Cinta Mantan Suami

Cinta Mantan Suami
32. Ketegasan seorang Ibu.


__ADS_3

Tak ada yang bisa membantu Wita untuk mengembalikan moodnya kali ini. Manda sore tadi telah mengacaukan suasana hatinya yang semula memang sudah hancur berantakan. Lihat saja, bahkan terpaksa Wita menitipkan Kelan pada Manda karena Wita ingin sendiri.


Sedih, kacau, takut, resah, semua seolah membuat Wita nyaris mati secara perlahan


Entah apa yang harus Wita lakukan, yang jelas Wita ingin sendiri dan tanpa ditemani oleh siapapun saat ini.


Dengan langkah lunglai, Wita memasuki rumahnya kali ini. Wanita itu lantas memutuskan untuk istirahat setelah membersihkan diri.


Sebagai seorang ibu, tentunya ada rasa takut jika posisi Kelan sebagai anak pertama tergeser, sekalipun itu tidak akan pernah terjadi mengingat Kelan adalah anak laki-laki, sedang anak Andika bersama Amira adalah perempuan. Tetapi tetap saja, Wita memiliki sedikit rasa takut jika kasih sayang Andika akan terbagi.


Deswita Adriana. Ibu satu anak itu akhirnya bisa menghentikan tangisnya setelah beberapa waktu lalu, dirinya bisa melampiaskan emosinya yang tengah meluap. Lega akhirnya bisa Wita rasakan setelah ia menyendiri.


Lama-lama, Wita berpikir bahwa apa yang Manda katakan padanya memang banyak benarnya. Ia tak boleh terlihat lemah di depan Amira dan Andika. Perkara di masa depan ia akan menerima Andika lagi atau tidak, itu bisa dipikirkan berdasarkan keinginan dalam hatinya.


Ponsel Wita bergetar, jelas menampilkan nama Ardian yang kini tengah meneleponnya. Pria itu selalu rutin mengajak Wita untuk sekadar makan, nonton, ataupun ke pantai untuk memberi penghiburan pada Wita setelah Wita ikut bergabung di tempat kerja Ardian.


"Ada apa, Dian?" tanya Wita dengan suara sengau.


"Wita, kamu kenapa? Kamu sakit? Apa perlu saya kesana?" Tanya Ardian dengan nada khawatir dari seberang sana.


"Ya, aku sedang sakit hati Dian."


Batin Wita, tak berani mengungkapkan secara langsung pada Ardian. Tentunya Wita rasa ia tak perlu mencurahkan isi hatinya pada Dian yang hanya sekedar teman baginya. Ini privasi Wita.


"Tidak, Dian. Hanya sedikit flu. Aku nggak sakit, cuma butuh waktu untuk sendiri saja," jawab Wita.

__ADS_1


"Kamu yakin kamu nggak apa-apa? Kalau perlu saya temani, saya temani," ungkap Dian menawarkan dengan hati tulus.


Entah mengapa beberapa hari terakhir, Wita berubah lebih pendiam dan sering murung. Bahkan di tempat kerja, seringkali Dian mendapati Wita banyak melamun di jam istirahat.


Inginnya Dian memberikan bahunya untuk tempat Wita bersandar, tetapi sayangnya, Dian khawatir jika Wita tak bersedia untuk berkeluh kesah padanya.


"Iya, aku nggak apa-apa," jawab Wita meyakinkan.


"Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa curhat ke saya. Saya akan berikan solusi sesuai dengan pemikiran dan hati nurani saya. Tapi tolong, kamu jangan sedih lagi," ungkap Ardian.


Wita terdiam, tak menyahuti sama sekali. Saat ini, Manda pun tidak bisa memberikan ketenangan bagi Wita. Sejujurnya saja, Wita begitu butuh sosok yang bisa mengerti dan memberikan solusi atas masalah yang tengah menimpa Wita.


Tetapi disisi lain, Wita tak ingin butuhnya Wita pada Ardian, Dian anggap sebagai balasan atas perasaan Ardian yang pernah Ardian ungkapkan padanya beberapa bulan lalu. Tidak. Wita bukanlah orang yang dengan mudahnya memberikan harapan palsu.


"Aku akan berhenti bersedih, Dian. Jangan khawatir. Oh ya, sepertinya di luar ada tamu. Bisa kita sambung lagi nanti?" tanya Wita tak enak hati. Kakinya perlahan berjalan menuju ke arah pintu untuk membuka pintu.


Sosok Andika berdiri di depan pintu, menatap Wita dengan kening berkerut. Wita menyesal tadi dirinya tidak mengintip dulu dari balik jendela. Andai Wita tahu bahwa yang datang adalah Andika, Wita tak akan membuka pintu tersebab malas berbincang dengan mantan suaminya itu.


"Wita, kamu kenapa? Menangis?" tanya Andika menatap Wita dalam-dalam.


Wita menggeleng seraya berkata, "aku nggak apa-apa. Kamu ada apa kesini?" tanyanya.


"Saya ingin bertemu dengan kamu. Kelan dimana?" tanya Andika pelan.


"Dia sedang ikut bersama Manda ke rumah Manda," jawab Wita. Wanita itu lantas membuka pintu lebar-lebar, "Masuk."

__ADS_1


Wita duduk di ruang tamu, duduk di kursi yang posisinya paling jauh dari Andika. Dalam situasi begini, Wita tak ingin dekat-dekat dengan Andika.


"Kenapa kamu menangis? Saya tahu kamu menangis. Jawab jujur, jangan berbohong pada saya," ujar Andika pertama kali, ketika dirinya telah duduk. Tatapan matanya tak juga beralih dari Wita, seolah Wita adalah objek yang memiliki nilai goda paling tinggi.


"Aku nggak nangis," bantah Wita.


"Karena Mikha Sudarma?" tanya Andika tepat sasaran.


Semenjak Amira melahirkan Mikha, Rudi memberi tahu pada Andika tentang Wita yang sering murung. Lebih dari dua Minggu, Wita bersikap seperti ini.


"Nama anakmu dan Amira, Mikha Sudarma?" tanya Wita, ingin mendengar jawaban dari Andika sendiri.


"Ya," jawab Andika. Meski Wita telah tahu sebelumnya, namun, tetap saja sakitnya berkali-kali lipat ketika Andika menjawab 'Ya'.


Wita tersenyum getir, "bahkan anak itu anak hasil di luar nikah dan kamu bilang nggak menginginkan anak itu. Bayi itu lahir di luar keinginan kamu, tapi kamu menyematkan nama Sudarma di belakang namanya. Kamu lucu, Andika. Setebal apapun nama Sudarma dalam akta kelahiran anak Amira, tetap saja nasab anak itu adalah nama ibunya. Harusnya kamu tahu hukum agama," ujar Wita, balik menatap Andika dengan berani.


Andika diam, tak menjawab sama sekali.


Deswita terus menatap Andika dengan berani. "Jadi benar, sudah terjawab. Kamu lelaki tampan dan kaya raya serta berintelektual tinggi. Tetapi itu nggak berlaku bagi aku. Kamu bodoh, kamu tolol, kamu bahlul, kamu . . . aku kehabisan kata-kata untuk itu. Kalau sudah begini, apa pantas bagiku untuk menerima kamu sebagai imamku lagi? Sementara kamu nggak bisa membedakan dengan tegas, mana salah dan mana benar?"


Satu detik, dua detik, lima menit, dan kini sudah nyaris dua puluh menit berlalu, Andika tetap diam, menatap Wita dengan sendu.


"Sebenci apapun saya pada Amira, se-salah apapun saya, tetapi anak tetaplah anak, Wita. Saya sudah berjanji pada Amira untuk menjaga anak itu. Dia memang hadir karena kesalahan, tetapi dia . . . . "


"Tetap memiliki hak yang setara dengan Kelan? Oh jangan harap, Andika!" tegas Wita kemudian, menanggalkan panggilan 'mas' yang ia sematkan pada Andika.

__ADS_1


"Kelan adalah putra utama, putra sulung yang terlahir secara sah di mata agama maupun negara. Aku nggak berharap untuk bisa kembali menikah sama kamu. Tetapi sebagai seorang ibu yang berjuang bersama ayah Kelan dari Andika Sudarma di titik nol sampai sukses, aku nggak akan tinggal diam membiarkan anak Amira mendapatkan hak yang setara dengan Kelan. Maaf, aku harus tamak dan serakah kali ini. Tetapi ingat satu hal, ketamakan aku, tidak menyalahi aturan manapun!"


**


__ADS_2