
Malam telah larut dengan ribuan bintang menghiasi langit gelap. Secangkir kopi dengan sedikit gula, menjadi pilihan Andika untuk menikmati malamnya kali ini.
Andika baru saja tiba dari rumah yang Wita sewa sebagai tempat tinggal. Tatapan pria itu datar, tak menampakkan emosi yang ia perlihatkan pada siapapun.
Tempat paling nyaman bagi Andika adalah, di balkon kamar utama yang selama beberapa bulan terakhir, menjadi tempat favorit Andika. Selain bisa menikmati angin malam yang menghiburnya, di balkon Andika bisa menikmati kesendirian dalam damai tanpa bising yang mengganggu.
Andika ingat dengan sikap dingin dan berjarak mantan istrinya sekitar satu jam lalu, ia tak menyangka Wita bisa berubah demikian. Akan tetapi biar bagaimana pun, Andika tidak bisa menghakimi berubahnya Wita.
Semoga saja, di masa depan ia bisa meluluhkan hati Wita, bagaimana pun caranya.
Pintu kamar terketuk dari luar. Andika dengan malas segera menuju ke arah pintu kamar dan membukanya. Sosok mbok Yem berdiri dengan wajah menunduk pada Andika.
"Ada apa, mbok? Apa ada tamu?" tanya Andika. Biasanya, jika tidak ada tamu, mbok Yem memilih untuk tidak menggangu Andika malam-malam begini.
"Ada Bu Mira, pak. Katanya mau bicara sebentar sama Bapak," jawab mbok Yem.
"Mira? Sejak kapan perempuan itu ingat pulang?" alis Andika saling bertaut sebagai reaksi bertanya.
Mbok Yem memilih diam tak menjawab. Biarkan saja Andika menyelesaikan urusannya dengan Amira. Di dalam pernikahan majikan, mbok Yem tak pernah berusaha untuk mencari tahu berita apapun.
Andika melangkah menuju ke arah tangga dan segera turun.
"Mbok, katakan pada Amira untuk menyusul saya ke ruang kerja saja. Saya tunggu dia disana," perintah Andika pada mbok Yem.
"Baik, pak," jawab mbok Yem. Tak menunggu lama, mbok Yem lantas bergegas menuju ke ruang tamu dan memberi tahu Amira, bahwa suaminya telah menunggu di ruang tamu.
__ADS_1
Andika duduk di ruang kerja, menunggu Amira seraya mengira-ngira apa yang hendak Amira katakan padanya. Terakhir kali mereka bertemu, Amira seperti wanita yang kehilangan muka dan menyerah dengan keadaan. Bahkan Amira juga menolak sejumlah nominal yang Andika berikan padanya.
Jika boleh jujur, Andika bukan lelaki tak punya hati sekalipun Amira telah berbuat curang padanya. Meski Amira telah membuat banyak hal yang membuat rumah tangga Andika dan Wita harus kandas, namun biar bagaimana pun Amira tetap istri sah Andika saat ini.
Tak mungkin Andika sungguh lepas tangan atas hidup Amira saat ini. Bukan menyangkal, ia juga telah membuat Amira menyerah sebelum memutuskan untuk pergi dari rumah.
"Masuk," ujar Andika setelah mendengar ketukan pintu tiga kali pada pintu ruang kerjanya.
Amira muncul, dengan perut yang kian membuncit. Terakhir kali Andika bertemu dengan Amira, perut Amira tak sebuncit ini. Wajah Amira juga tampak lebih segar dengan make up tipis yang membalut wajahnya.
"Kapan kamu datang, Amira?" tanya Andika dengan nada suara datar. Tatapan netranya mengunci sosok Amira yang lebih berisi.
"Sore tadi," jawab Amira.
"Duduklah. Kamu mau kembali ke rumah ini?" tanya Andika pelan. Amira sepertinya datang tanpa membawa tas besar atau apapun.
"Kembalilah ke rumah ini selagi kamu masih istriku. Maaf saya sering kasar ke kemu terakhir kali saat kamu masih tinggal disini," ujar Andika dengan tulus.
"Aku lebih nyaman di rumah kost yang aku sewa, mas. Nggak masalah. Aku juga bekerja dan mendapatkan penghasilan meski nggak banyak," jawab Amira tanpa menatap Andika. Entah mengapa, menatap Dika rasanya membuat Amira tidak mampu.
Cinta di hati Amira, Amira hanya bisa berharap bisa meredamnya segera. Menatap mata Andika, sama artinya Amira mengikat hatinya pada pesona pria matang itu.
Di tempatnya, Andika merasa tertampar dengan pengakuan istri keduanya itu. Ia memang tak memberikan jatah belanja pada Amira, setara dengan uang belanja Wita dulu. Selain itu, ia juga kerap kali menyiksa batin wanita itu. Wajar saja jika Amira tidak betah di dalam rumahnya.
"Maaf. Saya janji akan berlaku baik sama kamu. Kembalilah kemari, sampai saatnya tiba kita berpisah. Lagi pula, jika terjadi apa-apa dengan kamu dan kandunganmu, tidak ada yang menjaga kamu. Maafkan saya, saya mengaku telah . . . . " Andika menghentikan kalimatnya. Ia merasa segan sendiri pada Amira.
__ADS_1
"Aku kemari untuk meminta sesuatu dari kamu, mas," ungkap Amira kemudian.
Selain tak ingin berlama-lama disini karena lelah, Amira juga tak ingin berinteraksi dengan suaminya terlalu lama. Biarlah, Amira yang bersalah dari awal, dia sadar diri harus mundur teratur dari pernikahan toxicnya itu.
"Boleh jika saya mampu memenuhinya. Katakan, apa yang kamu minta?" tanya Andika dengan tegas.
"Aku mau kamu cerai secepatnya, mas. Secepat mungkin tanpa menunggu anak ini lahir," jawab Amira seraya mengusap pelan perutnya yang begitu besar.
Usia kandungan Amira telah memasuki trimester ketiga. Mungkin hanya menghitung sedikit waktu untuk masa melahirkan tiba. Tetapi Amira tidak bisa menunggu lebih lama lagi kali ini.
"Kenapa kamu ngebet mau cerai secepat itu?" tanya Andika menatap tajam Amira, "tidak tahukah kamu kalau wanita hamil tidak boleh di cerai oleh suaminya?" tanya Andika.
"Aku tahu," jawab Amira dengan suara seolah tercekat di tenggorokan, "tapi aku mau . . . bisa segera tenang dan memulai hidup baru, mas. Tolong komprominya kali ini. Aku nggak nyaman hidup sendiri di luar, sementara aku masih berstatus sebagai istri orang," ungkap Amira.
"Mengapa? Agar supaya kamu bebas kencan dengan lelaki lain tanpa terbebani dengan status pernikahan dengan saya?" tanya Andika dengan kejamnya.
Amira tak habis pikir. Air matanya kembali jatuh sebab tersinggung oleh ucapan Andika.
"Aku memang wanita rendah yang pernah membuat suami orang terjebak dalam situasi terpaksa menikahi aku, mas. Tetapi perlu kamu ingat, dari wanita rendah ini, bakal darah daging kamu akan terlahir. Maaf, aku nggak memiliki maksud dan tujuan untuk mengencani lelaki lain di luar sana, setelah kejadian ini. Aku hanya ingin hidup tenang, bersama ibu dan anakku yang nggak pernah membuat aku menangis," sindir Amira.
Air mata wanita itu masih saja jatuh menetes membasahi pipinya.
"Saya tidak akan menceraikan kamu apapun yang terjadi selagi kamu masih mengandung, Amira. Kalau kamu mau kehidupan yang bebas, itu hak kamu. Saya akan tetap memberikan jatah belanja kamu selagi kamu masih menjadi tanggungan saya. Apapun akan saya berikan selagi mampu, asal itu bukan perceraian di waktu kamu mengandung!" tegas Andika tak bisa di bantah lagi.
Pada akhirnya, Amira kembali kalah untuk yang kesekian kalinya.
__ADS_1
**