Cinta Mantan Suami

Cinta Mantan Suami
15. Bertemu.


__ADS_3

Kepergian Amira, bukan lagi menjadi masalah besar bagi Andika. Lelaki itu memilih untuk menumpahkan segala waktunya hanya untuk bekerja selama beberapa waktu ini. Tak hanya itu, nyatanya selepas Amira pergi dari rumah meski ia menahannya, namun, tak sedikitpun membuat hati Andika melembut.


Entah mengapa, mungkin juga Andika tak lagi memiliki rasa suka ataupun tertarik pada Amira. Kepergian Amira, seolah menjadi sebuah kabar gembira tersendiri bagi dirinya.


Di tengah kesibukan Andika, sesekali lelaki itu menghubungi Wita, untuk dapat bicara dengan Kelan. Hanya pada Kelan, sedih Andika berkurang secara perlahan.


Lantas, bagaimana dengan Wita? Wita benar-benar menjaga jarak secara terang-terangan dari Andika. Tentunya Andika merasa keberatan, namun ia juga tak memiliki kuasa untuk memaksa Wita untuk tetap meladeninya. Menghubungi Wita, tak jarang Andika hanya bisa bicara dengan Kelan.


Di balik kaca jendela ruang kerja Andika dalam kantor, Andika berdiri seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana. Lelaki itu tengah memikirkan banyak cara, untuk bisa kembali meraih hati sang mantan istri.


Mungkin memang akan sulit, terlebih untuk menggenggam kepercayaan Wita kembali. Tetapi, bukankah segala sesuatu itu tak ada yang tak mungkin? Andika sadar itu.


Pintu di ketuk dari luar. Andika melirik sosok Rudi, teman baik sekaligus bawahannya di kantor. Lelaki berkacamata itu datang dengan membawa berlembar-lembar dokumen-dokumen pekerjaan.


"Bagaimana? Sudah siap?" tanya Andika sembari melirik pergelangan tangan kirinya, untuk melihat jam tangan.


"Sudah. Jangan khawatir. Oh ya, saya mau kasih tahu kamu, ini tentang Amira, istrimu," ujar Rudi tiba-tiba, merasa bahwa ia memiliki kabar yang penting.


"Kabar apapun itu, saya tidak punya waktu untuk membahas Amira, Rud," jawab Andika dengan sinisnya, "kalau kamu mau, silahkan kamu sendiri yang urus wanita keras kepala itu. Dia tetap kekeh pergi, sekalipun saya sudah menahannya," jawab Andika dengan kejamnya.


Rudi menahan napasnya. Ia tak menduga, jika Andika bisa berkata demikian pada Amira, "seburuk apapun Amira, harusnya kamu bisa menahan amarah dan kebencian kamu, Andika. Ingat, meski Amira sejahat itu, dia saat ini tetap istri kamu. Kamu nggak mau tahu, dimana dia sekarang?" tanya Rudi tak habis pikir.


"Saya tidak punya waktu untuk membahas Amira, Rud. Jadi, hentikan pembahasan tentangnya. Mari kita bahas pekerjaan saja," ungkap Andika.


Rudi menganggukkan kepalanya. Biarlah, jika suatu saat Andika mengeluh tentang penyesalan terhadap Amira maupun Wita, Rudi hanya tinggal tertawa seraya membenturkan kepala Andika ke tembok.


"Baiklah, terserah kamu saja," ujar Rudi kehabisan kata-kata.


"Bagaimana dengan acara makan bersama? Apa tempatnya sudah disiapkan?" tanya Andika kemudian.

__ADS_1


"Ya, sesuai dengan permintaan kamu, di sebuah resto pinggir pantai. Sudah saya siapkan, termasuk segala konsumsi untuk para karyawan," jawab Rudi.


"Bagus. Emm, mungkin saya bisa bawa Kelan untuk ikut serta. Entah jika Wita, dia mau atau tidak. Tetapi yang jelas, sepertinya akan sulit membawa pergi anak dan mantan istriku itu," ujar andika. Lelaki itu lantas duduk di kursi kebesarannya di ruangannya.


"Tidak masalah sih, jika Kelan dan mamanya ikut serta. Hanya saja, ini kan acara kantor?" sahut Rudi.


"Saya rindu sama Deswita, Rud. Sangat rindu. Tapi, mungkin Wita tidak merindukan saya sama sekali. Entah bagaimana ini," ungkap Andika kemudian.


"Halah, kamu sudah punya Amira. Tidak boleh merindukan yang tidak halal lagi untuk kamu. Lebih baik, rindukan dan cari Amira. Dia sedang hamil. Kamu nggak takut, kalau dia terkatung-katung di jalanan?" tanya Rudi kemudian.


Andika tak menyahut, dan hanya memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya bangkit dan segera keluar dari ruangan, dan disusul oleh Rudi.


Sebait kata-kata cerai dari Amira, kini kembali terngiang di kepala Andika. Semoga saja, Amira baik-baik saja dimana pun dia berada, begitulah isi hati Andika.


**


Mencari pekerjaan di saat kondisi sedang hamil besar, tak bisa Amira lakukan. Tak akan ada orang lain yang akan memberinya kesempatan untuk bekerja. Meski entah berapa penghasilan Amira di masa depan, yang jelas, dirinya tak akan merepotkan orang lain.


Mimpi untuk bersuamikan orang kaya, harus Amira kubur dalam-dalam.


"Mas Andika?" gumam Amira dengan suara lirihnya. Ia tak menduga, ia akan bertemu dengan Andika di tempat ini.


Namun, Amira tak memiliki kesempatan untuk menghindari suaminya itu. Biarlah, jika memang harus bertemu, Amira tak akan menuntut apapun lagi dari Andika.


Di sudut sana, Andika tengah menggandeng tangan putranya. Acara kantor kali ini, cukup santai karena memang Andika mengajak semua karyawan untuk makan bersama.


Mata pria itu menatap tajam Amira, dari jarak yang tak begitu jauh. Amira tampak cuek, dan tetap menekuri layar laptop lamanya yang masih bisa di gunakan.


"Kelan sayang, ayo kita menghampiri Tante Amira sebentar. Kelan tidak keberatan?" tanya Andika kemudian.

__ADS_1


"Ayo, Pa," jawab anak balik mengajak Andika. Anak itu begitu respek pada Amira, sebab Amira selama ini pun selalu baik dan tak pernah jahat padanya.


Langkah Andika cepat menghampiri Amira, dengan membawa serta Kelan yang berjalan di sampingnya.


"Amira, kamu disini sendiri?" tanya Andika.


"Ya," jawab Mira, dengan ekspresi wajah datar.


Melihat Amira yang cuek padanya, membuat Andika mendadak salah tingkah. Dirinya tak tahu, hendak berbuat apa.


"Saya ingin bicara denganmu," ungkap Andika kemudian, seraya duduk tepat di kursi depan Amira. Tak lama, lelaki itu lantas membisikkan sesuatu yang entah itu apa, pada Kelan. Hingga Kelan berlari menuju ke arah Rudi, Andika mulai bicara pada Amira.


"Kemana saja kamu selama lebih dari seminggu ini?" tanya Andika dengan menatap dingin Amira.


"Kehadiranku bukan lagi sebuah hal yang penting bagi kamu, mas. Jadi sudahlah, nggak perlu menanyakan hal yang tidak-tidak. Yang penting kamu nyaman setelah aku pergi. Kamu bisa bebas mengejar mbak Wita kembali. Itu kan, yang kamu mau?" tanya Amira dengan sinisnya.


"Bicara apa kamu, Amira?" tanya Andika dengan tenang.


"Bicara fakta," jawab Amira, masih terfokus pada layar laptopnya, sembari mengetikkan sesuatu di sana, "jangan lupa untuk menceraikan aku, Mas. Segera."


"Mari pulang, Mira. Kamu terlalu jauh bicara melanturnya," ujar Andika menimpali.


"Aku nggak bisa. Sebaiknya kamu yang menjauh saja dari aku. Aku lelah," pinta Amira.


"Selalu itu yang kamu minta. Ayo pulang cepat," tegas Andika tak bisa dibantah. Sayangnya, Amira sudah terlanjur sakit hati.


"Aku? Pulang? Itu rumah kamu, Bukan rumahku. Aku juga sekarang sedang sibuk bekerja, supaya kamu nggak lagi repot dan terbebani akan keberadaanku. Kejar mbak Wita, aku sudah mulai rela kalau kamu bukan milikku," ungkap Amira dengan penuh keyakinan.


**

__ADS_1


__ADS_2