Cinta Masa Sekolah

Cinta Masa Sekolah
pingsan!


__ADS_3

"HYO... Hyori...?" gumam Kazuma.


Kazuma... apa yang akan kau lakukan sekarang...?


Kazuma masih tetap terdiam memandangi sosok Hyori yang sedang dikerubungi 3 laki-laki itu. jantungku berdetak amat kencang. dari satu sisi, aku ingin menolong Hyori karena aku tahu apa rasanya berada di posisinya sekarang ini. tapi di sisi lain, aku tidak mau Kazuma menolongnya. karena aku tahu, kalau Kazuma pergi kepadanya, dia takkan kembali lagi kesisiku.


perasaan sakit yang sudah hilang kembali lagi mengecamku. begitu perih, begitu sakit... ternyata selama ini, luka perih ini masih terkubur di hatiku. dan sekarang dia mencuat lagi ke permukaan. bagaimana ini? kumohon, biarkan aku mempercayai Kazuma. kumohon, jangan siksa aku begini. aku tahu ini keegoisanku untuk menahannya di sisiku, tapi aku mencintai Kazuma lebih daripada Hyori mencintai Kazuma, aku tahu pasti itu. kumohon, biarkan Kazuma di sisiku... jangan siksa aku dengan perasaan ini lagi!


"Kyaaaaaa!!!!!" teriak Hyori, lalu dia berlari dan ke 3 pria itu mengejarnya. Kazuma menggeram, dan tubuhnya menegang.


"deg deg deg" jantungku berpacu amat kencang.


Kazuma mulai berjongkok bermaksud untuk menurunkanku.


"deg deg deg"


Kazuma menurunkanku dan mendudukkanku di tanah di samping tiang listrik.


"deg deg deg"


"aku harus pergi" kata Kazuma. matanya tidak melihatku, dia masih mengarahkan pandangannya ke arah dimana Hyori berlari.


"DEG DEG DEG"


Kazuma berdiri bersiap untuk lari, tapi aku menangkap tangannya. "jangan pergi..." kataku. aku tahu aku egois, tapi aku tak bisa melepasmu begitu saja. kumohon Kazuma, jangan pergi... jangan tinggalkan aku...


"DEG DEG DEG DEG"


"lepaskan aku Asuka, aku harus pergi menolongnya." kata Kazuma.


ya, aku tahu. aku tahu pasti bahwa Hyori memang amat membutuhkan bantuan saat ini. tapi bukan itu masalahnya. aku sama sekali tidak peduli kalau kau menolongnya, aku sama sekali tidak keberatan. tapi bisakah kau menolong dia dengan dirimu yang tidak mencintainya? aku takkan keberatan kalau kau menolong perempuan yang kau sama sekali tak punya perasaan khusus terhadapnya. tapi ini Hyori. aku tahu, ah bukan, aku berusaha menutup mataku akan kebenaran bahwa jauh di dalam hati kecilmu, kau masih mencintai dia. jadi aku tidak rela membiarkanmu menolongnya. maafkan kecemburuanku, dan keegoisanku, Kazuma. tapi aku tidak bisa menahan ego-ku. maafkan aku.


"DEG! DEG! DEG!"


"jangan pergi... kumohon, jangan pergi..."


"DEG! DEG! DEG!"


"kakimu sudah kuobati bukan? pasti kau sudah bisa berjalan sendiri! hei Asuka, aku serius, lepaskan aku."


"DEG! DEG! DEG! DEG! DEG!"


"apa... apa kau mencintaiku...?" tanyaku kepadanya. saat itu, gerimis mulai turun membasahi rambutku. seakan langit juga ikut menangis merasakan kepedihanku.


"DEG! DEG! DEG! DEG! DEG!"


"........" Kazuma diam saja sambil menatapku.


"DEG DEG DEG DEG DEG!!"


Tolong, bilang saja kau mencintaiku, berbohong-pun tak apa, katakan kau mencintaiku dan aku akan membiarkanmu menolongnya. tolong...


"aku... ma- maafkan aku...." kata Kazuma sambil menarik tangannya dari genggamanku, dan berlari ke arah Hyori.


"deg... deg.... deg.... deg....." begitu Kazuma berlari meninggalkanku, badanku langsung terkulai lemas tersandar di tembok. tubuh ini tak bisa bergerak, terlalu lemas- terlalu perih untuk dapat bergerak. detak jantungku-pun mereda beriringan dengan jatuhnya rintik2 hujan di wajahku. pandanganku kabur terhalang oleh air mata yang satu per satu mulai membasahi pipiku. kenapa air mata ini keluar? padahal aku sama sekali tidak bermaksud untuk menangis. begitu perih-kah hingga air mata ini keluar tanpa menunggu perintah dariku?


kenangan bersama Kazuma, sekejap melintas di depan mataku.


"JANGAN LIHAT YANG LAIN SAAT KAU BERSAMAKU! SAAT AKU BERSAMAMU, JANGAN berani-beraniNYA KAU BERDEKATAN DENGAN YANG LAIN! SAMPAI KULIHAT KAU SEPERTI KEMARIN LAGI, siap-siap SAJA UNTUK MATI!" pembohong.......


"aku terus menunggumu... menunggumu sampai aku hampir gila. menunggumu dan berharap suatu hari kau akan masuk melalui pintu kamarku... aku selalu menungu..." pembohong... pembohong....


"kuingatkan, namanya "Asuka" bukan "cewek ini." dia adalah pacarku, dan tentu saja dia jauh lebih penting dari acara sampah yang kau anggap penting itu." pembohong...... pembohong..... pembohong..........


"ya tentu saja karena kau pacarku! dan kau adalah milikku yang harus kulindungi dan kujaga baik-baik, dasar bodoh!" PEMBOHONG!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!


dasar Kazuma pembohong!! bisa-bisanya kau berkata padaku begitu, padahal hatimu mencintai Hyori. berarti, selama ini, kata-kata yang kau keluarkan itu semua untuk Hyori? dan berarti, selama ini aku hanya penggantinya dan tidak lebih?


apa gunanya selama ini aku tulus mencintaimu? kenapa kau mempermainkan ketulusanku dan membuatku terikat padamu? tidak bisakah kau rasakan ketulusanku?


apakah ini balasan dari dosaku karena telah menyangkalmu dulu? tetapi bagaimana kau bisa begini kejam? padahal setelah kejadian itu, mataku selalu terpaku kepadamu dan sama sekali tidak pernah melihat ke arah lain.ternyata ini bukan hanya kecurigaanku, semuanya terbukti.


luka yang begitu perih muncul lagi seiring terbukanya mataku yang selama ini menyangkal kenyataan yang ada. tapi ini keterlaluan... terlalu perih... terlalu sakit..... kumohon, tolong aku... kumohon... kumohon....."Huwaaaaa...." tangisku, aku sudah tak dapat lagi menahan perasaan sedih ini.


"HUWAAAAAAA!!!!"


aku menangis malam itu diiringi hujan besar yang ikut merasakan kepedihanku.


* * *


.....? dimana aku...? ukh, kepalaku sakit sekali....


"Asuka...? kau sudah bangun?" tanya Emi.


"huh..? Emi?" tanyaku.


"Asuka!! huhuhu!! Asukaaa!!!" kata Emi sambil memelukku.

__ADS_1


"hei... kenapa sih kamu?" aku mau meneriaki Emi karena kelakuan anehnya itu, tapi terlalu lemas untuk kulakukan.


"ibumu menemukanmu pingsan di jalan kemarin, kehujanan, dan masih memakai gaun pesta. sebenarnya apa yang terjadi?!"


huh...? pingsan di jalan...?


"NYUUUUUT" hatiku begitu sakit saat aku dapat mengingat kembali. benar juga, kemarin aku menangis di jalan dan hujan turun deras sekali. tapi setelah itu aku tidak ingat apa-apa, pasti aku pingsan setelah itu. Kazuma.....


"Asuka!! apa yang terjadi??!" teriak Emi sambil mengguncang2 tubuhku.


"huh...?"


"apa yang terjadi Asuka?? jawab aku..." Emi menangis... selalu saja aku membuatnya terluka, maafkan aku Emi...


aku merebahkan badanku kembali ke kasurku, dan menutup mataku dengan lenganku. cairan panas mulai mengalir dari mataku dan membasahi tangan serta pipiku.


"aku tidak tahu..." jawabku.


"hiks... Asuka...."


"......"


"pasti Kazuma bukan?! kenapa dia selalu membuatmu terluka begini?!" teriak Emi


"ini bukan salahnya Emi...."


"tidak, ini salahnya kau jadi begini."


"........" aku diam saja berusaha menahan air mataku yang menetes setiap kali aku mengingat Kazuma.


"aku akan membuat perhitungan padanya!" kata Emi. dia berdiri bersiap untuk pergi.


"jangan!" teriakku sambil menangkap tangan Emi.


akh... kepalaku sakit sekali... aku melepas tangan Emi dan kembali tidur saking sakitnya.


"Asuka?! kau tidak apa-apa?!" teriak Emi sambil memegang tanganku.


"iya... tak apa, hanya sedikit pusing kok."


".. maafkan aku......"


"sudahlah, hei, berjanjilah padaku."


"berjanji apa?"


"kalau itu...."


"berjanjilah..."


"hhh... baiklah. tapi ingat, aku melakukan ini karena aku menurutimu, bukan karena aku takut pada Kazuma."


"iya... hei, ngomong-ngomong, apa Yusuke tahu keadaanku saat ini?"


"Yusuke? tidak tuh. aku langsung kesini begitu aku mendengar kabarmu."


"kalau begitu, jangan beritahu."


"huh? kenapa?"


"nanti... nanti Kazuma juga bisa tahu... aku tak mau bertemu Kazuma saat ini."


"......"


aku menceritakan semua yang terjadi kepada Emi. dan sedikit banyak, aku menjadi lega karena tak perlu menyimpannya sendirian. Emi menangis, namun dia menyimak setiap kata yang keluar dari mulutku. dia memang sahabatku yang paling baik, dan dia yang paling mengerti aku. aku beruntung mempunyai sahabat sebaik Emi. dan tanpa kusadari, aku tertidur setelah bercerita kepadanya...


* * *


"kak... kakak... bangunlah dan minum obat ini." kata adikku sambil mengguncang2 tubuhku.


aku mengerang, " huh...?"


"ini... obat dari ibu... minumlah."


aku mengangkat tubuhku dan berhenti dalam posisi duduk. aku menerima obat yang dibawakan adikku dan meneguknya dengan air.


"ini... terimakasih ya." kataku sambil menyerahkan gelas kosong ke adikku.


"dasar bego... bagaimana bisa kau jatuh sakit begini.." komentarnya. lihat saja kalau aku sudah sembuh, akan kujambak rambutmu dik.


"brisik ah.."


"cepat sembuh bego..." katanya sambil keluar dari kamarku. walau mulutnya tajam, tapi maksudnya baik. apakah akhir2 ini semua orang seperti itu?


"cklek" adikku membuka pintu kamarku lagi dan mengintip dari sana.


"ngapain sih ngintip begitu..?" tanyaku.

__ADS_1


"tadi ada yang mencarimu." katanya


"siapa?"


"aku tidak tahu. cowok, rambutnya disepuh emas."


"......"


"tadi dia datang dan bersikeras masuk. tapi kubilang kau tidur, dan dia akhirnya menyerah, lalu pulang."


"....."


setelah berkata begitu, adikku menutup pintu. tak lama setelah itu, dia membuka pintu dan mengintip lagi.


"apa lagi...?"


"jangan lupa..."


"apa?"


"kau masih hutang padaku."


"iya... iya aku tahu..."


"cepatlah sembuh... dengan begitu hutangmu kuanggap lunas." kata adikku lalu menutup pintu.


huh, dasar adik sialan... bisa juga dia berkata semanis itu... HIHIHIHI akan kuingat untuk bersikap baik padanya disaat aku sembuh nanti.


akh... kepalaku sakit sekali... huh, mana aku keringatan terus lagi... pasti aku sedang demam sekarang... tapi ini tidak sakit, sama sekali tidak sakit dibandingkan dengan hatiku. andai saja hati yang sakit bisa disembuhkan dengan obat, pasti akan bagus sekali.


jadi... apa yang harus kulakukan sekarang? apa yang harus kulakukan bila bertemu Kazuma sekarang? ah... pertama2 aku harus merelakan dia dulu dan putus secara baik-baik. aku tidak mau menjadi penghalang baginya.


.........


tidak, sebenarnya bukan itu alasannya. bukan "aku tidak mau menjadi penghalang" alasannya. alasan sebenarnya adalah karena ke-pengecutanku. aku terlalu takut untuk disakiti lagi oleh Kazuma, mungkin itu alasannya. hanya saja aku berusaha menutupinya. lagipula, Kazuma tidak mencintaiku... apa lagi gunanya semua ini...


"ANGKAAAT!!!! ANGKATT!! ANGKAT TELEPONNYAA!!!!" HPku berbunyi. dimana HPku itu berada? ah, itu dia diatas meja belajar. ukh, terlalu jauh dari jangkauanku, malas ah mengambilnya. lagipula kepalaku sakit sekali.


akhirnya Hp-ku berhenti berdering. tapi tak lama setelah itu, Hp-ku berdering lagi. "ANGKAAAAT!!!! ANGKATT!!! ANGKAT TELEPONNYA!!!!!" mengesalkan sekali... siapa sih? palingan Emi, sudahlah biarkan saja.


aku memang membiarkan Hp-ku, tapi HPku terus berdering, lama2 aku jadi pusing juga! terpaksa, aku turun dari kasur dan mengambil Hp-ku. begitu aku menginjakkan kaki di tanah dan mencoba berdiri, kepalaku sakitnya bukan main. sepertinya aku sakit parah juga nih... baru kali ini aku sakit sampai begini.


aku mengambil Hp-ku lalu menjawabnya lemas, " ya... halo...."


"hei ingus! kenapa lama sekali mengangkatnya?!" KAZUMA?! spontan, aku langsung menutup teleponnya.


kenapa Kazuma menelponku?! ukh, aku belum siap untuk berbicara kepadanya!


"ANGKAT!!!!! ANGKAAT!!!! ANGKAT TELEPONNYA..." Aku langsung mencabut baterai dari Hp-ku dan membantingnya ke kasur.


napasku tersengal2 saking gugupnya. tak kuduga Kazuma menelponku. dan lagi, dia menyebutku "ingus" seperti tidak terjadi apa-apa. sebenarnya apa yang dipikirkannya!?


"Asukaa!! hei, aku tahu kau mendengarku!! hei keluarlah! aku mau bicara sebentar!!" teriak seseorang dari depan rumahku.


aku mengintip dari jendela. dan benar saja, itu Kazuma! bagaimana bisa dia berada disitu?! dan lagi, apa yang mau dibicarakannya?!


"hei! biarkan aku bicara denganmu! keluarlah sebentar!!" mendengar suara Kazuma saja, hatiku sudah melonjak senang begini..? apakah aku benar-benar tak dapat melupakannya?


"hei!! aku tahu kau mendengarku!! biarkan aku bicara padamu!! hei!!"


maaf... maafkan aku Kazuma... aku tidak dapat menemuimu sekarang... bukan sekarang saja, mungkin nanti juga, aku tidak sanggup melihat wajahmu.


"hei!! keluarlah!! ma- maafkan aku!!!"


Kazuma meminta maaf? orang berharga diri setinggi Kazuma rela teriak-teriak meminta maaf padaku..? tidak, jangan Asuka. ingat, kau hanya penghalang baginya dengan terus mencintainya. kau harus melepaskan Kazuma agar dia bisa bahagia. ya, aku harus melepaskannya.


"Asuka!!!!! biarkan aku bicara padamu..."


"hei! jangan teriak-teriak! ini sudah malam! kami butuh tidur bocah! dasar anak sinting!" teriak seseorang dari rumah sebelah karena terganggu oleh teriakan Kazuma.


"sebaiknya kau yang berhenti teriak-teriak dasar botak. sebelum aku menonjok wajahmu." kata Kazuma kepada orang itu. sepertinya orang itu mengerti bahwa bisa bahaya kalau membuat Kazuma lebih marah lagi, sehingga dia membiarkan Kazuma.


kenapa semua orang selalu bersikap begitu terhadapnya? huh, Kazuma... kau benar-benar...


"Asuka! ayolah, biar aku bicara denganmu!! sebentar juga tidak apa-apa!!" teriak Kazuma lagi. perih... terlalu perih mendengarnya...


"hei, setidaknya biarkan aku melihat wajahmu! sebentar juga tidak apa-apa" kepalaku makin sakit... aku berjalan menuju kasurku dan membenamkan wajahku disana. dan aku menutup telingaku dengan bantal, berharap aku dapat meredam suaranya.


"biarkan aku melihat wajahmu! hei, Asuka! biarkan aku melihat wajahmu dan biarkan aku tahu kau baik-baik saja!"


tolong... jangan biarkan aku masuk ke perangkapmu lagi... biarkan aku pergi...


"begitu aku melihatmu, aku akan berhenti! aku berjanji! hei, aku akan menunggumu disini sampai kau mau menunjukkan wajahmu padaku!"


pergilah... pergilah... jangan biarkan aku jatuh lebih dalam lagi dalam mimpi yang dipenuhi oleh dirimu...


"aku akan menunggumu!" teriakanya.

__ADS_1


__ADS_2