Cinta Mantan Suami

Cinta Mantan Suami
19. Kinasih dan masa lalunya.


__ADS_3

Perjalanan Wita kali ini terasa lebih lambat. Rasa tak sabar sebab terlalu rindu pada Bapak dan Ibu, membuat Wita terus saja mengulas senyum membayangkan akan bertemu dengan Ayah dan Ibu.


Kelan tak henti-hentinya tertawa riang, mengingat sebentar lagi ia akan bermanja ria bersama nenek dan kakeknya.


Dulu, suasana seperti inilah yang membuat Kelan rindu setiap saat.


"Ma, nanti kalau sampai di rumah nenek, Kelan mau ajak kakek main layangan lagi di pinggiran sungai," ucap anak itu tiba-tiba.


"Memangnya, Kelan nggak mau mancing lagi? Kalau mancing sama kakek kan nggak capek. Kalau main layangan, pasti Kelan suka lari-lari," sahut Wita.


Biasanya, Kelan akan selalu mengeluh malam hari setelah bermain layangan bersama bapak. Tak jarang, sang nenek lah yang sukarela memberikan pijatan terbaiknya untuk Kelan.


"Mancingnya bisa pagi-pagi buta. Dulu, Papa selalu ikut mancing kalau Kelan sama kakek pergi ke sungai besar itu," ucap Kelan tiba-tiba. Senyum bocah enam tahun itu memudar seketika. Entahlah, rasanya Wita seperti tidak sanggup bila harus melihat putranya, juga ikut kecewa dengan rumah tangganya.


Perubahan raut wajah Kelan, membuat Wita tersenyum ironis. Wanita itu benar-benar tak bisa bila harus membiarkan Kelan begini terus.


"Jangan terlalu memikirkan Papa. Nanti kalau kita balik lagi ke ibukota, pasti ada waktunya sendiri untuk main sama Papa lagi, kan?" tanya Wita mencoba menghibur Kelan.


"Iya. Ma, sebentar lagi Kelan ulang tahun yang ke tujuh. Apa Mama dan Papa bisa ngerayain ulang tahun Kelan sama-sama kayak dulu?" tanya Kelan.


"Mama dan Papa akan bicarakan hal ini. Kelan pasti bisa merayakan ulang tahun bareng Mama dan Papa. Tapi mungkin, ini nggak akan semeriah dulu, ya?" ujar Wita mengingatkan.


Kelan hanya mengangguk, kemudian fokus pada pemandangan luar jendela bus. Pepohonan di pinggir jalan, tampak berjajar sepanjang perjalanan menuju rumah ayah Wita. Seseorang yang kini menjadi panutan Wita itu, telah Wita kecewakan. Wita sadar, mungkin sebentar lagi Bapak dan Ibu akan memberikan wejangannya seperti biasa.


Mengingat ini, Wita mendesah tertahan.

__ADS_1


Dulu, ia dan Andika sudah berjanji pada kedua orang tuanya, untuk mengasuh Kelan dengan baik bersama-sama. Selain itu, terakhir kali Wita mengunjungi Bapak ketika masih bersama Andika, Bapak meminta dirinya dan Andika membuatkan cucu lagi untuknya.


Bahkan orang tua Wita, Ruslan dan Asmah berharap jika Wita memiliki banyak anak sebagai saudara Kelan. Maklum saja, Wita anak tunggal yang membuatnya tak memiliki saudara sama sekali.


Mungkin, Wita memang banyak menghendaki sesuatu di luar takdirnya, hingga membuat banyak orang terluka.


***


Seorang wanita paruh baya duduk di kursi roda, dengan batuk-batuk yang menyertai setiap harinya. Wanita itu duduk diatas kursi roda, dengan tubuh ringkihnya yang selalu mengenakan jaket. Hidupnya seperti berada di ambang kematian sebentar lagi, namun, ia tak akan menyerah sebelum putrinya benar-benar mendapatkan pria tulus yang bisa menjaganya.


Kinasih, yang biasa dipanggil Asih, adalah seorang Ibu satu anak yang kini usianya telah memasuki usia awal setengah abad. Wanita itu dulu memiliki kehidupan yang lumayan baik, dengan suami yang pengertian, ekonomi yang berkecukupan, dan juga istri pertama suaminya yang menerimanya dengan sangat baik, dan tulus juga.


Tetapi sayangnya, Kinasih sengaja meninggalkan hidup baiknya, karena merasa ia tak pantas berada di tengah-tengah keluarga Ruslan, dan istri pertamanya, Asmah.


Kini, Asih dilanda bingung dan ketakutan yang tak berkesudahan. Satu yang membuatnya merasa tak rela bila harus meninggal cepat, yakni nasib putrinya yang tak ada satu orang pun yang bisa menjaganya.


Asih duduk di depan rumahnya senja kali ini. Tatapannya nyalang menghadap langit biru, yang sebentar lagi pasti dihiasi dengan kemilau cahaya kemerahan di ufuk barat.


Wanita itu merasa tak pantas, berada di tengah-tengah keluarga Ruslan, sebab ia dinikahi Ruslan hanya karena wasiat. Baik Ruslan dan Asmah, mereka memiliki cinta yang sama besarnya, meski mereka menerima kehadiran Asih dengan baik.


"Apa kabar kamu disana, mas Ruslan, mbak Asmah? Aku kangen, pengen ketemu. Tapi aku nggak punya muka untuk kembali lagi pada kalian. Tetapi kalau aku nggak kembali pada kalian, siapa yang akan menjaga putri kita, mas Ruslan? Apakah kalian sehat disana? Wita, Deswita pasti sudah menemukan lelaki yang tepat dan bisa menjaganya. Tetapi tidak dengan anakku disini," lirih Asih seraya memejamkan matanya.


Asih harusnya tetap hidup di samping Ruslan dan Asmah, melayani dua orang baik itu seperti yang mendiang mantan suaminya inginkan agar ia tetap terjaga. Tetapi Asih tak bisa. Entah mengapa Asih merasa seperti orang ketiga yang jahat, sekalipun sepasang suami istri itu menerimanya dengan baik.


Disini, Asih dilanda sakit-sakitan. Dirinya terlalu keras bekerja sewaktu muda dulu, demi kehidupan dirinya dengan sang putri yang lebih baik.

__ADS_1


Hingga tiba di titik dimana putrinya besar dengan baik, mendapat pendidikan yang layak, dan memiliki rumah sendiri sebagai hasil kerja keras, disinilah, tubuh tangguh yang terbiasa bekerja keras itu, mulai ringkih dan sakit-sakitan.


Tatapan wanita itu tertuju pada sebuah motor yang di kendarai seorang wanita. Mata Asih menyipit, menebak bahwa wanita itu adalah putrinya.


Senyum Asih merekah, membiarkan binar matanya menunjukkan kebahagiaan.


"Ibu . . . " sapa wanita itu dengan cerianya. Meski kehidupannya tak lebih baik dari sebelumnya, namun putri Asih itu begitu sabar dan menerima segala takdir Tuhan. Hati wanita itu, melembut seiring berjalannya waktu, tak semanja dan seegois dulu.


Apa yang dialami putri Asih beberapa bulan terakhir, sedikit memberikan kedewasaan padanya.


"Kamu datang?" tanya Asih.


"Iya. Maaf baru datang, aku nggak bisa jalan ngebut. Tau sendiri, kan, aku lagi gini," jawab wanita itu, seraya memarkirkan motornya di samping asih, di halaman rumahnya.


"Lebih baik memang kamu pelan. Tapi lain kali, kamu jangan bawa motor lagi, sebaiknya kamu pakai angkutan umum atau apapun itu biar kamu lebih aman," ucap Asih.


"Iya. Ibu tenang saja. Oh ya, ini, aku bawakan obat dan makanan kesukaan Ibu," ujar putri Asih itu.


"Terima kasih. Oh ya, mari masuk. Ada yang mau Ibu bicarakan, dan mau Ibu tunjukkan sesuai dengan janji Ibu," ajak Asih pada putrinya.


"Tentang Ayah?" tanya putri Asih itu.


"Ya, ini tentang Ayah, sesuai dengan apa yang Ibu janjikan semasa kamu remaja. Sudah saatnya kamu tahu tentang masa lalu Ibu, Amira Widani," lirih Kinasih dengan suara tercekat di tenggorokan.


Semasa Asih meninggalkan Ruslan, Amira terlalu kecil saat itu.

__ADS_1


Inilah saatnya, Amira tahu yang sesungguhnya.


***


__ADS_2