
"Ogah sih kalau harus memperebutkan satu laki-laki. Semalam aku terakhir nangis buat Andika. Selebihnya, aku akan cari laki-laki lain di luaran sana, dan menikmati masa mudaku yang terbuang dulu, dengan banyak mainan baru. Udah saatnya, jiwa setan yang suka bermain ini, bangkit dari tidur panjangnya."
Sontak saja Manda membeliakkan matanya. Deswita lantas kembali mengunyah makanannya, dan membiarkan temannya itu syok sendirian. Biarkan saja. Apa yang Wita katakan, memang itulah kenyataannya.
"Jangan gila, Wita. Ada Kelan yang harus kamu pikirkan. Mempermainkan perasaan laki-laki, itu nggak baik. Gimana nanti kalau kamu tiba-tiba ketemu sama laki-laki yang bucin berat sama kamu?" tanya Manda pada Wita.
"Kelan? Jangan khawatir, itu nggak akan sampai mengancam keselamatan dan kesehatan Kelan, jadi santai saja, Manda. Kalaupun misal ada laki-laki yang bucin sama aku, ya urusan mereka, bukan aku yang minta. Nggak ada pasal yang melarang perempuan main laki-laki. Buktinya Andika saja enak sendiri kok, main melukai hati perempuan," jawab Wita dengan santainya.
Manda tak berdaya, hanya bisa geleng-geleng kepala dan menahan syoknya.
"Aku nggak tahu lagi gimana caranya bicara sama kamu. Sejak dulu kamu memang suka benar sendiri dan nggak mau kalah debat. Terserah kamu sekarang. Yang terpenting, jangan nangis-nangis kalau nanti ada masalah sama laki-laki. Aku dari awal udah mengingatkan kamu," ungkap Manda menyerah.
Wita terkekeh di tempatnya, seraya menelan suapan terakhir pada bibir seksinya, "jangan khawatir. Aku udah mulai bisa membentengi hatiku," jawabnya seraya mendorong pelan piring yang isinya sudah tandas.
"Terus rencana kamu hari ini mau kemana?" tanya Manda, seraya melirik jam tangan yang bertengger pada pergelangan tangannya.
"Mau menenangkan pikiran. Hari ini aku mau jalan-jalan, dan kamu wajib menemani aku. Nanti biar aku titipkan Kelan sama Andika sampai malam, kita habiskan waktu bersama," jawab Wita, sebelum menenggak air putih dalam gelas yang sudah tersedia.
"Apa? Gila kamu, Nan. Mending Kelan di ajak. Kamu nggak khawatir, Amira bakalan nyakitin Kelan? Ingat, dia kalau ada di rumah Andika, ada Ibu tiri yang bisa kapan saja menyakiti anak kamu. Enggak, aku nggak bisa bayangin. Aku nggak setuju kamu ninggalin Kelan untuk senang-senang sendiri," tegas Manda menatap tajam sahabatnya itu.
"Jangan cemas, Manda. Ada Andika. Amira nggak bakalan berani nyentuh anakku sedikit pun. Kalau sampai itu terjadi, aku yang bakalan tebas tangan perempuan murahan itu. Amira takut sama suaminya. Jadi, Kelan bakalan aman di sana," bantah Wita.
__ADS_1
Deswita sangat yakin, jika Kelan tak akan di sentuh Amira. Mengapa Wita berpikir demikian? Sebab Amira mengingat percekcokan suami istri itu semalam. Amira menjadi ciut nyalinya saat Andika membentaknya.
"Jika sedikit saja Amira menyentuh apalagi melukai Kelan, aku pastikan Andika akan menjatuhkan talak saat itu juga. Aku nggak akan lupa, gimana takutnya Amira pada Andika. Lagi pula kalau memang kamu bener jika Amira punya laki-laki lain di luar, aku yang akan membuat Andika tahu semuanya," sambung Wita lagi.
"Udah, jangan begitu terus. Makan udah, tinggal mandi, ganti baju yang cocok, pantas dan sopan, terus make up, kita jalan setelahnya. Aku tunggu di sini sambil nonton televisi," titah Manda pada sahabatnya itu.
"Yes, aku mandi dulu," jawab Wita seraya berlalu.
Wita sudah mulai ingin menetralkan perasannya sekarang. Dari awal dirinya memang harus begini, membuka hati untuk laki-laki lain, agar Andika yang sudah menjadi mantan suaminya itu, tergeser segera dari hatinya.
Jika Wita terus mengurung diri dan tenggelam dalam sakit hatinya yang sudah berjalan tiga bulan ini, maka Wita akan terus sakit.
Polesan make up pada wajah Wita, tampak natural, selayaknya ABG yang hendak berangkat sekolah. Tak lupa, rambut Wita diikat ke belakang serupa ekor kuda. Kacamata juga tak lupa, Wita sematkan di atas kepalanya.
"Kamu mau kemana, sih? Seksi bener?" tanya Manda kemudian, pada Wita.
"Mau ke mall, kita jajan apa aja yang penting rasanya enak," jawab Wita, seraya menyampirkan tas hitamnya, pada bahunya, "sekalian nanti kalau ada buaya yang cakep dan tajir, gas kasih nomor telepon."
Wita tertawa kecil, menikmati reaksi syok Manda untuk yang ke sekian kalinya.
"Kamu ini ... eh sebentar deh, aku berasa kayak mau antar pelacur ke rumah germonya, deh. Bayangin aja, kamu sengaja dandan gini, mau keluar dengan alasan mau nyari mainan baru. Sumpah, aku nggak habis pikir dengan kegilaan kamu. Mungkin, perpisahan dengan Andika, bikin kepala kamu perlu di benturkan ke tembok," Manda mulai mengeluh.
__ADS_1
"Bodo amat. Yang penting kita happy hari ini. Ayo kita berangkat," ajak Wita pada Manda. Wanita itu lantas memeluk bahu sahabatnya, dan segera mengajak Manda keluar dari rumahnya. Tak lupa, wanita itu juga mengunci pintu.
"Ngapain?" tanya Manda, ketika kini mereka telah berada di dalam taksi online yang tadi Wita pesan, dan Wita tengah mengirim pesan pada seseorang.
"Lagi kirim pesan ke Andika, kalau aku bepergian dan nitip Kelan sampai malam," jawab Wita, tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponselnya.
Manda terdiam sejenak di dalam mobil yang melaju sedang itu, "aku mohon sama kamu, Wita. Tolong jangan kotori hidup kamu, seperti Andika yang mengotori hidupnya dengan cara mempermainkan perempuan. Aku nggak mau nanti kamu kena imbasnya. Aku nggak bisa melihat kamu menyesali kesalahan sendiri." ujar Manda dengan pelan. Tatapan wanita itu sendu.
"Aku nggak balas dendam atau apapun karena hidupku pernah di buat begini, Manda. Aku cuman mau menghibur diri, nggak lebih. Jangan khawatir, aku nggak bakalan melewati batasanku sebagai perempuan," jawab Wita.
Tangan Manda terulur, meraih dan menggenggam tangan Wita, "aku yakin, suatu saat kamu pasti menemukan kebahagiaan. Jangan lagi membuat onar, dan aku minta sama kamu, kamu harus berubah jadi wanita yang kuat, tangguh dan pemberani. Jangan mau ditindas, dan jangan diam saja kalau nanti Andika, apalagi Amira semena-mena sama kamu," ucap Manda kemudian, dengan suara lirih.
"Jangan khawatir, Manda. Aku nggak akan selemah masa dulu, saat Andika mengatakan telah menghamili wanita lain," tandas Wita.
"Makasih banyak, kamu memang sahabat terbaikku. Jangan bikin aku sedih dan terharu lagi, sekarang yang penting kita happy," sambungnya lagi.
Persahabatan yang terjalin cukup lama, membuat Wita dan Manda sudah seperti saudara. Di saat Wita merana, hanya Manda yang paling mengerti dirinya.
Andika? Lelaki itu ... bahkan Wita tak tahu Andika sungguh-sungguh mencintai dirinya atau tidak. Yang terpenting, Wita ingin mencari hiburan untuk hatinya.
**
__ADS_1