
"Karin... ibu kan sudah ceritakan semuanya dan itu bukan maunya ibu."
"Iya itu bukan maunya ibu, tapi kenapa ibu tidak menceritakan semuanya dari awal, kenapa dulu ibu gak cerita pada ayah Bu?"
"Cerita apa nak?" tiba-tiba Adi sudah berada tak jauh dari mereka, betapa terkejutnya Rani.
"Gak mas, ini Karin ingin mama ceritakan semua yang terjadi di luar negeri waktu mama ke sana." Elak Rani.
"Emang apa yang terjadi di sana Bu?" tanya Adi.
"Nanti ibu ceritakan semuanya, ini apa sudah selesai urusan obat-obatan Karin mas?" Rani mengalihkan pembicaraan.
"Sudah ma, ayo kita pulang. Karin apa kamu sudah mampu jalan sendiri nak, kalau belum biar ayah gendong kamu." Adi menatap ke arah Karin.
"Karin mampu yah." Karin bangun dari tempatnya lalu mencoba melangkahkan kakinya. Hampir saja Karin terjatuh namun ayah dan ibunya dengan cepat menuntun Karin.
"Kita langsung pulang ke rumah aja ya mas." ajak Rani.
"Tapi ma, kita singgah sebentar aja ke kostnya Karin." pinta Karin.
"Kamu mau ngapain ke kost hah... mau ambil alkohol kah apa?" bentak Rani.
"Udah ma, jangan bentak Karin gitu, kita tegur baik-baik ma."
"Anak seperti dia memang harus di bentak. aku saja sudah setua ini tidak pernah minum alkohol seperti Karin."
"Udah ma... udah... Karin lagi sakit." ucap Adi.
Karin hanya nangis, bukan sedih karena di bentak ibunya, tapi Karin sedih karena melihat kasih sayang Adi yang luar biasa untuknya.
"Karin mau apa ke kost nak?" tanya Adi.
"Ambil barang-barang Karin yah."
"Ya udah kita singgah sebentar di sana."
Mereka menuju kost Karin. Setelah mengambil barang keperluan Karin mereka pulang ke rumah mereka.
__ADS_1
" Ma... apa yang terjadi di luar negeri sana? Dila kenapa ma?" Adi memulai percakapan memecah kesunyian di dalam mobil.
"Dila di sana senang-senang liburan sana sini, yah... mungkin Dila sudah terbiasa dengan pergaulan bebas, makanya Dila gak pulang liburan ke sini. kami pergi ke sama sekali tidak bertemu dengan Dila, kata pemilik kontrakan itu Dila sedang liburan."
"Apa... tapi Dila kan anak baik-baik ma."
"Iya anak baik-baik di sini, tapi di sana dia bebas." Adi tidak menjawab lagi, dia diam membisu merenungi nasib Dila.
"Apa... Dila masih bisa liburan? dari mana dia bisa dapat uang?" batin Karin.
Di perjalanan mereka tak ada lagi yang berbicara, mereka sudah fokus dengan pikiran masing-masing.
****
Liburan telah usai, kini saatnya semua mahasiswa kembali masuk kuliah.
Hari ini Dila kembali ke kontrakannya, banyak oleh-oleh yang di berikan Melly untuk Dila.
Sekarang Melly sangat menyayangi Dila, Melly sudah menganggap Dila seperti anaknya sendiri. Selama liburan gaji Dila di bayar dua kali lipat karena Dila bekerja dari pagi sampai sore bahkan kadang sampai malam.
Melly sangat sedih melepaskan Dila kembali ke kontrakannya, ingin Melly ngajak Dila tinggal di rumahnya, tapi suami Melly tidak mengijinkan, karena masih ragu dengan Dila.
"Iya Dila, kamu jaga diri baik-baik di sana."
"Iya Tante. assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Dila berlalu pergi.
Sampai di kontrakannya Dila membersihkan rumahnya itu, setelah selesai Dila pergi memperbaiki sepedanya. Kemudian Dila pergi ke rumah pemilik kontrakan tersebut.
Tok ... tok... tok...
"Assalamualaikum..." salam Dila.
"Waalaikumsalam, silahkan masuk." Dila dan pemilik kontrakan itu masuk ke dalam rumah.
"Pak, saya ke sini mau bayar kontrakan bulan ini."
__ADS_1
"Kontrakan kamu sudah di bayar nenekmu, beberapa hari yang lalu mereka ke sini, kontrakannya sudah di bayar selama satu tahun, dan nenekmu nitipkan sesuatu untukmu, sebentar saya ambilkan dulu." Pemilik kontrakan itu berlalu ke kamar untuk mengambil ponsel Dila. kemudian ia menyerahkan ponsel tersebut pada Dila.
"Ini... kata nenekmu ini ponsel, di situ ada nomor nenekmu dia minta kamu menghubunginya." pemilik kontrakan tersebut menyodorkan ponsel ke pada Dila.
"Terima kasih pak, kalau begitu saya permisi dulu, assalamualaikum." Dila berlalu keluar dari rumah tersebut, kemudian pulang ke rumahnya.
"Ternyata nenek ke sini, coba kalau aku gak nginap di rumah Tante Melly pasti aku bertemu dengan nenek, tapi seandainya aku bertemu nenek, pasti nenek tidak mengenali aku lagi. Nek.... aku sangat merindukanmu mu, semoga nenek baik-baik saja di sana." Dila berbaring menatap ponselnya.
Keesokan harinya Dila pergi ke kampus, niat Dila juga mau bayar uang kuliahnya, sesampai di sana Dila juga terkejut mendengar kalau uang kuliahnya sudah di bayar oleh neneknya.
"Jadi nenek sampai ke kampus, Nek maafin Dila gak bisa bertemu dengan nenek, Dila sangat merindukanmu nek, Dila sayang nenek."
Sepulang sekolah Dila pergi ke konter untuk membeli kartu, sesampai di rumah Dila langsung menghubungi neneknya, namun Dila tidak berani video call.
"Assalamualaikum,," salam Dila kala telepon telah tersambung dan diangkat Tini panggilannya.
"Waalaikumsalam..." jawab neneknya Dila di seberang telepon.
"Nek ini Dila, apa kabar nenek sekarang?"
"Baik sayang, Dila gimana kabarnya?"
"Terima kasih ya nek ponselnya, terimakasih juga karena nenek sudah membayar uang kuliah dan kontrakan Dila."
"Iya sayang kok berterima kasih, bukannya selama ini nenek terus yang bayarnya?"
"Iya.. ya nek, maaf ya nek, kemarin Dila gak bisa bertemu nenek, Dila sibuk dengan pekerjaan Dila." tanpa sadar Dila mengatakan dirinya bekerja.
"Kerja.... memang Dila kerja apa, bukannya Dila di sana kuliah, dan bukannya Dila kemarin itu lagi liburan?" Tanya neneknya Dila.
"Em... anu nek, mumpung libur, Dila coba-coba kerja di kantor dekat rumah teman Dila, jadi Dila nginap di rumah temannya Dila, mereka baik kok nek."
"Kerja... di kantor... emang kerja apa sih Dil, kenapa mesti bekerja, memang uang yang nenek transfer selama ini gak cukup?"
"Anu... nek, sebenarnya selama ini ATM Dila hilang bersama buku tabungan, mungkin tercecer waktu Dila berangkat ke sini."
"Hilang... lalu selama ini kamu bayar uang kuliah dan kontrakanmu pakai apa Dil?"
__ADS_1
"Waktu pertama sampai sini Dila ada sedikit sisa uang Hasil jual desain Dila, itu yang dila gunakan dan Dila mencoba mencari pekerjaan di sini, Alhamdulillah semuanya lancar, walaupun pun gajinya pas-pasan buat makan dan uang kuliahnya Dila, ingin Dila menghubungi nenek, tapi Dila tidak ada uang buat beli ponsel, nenek tidak usah transfer uang ke rekening Dila tersebut lagi, siapa tahu ATM itu sudah ditemukan oleh orang lain dan uang itu di gunakannya. Masalah uang kuliah Dila biar Dila bayar sendiri setelah ini, dan satu pinta Dila, jaga nenek baik-baik di sana, jangan sampai terjadi sesuatu pada nenek, nenek harus hati-hati dan cek terus perusahaan Dila dan nenek, nenek jangan khawatir dengan Dila, Dila baik-baik saja di sini, Dila akan kembali setelah Dila selesai kuliah." Setelah berucap demikian dila mematikan ponselnya secara sepihak dan tidak mengaktifkan ponselnya lagi.