menemui Amira untuk menghabiskan waktu bersama, bukan?" tanya Wita lagi.

__ADS_1


Andika mengerjapkan matanya beberapa kali sebagai tanda ia tengah gugup. Tanpa sadar, pertanyaan Wita seolah kembali memojokkan dirinya sekalipun Wita tidak berniat demikian.


"Kamu tahu selingkuh itu nggak benar, tapi kamu masih melakukannya. Dalam kondisi sadar pula. Apa aku harus menerima kamu dengan mudahnya? Enggak. Hatiku terlalu sakit sekarang. Bahkan kalau diingat, rasanya aku inginnya nggak mengenal kamu lagi," ujar Wita.


"Bukan saya yang menemui Amira, Ta. Tapi, Amira sendiri yang datang menemui saya," Andika meralat pertanyaan Wita.


"Dan ya, memang saya akui bahwa saya memang bertemu dengannya beberapa kali dengan Amira."


"Tanpa melewatkan kesempatan untuk tidur bersama, tentunya," celetuk Wita dengan ringan.


Andika diam, hanya menatap Wita dengan tatapannya yang sendu. Ada banyak hal yang membuat Andika ingin mengatakan sesuatu, tetapi kini dirinya sadar bahwa apapun yang ia katakan, Wita akan selalu punya jawaban untuk memojokkan dirinya.


"Lalu, apa gunanya kamu mencari bukti atas jebakan Amira, kalau pada akhirnya kamu dan dia kembali sering melakukan dengan sadar? Itu artinya, kamu memang peselingkuh. Atau mungkin, karena aku sudah nggak semuda Amira, jadi kamu kecanduan sama dia. Itu sama sekali bukan masalah bagiku. Hanya saja, tolong, jangan merecoki hidupku," ungkap Wita.


Diam adalah pilihan terbaik bagi Andika saat ini. Sebesar dan sepanjang apapun penjelasan dirinya terhadap Wita, tetap tak akan ada artinya. Selain ingin menghabiskan waktu berdua dengan Wita, Andika memiliki satu tujuan lain.


Hening menyelimuti. Detik terus berganti, menit pun berlalu tanpa terasa. Nyaris setengah jam lamanya, Andika akhirnya bersuara mengungkapkan sesuatu.


Wita menatap Andika dengan mata menyipit seraya berkata, "sebagai bentuk harta gono-gini?" tanya Wita penuh kewaspadaan.


"Bukan. Jangan khawatir, pengacara saya yang akan mengurus masalah gono-gini sekalipun kamu tidak menggugatnya di pengadilan tempo hari. Kamu berhak mendapatkannya. Sebagai bentuk permintaan maaf, ya anggap saja rumah itu sebagai bentuk permintaan maaf saya pada kamu," ungkap Andika.


Deswita tertawa sumbang. Mana mungkin rasa bersalah bisa ditebus hanya dengan nominal seharga rumah?


Tapi baiklah, nggak masalah. Kalau perlu, aku poroti saja harta kamu sekalian.


"Baik. Memang seharusnya kamu sadar diri!" timpal Deswita dengan sinis.

__ADS_1


"Lagian kamu sendiri yang mulai nyeleneh."


Senyum terbit di bibir Andika. Pria itu sungguh lega setelah Wita menerima apa yang seharusnya Andika berikan.


"Ya sudah, nanti saya sampaikan ke pengacara untuk mengurus nama dalam sertifikatnya. Oh ya, mama ingin ketemu sama kamu. Apa kamu bersedia ketemu sama mama?" tanya Andika hati-hati.


Sejak perceraiannya dengan Wita di dengar oleh sang ibu beberapa waktu lalu -setelah Wita pindah dari kediaman Andika-, kesehatan sang ibu menunjukkan penurunan. Sakit asma yang di derita wanita sepuh itu, bisa datang sewaktu-waktu jika ibunya Andika itu menerima kabar buruk.


"Ya, aku bersedia. Tapi jika aku yang harus kesana, aku nggak bisa," jawab Wita dengan membuang tatapannya keluar ruangan.


Wanita cantik di usianya yang tak bisa dikatakan muda, dengan penampilan anggun nan bersahaja, Wita jarang sekali bertemu dengan ibu mertuanya itu. Jika dipikir-pikir, wanita itulah yang akan menolong Wita saat Andika melakukan hal yang salah pada Wita. Akan tetapi entah mengapa ketika Andika berselingkuh, Wita tak kepikiran untuk bicara dengan ibu mertuanya itu.


"Terima kasih, Wita. Oh ya, akhir pekan saya berencana untuk membawa kamu dan Kelan untuk berlibur," ungkap Andika, memperjelas apa yang dikatakan Kelan beberapa saat lalu.


"Ajak saja Kelan, aku nggak bisa karena harus kerja," jawab Wita, meraih dan meneguk minuman dengan cara anggun. Bicara dengan Andika, cukup menguras emosi dan membuat tenggorokannya kering.


"Kamu cantik hari ini, Wita. Semakin hari, kamu terlihat semakin indah," ungkap Andika seraya mencecap minuman dalam gelas dengan pelan.


Hancur sudah cara Wita meneguk minum dengan cara anggun, sebab kini wanita itu tersedak akibat ungkapan Andika.


"Secantik apapun aku, tetap aku kalah sama yang lebih muda. Yang selalu ada akan kalah dengan yang lebih muda, bukankah konsepnya begitu?" tanya Wita setengah mengejek.


Andika meletakan minuman diatas meja seraya berdecak sebal. Bisa-bisanya ketika ia mengungkapkan isi hatinya, Wita justru membalas dengan memojokkan Andika.


"Saya bicara jujur dan apa adanya, Wita. Jika seandainya kamu mengulangi sekali lagi memojokkan saya, saya pastikan saya akan memakai cara-cara kotor dengan menghamili kamu lebih dulu agar kamu mau saya nikahi!" tegas Andika.


Dan kembali, Wita tersedak untuk yang kedua kalinya akibat perkataan Andika yang di luar akal sehat.

__ADS_1


Menyebalkan!


**


__ADS_2