
"Jangan sedih ya Dil, mungkin ini sudah jalan bagi Allah agar kamu bisa lebih kuat untuk menjalani hidupmu sendiri, jika bersama nenek mungkin kamu akan sangat di manjakannya."
"Iya thank ya udah jadi sahabat terbaikku."
"Oke" Jawab Dila sembari mengacungkan jempolnya.
Di mobil tadi Vikri hampir saja mengamuk, traumanya kambuh karena mendengar nama Dila. untung sopirnya cepat menenangkan Vikri. Selama ini Vikri tidak di ijinkan nyetir mobil sendiri, takut traumanya tiba-tiba kambuh.
"Gila ya itu cewek bisa kenal aku udah gitu ngakunya Dila lagi. Dila itu cantik, langsing gak kayak cewek yang tadi yang besarnya kayak badak."
"Sabar bos... mungkin dia hanya sembarang nyebut nama bos dan mungkin namanya memang Dila, tapi bukan Dila yang bos maksud itu, lagian mana mungkin Dila ada di negara ini."
"Benar juga."
Vikri kuliah di negara yang sama dengan Dila, tapi mereka beda kampus. sebenarnya setiap hari Vikri pergi ke kampus memang melewati kontrakan Dila. Sering mereka berpapasan di jalan namun tidak saling kenal.
Hari berikutnya Dila jalan kaki ke rumah Melly, sepeda Dila belum di servis. Ban sepeda Dila bocor. Dila berangkat dari kontrakannya setelah sholat subuh.
Setelah sekian bulan kerja di rumah Melly, Melly mulai percaya pada Dila dan kini Dila di kasih kunci cadangan rumah tersebut. Sesampai Dila di rumah Melly, Dila langsung membuka pintu rumah dan langsung bekerja seperti biasanya.
Dila sekarang lebih sering sarapan di rumah Melly, Melly sangat kasihan pada Dila, kadang untuk makan siang Melly memberikan Dila untuk di bawa Dila pulang ke kontrakannya.
"Tante pekerjaan Dila sudah selesai, Dila pulang dulu ya. Assalamualaikum." pamit Dila pagi itu ketika Melly sedang asyik melihat tanaman bunga di depan rumahnya.
"Iya Dil, Waalaikumsalam."
"Dila..." Panggil Melly ketika Dila melangkahkan kakinya ke jalan raya.
"Iya Tante."
"Kamu jalan kaki ya, kenapa gak pakai sepeda?" Tanya Melly sambil melihat - lihat sekeliling Dila untuk mencari keberadaan sepeda Dila.
"Iya Tante, emmm... sepeda Dila lagi bocor ban nya, Dila belum sempat mengganti ban sepeda Dila, mungkin nanti pulang kuliah Dila pergi ke bengkel sepeda."
"Oh gitu ya."
"Iya Tante, Dila permisi dulu Tante, takut telat kayak kemarin kuliahnya."
"Iya hati - hati ya di jalan."
"Baik Tante, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Dila melangkahkan kakinya untuk pergi dari rumah Melly.
"Kasihan kamu Dil, malang sekali nasibmu, tapi kamu begitu Rajin dan gigih dalam berusaha." Batin Melly menatap kepergian Dila.
Dila berjalan agak buru-buru, Dila sama sekali tidak peduli dengan lelah yang ia rasakan.
"Eh Jon, itu bukannya cewek yang kemarin ya, maksud aku badak yang bertemu kita kemarin?" tanya Vikri pada Jon sopirnya.
__ADS_1
"Iya bos."
"Pas dekat dia stop sebentar ya mobilnya."
"Emang bos mau ngapain?"
"Stop aja."
"Hai gajah jalan kaki ya hari ini, pasti sepeda yang kemarin tak mau lagi nampung badan yang kayak kamu itu." Teriak Vikri dari mobilnya. Dila hanya menoleh dan terus melanjutkan jalannya.
"Ini kenapa ya bisa bertemu dengan orang itu lagi." batin Dila.
Mobil Vikri kini melaju lagi.
"Waduh bos ini, bisa-bisa nanti dia jatuh cinta pada tu cewek, ngeri deh kalau hal itu terjadi." Joni berbicara dalam hati.
****
"Rin, ada nomor telepon Dila gak?" tanya Naufal pada Karin.
"Gak ada ponsel Dila ketinggalan jadi kami gak pernah komunikasi."
"Aneh ya, kok ponsel Dila bisa ketinggalan, dan lagi kok sampai sekarang mereka tidak saling komunikasi, ini aneh, benar -benar aneh." batin Naufal
"Woiii... kok melamun gitu." bentak Karin.
"eng...enggak kok, aku ke kelas dulu."
"Sesekali kek nanyain nomor ponselku, ini malah nomor ponsel Dila terus yang di tanyain." Karin berkata dalam hati.
"Woi.... kenapa melamun?" Linda datang menepuk pundak Karin.
"Eh... kamu ini ngagetin aja."
"Makanya jangan suka melamun." ucap Linda.
"Suka-suka akulah, emangnya melamun di bayar apa?"
"Ya gak di bayar, tapi kalau keseringan melamun ntar kesambet cewek baju putih rambut panjang yang ketawanya hi.. hi.... hi.."
"Yah... Lin, kamu cocok deh jadi cewek itu, pas banget."
"Idih... amit-amit deh."
"Tina mana Lin?"
"Ah biasa... pacaran. makanya jangan jomblo terus, biar gak melamun melulu."
"Gimana gak jomblo orang yang aku cintai tidak mencintaiku."
__ADS_1
"Waduh... waduh... waduh... bucin banget sih sama Naufal nya.?"
"Gimana dong caranya biara Naufal bisa klepek - klepek sama aku?"
"Ke dukun aja, kamu pelet dia.. ha... ha... ha.."
"Idiihh... ini orang ya, makin hari makin dekat dengan setan." ucap Karin sembari mencubit pinggang Linda.
"Habis kamu sih gak bisa move on gitu, cari cowok lain kek."
"Gak bisa move on sih gak bisa move on, tapi gak pake ke dukun segala kali."
"Nah... makanya cari cowok lainlah yang sehati dengan kamu, ini malah ngincar cowok yang gak ada hati sama sekali." Linda mengerucutkan bibirnya.
"woiii mana ada manusia yang gak ada hati, kamu ini aneh-aneh deh."
"Ya... maksud aku si Naufal itu kan gak ada perasaannya sama kamu." Suara Linda mulai keras. Karin langsung menutup mulut Linda.
"Huk... huk... huk .. busyet Rin tanganmu bau banget, kamu habis makan apa sih? ucap Linda sambil mengibaskan tangannya di depan hidungnya.
"Aku belum makan Lin, tapi aku habis buang air besar." Karin berbohong pada Linda.
"Waek....waek ... kamu jorok banget ya Rin."
"Makanya kalau ngomong itu pelan jangan teriak - teriak gitu, kalau Naufal dengar kan malu aku."
" Kamu sih mencintai orang yang sudah jelas-jelas gak ada perasaan sama kamu."
"Itu kan sekarang, siapa tahu setelah ini Naufal akan mengungkapkan perasaan cintanya padaku."
"Menghayal terus, biar sampai nenek kamu menunggu si Naufal."
"Biarin dari pada aku nungguin kamu."
"Ya elah Rin, aku mah gak Sudi di tunggu sama orang sebucin kamu, gak level tau. aku maunya di tungguin sama lelaki yang ganteng, pintar dan___"
"Dan pemabuk kayak Linda Wulandari." Karin langsung memotong pembicaraan Linda.
"Yee... kayak dianya gak suka mabuk -mabuk aja, coba kalau bukan Linda Wulandari yang nyelamatin kamu waktu itu, pasti kamu sudah di hajar sama ayah dan ibumu."
"Itu kan kamu dan Tina yang ngajarin aku mabuk, coba kalau aku gak kenal kalian, mungkin aku gak akan kenal alkohol juga kan?"
"Oh... jadi mau nyalahin aku dan Tina nih ceritanya?" Linda mendongakkan kepalanya menatap Karin dengan perasaan kesal.
"Yeee... pakai emosi segala, santai aja kali Lin, aku cuma bercanda."
"Bercanda sih bercanda tapi___"
"Udah ah... ke kantin yuk."
__ADS_1
"Oke, kamu yang traktir."
"Udah tau kali... yang namanya Linda pasti mintanya di traktir."