
Angin berhembus pelan menerjang tubuh Deswita yang kini duduk di halaman belakang rumah orang tuanya. Dress putih dengan motif banyak bunga melati di seluruh permukaan kain, tampak melambai sesekali tertiup angin.
Tak jauh dari Wita, Andika duduk dengan pandangan lurus ke depan. Hamparan ladang yang terbentang luas, di selingi oleh pohon kelapa dan beberapa pohon pisang menjadi pelengkap. Asri, satu kata itu yang ada di pikiran Andika.
Ingatan Andika tertuju pada saat-saat dimana dirinya dan Wita baru saja merajut kasih. Hanya dalam kurun waktu dua bulan menjalin kasih bersama Wita, Andika memutuskan meminang Wita kala itu.
"Wita, kamu ingat? Di sebelah pondok dekat pohon pisang itu, dulu kaki saya terkilir dan kamu panik menyusul Bapak," ujar Andika menunjuk sebuah pondok yang tak begitu jauh dari halaman belakang rumah Ruslan.
"Ya. Tapi itu hanya masa lalu," jawab Wita dengan datar.
Sorot mata putri Ruslan itu tampak bernostalgia, namun enggan mengakui di hadapan Andika.
"Masa lalu? Apa nggak begitu berarti buat kamu?" tanya Andika.
"Yang berarti bagiku hanya Kelan, mas. Selebihnya, ya biasa saja," jawab Wita sembari tersenyum miring.
"Oh ayolah, Wita. Saya sudah minta maaf sama kamu, Pengakuan Amira sudah menjadi bukti kuat bahwa saya tidak sepenuhnya bersalah. Biar bagaimana pun, saya tidak menghendaki malam itu," jawab Andika lirih.
"Meski kamu nggak menghendaki, tapi kamu tetap mengecewakan saya, mas," ujar Wita kemudian.
"Saya tahu," timpal Andika.
Hening menyelimuti keduanya. Wita tersenyum simpul, menyadari ia telah berhasil mempermainkan emosi mantan suaminya ini.
"Kapan kamu kembali ke ibukota?" tanya Wita tanpa menatap Andika. Pandangan wanita itu lurus ke depan, membiarkan Andika menganggapnya mengusir Andika saat ini.
__ADS_1
"Kamu ngusir saya?" tanya Andika keheranan.
"Ya, mau gimana lagi, mas? Kamu bukan suami aku. Nggak mungkin, kan, kalau kamu akan nginep disini?" Wita balik bertanya.
"Setidaknya, kalau kamu masih ingin main di sekitaran sini, kamu harus sewa penginapan. Kita nggak bisa tinggal satu atap."
Andika diam. Apa yang Wita katakan memang ada benarnya. Tak mungkin Andika tetap berada disini, sementara dirinya sudah resmi berpisah dari Wita.
Banyak orang berkata, bahwa kita akan benar-benar merasakan kehilangan setelah apa yang sebelumnya kita genggam, telah lepas dari genggaman. Andika harusnya sadar hal itu. Sejak ketok palu di pengadilan waktu itu, ada jarak yang begitu luas yang memisahkan dirinya dengan ibu dari anak-anaknya itu.
"Kamu benar. Mungkin sore ini saya akan ajak Rudi pulang," putus Andika kemudian.
Wita hanya mengangguk. Wanita itu duduk dengan tenang, tak peduli akan gelisah dan gerak-gerik Andika.
"Wita, tadi saya sudah meminta maaf pada Bapak," ungkap Andika.
"Saya juga sudah menunjukkan bukti bahwa saya dijebak oleh Amira, Wita. Dan saya . . . mengungkapkan pada Bapak bahwa saya ingin kita rujuk. Bapak mengatakan bahwa keputusannya ada di tangan kamu tentunya," sambung Andika.
Deswita membulatkan matanya, tak habis pikir dengan tindakan Andika yang dinilai terlalu terburu-buru.
"Hei, baru beberapa hari lalu Bapak dan Ibu mendengar kabar perceraian kita, sekarang kamu sudah mencoba merayu bapak untuk bisa rujuk denganku? Kamu sakit?" tanya Wita dengan nada penuh penekanan.
"Tidak. Saya sehat jasmani rohani, Wita. Saya serius mengatakannya. Saya ingin kita kembali rujuk saja. Saya serius saya mencintai kamu. Demi Tuhan, kamu dan Kelan adalah segalanya untuk saya. Bahkan saya rela menukar kamu dan Kelan, dengan semua harta yang saya miliki," ungkap Andika serius. Netranya terpaku pada sosok Wita yang ada disampingnya.
"Terus, kamu jatuh miskin dan kembali mau memulai karier dari nol lagi kayak dulu? Enggak. Aku nggak sudi hidup miskin lagi seperti awal kamu merintis usaha kamu. Setelah kamu menikmati surga dengan perempuan lain, terus kamu mau balik ke aku dalam kondisi kehilangan semuanya. Ogah!" seru Wita, dengan aktingnya yang luar biasa bagus.
__ADS_1
Sejujurnya, hati Wita bersorak gembira saat mendengar Andika rela kehilangan semuanya demi dirinya dan Kelan. Hanya saja, ia berpura-pura merajuk pada pria itu.
"Wita, dengar saya dulu," ujar Andika, memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.
Semenjak Andika berulah dan membuat Wita terluka, Wita banyak berubah. Dulu, Wita begitu penurut dan sangat menghargai dirinya dan keputusannya. Tetapi kali ini lain. Wita yang sekarang jauh lebih berani melawan Andika.
"Apa? Kamu mau ngomong apa?" tanya Wita berpura-pura berang pada mantan suaminya itu.
"Ini, ini hanya seandainya, oke?" Andika mulai frustasi menghadapi wanita di depannya ini.
"Seandainya? Jadi, kamu nggak serius mau rujuk sama aku? Jadi, kamu cuma main-main?" tanya Wita kian menatap tajam Andika. Alis wanita itu sudah saling bertaut karena berekspresi marah.
Wajah Andika tampak tegang, bingung hendak bagaimana menjelaskan pada Wita. Sedikit saja ia salah bicara, maka konsekuensinya bisa-bisa lehernya yang jadi korban Wita.
"Kenapa nggak jawab? Jadi, bener kalau kamu cuma main-main sama aku? Jadi, serius kamu mau main-main sama aku?" tanya Wita. Raut wajahnya tampak kecewa. Padahal sejujurnya, ia sudah hampir meledakkan tawa melihat ekspresi Andika yang luar biasa tegang bercampur frustasi.
"Bukan begitu. Ini hanya seandainya saya harus kehilangan semua demi kamu dan Kelan. Bukan berarti aku mau miskin setelah kita kembali rujuk. Percayalah, demi kamu dan Kelan, saga akan kerja keras banting tulang peras keringat semua demi kamu. Demi Tuhan, saya mencintai kamu. Mati-matian saya mencari bukti kecurangan Amira demi bisa membuat kamu bisa menerima saya kembali, semata karena cinta saya terlalu besar untuk kamu, Wita. Percayalah, saya akan melakukan apapun demi bisa membuat pernikahan kita kembali utuh, Wita. Tolong percaya kali ini," kata Andika panjang lebar mengiba pada Wita.
Jauh dalam lubuk hati Andika, pria itu tertekan. Ia hanya tidak tahu saja, bahwa Wita hanya berpura-pura tak menerimanya, demi untuk memberi pelajaran pada Andika.
Wita menatap lama wajah Andika yang penuh keputusasaan. Wita tak akan semudah itu menerima Andika kembali, setelah Andika melukai hatinya. Wita ingin Andika belajar banyak hal, bahwa tidak semua kesalahan bisa dimaafkan begitu saja dengan mudahnya.
"Mungkin, aku akan menerima kamu kembali, mas. Hanya saja maaf, aku nggak bisa menerima kamu begitu saja. Kalau kamu serius ingin kita rujuk kembali, aku minta waktu setahun lamanya untuk kamu buktikan keseriusan kamu! Jadi, bersabarlah menunggu saat itu tiba!"
Keputusan Wita tak bisa Andika bantah begitu saja kali ini. Wita yang dulu sangat nurut dan kalem, kali ini tampak lebih berani dan tak mudah ditekan. Sayangnya, sosok Wita lah yang membuat Andika nyaris gila karena kehilangan Wita.
__ADS_1
**