Cinta Mantan Suami

Cinta Mantan Suami
24. Kabar bahagia.


__ADS_3

Angin berhembus lembut malam ini. Sebuah desa yang menjadi tempat tinggal kedua orang tua Deswita Adriana, merupakan tempat ternyaman selama ini. Jauh dari hiruk pikuk kota, juga jauh dari polusi banyak kendaraan di mana-mana.


Wanita tiga puluh tahun itu duduk di kursi di balik jendela, membiarkan jendela terbuka dan angin masuk menerpa tubuhnya. Tangan rapuhnya memegang ponsel yang baru saja menampilkan pengakuan Amira di meja makan.


Wita syok. Ia tidak tahu harus bagaimana. Malam kian merangkak naik, namun kantuk tak juga datang. Alih-alih mengantuk, Wita justru terpukul mundur oleh fakta ini. Jiwanya yang semula rapuh, kini lebih rapuh lagi. Andai saat ini Wita berada di ibukota, bisa dipastikan Wita akan berlari memeluk sang pujaan hati. Tetapi sayang, jarak memisahkan ia dan Andika.


Dingin kian menusuk kulit. Wita hanya tak ingin, dirinya kehilangan akal hingga menyiksa dirinya sendiri sampai sakit. Memikirkan Andika boleh, tetapi Wita memiliki banyak impian di masa depan alih-alih menyiksa dirinya.


Baru saja Wita menutup jendela dan hendak berbaring untuk beristirahat, suara dering ponselnya terdengar. Wita tentu bisa menebak, bahwa yang menghubunginya adalah Andika.


Tak menunggu lama, Wita segera menerima panggilan telepon dari Andika. Sudut hati Wita dilanda penasaran, akan apa yang akan dikatakan oleh Andika.


"Ya, mas. Ada apa?" sapa Wita tanpa basa-basi.


"Wita, kamu apa kabar? Masih di rumah Bapak?"


Tanya Andika di seberang sana.


"Baik. Aku masih di rumah Bapak," jawab Wita dengan suara datar.


"Kamu sudah melihat video-nya?" tanya Andika lembut.


"Sudah," jawab Wita.


"Tapi kenapa kamu tidak menghubungiku untuk mengatakan sesuatu tentang pengakuan Amira? Apakah itu masih tidak menyentuh hati kamu?" Tanya Andika pelan.


"Sangat menyentuh, mas. Tapi aku harus bilang apa sebagai tanggapannya? Aku bingung harus bagaimana," dengan gamblang Wita mengungkapkan perasaannya saat ini.


Hening menyelimuti keduanya. Di seberang sana, Andika hanya bisa mendesah lelah yang tentunya bisa di dengar langsung oleh Wita.


Tak dipungkiri, sepercik sorak gembira dari hati Wita, tercipta saat mendengar bahwa Andika melakukannya pada Amira, karena sebuah kesengajaan yang diciptakan oleh Amira. Tetapi disi lain, Wita juga merasa kasihan pada Amira dan kandungannya.


Entahlah, antara logika dan nurani, tengah berperang dalam hati janda itu.

__ADS_1


"Kamu masih mencintai saya kan, Wita?" tanya Andika lirih.


"Ya," jawab Wita tanpa pikir panjang.


"Saya juga mencintai kamu. Bersabarlah. Sebentar lagi, saya akan jemput kamu kembali," ujar Andika.


Di tempat ini, Wita tidak berkata apapun untuk menanggapi. Wanita itu justru hanya diam seribu bahasa, bingung hendak bagaimana mendeskripsikan perasaan. Antara tak tega pada Amira, namun juga ia juga tak bisa kehilangan suaminya.


"Wita, kamu dengar saya?" tanya Andika kemudian.


"Ya. Selesaikan dulu urusan kamu dengan Amira," jawab Wita.


Di seberang sana, Andika tersenyum penuh makna. Tak mengapa bila ia harus menunggu. Yang terpenting, ia dan Wita bisa bersatu kembali nanti.


"Dimana Kelan?" tanya Andika.


"Tidur di kamar Bapak dan Ibu," jawab Wita.


"Ya sudah. Tidurlah. Ini sudah malam," titah Andika. Suaranya lembut dan menggoda. Sayangnya, kecewa di hati Wita tak bisa ditukar dengan suaranya. Meski tak sepenuhnya Andika yang bersalah, namun, tetap saja hati Wita tak bisa kembali seperti semula.


Malam ini, sebuah harapan muncul bersamaan dengan kabar bahagia dari Andika. Deswita berharap, dirinya bisa memaafkan Andika di masa depan. Ia berpikiran, bahwa ini hanyalah bagian ujian cintanya dengan Andika.


**


Di sudut lain, Amira juga tak dapat memejamkan matanya. Wanita itu sungguh kecewa dengan apa yang terjadi baru saja. Pertemuan dengan lima orang yang telah berkhianat dan memilih membuka mulut pada Andika, cukup membuat kepercayaan diri Amira terpukul mundur.


Dipandanginya wajah sang Ibu yang sudah mulai menampakkan keriput halus, Amira mendesah. Apa yang Asih katakan memang benar. Tak seharusnya dirinya bersikap egois tanpa memikirkan konsekuensi si masa depan.


Inilah hasil yang Amira tuai dari perbuatan nekatnya. Amira terbuang karena caranya mendapat Andika sangat salah.


Dengan gerakan pelan sebab tak ingin membangunkan sang ibu, Amira bangkit dan segera menuju ke arah ruang tamu. Belakangan, insomnia wanita itu kambuh tanpa bisa dicegah. Mungkin sebab stress, bisa jadi juga sebab Amira terlalu lelah bekerja.


Lama Amira berkutat dengan laptopnya, Asih muncul dari arah kamar dengan langkahnya yang sudah tidak normal. Kaki sebelah kiri pernah mengalami cedera, hingga membuatnya berjalan pincang, terkadang juga menggunakan kursi roda.

__ADS_1


"Kamu kenapa nggak tidur, Mira?" tanya Asih mendekati Amira.


"Nggak apa-apa, Bu. Mira nggak bisa tidur aja," jawab Amira kemudian. Wanita itu tersenyum, berusaha menutupi raut wajah sedihnya.


"Sebaiknya Ibu tidur saja. Amira sedang menyelesaikan pekerjaan. Nanti Mira nyusul kalau udah ngantuk," sambung Amira.


"Tadi suami kamu sebelum pulang, memberikan ibu sebuah amplop berisi uang. Entah berapa tepatnya, tapi sepertinya jumlahnya sangat banyak," ungkap Asih, seraya mendudukkan tubuhnya pada kursi di sebelah Amira.


Seketika gerakan Amira terhenti mendengar ungkapan ibunya seraya berkata, "dan ibu menerima?"


"Mau bagaimana lagi? Ibu sudah berusaha menolak, tapi suami kamu bersikeras untuk memaksa ibu agar menerima pemberian darinya. Dia bilang kalau kamu masih istrinya, jadi hak dia mau memberi ibu sedikit rejekinya," jawab Asih apa adanya.


"Oh, ya sudah. Nggak masalah," jawab Amira.


Asih menatap wajah Amira cukup lama. Ada banyak tanya yang ingin Asih ucapkan, tetapi sulit rasanya. Takut jika Amira tidak suka.


"Mira, boleh Ibu tanya sesuatu?" tanya Asih akhirnya memberanikan diri.


"Boleh, Bu. Mau tanya apa?" tanya Amira, menyudahi kegiatan menulisnya, dan mematikan laptopnya. Fokusnya adalah menatap sang ibu.


"Kemana suamimu membawa kamu pergi tadi sore sampai malam?" tanya Asih.


Amira tampak diam, menimbang-nimbang harus menjawab jujur atau tidak. Jelas saja ia tak ingin membuat sang Ibu kepikiran karenanya.


"Ke sebuah restoran mewah, Bu. Itu loh, di dekat perbatasan kota. Katanya cuma sekadar ingin makan malam bersama," dusta Amira kemudian.


"Hanya makan malam?" tanya Asih, menatap lekat sang putri yang tampak sedikit gugup.


"Ya. Kami juga membahas tentang rencana perpisahan kami nanti," ungkap Amira kemudian.


Asih mengangguk paham, "dan kamu memintanya untuk kembali pada istrinya?" tanya Asih.


Amira mengangguk seraya menjawab, "ya. Seharusnya memang begitu, Bu. Tapi, Amira tetap bersikukuh untuk merawat anak Amira sendiri, Bu. Amira tidak akan rela kalau istri pertamanya yang merawat anak Amira. Istri pertama mas Andika wanita baik, tapi Amira tidak bisa percaya begitu saja," ujarnya.

__ADS_1


"Bu, jika boleh Amira berkata, Amira menyesal sudah merebut suami orang," tangis Amira pecah. Kesedihan yang ia pendam semenjak di restoran tadi bersama Andika, cukup membuat kepercayaan diri Amira terguncang.


**


__ADS_2