
Di ruang tamu rumah Asih, Andika dan Amira duduk saling berhadapan. Sepasang suami istri itu hanya bisa saling menatap sesekali, seolah Rudi dan Asih hanyalah latar belakang tambahan saja yang tak begitu penting keberadaannya.
Andika tengah menyusun rencana, berusaha untuk berjudi kali ini. Segalanya ia pertaruhkan, sebab ada sebuah tujuan yang harus ia raih. Jika memang, merupakan keberuntungan baginya. Namun, jika Andika kalah, maka Andika tak akan bisa meraih apa yang ia mau selamanya.
"Saya mau bawa kamu ke suatu tempat," ujar Andika mengawali pembicaraan kali ini. Tanpa basa-basi, Andika segera menyatakan tujuannya datang kemari, "maaf, Bu. Saya datang mendadak dan ada urusan yang benar-benar memdesak, hingga mengharuskan saya untuk bicara dengan Amira."
Kalimat Andika begitu lembut, tak membuatnya dinilai buruk oleh Asih. Tetapi sayang, itu sungguh bertolak belakang dengan sikapnya yang seringkali berapi-api untuk marah pada Amira.
Amira mendesah lelah. Jika Andika benar mencintainya, dia tak akan kasar pada dirinya. Tetapi sayangnya, perlakuan Andika pada Amira, sudah menjelaskan semua. Jangankan untuk mencintai, bahkan untuk memperlakukan Amira dengan baik saja, Andika tidak bisa.
Asih menatap netra Andika. Kelembutan jelas membuat Andika tampak tak seperti yang Amira ceritakan. Tak ada hardikan, tak ada pula caci maki dengan umpatan kasar.
"Boleh. Amira istrimu, kamu berhak mau ajak dia kemanapun. Tapi pesan Ibu, jangan kamu buat dia menangis. Ibu mohon, dia besar tanpa ayah sejak usianya empat tahun, selama ini juga saya tidak pernah membuat Amira sedih berkepanjangan, Ibu titip Amira pada nak Andika," jawab Asih dengan bijak.
"Tentu, Bu," jawab Andika seraya melempar senyum.
"Pergilah, tapi jangan pulang terlalu malam. Ibu hanya tidak ingin Amira bermalam di luar. Dia sedang hamil," ungkap Asih, yang di jawab anggukan oleh Andika.
"Ayo, Amira," ajak Andika.
Mau tak mau, Amira nurut dan segera mengekori Andika. Tak lupa, wanita itu berpamitan pada sang ibu. Entah apa yang akan Andika lakukan padanya, Amira tak memiliki pilihan lain selain pasrah.
Melihat kelembutan Andika saat bicara dengan sang mertua, rasanya ini bukan seperti yang Amira kenal.
"Kamu mau bawa aku kemana, mas?" tanya Amira, ketika mereka berada dalam perjalanan. Amira sedikit curiga, mengingat jalan yang dilalui, tidak pada jalan pulang ke ibukota seperti yang seharusnya.
"Ketemu beberapa orang," jawab Andika kemudian.
"Siapa?" tanya Amira, seraya mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
Alih-alih menjawab, Andika justru tengah menelepon seseorang. Rudi yang melihat tingkah Andika, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Rencana Andika memang di kebaikan semua orang. Hanya saja menurut Rudi, ini terlalu ekstrim.
"Saya minta maaf atas semua perlakuan kasar saya selama ini, Amira," ujar Andika tiba-tiba.
Amira mengernyit heran. Ada apa dengan Andika? Apakah telinga Amira tidak salah dengar?
"Maaf?" tanya Amira membeo.
"Ya, saya minta maaf. Saya harap setelah ini, tolong pikirkan setiap tindakan yang akan kamu ambil, sebagai konsekuensinya," jawab Andika menasihati.
Andika tersenyum maklum. Usia Amira masih muda, ia tak memikirkan banyak hal di masa depan. Tentang salah dan benar, terkadang tak begitu penting bagi darah muda seperti Amira.
"Perceraian saya dengan Deswita, adalah bayaran mahal yang harus saya bayar karena ulah kamu. Saya ingin setelah semua masalah ini selesai, kamu bisa hidup lebih baik," ujar Andika kemudian seraya membuang pandangan ke luar jendela mobil.
Tiba-tiba, hati Andika dilanda rindu pada Kelan dan Deswita. Entahlah. Belakangan Andika sulit mengontrol perasaannya.
**
Ruslan dan Kelan, sepasang cucu dan kakek itu tak henti-hentinya bercanda, tak jarang Kelan berteriak senang. Momen yang begitu langka, mengingat Deswita jarang pulang kampung untuk menemui kedua orang tuanya.
"Kakek, kenapa ini kok lama sekali dapatnya? Kelan mau ikan yang besar," ujar bocah enam tahun itu, dengan nada merajuk.
"Kelan, memancing itu adalah seni. Seni kesabaran yang luar biasa. Jika Kelan bisa bersabar, nanti pasti dapat ikan besar," janji Ruslan dengan sungguh-sungguh. Karakter Kelan yang tak sabaran, sungguh berbeda dengan sang ibu semasa kecil dulu.
"Apa masih lama, kek?" tanya Kelan memastikan.
"Ya, lumayan. Lagi pula disini juga ramai, sayang. Jadi, jangan khawatir. Pasti menyenangkan," jawab Ruslan.
Netra Kelan lantas beralih pada sang Ibu, yang kini tengah duduk di bawah pohon jambu air, dengan kursi memanjang. Wita tampak asik membaca buku, sambil sesekali melempar senyum pada Kelan.
__ADS_1
"Mama cantik ya, kek? Tapi sayang, mama sering marah-marah ke Papa. Kelan kasihan sekali sama Papa. Kadang, Papa sedih banget kalau pas antar Kelan pulang ke rumah Mama," ujar anak itu tiba-tiba.
Ruslan terdiam, memandangi putrinya dan Kelan secara bergantian.
"Kakek mengerti. Bagaimana pun juga, semua orang pasti memiliki selisih pendapat. Kelan jangan terlalu memikirkan hal yang sekiranya kurang penting. Lebih baik, Kelan sibuk bermain, atau belajar," Ruslan tersenyum lebar, mencoba untuk membesarkan hati putranya.
Putra tunggal Deswita itu tersenyum, mengangguk mengerti. Hingga kemudian umpan milik kelam, di sambar oleh ikan. Teriakan senang tentu saja terdengar dari bibir mungkin Kelan.
Di sisi lain, Deswita tengah asik mengunyah keripik yang ia bawa dari rumah. Wanita itu memandangi putranya dengan tatapan kosong. Pikiran Deswita melayang pada banyak impian yang ia rajut bersama Andika sejak sebelum Kelan terlahir. Tetapi sayang, semua itu kandas begitu saja.
Jika di tanya, masih sayangkah Deswita pada Andika?
Tak munafik, jawabannya adalah iya. Tetapi hati Wita akan lebih hancur lagi, jika ia menerima Andika lagi begitu saja. Biarlah, Deswita akan menunggu hingga Andika benar-benar membuktikan ucapannya lebih dulu. Hanya saja, Wita tak ingin menjanjikan harapan yang lebih pada Andika.
Kadang sebuah bisikan datang dalam hati Wita, dirinya ingin terlalu egois untuk memiliki Andika lagi.
Cinta memang tak jarang membutakan mata hati seseorang. Ada banyak hal yang salah di dunia ini, terkadang ingin diterobos begitu saja, melewati batasan yang ada, tanpa peduli akan risikonya.
Hanya saja, harga diri Wita terlalu tinggi. Di khianati dan ditinggal selingkuh oleh suami, membuat ego dan harga diri Deswita terluka.
"Dulu di tepi sungai ini, kamu janji untuk kita menua bersama, mas. Tapi apa? Kamu bohong!" bisik Wita lirih.
Wita merasakan kegetiran dalam hatinya.
"Sebenarnya, apa yang kurang dariku, mas? Harusnya kamu jujur dari awal jika memang aku punya kekurangan yang nggak bisa kamu toleransi," sambung wanita itu lagi. Sore ini, suasana hati Wita mendadak kacau seketika. Wanita itu tengah merasa gundah, sebab bebas dari Andika tak membuatnya rela sepenuhnya.
"Apa aku terima saja keinginan mas Dika untuk kembali rujuk lagi, setelah ia resmi meninggalkan Amira?" bisiknya lagi.
"Jujur, saku sangat mencintainya, Tuhan."
__ADS_1
**