
Lembar demi lembar foto masa lalu Asih dan Amira, terbuka satu demi satu. Potret bahagia dimana ada dirinya, juga kakak Amira tercetak disana. Kakak Amira, kakak satu ayah beda Ibu itu tampak cantik di usianya yang selisih sekitar enam tahun darinya.
Di balik foto keluarga yang penuh dengan kebahagiaan dan kehangatan yang Amira pegang, tersimpan rasa penasaran, akan sosok kakak perempuan Amira.
"Dialah ayahmu, Ruslan namanya. Yang sebelah kanan, itu mbak Asmah, istri pertama ayahmu, dan yang kiri itu adalah Ibu. Lihat, kamu yang paling kecil dan yang besar itu, adalah kakakmu. Dia anak yang baik dan penurut. Dulu saat kau masih berusia tiga tahun, kakakmu sering menangis pada Ayah, untuk bisa bermain bersama di tepi pantai," jelas Asih seraya tersenyum.
Pendar mata wanita paruh baya itu berkilat penuh nostalgia, seolah-olah, dirinya tengah menjelajah masa lalu yang penuh kehangatan. Rasa bersalah, membuatnya terpaksa harus mundur secara sepihak dari pernikahan yang penuh bahagia.
"Ibu dan istri pertama Ayah, apakah kalian tinggal satu rumah?" tanya Amira penuh rasa ingin tahu.
"Tidak. Ibu tinggal di rumah yang berbeda dengan mbak Asmah. Tapi meski begitu, Ayahmu begitu adil, tidak membedakan kamu dan kakakmu. Apa yang dia beli, selalu dua. Terkadang satu untuk ibu satu untuk mbak Asmah, terkadang juga satu untuk kamu satu untuk kakakmu. Harusnya kamu bahagia saat itu, tapi Ibu merasa seperti duri, Amira. Ibu seperti wanita perebut suami orang sekalipun mbak Asmah tidak pernah menyudutkan Ibu," jawab Asih.
"Lalu, kenapa Ibu pergi gitu aja tanpa pamit?" tanya Amira penuh rasa ingin tahu.
"Karena rasa bersalah, dan karena Ibu gagal mencintai ayahmu meski dia baik pada Ibu. Entahlah, rasanya Ibu tidak bisa melupakan mendiang mantan suami Ibu yang pernah Ibu ceritakan padamu," jawab Asih dengan penuh nostalgia.
Cinta.
Sekalipun alam yang membedakan, sekalipun jarak memisahkan, sekalipun dimensi yang menjauhkan, sekalipun waktu yang memberi jarak, tak akan pernah musnah. Asih hanya merasa, ia terlalu menjadi beban bagi Ruslan dan Asmah.
"Apa, apa Ibu memiliki sebuah rencana di masa depan?" tanya Amira, yang dibalas anggukan oleh ibunya.
__ADS_1
"Ya. Ibu ingin datang mengunjungi mas Ruslan, untuk meminta maaf. Selebihnya, jika Ibu masih di terima dengan baik, mungkin komunikasi dan tali silaturahmi akan tetap berjalan. Tetapi jika untuk kembali pada ayahmu, ibu tidak bisa," jawab Asih.
Hening menyapa. Petang mulai tiba, dengan suara lantunan doa-doa di surau tak jauh dari rumah Asih. Desa ini meski jauh dari kata kemewahan dan teknologi modern, tetapi Amira merasa betah.
Dulu, menjadi putri wanita miskin dengan banyak kekurangan sana sini dalam finansial, Amira sempat memberontak. Amira lelah hidup miskin, hanya menjadi bahan cemoohan dan hinaan orang-orang tak punya hati. Hingga otak Amira sempat berpikir untuk mencari lelaki kaya saja yang bisa menopang hidupnya.
Demi tujuan itu, Amira rela menggelontorkan banyak uang dari tabungannya, untuk membayar beberapa orang yang membantunya.
Alih-alih hidup enak berkecukupan dan penuh kasih sayang, yang ada Amira justru jatuh dalam banyak tragedi dan kesialan. Andika, lelaki itu memang bertanggung jawab atas hidup Amira, tetapi tak seperti yang Amira bayangkan sebelumnya.
Hinaan, makian, cacian serta ujaran kebencian yang ia terima dari Andika, cukup membuatnya menyadari satu hal, bahwa realitanya tak sejalan dengan ekspektasinya yang terlalu tinggi.
"Berapa kali harus Ibu katakan, dan menentang pernikahan kamu dengan Andika? Kenyataannya, kamu menjadikan nasihat Ibu, sekadar angin lalu belaka. Apa yang kamu dapat? Kamu malah menderita dan memilih menyerah," sambung Asih lagi.
Amira menghirup udara dalam-dalam, sebelum akhirnya kembali menghembuskannya dengan perlahan.
"Mira tahu, Bu. Tapi Ibu jangan khawatir, aku dan mas Andika akan segera bercerai setelah anak ini lahir. Tapi . . . mungkin mas Andika akan mengambil anak ini untuk ia asuh, karena dia merasa jauh lebih layak dalam segi finansial untuk membesarkan anak Amira, Bu. Jujur, Amira menyesal, dan Amira merasa bersalah. Biar bagaimana pun miskinnya Amira, nggak ada seorang Ibu pun yang sudi di jauhkan dari anaknya," ujar Amira mengungkapkan.
Asih hanya bisa tertegun di tempatnya. Inilah akhirnya, kelemahan kaum marginal yang penuh kekurangan sana-sini. Bisa menyekolahkan Amira hingga sarjana saja, merupakan keajaiban bagi Asih. Mendengar calon cucunya akan diasuh oleh menantunya, hati Asih teriris pilu.
Mau tak mau, asih harus tetap berjuang untuk hak asuh Amira terhadap calon anaknya.
__ADS_1
Perlahan, tangan wanita itu menutup album foto yang tadi ia genggam. Pikirannya menerawang jauh pada beban yang ia pikul saat ini.
"Sudah. Nanti Ibu yang akan bicara baik-baik pada suami kamu. Sesalah-salahnya kamu, tapi dia nggak punya hak untuk memperlakukan kamu seperti ini. Ibu percaya, kamu bisa berubah memperbaiki diri setelah ini," Asih mencoba untuk menenangkan.
"Bicara dengan lelaki jahanam itu, sama saja dengan berjudi, Bu. Kalau memang, kita akan bernapas lega karena bisa meluluhkan hatinya. Tetapi jika kalah, ya kita nggak akan bisa melawan dia lagi. Hanya saja, peluang kita untuk kalah, itu lebih besar dari kemenangan. Ya, kecuali masih ada hati nurani dalam diri mas Andika," ujar Amira kemudian.
"Kalau Ibu boleh tahu, sejauh mana perasaan kamu pada Andika?" tanya Asih.
Amira hanya bisa diam seribu bahasa. Apa yang harus dirinya katakan?
"Mira, Mira sangat cinta dan sayang sama mas Andika, Bu. Ya, sekalipun dia sering jahat pada Amira, dan sering melontarkan kalimat kasarnya. Tetapi terlepas dari itu semua, nggak tahu kenapa perasaan Amira sakit banget dalam situasi berjauhan dan jarang ketemu begini. Tetapi untuk tetap tinggal di rumahnya pun, Amira khawatir mental Amira akan sakit," jawab Amira tersenyum getir.
"Kamu boleh pisah dan cerai dari Andika. Tetapi apapun yang terjadi, Ibu nggak akan pernah terima kalau dia sampai mengambil anak kamu. Kamu memang bersalah karena sudah membuatnya terjebak dalam situasi begini, tapi bukan berarti dia bisa semena-mena terhadap kita,"lirih asih.
Kepulangan Amira kali ini, berhasil membuat Asih mendapati kekhawatiran. Sepasang Ibu dan anak itu saling bercerita, mencoba untuk mencurahkan segala resah yang membebani hati mereka.
"Amira, besok Ibu akan membawa kamu berkunjung ke rumah ayah kamu," putus Asih tiba-tiba.
Wanita itu harus segera mempertemukan Amira dan Ruslan sebagai ayah dan anak. Karena untuk menitipkan Amira pada Andika, itu hal yang tak mungkin Asih lakukan. Asih hanya khawatir, usianya tidak akan lama lagi.
**
__ADS_1