
Perjalanan yang dilakukan oleh Andika dan Amira kali ini, tidak terlalu lama. Tidak sampai satu jam, mobil Andika sudah memasuki sebuah kawasan resto yang cukup nyaman dengan nuansa tradisional.
Keduanya masuk ke dalam ruangan yang cukup privasi, di ekori oleh Rudi di belakang mereka. Selama menikah, baru kali ini Andika membawa Amira untuk makan malam bersama. Hati yang semula sudah pasrah dan tak lagi memupuk harapan setinggi langit, kini seolah kembali memercikkan sebuah harapan.
Hanya saja sesuai dengan pesan sang ibu, Amira tak ingin dirinya kembali didera rasa sakit karena sebuah harapan.
Dan mata Amira seketika membola, ketika dalam ruangan yang Andika pesan, sudah ada beberapa orang yang menunggunya. Beberapa orang itu adalah orang-orang yang pernah terlibat dalam penjebakan Andika malam itu. Ini petaka bagi Amira. Wajah cantik yang semula begitu penuh senyum, kini mendadak pucat.
Panik, takut, khawatir, cemas, seolah bercampur aduk dalam hati Amira. Wanita itu mematung, memandangi mereka semua satu persatu.
Jika dipikir-pikir, tak sedikit jumlah uang yang digelontorkan Amira untuk membungkam mulut mereka agar tak sampai di dengar oleh Andika. Tetapi mau bagaimana pun, uang Andika lebih banyak, dan Andika jauh lebih memiliki kuasa untuk menyuap mereka semua.
"Ayo, Amira. Duduk di sebelah saya," suara Andika menginterupsi, membiarkan Amira menatap tangannya yang menunjuk kursi tepat di sampingnya.
Amira hanya pasrah. Tak ada harapan lagi bagi Amira walau secuil. Kini Amira sadar, Andika memang tak ditakdirkan untuknya.
Istri Andika itu duduk tepat disamping Andika, menatap mata mereka semua satu persatu. Sebanyak apapun dirinya membayar orang-orang ini, pada akhirnya bayaran mereka tak berharga sama sekali. Mereka memilih berkhianat pada Amira, dan berpihak pada Andika.
Tak ada pilihan lain bagi Amira, selain mengakui semuanya andai Andika menanyai dirinya tentang malam itu.
"Pilih menu yang kamu suka, Amira," perintah Andika tanpa menatap Amira. Lelaki itu tahu, hari Amira tengah berkecamuk saat ini.
"Iya, mas," jawab Amira. Wajah yang semula pucat pasi, kini seolah kembali datar-datar saja. Andika tak habis pikir dibuatnya. Pria itu takjub akan keberanian Andika.
__ADS_1
"Aku mau minum saja, terserah pesankan apa," sambungnya lagi.
Dalam situasi buruk seperti ini, tak ada yang bisa Amira lakukan. Jangankan untuk berpikir hendak makan apa, selera makan Amira saja lenyap.
Andika mengangguk dan memesan menu pada pelayan restoran. Andika begitu kagum, akan sikap tenang yang di miliki Amira.
"Saya membawa kamu kemari, karena dengan sebuah tujuan untuk bertemu dengan mereka. Tolong bekerja sama kali ini, Mira. Saya sungguh mencintai Wita, dan ingin membuat Wita membuka mata dan percaya, bahwa malam itu . . . kamu menjebak saya," ujar Andika memulai.
"Kalau kamu mau aku mengakui semuanya di depan mbak Wita, aku pasti bersedia, mas. Nggak perlu kamu repot-repot datang membawa mereka, agar aku mengakui semuanya. Percayalah, aku juga lelah bertahan dalam pernikahan ini. Beberapa waktu lalu aku udah bilang sama kamu, kalau aku rela kamu cerai setelah anak ini lahir," jawab Amira, tetap menatap orang-orang di depannya satu persatu.
Dua laki-laki dan tiga perempuan, adalah orang yang terlibat malam itu.
"Omong kosong. Pastinya kamu menolak untuk mengakui semuanya di depan Wita, jika tanpa saksi begini," ungkap Andika, masih saja merendahkan Amira.
Andika tertegun di tempatnya. Belum juga orang-orang yang ada disini bicara memberikan keterangannya, Amira sudah menyerah lebih dulu. Andika heran.
Pembicaraan mereka terjeda, sebab kedatangan pelayan yang mengantarkan minuman pada Andika dan Amira.
"Kamu yakin? Atau kamu mencoba untuk menghindari bicara dengan mereka?" tanya Andika selepas kepergian pelayan tadi.
"Harusnya aku yang tanya. Kalau kamu nggak yakin sama omonganku, tanya mereka satu persatu. Aku dengan besar hati akan mengakui kebenaran yang mereka sampaikan, dan menyanggah apa yang tidak sesuai dengan kenyataan masa lalu," ujar Amira.
Mira dulu begitu rapuh, dan memilih jalan pintas untuk bisa hidup mewah di masa depan. Tetapi sayangnya, kini kehidupan banyak mengajarinya banyak hal, termasuk pelajaran masa lalu. Mencari sendiri uang untuk hidupnya dan sang ibu, membuat Amira lebih dewasa dalam berpikir.
__ADS_1
"Kamu banyak berubah, Amira," ungkap Andika, seraya menyesap minumannya.
"Terima kasih banyak. Kamu yang memiliki andil besar dalam perubahan aku, mas," jawab Amira seraya menahan perih di hatinya, "jangan khawatir, kalau kamu berencana mempertemukan aku dan mbak Wita bersama mereka sebagai saksi, aku akan lakukan supaya kamu bisa raih kepercayaan mbak Wita lagi."
Rasanya sesak bukan main. Cinta di hati Amira mulai tumbuh dan kian hari kian besar. Rasanya begitu tersiksa bila harus benar-benar berpisah dari Andika. Tetapi mau bagaimana lagi? Amira tak mungkin bertahan dalam situasi macam ini. Bisa-bisa hatinya babak belur sebab terus bertahan dalam rumah tangga yang beracun untuknya.
Membersamai pasangan yang tak mencintai kita, bukankah itu adalah sebuah kesalahan besar?
"Jadi, jika kamu ingin mereka bicara di tempat ini sekarang, aku rasa itu percuma, karena aku sudah mengakui semua. Ya, malam itu aku memang memasukkan zat afrodisiak ke minuman kamu, supaya bisa membuat kamu masuk perangkap dan dibantu oleh mereka," Amira mengakui semuanya lebih gamblang lagi.
Tak ada yang perlu ditutupi lagi. Ditutup seperti apapun, itu percuma, toh Andika akan tetap tahu semuanya. Kehadiran lima orang di meja makan malam kali ini, sudah menjelaskan semuanya.
Dulu, Amira memang bodoh, tetapi tidak untuk sekarang.
"Apa lagi yang mau kamu dengar dari aku, mas? Tentang prosesnya, kamu bisa tanya ke mereka. Aku terlalu lelah menjalani rumah tangga ini. Tanpa mereka pun, perlakuan kamu cukup membuatku sadar, bagaimana aku bersikap seharusnya. Aku memilik mundur, bahkan beberapa waktu lalu aku berkali-kali menyampaikan ke kamu tentang itu," sambung Amira.
Andika tersenyum kecil, menyadari bahwa malam ini Amira begitu emosional. Celah untuk membuat Wita kembali percaya padanya, seolah terbuka lebar karena pengakuan Amira.
Mata lelaki itu melirik ke arah sebuah rekaman yang terselip diatas meja. Hanya saja, kelegaan Andika tak bertahan lama karena kalimat Amira yang terdengar kemudian.
"Tetapi setelah ini, anak ini . . . aku yang akan mengasuhnya tanpa kamu. Secara biologis kamu ayahnya, karena aku nggak pernah tidur dengan lelaki lain selain kamu selama ini!" Amira bangkit berdiri, meninggalkan meja makan tanpa sedikitpun menyesap minuman yang Andika pesankan untuknya.
**
__ADS_1