
Hidup terkadang adalah sebuah pilihan. Banyak orang yang tak menyadari, bahwa setiap keadaan, adalah bentuk pilihan yang alam persiapkan untuk kita. Tak jarang, banyak orang yang mengeluhkan keadaan atas jalan yang ia ambil, padahal ia bisa keluar dan memilih jalan lain.
Seperti Amira Widani. Wanita itu demikian sangat lelah menghadapi suaminya. Wanita itu berjalan pelan menyusuri jalanan, meninggalkan rumah seorang diri untuk menenangkan pikiran, dan berusaha meredam amarah.
"Kemana aku harus mencari uang? Kenapa Mas Andika nggak mau peduli sama aku dan keluargaku?" keluh Amira.
Andai saja dulu Amira tak mencoba menjebak Andika, ia tak mungkin berada dalam situasi ini.
"Mungkinkah ini karma?" sekali lagi, Amira kembali mengeluhkan semua yang terjadi dalam hidupnya.
Dalam kondisi buntu begini, Amira lebih memilih untuk membalikan badan. Malam tiba dengan gemerlap lampu sana sini sebagai penerang jalan. Namun lain dengan hati Amira yang merasa gelap dan sendirian.
Merasa tak memiliki sesuatu yang bisa ia lakukan, Amira memutuskan untuk bergegas menuju ke rumah Mantan istri Andika, Deswita. Ia perlu bicara dengan Wita untuk meminta solusi, atas masalah keluarganya.
Meminjam uang?
Tidak. Amira tak akan melakukannya. Wanita itu memilih untuk meminta pendapat Wita untuk rumah tangganya ke depan. Kalah ataupun menang, Amira tidak peduli sama sekali. Yang Amira pedulikan, dirinya harus segera mengambil langkah tegas di masa depan, sekalipun dirinya harus mengorbankan banyak hal, termasuk kebahagiaan dirinya.
Setibanya di depan rumah Wita, Amira segera berjalan di sepanjang area halaman rumah Wita. Terdengar suara tawa ceria Wita dan Putranya. Amira merasa semakin menyesal, sebab dirinyalah penghancur rumah tangga Andika dan Deswita.
"Permisi, Mbak Wita," sapa Amira, saat wanita itu tiba di ambang pintu yang terbuka, dan mengetuk pintu pelan dengan sopan.
Nampak, Wita tengah membersamai Kelan dan tengah menemani anak itu yang sedang belajar.
"Amira?" balas Wita heran. Alis wanita itu bertaut, merasa heran sebab Mira datang malam-malam begini. Mau diusir, rasanya Wita bukanlah orang barbar yang mengusir tamu. Namun untuk di terima bertamu di rumahnya, Wita merasa malas menghadapi.
__ADS_1
"Kamu ... sendirian?" tanya Wita seraya memperbaiki posisi duduknya.
Kelan hanya diam tanpa reaksi. Bocah itu menatap Amira sekilas, sebelum kembali menekuri mainan dan buku gambar yang ada di pangkuannya.
"Iya, Mbak. Boleh Mira bicara sebentar?" tanya Amira.
"Silahkan. Ayo masuk, duduk dulu," ujar Wita, dan menatap Kelan berbisik pada Kelan.
Anak itu segera bangkit dan masuk ke dalam kamar. Wita hanya khawatir, jika Kelan mendengar percakapan Wita dan Amira. Anak itu sudah berusia enam tahun, dan pastinya sedikit banyak mengerti dengan kalimat orang dewasa, yang harusnya tak di dengar Kelan.
"Kenapa datang malam-malam begini, Amira?" tanya Wita tanpa basa-basi, setelah Amira duduk di sofa.
"Mbak, aku boleh minta tolong?" tanya Amira.
"Boleh, tapi kalau aku bisa ya aku bantu sebisanya. Tapi kalau nggak bisa ya, maaf," jawab Wita memberi Amira pengertian.
"Kamu sadar sama apa yang kamu ucapkan, Mira?" tanya Wita serius. Mata wanita itu lekat memandang Amira yang menatap lelah padanya.
"Aku lelah, mbak Wita. Aku lelah. Aku mau mundur saja karena mas Dika menyiksa batinku," jawab Amira dengan mata sendu. Sayangnya, sendu yang Amira perlihatkan, tak menumbuhkan iba sama sekali di hati Wita.
Mungkin semua itu terjadi, sebab Wita masih berang dengan cara Amira merebut Andika dari Wita.
"Dulu, kamu kemana saja? Kenapa kamu nggak mikir, gimana karakter Andika yang sebenarnya? Sebenarnya, apa yang kamu incar dari Andika sejak awal, Mira?" tanya Wita, masih menatap lekat Amira.
Tak ada air hangat, tak ada suguhan apapun yang Wita siapkan untuk Amira. Wita hanya tak ingin, jika Amira berpikir bahwa dirinya menyambut baik Amira, hingga membuat Amira besar kepala.
__ADS_1
"Mbak, aku ... aku sayang banget sama mas Dika, dan aku nggak pikir panjang saat melakukannya sampai hamil. Tapi sungguh, selain meragukan anak ini, mas Dika juga meragukan ketulusanku," ungkap Amira.
"Setulus apa sih, kamu ke Andika? Sudahlah, Amira. Ini semua terjadi atas dasar Cinta yang kamu ucapkan barusan. Selain itu, ini juga pilihan kamu, jadi kamu nggak perlu lari, sekalipun kamu menyesali keputusan kamu untuk menikah dengan Andika. Kamu sadar, nggak? Andai istri Andika bukan aku, mungkin kamu menjadi bahan tertawaan saat ini," ujar Wita pelan.
Rasanya sedikit puas hati Wita, sedikit menyalurkan unek-uneknya selama ini terhadap istri baru Andika itu. Selepas perceraian pun, rasanya masih ada yang mengganjal di hati Wita sebelum ia lampiaskan semuanya.
"Mira minta maaf, mbak," ungkap Mira, "boleh nggak, kalau Amira menginap disini malam ini? Hanya malam ini, mbak," pintanya mengiba.
"Nggak bisa, Mira. Maaf. Sebaiknya kamu pulang dan perbaiki hubungan dengan suami kamu. Aku nggak mau dikira mempengaruhi kamu dan membuat Andika marah," tolak Wita dengan tegas, "aku tahu betul gimana watak laki-lakimu itu. Jadi, sebaiknya jangan libatkan aku dalam perkara rumah tangga kalian."
"Mbak, aku mohon. Tolong bantu Mira sedikit saja," pinta Mira, seraya mengiba dan mengatupkan kedua tangannya.
Sayangnya, bukannya kasihan, Wita justru geram.
"Belajarlah arti dari sebuah kesabaran, Amira. Belajarlah untuk dewasa dengan menyelesaikan masalah kamu sendiri. Saya tahu kamu sedang dalam kesulitan, tapi bukan berarti saya bisa menolong kamu kali ini. Sama halnya ketika kamu memutuskan untuk berhubungan dengan Andika dulu, kamu nggak ada tuh, kepikiran mau bantu aku untuk menyelamatkan rumah tanggaku. Aku pun punya Kelan saat itu, harusnya kamu sadar," ujar Wita menasihati.
Amira hanya bisa menunduk. Mungkin, inilah jalan terbaik untuk semuanya. Memutuskan mundur adalah keputusan terbaik untuk semua orang.
"Mbak, kalau nanti aku udah dicerai sama mas Andika, apa mbak Wita mau kembali sama mas Dika?" tanya Amira dengan konyolnya.
Tawa renyah terdengar dari bibir Wita. Wanita itu sungguh merasa lucu dengan tanya Amira yang terlihat konyol di matanya.
"Kembali? Aku rasa aku nggak bisa lagi, Mira. Jadi, jangan khawatir dan sebaiknya urungkan niat kamu untuk pergi dari Andika. Hadapi dia dan luluhkan hatinya. Aku bahkan masih ingat saat itu, kalau kamu mengatakan kamu sangat mencintainya. Jangankan untuk kembali, berpikir untuk sering bicara sama dia saja, aku nggak bisa," jawab Deswita tegas.
Dengan banyak hal yang membimbangkan hati Amira, Amira berusaha untuk memperbaiki semuanya. Apa yang Wita katakan memang di dengar oleh wanita hamil itu. Tetapi rasanya, Amira tetap kukuh pendirian untuk berpisah dengan Andika.
__ADS_1
**