Cinta Mantan Suami

Cinta Mantan Suami
37. Kabar Amira.


__ADS_3

Ardian menatap Andika dengan tatapan datar, demikian pula dengan Andika yang juga menatap Dian dengan tatapan datar. Kedua lelaki itu saling melempar kode penuh peringatan, meski raut wajah mereka tampak biasa saja.


Bahkan hawa dingin hujan, tak lebih dingin dari aura yang menguar dari dua lelaki yang terlibat perseteruan diam-diam itu.


Wita tidak mengerti, bagaimana cara berpikir Andika. Jika Dian, bahkan Wita tahu Dian tak berusaha menyingkirkan keberadaan Andika, justru dia menyuarakan pendapatnya agar Wita memikirkan Kelan. Tetapi dengan Andika? Gelagatnya terlihat jelas jika Andika tidak menyukai Dian.


Deswita hanya menggembalakan napas lelah. Makan malam yang seharusnya penuh kehangatan, kini berubah menjadi tak nyaman.


"Ada apa, mas? Kamu mau ketemu Kelan? Kamu bisa langsung ke kamar kalau begitu," ungkap Wita, mengisyaratkan pada Andika agar ia menuju ke kamar Kelan segera.


"Hujan lebat, kamu berduaan dengan lelaki yang bukan suami kamu. Bagaimana menurutmu, Wita? Apa ini benar?" tanya Andika, membuat mata Wita menyipit karena heran. Ada apa dengan Andika sebenarnya?


"Apa maksud kamu?" tanya Wita. Wita paham sekali, jika mantan suaminya itu tengah mengkritik pedas keberadaan Ardian dan dirinya di dalam rumah, dalam keadaan hujan deras di malam ini.


"Saya tidak akan mengulang pertanyaan yang sama kali ini, Deswita Adriana!" tegas Andika kemudian. Kilat matanya yang tadinya datar, kini mendadak jadi lebih tajam dan penuh amarah.


Untuk sepersekian detik, Wita hanya diam tanpa berniat menjawab. Dalam hati mencibir, betapa Andika sangat bodoh dengan menampakkan kemarahan yang tak penting.


"Ketahuilah, tuan Andika yang terhormat. Menurutku ini benar, sebab aku nggak berada di dalam ruangan tertutup dan hanya berdua. Di dalam kamar ada Kelan, dengan pintu sedikit terbuka. Pintu rumah bagian depan juga terbuka lebar. Apa yang salah? Aku rasa nggak ada yang salah disini, tapi otak kamu yang mulai salah arah!" tegas Wita dengan berani.


"Dan satu lagi, aku bukan pezinah!" sindirnya tepat pada Andika.


Andika tercengang mendapati keberanian sang mantan istri. Tentu saja Wita semakin hari semakin berani menentangnya. Dulu ia pikir, Wita sangatlah manis dan penuh kelembutan.

__ADS_1


Jangankan Andika, bahkan Ardian pun seolah menghentikan napas akibat syok.


"Benarkah ini Wita?"


Batin Dian berteriak lantang.


"Kamu? Kamu mau apa kesini? Kalau mau ketemu Kelan, dia ada di dalam kamar. Sebentar lagi aku, Kelan dan atasanku ini mau makan malam. Kami nggak keberatan kalau kamu mau gabung," ungkap Wita dengan tenang.


Ini seperti menguliti harga diri Andika dengan sangat kejam. Tak mungkin Andika akan mau saja menunggui acara makan malam sepasang lelaki dan perempuan, yang tengah melakukan pendekatan. Tetapi meninggalkan Wita lebih dekat dengan lelaki lain, hati Andika tidak terima.


"Baik, saya akan gabung," ungkap Andika tanpa rasa bersalah, mengabaikan egonya yang setinggi langit hanya karena seorang Deswita Adriana.


Alih-alih marah dan merasa terganggu akibat datangnya Andika, Ardian justru merasa senang dengan situasi ini. Pikir pria itu, dengan begini ia bisa mempermainkan perasaan Andika. Lihat saja, cinta terkadang membuat seseorang berubah menjadi lebih bodoh tanpa ia sadari.


**


Amira merasakan hatinya berdenyut sakit, ketika teringat akan wajah mungil putrinya. Memang, Andika, si mantan suami tak pernah membatasi kunjungannya pada sang putri, tetapi sebagai seorang ibu, tak mungkin Amira tidak pedih merasa dipisahkan dari sang anak.


Harta memang penggerak utama dalam berbagai keinginan. Setiap keinginan, akan dipuaskan segera jika seseorang memiliki banyak harta, seakan-akan harta adalah barometer dari kebahagiaan seseorang. Ketika Amira tak memiliki apapun yang ternilai, maka saat itu dirinya hanya akan menjadi pihak yang kalah sekalah-kalahnya.


Menjadi perebut suami orang, menghalalkan segala cara demi ego, mengabaikan nurani dan membuat seorang ibu dan anak harus menanggung akibat dari dosa Amira, kurang jahat apa lagi?


Hinaan, cercaan, makian, kebencian dan sebagainya yang Amira terima, sepertinya itu tetap tak akan cukup untuk membayar dosanya. Amira kalah. Amira terluka. Amira berada di titik paling rendah.

__ADS_1


"Mira?" sapa sang ibunya, Asih yang kini baru saja masuk ke dalam kamar. Wanita itu lebih sehat setelah Mira mengurusnya dengan baik selama dua bulan terakhir. Tak hanya itu, bahkan kursi roda yang menopang tubuhnya, kini ia simpan dengan baik.


"Iya, Bu," jawab Amira, menatap Ibunya dengan raut wajah bahagia. Jauh di lubuk hati wanita itu, ada sebongkah luka yang coba Amira sembunyikan dari siapapun.


"Mikirin Mikha?" tanya Asih dengan tersenyum. Wanita itu lantas duduk di kursi meja rias, menatap Amira yang tengah duduk di tepi ranjang.


"Iya, Bu. Mira kangen. Tapi ya mau gimana lagi? Kita nggak punya kekuatan untuk membuat Mira tinggal dengan kita sepenuhnya. Maafkan Amira ya, Bu?" ungkap Amira dengan mata berkaca-kaca.


"Nggak apa-apa, jangan sedih. Ini mungkin sudah bagian dari takdir. Tadi ayahmu menelepon, beliau ingin kita ke kampung lagi," ungkap Asih dengan tak berdaya.


Kurang lebih tiga bulan lalu, Asih sudah menemui Ruslan dan Asmah. Wanita paruh baya itu mempertemukan Amira dengan sosok Ayah kandungnya. Tidak lama, hanya sekitar satu jam mereka bertemu dan berniat menjalin komunikasi lagi.


Beribu ujaran maaf dari Asih disertai dengan alasan Asih pergi, tentu ia tujukan untuk Ruslan.


"Untuk apa, Bu?" tanya Amira, tak begitu peduli dengan masalah ayah yang selama ini tak pernah bertemu dengannya. Fokus Amira hanya pada Mikha, yang tentunya perpisahannya dengan Mikha cukup mengguncangnya.


"Kata ayahmu, dia ingin kamu bertemu dengan kakakmu. Jangan khawatir, dulu dia anak yang sangat baik. Dulu, kamu sering memanggilnya Kak Tata. Dia sering sekali merengek pada ayahmu, bahwa ia ingin bermain di pantai bersama kamu," ungkap Asih. Mata wanita itu menatap langit-langit ruangan penuh nostalgia.


"Atur saja gimana baiknya. Amira terlalu lelah. Di jauhkan dari Mikha cukup membuat aku nggak tenang, Bu," ungkap Amira.


"Ibu percaya kamu kuat, Mira. Jangan mudah menyerah. Semua akan baik-baik saja, Tuhan sudah mengatur itu semua," asih mencoba untuk menenangkan.


"Amira hanya berpikir, Bu, mungkin ini adalah konsekuensi dari sikap Amira, yang membuat istri pertama badan anak mas Andika yang lain menderita. Amira sadar Amira bersalah," sahut Amira dengan sedihnya.

__ADS_1


Malam ini, Amira benar-benar merasakan luka hatinya.


**


__ADS_2