
"Ada yang beda pagi ini. Kamu terlihat bahagia sekali, nak," suara Asmah terdengar lembut di telinga Wita. Ibu yang telah melahirkan Wita itu, Duduk di samping Ayah Wita, Ruslan. Ruslan sendiri juga tersenyum menatap Wita sekilas, sebelum akhirnya ia menyuapi sang cucu.
Meski bisa makan sendiri, namun Kelan terlalu dimanja oleh ayah Wita.
"Masa, sih?" tanya Wita penasaran.
"Iya. Mana bisa Bapak becanda?" tanya Ruslan balik.
"Iya sih. Oh ya, Pak, Wita rencananya mau kembali lusa ke ibukota. Terlalu lama izin libur kerja, nggak enak sama kakaknya Manda. Dia yang masukin Wita ke perusahaan kakaknya," ungkap Wita.
Ibu yang semula mengaduk teh hangat untuk Bapak, seketika menghentikan gerakannya.
"Kenapa cepat sekali baliknya? Ibu masih kangen dengan Kelan," ujar Asmah mencoba untuk menjadikan Kelan sebagai senjata.
"Kelan bisa tinggal disini lebih lama, Bu. Wita akan izin ke pihak sekolah bahwa Kelan akan masuk sekolah mungkin satu Minggu lagi," jawab Wita.
Suasana meja makan pagi ini begitu hangat. Sesekali, canda tawa terdengar mengiringi suasana sarapan pagi keluarga Ruslan.
Terkadang, tak butuh kemewahan dan gemerlap dunia untuk dapat merasakan kebahagiaan. Cukup dengan kebersamaan dan curahan limpahan kasih sayang, juga rasa syukur yang begitu besar, maka makna kebahagiaan yang sesungguhnya benar-benar bisa kita dapatkan.
Hanya saja, tidak semua orang bisa mengerti dan menyadari betapa cinta itu berharga. Seperti Amira contohnya. Wanita itu awalnya tamak, tanpa peduli bagaimana konsekuensi dari perbuatannya yang telah menjerat suami orang, hanya demi harta.
Harta.
Terdengar biasa saja, namun, memiliki daya pikat yang luar biasa bagi siapapun yang memujanya.
"Kamu harus bisa membuka lembaran baru, Wita. Bapak, bapak hanya punya kamu sebagai putri Bapak. Bapak nggak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kamu. Kamu adalah segalanya bagi Bapak. Andai saja adik kamu berada di tengah-tengah kita," ujar Ruslan, ketika sarapan baru saja usai.
"Jangan terlalu dalam memikirkannya, pak. Nanti, Wita akan minta seseorang untuk bisa bantu kita mencari Ira," Deswita mengusap pelan lengan Ruslan.
"Kadang Ibu berpikir, Ta, apa ibu kurang baik pada Ira dan ibunya. Tapi jika diingat-ingat, rasanya Ibu sudah memperlakukan mereka dengan baik. Kepergian mereka, justru membuat ibu berat. Ibu juga sayang sama Ira, seperti ibu sayang sama kamu," Asih menatap Kelan yang tengah bermain, dengan tatapan kosong. Pikiran wanita itu berkelana jauh menjajaki masa lalu indah.
__ADS_1
"Sudah. Yang terpenting sekarang, kita bisa melanjutkan hidup dengan baik. Semoga saja dengan doa kita semua, kita bisa segera menemukan Ira," Wita mencoba menyemangati kedua orang tuanya.
"Ngomong-ngomong, Bapak nggak ke ladang hari ini?" tanya Wita.
Biasanya, Ruslan akan selalu sibuk di Padang bersama istrinya. Hanya saja jika Wita pulang ke kampung halaman begini bersama Kelan, Asmah tak akan meninggalkan Kelan barang sebentar-sebentar saja.
"Bapak mau libur dulu. Entah, rasanya Bapak seperti enggan mau ke ladang. Biarlah, ditinggal seharian penuh, tidak akan membuat ladang jagung dan kacang Bapak jadi mati," Ruslan berkelakar.
"Lihat, Kelan sudah sebesar itu. Pasti sebentar lagi putramu akan tumbuh tinggi seperti Andika," kali ini Asmah bersuara. Wanita itu tersenyum hangat, setiap kali menatap tubuh kecil Kelan.
Baru saja Wita hendak bersuara, sebuah mobil melaju pelan menuju pekarangan rumah Ruslan. Sebuah mobil yang sangat Wita kenali pemiliknya.
Wita menatap datar ke arah Andika yang baru saja turun. Kali ini Andika yang terbiasa datang bersama Rudi, kali ini datang seorang diri.
Inginnya Wita tersenyum lebar dan menyambut mesra kedatangan Andika, tapi di dalam hati Wita yang terdalam, ia perlu memberi pelajaran Andika, agar Andika tak datang seenaknya dalam hati Wita.
Putri Ruslan itu hanya diam sembari menatap datar ke arah Andika.
Sayang, di mata Ruslan, kesempurnaan seseorang selalu memiliki celah dalam sebuah keburukan sifat.
"Wita, Mantan suamimu datang," Asmah berbisik lirih ke telinga Wita.
"Papa . . . " di saat bersamaan, Kelan berhambur ke arah pelukan Andika. Tentu saja Andika menyambut putranya dengan kedua tangan di rentang untuk menggendong putranya.
"Sayang, maaf ya, Papa terlambat datang. Kelan sudah sarapan?" tanya Andika kemudian.
"Sudah, Pa. Kakek yang menyuapi Kelan. Kelan juga nggak nakal," jawab Kelan dengan polosnya.
"Bagus. Itu baru namanya anak Papa," ungkap Andika.
Mantan suami Wita itu melangkah lebar menuju ke arah Ruslan. Tentunya baik Asmah maupun Ruslan, menyambut baik kedatangan mantan menantunya.
__ADS_1
Andika sendiri sampai tercengang, ketika mendapati orang tua Wita masih bersikap hangat padanya. Padahal jika dipikir-pikir, Andika telah membuat Wita kecewa.
"Ngapain sih, kamu nyusul kesini, mas?" tanya Wita menatap datar Andika. Tentu saja amah menyikut pelan lengan putrinya yang ketus itu.
"Wita. Jangan begitu dengan tamu. Itu nggak sopan" Asmah berbisik lirih.
"Saya datang untuk mengunjungi orang tau kita, Wita. Nggak sa . . . " kalimat Andika terhenti, ketika Wita menyela dengan cepat.
"Orang tua kita? Enak saja kamu kalau ngomong, menganggap bahwa kita nggak pernah terjadi apapun. Enggak. Bapak dan Ibu orang tuaku!" kata Wita pelan, seraya mencoba untuk menekan suaranya.
"Nak, jangan begitu. Kasihan nak Andika. Mari, nak, masuk ke dalam. Sekalian ajak nak Rudi juga," perintah Ruslan, yang di jawab "iya," oleh Andika.
"Wita masuk ke kamar dulu, pak" ungkap Wita tanpa menoleh ke arah Aditya.
Aditya tersenyum maklum. Semenjak berpisah dari Andika, Wita memang kerap kali melampiaskan kekecewaan pada Andika langsung. Hanya saja ketika berada di tengah-tengah keluarga Wita begini, membuat Andika canggung setengah mati.
"Tolong buatkan teh, Nak. Antar ke ruang tamu," kali ini Asmah yang menjadi penengah antara Wita dan Andika.
Terdengar dengusan dari bibir Wita. Sebegitu bencinya Wita pada Andika. Padahal semua sudah berlalu. Ruslan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku putrinya yang kekanak-kanakan itu.
"Mari masuk, nak Andika," ajak Ruslan seraya menatap tajam Andika. Meski sikap Ruslan terbilang ramah, namun tatapan lelaki itu mengisyaratkan kemarahan dan kekecewaan pada Andika.
"Terima kasih, Pak" jawab Andika seraya tetap menggendong Kelan.
Meski rasanya gugup, namun, Andika harus tetap menemui keluarga Wita dan meminta maaf.
"Jadi, apa maksud dan tujuan nak Andika datang kemari?" tanya Ruslan tanpa basa-basi. Dalam kesempatan kali ini, Ruslan ingin bicara lebih banyak dengan Andika dari hati ke hati secara dewasa.
Andika hanya tidak tahu saja, bahwa Wita di dalam kamar, tengah menguping pembicaraan Bapak dan Andika.
**
__ADS_1