Cinta Mantan Suami

Cinta Mantan Suami
28. Tawaran emas.


__ADS_3

Deswita Adriana menghembuskan napasnya lega, ketika dirinya kini telah sampai di ibukota. Betapa lelah tubuhnya yang terjebak cukup lama dalam kendaraan umum saat perjalanan dari kampung halaman ke ibukota.


Satu jam lalu, Ardian menghubunginya dan menanyakan bagaimana kabar Wita. Tentunya Wita berterus terang bahwa dirinya pulang kampung dan membawa serta putranya kali ini.


Sayangnya, perjalanan pulang ini Wita berangkat seorang diri. Cucu kesayangan Bapak dan Ibu itu enggan pulang karena lebih nyaman bersama kakek dan neneknya yang selalu memanjakannya.


Setibanya di terminal bus, Wita segera turun, disambut oleh Dian yang mengabarinya bahwa Dian ingin menjemput Wita. Sebenarnya Wita lelah, hanya saja Dian memaksa menjemputnya untuk diajak makan siang. Alhasil, Wita tak menolak sebab ia pikir tak masalah.


"Lama nggak ketemu, Wita. Aku jadi kangen sama kamu," ujar Dian setelah mereka baru saja selesai menyantap makan siang.


Wita tertawa renyah, menatap Dian dan merasa keheranan sendiri, "kamu mau coba gombalin aku? Jangan harap aku bakalan baper, deh. Baru juga beberapa waktu lalu kita jalan-jalan di pantai sama Kelan, sekarang sudah bilang kangen," sahut Wita seraya melanjutkan sisa-sisa tawanya.


"Yah, kamu nggak percaya," ungkap Dian kemudian, seraya mencoba untuk berpura-pura merajuk. Sejujurnya, Dian hanya sekadar ingin mencandai temannya itu.


Wita menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap Dian sekilas seraya menimpali, "kamu sudah menjelang tua, Dian. Mau sampai kapan kamu melajang? Oh ayolah, kamu harus memiliki pasangan, asal jangan aku," ungkap Wita.


"Aku nggak laku. Tidak ada seorang perempuan pun yang mau sama aku. Jadi, gimana dong?" tanya Dian dengan wajah yang dibuat menyedihkan.


"Ya kamu coba ikutan biro jodoh sana. Kan banyak tuh. Apa perlu aku bantu kenalin kamu sama perawan?" tanya Wita sembari tersenyum menggoda.


"Ogah!" tolak Dian bergidik ngeri.


Apa kata Wita tadi? Bori jodoh? Separah itu kah Dian di mata Wita? Yang benar saja!


"Dian, boleh aku bicara serius sama kamu?" tanya Wita dengan menatap Ardian serius.


"Hmm," jawab Dian mengangguk.

__ADS_1


"Kamu tampan, kamu mapan, kamu juga lelaki baik dan latar belakang kamu sangat diakui di kalangan atas. Apa sih yang bikin kamu laku? Jawabannya, kamu terlalu menutup diri," kata Wita apa adanya sesuai dengan penilaiannya.


"Coba deh, kamu buka hati, buka diri. Kamu harus lebih percaya diri. Aku yakin, sebenarnya yang naksir kamu itu banyak,"" sambung Wita.


Dian tersenyum menawan, menampakkan gigi bawahnya yang tak rapi. Cekungan pada pipinya, seolah menambah nilai daya tarik Dian sebagai lelaki yang terawat tubuhnya, di mata wanita. Sayang, Dian enggan membuka hatinya untuk orang lain.


"Tapi ya gimana lagi? Aku sukanya sama kamu," goda Dian, serendah memancing reaksi Wita.


Wita berdecak sebal seraya melotot matanya pada Dian, "kamu tahu aku nggak ada rasa apapun sama kamu dari dulu. Udah deh, kita berteman saja. Kalau kamu maksa, aku nggak bakalan mau berteman sama kamu lagi!" seru Wita kesal setengah mati.


Tawa Dian terdengar menggema di telinga Wita.


"Hei, sabar. Aku kan hanya bercanda," ungkap Dian.


"Candaanmu nggak lucu!" jawab Wita kemudian. Sebenarnya, Wita tak benar-benar merajuk pada Dian.


"Rahasia," jawab Wita.


Dari kejauhan, sosok Manda, sahabat Wita tanpa sengaja bertemu dengan Wita di restoran. Senyum mengembang di wajah Manda. Manda berpikir, Wita kini sudah mulai move on dan bisa melupakan Andika perlahan. Sayang seribu sayang, Manda tak tahu apapun mengenai Andika yang akan berpisah dari Amira, demi bisa bersatu lagi dengan Wita.


Sengaja Manda diam saja, tak berniat menghampiri sahabatnya itu, dan lebih memilih makan siang berdua dengan suaminya.


"Kelan apa kabar?" tanya Dian mengalihkan pembicaraan.


"Kelan baik. Oh ya, besok aku sudah mulai kerja," ungkap Wita. "Bukan apa-apa. Ini sekadar ngasih tahu saja."


"Kamu mau nggak, kalau misalnya kerja di tempatku? Kebetulan, aku sedang butuh seseorang untuk mengisi beberapa posisi yang sedang kosong," tawar Dian.

__ADS_1


Bukan tanpa maksud, Dian sengaja menawarkan pekerjaan dengan iming-iming gaji yang lumayan. Selagi Wita tidak menjadi istri siapapun, bagi Dian ia masih memiliki akses untuk bisa mendapatkan hati Wita.


Sekeras apapun Wita mencoba untuk menolaknya, doan tak akan mudah menyerah. Jika secara terang-terangan Dian tidak bisa mendapatkan Wita, maka jangan salahkan Dian, jika Dian mendekati Wita secara halus tanpa Wita sadari.


Dimulai dari rasa nyaman dan aman, inilah taktik Dian agar Wita merasa nyaman dengan Dian. Selanjutnya, hanya Dian yang tahu rencana apa yang bisa ia jalankan demi bisa mendapatkan hati Wita.


"Aku sih tergiur banget, ya. Tapi gimana lagi? Aku juga baru kerja di tempat saudaranya Manda, temanku itu loh, yang pertama kali kita ketemu, dia jalan bareng sama aku," ujar Wita, tak menyadari bagaimana karakter lelaki yang tengah ia hadapi.


"Kami bisa mengajukan resign. Siapa tahu rejeki kamu di tempatku lebih gede. Realistis saja, ke depan meski biaya hidup dan biaya pendidikan Kelan sudah ditanggung oleh papanya, tapi kamu nggak mungkin numpang hidup dari uang mantan suami kamu, kan?" tanya Dian, kian gencar meracuni otak Wita.


Wita diam dan tampak berpikir. Wanita itu kian mempesona di mata Dian sekalipun hanya diam begitu.


Butuh waktu satu tahun sesuai yang Wita janjikan pada Andika, untuk ia bisa menerima Andika kembali. Tetapi sayangnya, selama setahun ke depan, apa yang dikatakan Dian memang ada benarnya.


Tak mungkin Wita hanya mengandalkan gajinya dari atasannya yang sekarang. Bukan berarti Wita tak bersyukur, akan tetapi jika ada peluang berkembang yang lebih bagus lagi, Wita patut mencobanya. Tak ada salahnya, kan?


Tapi disisi lain, Wita tak enak hati pada Manda yang telah memberinya pekerja. Tak masalah jika begitu. Akan Wita pikirkan lagi dan meminta pendapat Manda lebih dulu. Jika Manda mengijinkan, bukankah itu baik? Tetapi jika tidak, Wita tak akan memaksakan keadaan.


"Dian, boleh kan, kalau seandainya aku pikir ulang lagi? Aku nggak bisa memutuskan hal ini terburu-buru," ujar Wita lirih dengan nada hati-hati. Mantan istri Andika itu tidak ingin jika Dian salah paham padanya.


"Boleh. Nggak masalah. Jika nanti kamu mau, aku bisa ngasih kamu posisi yang bagus di kantor. Jangan khawatir, oke?" Dian mengulas senyum lebar, sebab ia memiliki keyakinan bahwa ia Wita akan menerima tawarannya.


"Tapi ingat, Wita, kesempatan emas nggak akan datang dua kali kalau kamu mengabaikan tawaranku berbulan-bulan," sambung Dian.


"Nggak akan selama itu. Keputusannya tiga hari ke depan," jawab Wita dengan wajah berseri-seri.


**

__ADS_1


__ADS_2