
Sebuah bangunan yang cukup mewah dengan ukuran yang cukup luas bagi Deswita, menjulang dengan keindahan taman Kecil dan susah siap huni. Sebuah rumah yang memang sudah di sediakan oleh Andika untuk Wita dan Kelan, saat ini tengah dilihat-lihat oleh Wita.
Seorang asisten rumah tangga disertai dengan penjaga yang merangkap sebagai tukang kebun, juga tersedia sebagai pekerja di rumah ini. Pun dengan Wita yang tak perlu menggaji mereka, sebab semua itu menjadi tanggungan Andika.
Wita merasa kehidupannya terpenjara oleh Andika tanpa kebebasan. Jika boleh memilih, Wita tak ingin terus terikat dan dekat dengan Andika selain yang berkaitan dengan Kelan. Hanya saja, ini adalah yang terbaik sebab Wita pun tidak mendapatkan apapun selepas perceraian dengan Andika.
Segunung penyesalan tumbuh di hati Wita, sebab Wita tidak tahu menahu perihal penghasilan Andika selama ia menikah dengannya. Yang Wita tahu, ia mendapatkan jatah uang bulanan yang lumayan besar nominalnya, tetapi tidak mengerti seberapa banyak aset dan deposito mantan suaminya itu.
Aku yang terlalu bodoh!
Hanya kata itu yang selalu Wita katakan dalam hati. Ia mengumpat dirinya sendiri, dan berakhir ia kalah.
Setelah Wita puas, ia segera pergi dari bangunan itu dan menyapa sekilas penjaga rumah, seorang pria berusia sekitar awal empat puluhan.
"Gimana? Sudah?" tanya Manda yang saat ini mengantarkan Wita. Wanita itu sungguh benar-benar tak habis pikir, mengapa Wita tampan ragu menerima pemberian Andika.
"Ayo nyari kedai dekat sini. Kita perlu ngobrol dengan situasi yang tenang," ajak Wita, mengabaikan tanya Manda yang memang tak perlu ia jawab.
Beruntung Kelan saat ini tengah ikut Andika ke kantor, jadi, Wita sedikit lebih bebas.
Manda dan Deswita pun segera menuju kedai yang tak jauh dari sana. Sore tiba dengan warna langit senja menghiasi. Seragam kerja Wita juga masih melekat pada tubuhnya. Sepulang bekerja, Wita sengaja tidak segera pulang sebab malam ini ia enggan keluar kemanapun dan hanya ingin di rumah saja.
Keduanya pun lantas duduk di sebuah kedai kopi yang cukup lengang. Hanya ada beberapa pengunjung yang datang, membuat Wita dan Manda lebih leluasa untuk bicara.
__ADS_1
"Aku udah pesen kopi kesukaan kamu. Sekarang ayo cerita, kenapa kamu kayak ragu gitu untuk menerima rumah pemberian Andika?" tanya Manda, setelah ia memesan kopi pada pelayan.
"Aku nggak mau aja, nanti suatu saat Andika tetap berkuasa dan berakhir aku terpenjara dengan Andika, Manda. Hanya itu, tapi cukup membuat masa depanku nggak baik-baik saja. Dengan karakter Andika yang suka berkuasa dengan uangnya, aku khawatir ruang gerakku di masa depan nggak bebas lagi. Kamu tahu gimana Andika," jawab Wita kemudian.
Wita mengedarkan pandangannya ke sekeliling kedai. Tampak lebih lengang sebab beberapa pengunjung sudah mulai pergi satu persatu.
"Tapi kamu dan Kelan berhak mendapatkannya. Kamu sendiri yang bilang, kamu nggak akan membiarkan Amira menguasai semua milik Andika," sahut Manda mengingatkan.
Deswita mengangguk, tak menampik sama sekali.
"Akan aku pikirkan lagi. Rencana sementara, aku akan menerima rumah itu beserta sertifikatnya, tapi kalau untuk menghuninya, entahlah," jawab Wita.
"Aku pikir tinggal disana nggak akan seburuk itu. Terlebih dari kamu tinggal di rumah pemberian Andika ataupun tidak, ya kamu tetap memiliki hidup bebas. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau, termasuk menikah lagi misalnya, atau menerima tamu sesuka kamu. Setelah rumah itu sah milik kamu secara hukum, otomatis Andika tetap nggak akan ada hal buat maksa kamu lagi, termasuk ngatur-ngatur kamu," kali ini Manda mencoba untuk meyakinkan.
Manda begitu gemas dengan Wita yang kebanyakan mikir baginya itu. Bermacam rasa takut, lama kelamaan akan terjadi seperti yang di bayangkan jika seseorang terlalu banyak mikir.
"Ya. Dan seharusnya memang begitu, kan? Jadi jangan banyak mikir yang tidak-tidak. Ingat, kamu dan Kelan juga berhak atas harta Andika. Toh selama ini harta milik Andika, juga pendapatan bersama bagi kalian sekalipun kamu nggak terlibat langsung di kantor. Kamu dulu begitu cerdas dan sangat pintar, Wita. Kenapa sekarang kamu justru jadi bodoh, sih?" tanya Manda gusar.
"Baiklah. Aku akan coba untuk menerima kenyataan," ungkap Wita seraya mengulas senyum.
"Ya udah pulang, yuk. Aku mau pulang dan nggak sabar buat ketemu Kelan. Pasti sebentar lagi dia bakalan di antar sama papanya," ungkap Wita kemudian.
"Tunggu dulu, kopi belum di minum," ungkap Manda seraya menyesap kopinya. Baginya, meyakinkan Wita sama saja menguras tenaga dan membuat tenggorokannya kering.
__ADS_1
Hingga tak lama kemudian, tatapan Deswita terpaku pada sosok sepasang wanita dan pria yang baru saja tiba.
"Itu Amira dan Rudy, kan?" tanya Wita pada Manda, seraya mengucek matanya.
Manda meletakkan gelasnya di atas tatakan. Netranya beralih menatap objek yang Wita tunjukkan melalui isyarat mata.
"Astaga, iya beneran. Waduh, kayaknya ada yang lagi mau terlibat skandal, nih," ujar Manda tersenyum miring.
"Hush, jangan ngaco dan berprasangka buruk, deh. Belum tentu mereka ada hubungan juga, kan?" tanya Wita tanpa mengalihkan tatapannya yang terkunci pada sosok Amira dan Rudi.
"Jangan terlalu baik sama orang, Wita. Jangan menilai seseorang hanya dengan hati nurani, tapi pakai juga logika kamu. Mana ada mereka nggak ada hubungan. Lihat saja deh, Mira dan Rudy, mereka kayak sangat bahagia sekali gitu, kan?" kata Manda.
"Ya. Tapi tak masalah. Itu urusan mereka," ungkap Wita tanpa peduli. Wanita itu lantas menyesap kopinya. Meski tampak tak peduli, namun, hati Wita penuh dengan banyak pikiran.
"Tapi, Ta, Amira terlihat bahagia dan senyum-senyum ke Rudi. Apa kamu lupa sekarang? Proses cerai Amira dan Andika belum sepenuhnya usai!" seru Manda dengan nada penuh penekanan.
"Aku nggak peduli, Manda. Itu, biar itu jadi urusan mereka. Selebihnya aku nggak peduli. Manda bukan apa-apa bagiku. Kalau dia wanita baik-baik, dia nggak akan mengambil langkah sejauh ini," ujar Wita tenang.
Di tatapannya lekat sosok Amira yang kini tengah menggunakan kaos kedodoran berwarna putih, juga rok jeans di atas lutut. Amira tampak sangat cantik dan jauh terlihat lebih muda. Tetapi sayang, kelicikan wanita itu di mata Wita, tetap buka lah poin baik dalam dirinya.
Wita tak berhak menjudge Amira, tetapi inilah kenyataannya.
Buru-buru Manda meraih ponselnya di dalam tas, dan segera mengabadikan momen kebersamaan Rudi dan Amira. Lihat saja, Manda akan mengirimkannya pada Andika, agar Andik tahu, siapa sosok Amira.
__ADS_1
Ada sebuah cela di balik tabir kecantikan istri kedua Andika itu. Beruntung Amira dan Rudi kali ini terciduk penglihatan Manda dan Wita.
**