Cinta Mantan Suami

Cinta Mantan Suami
27. Persahabatan.


__ADS_3

Perjalanan pulang Andika dan Rudi dari rumah orang tua Wita kali ini terasa lain. Andika lebih banyak diam dengan raut wajah datar. Entah apa yang terjadi pada majikan Rudi itu, Rudi tak begitu tahu pasti apa yang Dika bicarakan terakhir kali dengan Wita.


Rudi diam tanpa peduli, pasalnya, sudah berulang kali dirinya memberi peringatan pada Andika, namun, kerap kali Andika membantah dan membenarkan argumennya sendiri.


Dari sudut hati Rudi yang terdalam, Rudi bahkan lebih iba pada Amira, istri kedua majikannya yang sebentar lagi akan segera diceraikan. Sungguh ironi. Bahkan di saat Amira sudah menyerah, harusnya Andika menenangkan wanita hamil itu.


Tak jarang Rudi selalu memergoki Amira yang menangis pilu di sudut rumah. Andika bahkan selalu saja memojokkan Amira, terlepas Amira tidak bersalah atau pun tidak. Harusnya menurut Rudi, sebenci apapun Andika pada Amira, tidak sepatutnya Andika sering mengintimidasi Amira, terlebih, Amira tengah mengandung saat ini.


Tiba-tiba Rudi ingat dengan perdebatannya dengan Andika tempo hari.


"Rud? Kamu dengar saya? Apa kamu mencintai Amira?" tanya Andika, yang membuat Rudi membulatkan matanya.


Cinta? Yang benar saja? Bahkan Rudi tidak pernah sekalipun berharap untuk bisa merebut Amira dari jerat pernikahan bersama Andika. Tidak. Rudi tidak suka menikung milik pria lain, terlebih Andika adalah majikan sekaligus sahabatnya sejak sekolah dulu.


"Kamu gila, ya? Mana mungkin aku suka apalagi cinta sama Amira? Bahkan untuk melirik pun, aku nggak kepikiran sama sekali. Kalau kamu mau bercanda, carilah topik lain. Kamu kenal aku sudah sangat lama. Harusnya kamu tahu gimana karakterku!" seru Rudi tak terima kala itu.


"Tapi saya lihat dn saya nilai, akhir-akhir ini kamu sangat peduli dengan Amira! Perlukah saya membantu kamu supaya kamu bisa mendapatkan Amira?" tanya Andika, kian serius menatap Rudi.


Rudi bukannya ikut serius, yang ada Pria itu makin kesal oleh tuduhan Andika yang tak berdasar.


"Peduli bukan berarti cinta, bodoh! Kamu pikir aku cinta sama Amira, hanya lantaran aku peduli sama dia? Bahkan jika sekalipun istri kedua kamu itu bukan Amira, aku nggak mungkin suka apalagi cinta. Jangan mulai deh, Dika. Aku nggak suka sama Amira!" seru Rudi kembali.


Di tuduh mencintai wanita oleh suami wanita itu sendiri, adalah sebuah tindakan melukai harga diri seorang Rudi.


"Lagi pula, gadis di luaran sana masih banyak. Nggak mungkin aku cinta sama Amira," tambah Rudi menegaskan.


"Atau jangan-jangan, benih cinta di hati kamu sudah tumbuh. Bisa jadi kamu nuduh aku cinta sama Amira, lantaran kamu cemburu. Iya, kan?" desak Rudi balik memojokkan Andika.

__ADS_1


Andika tersenyum miring. Pria itu paham betul bagaimana karakter Rudi. Harga diri sahabatnya begitu tinggi. Tak mungkin Rudi akan sudi mencintai Amira, sementara Amira adalah istri Andika.


"Tapi kamu lupa dengan apa yang pernah saya katakan tempo hari. Cinta datang tidak pandang bulu, akan datang pada siapa," timpal Andika, yang seketika membuat Rudi bungkam.


"Rud, kenapa kamu hanya diam?" tanya Andika, menatap Rudi yang kini tengah duduk di sampingnya. Sopir yang mengemudi mobil yang mereka kendarai, juga bungkam, seolah tak mendengar apapun saat ini.


"Kamu yang kenapa cuma diam?" Rudi balik bertanya.


"Ya, nggak kenapa-kenapa, sih," jawab Andika.


"Biasanya, kamu selalu banyak omong dan banyak tanya jika saya selesai bicara dengan Wita," tambah Andika.


"Aku berhenti kepo dari kamu, Dika. Maklumi saja. Aku takut kamu justru nanti mengira aku cinta sama Wita, kalau aku banyak tanya tentang Wita. Seperti aku sering ngomong tentang Amira, kamu mengira kalau aku cinta sama istri keduamu itu," sindiran jelas Rudi lemparkan pada Andika.


Keduanya lantas tertawa dan saling memandang geli. Entahlah. Andika tidak bisa marah pada Rudi.


"Curhat saja. Ada apa?" tanya Rudi juga ikut memasang mode serius.


"Orang tua Wita menyerahkan sepenuhnya menyerahkan keputusan pada Wita, untuk menerima saya kembali atau tidak. Menurut kamu bagaimana? Wita meminta waktu setahun untuk bisa menerimaku. Selama itu pula, dia akan mempertimbangkan banyak hal," ungkap Andika. Tatapan mata pria itu lurus ke depan, seolah-olah terngiang-ngiang dengan sifat tegas dan berani Wita siang tadi pada dirinya.


"Ya nggak masalah, kan? Setahun itu bukan waktu yang lama," ujar Rudi setuju, "namanya juga masih kecewa dan sakit hati. Menurutku wajar lah kalau Wita perlu waktu untuk menyembuhkan luka hatinya."


"Bukan hanya itu. Wita juga sekarang jauh lebih berani dan tegas. Dia cenderung sensitif dan mudah marah," sahut Andika menambahkan.


"Ya sudah. Selama setahun ini, saranku lebih baik kamu jangan macam-macam. Masalah dengan Amira sudah selesai dan kalian tinggal menunggu waktu hingga anak Amira lahir. Sekarang Wita juga . . . ya, kamu memiliki peluang lebih besar untuk bisa mendapatkan hati wanita itu lagi. Jadi aku rasa nggak ada masalah lagi," tukas Rudi.


"Mungkin akan sulit menaklukkan hati Wita setelah ini, Rud. Dia semakin sulit ditebak belakangan ini," keluh Andika.

__ADS_1


"Biarkan saja. Yang terpenting sekarang, kamu jangan ceroboh membuat masalah sampai membuat Wita marah lagi. Kamu paham kan, maksudku?" tanya Rudi kemudian.


"Semoga saja tidak ada yang coba-coba membuat masalah lagi di masa depan, seperti Amira," ujar Andika.


Hening kembali tercinta diantara keduanya. Mobil yang mereka kendarai sudah hampir tiba sekitar lima belas menit lagi.


Andika sendiri kembali terdiam dan hanyut dalam pikirannya masing-masing. Selain keinginannya untuk bisa bersama Wita lagi, Andika juga peduli pada masih Amira dan anaknya di masa depan.


Benar kata Wita tempo hari. Andika tak boleh mengabaikan Amira dan anaknya begitu saja. Selepas memberikan sedikit tunjangan untuk ibunya Amira, kini hati Andika sedikit lega.


"Rud, menurut kamu, bagaimana caranya menaklukkan hati wanita dengan cepat?" tanya Andika tiba-tiba.


"Hati siapa yang mau kamu taklukkan? Apakah itu hati Wita?" tanya Rudi.


"Hmm," jawab Andika seraya mengangguk.


"Pergi saja ke dukun. Sekarang kamu berusaha menaklukkan, nggak akan menunggu sampai besok, dia pasti takluk sama kamu. Cuma mungkin ya dukunnya minta tumbal," Jawab Rudi.


"Kamu mau saya pecat?" tanya Andika melemparkan tatapan tajamnya.


"Terserah. Yang punya perusahaan bukan cuma perusahaan kamu saja. Saya bisa cari pekerjaan lain!" jawab Rudi sedikit myelekit di hati Andika.


Begitulah obrolan kedua sahabat itu. Mereka selalu berbagi keluh kesah, dan juga suka cita bersama-sama sejak dulu. Sekacau dan sebahagia apapun Andika maupun Rudi, nyatanya mereka tak bisa melupakan satu sama lain.


Tapi persahabatan yang begitu erat, adalah hal paling mahal yang sulit untuk di dapatkan. Setia tak bisa dibeli dengan uang, se-mapan apapun finansial mu.


**

__ADS_1


__ADS_2