Cinta Masa Sekolah

Cinta Masa Sekolah
bab 38 Karin sakit


__ADS_3

"Mas, jemput aku di bandara." Ucap Rani di ujung telepon ketika mereka telah sampai di bandara.


"Emangnya kalian sudah pulang ma, bukannya kalian akan berada di luar negeri selama satu Minggu?" tanya Adi dari seberang telepon.


"Sudah mas ini kami sudah berada di bandara, nanti aku ceritakan semuanya."


"Baiklah saya akan berangkat ke sana sekarang." Adi mematikan ponselnya lalu mengambil kunci mobil kemudian berangkat menjemput Rani.


"Rani....ibu dan pak Sugeng pulang duluan ya." ucap Tini.


"Oh... baik Bu, apa ibu gak mampir lagi ke rumah kami Bu?"


"Maaf Rani, sepertinya ibu tidak sempat untuk ke sana lagi, kami permisi ya..."


"Baik Bu." Tini dan pak Sugeng langsung beranjak pulang ke kotanya.


Di perjalanan Tini masih mikirin Dila, betapa dia sangat merindukan Dila, namun ada sedikit lega mendengar penjelasan dosen di kampus Dila, kalau Dila kuliah dengan baik.


"Bagaimana kondisi kampus Dila Bu?" pak Sugeng memecahkan keheningan di dalam mobil.


"Bagu dan saya bertemu dengan dosen-dosen di sana menanyakan bagaimana prestasi Dila selama ini lalu saya juga membayar uang kuliahnya Dila." ujar Tini


"Oh ada yang masuk dosennya Bu, pada hal ini pas masa liburan."


"Ada pak penerimaan mahasiswa baru."


"Lalu bagaimana prestasi Dila selama ini Bu?"


"Sangat bagus pak. Menurut bapak Dila itu liburan ke mana ya pak, pada hal saya kirimkan uang gak terlalu banyak, mungkin gak cukup buat Dila liburan."


"Gak taulah Bu, mungkin Dila ke rumah temannya, kan sepi di kontrakan sendiri."


"Iya juga ya pak."


Sekarang Adi sudah tiba di bandara, Rani sudah menunggunya.

__ADS_1


"Kok sendirian ma, mana ibu dan pak Sugeng?" tanya Adi ketika dia sampai di bandara dan melihat Rani sibuk dengan ponselnya sendirian. Sebenarnya Rani lagi berusaha menghubungi Karin, tapi nomor Karin dari tadi tidak aktif - aktif.


"Iya mas, ibu dan pak Sugeng sudah pulang duluan." jawab Rani sembari melangkahkan kakinya ke arah mobil. Adi membukakan pintu mobilnya untuk Rani, setelah itu Adi masuk ke mobil dan mereka berangkat dari bandara.


"Ma,,, kenapa ya Karin liburan kayak gini gak pulang-pulang, di telepon gak pernah dia mau ngangkat telepon dari saya."


"Oh Karin sudah telepon aku sebelum kami berangkat bahwa dia pulangnya nunggu aku pulang dari luar negeri mas."


"Oh gitu, apa kita langsung jemput Karin aja ya ma, mas rindu banget sama Karin."


"Mas,,, sebesar itu rasa sayangmu pada Karin, entah bagaimana jika kamu tahu kalau Karin bukan anak kandungmu, apa kamu akan tetap menyayangi Karin seperti ini?" batin Rani.


"Ma... kenapa diam? mau gak jemput Karin sekarang?" tanya Adi yang sedang fokus nyetir.


"Bolehlah mas."


Adi langsung mengarahkan mobilnya ke kota. Sebenarnya Rani masih penasaran dengan Dila, kenapa masih bisa ngontrak di rumah tersebut.


"Ma, aku heran sama mama sama Karin juga, pulang dari luar negeri kok banyak diam dan melamunnya, bukannya senang habis jalan-jalan."


"Hemmmm...."


Kini mereka hanya terdiam, sesekali Rani memejamkan matanya, Adi fokus nyetir mobil.


Sesampai di kost Karin, betapa terkejutnya mereka melihat kondisi Karin. Karin sedang terbaring sakit, badannya menggigil.


"Nak.... kamu kenapa sayang?" tanya Adi yang langsung masuk kamar Karin, Rani lagi ngantar makanan ke dapur. pintu rumah tidak di kunci Karin.


"Ma .. Karin ma.. Karin..." teriak Adi.


"Karin kenapa mas?" tanya Rani sembari berlari kecil ke kamar Karin.


"Ini badannya panas sekali ma, kita langsung bawa Karin ke rumah sakit ma."


"Baik mas." Adi langsung menggendong Karin menuju mobil.

__ADS_1


Di perjalanan Karin hanya tidur tidak membuka matanya, Adi dan Rani sangat cemas.


****


"Apa penyakit anak saya dok?" tanya Adi pada dokter yang telah selesai memeriksa kondisi Karin.


"Anak bapak tidak kenapa-kenapa, ini hanya pengaruh alkohol yang di konsumsinya terlalu banyak, jika alkohol sudah habis di tubuhnya anak bapak akan membaik kembali." ujar dokter.


"Apa.... alkohol....?" Adi dan Rani serentak bertanya dengan mata yang membulat dan rasa yang sangat tidak percaya.


"Iya pak, untuk selanjutnya harap diperhatikan anak bapak jangan sampai mengkonsumsi alkohol lagi, karena kondisinya tidak mampu beradaptasi dengan minuman tersebut. Ini resep obat yang harus kalian tebus ke apotek, Karin tidak perlu nginap ya, cukup minum obat saja."


"Baik dok."


"Saya permisi dulu."


setelah dokter berlalu Adi langsung bergegas ke apotek untuk ngambil obat Karin, sementara Rani dengan emosi pergi menemui Karin yang masih menggigil.


"Karin.... Karin.... bangun.... " Rani menggoyangkan badan Karin. Karin membuka matanya pelan.


"Iya Bu..."


"Kamu kenapa bisa begini hah...?" mata Rani melotot.


"Mana Karin tau Bu, Karin kan sakit." jawab Karin lemes.


"Mana tau... mana tau... alkohol baru kamu tau."


"Mak-- maksud ibu apa?" Karin sangat terkejut mendengar ibunya nyebut alkohol.


"Jadi selama ini kamu jarang pulang gara-gara di sini lebih mudah mendapatkan alkohol, kamu bisa senang-senang minum alkohol, sampai di larikan ke rumah sakit seperti ini?"


"Maksud ibu apa Bu, Karin gak ngerti ibu bicara apa?"


"Oh sekarang kamu jadi bodoh karena alkohol telah menyerang otakmu ya, kamu tau kenapa kamu bisa di bawa ke rumah sakit ini, karena di dalam tubuh kamu sudah penuh alkohol, tubuh kamu sudah tidak dapat nampungnya lagi, kenapa Karin... kenapa kamu lakukan ini, bisa-bisa ibu gila melihat tingkahmu yang semakin ngelunjak kayak gini." ucap Karin sambil sesekali tangannya menyentuh tubuh Karin.

__ADS_1


"Bu, aku begini karena ibu, aku yang bisa gila kalau pikiran aku seperti ini terus Bu. Ibu tau tidak seberapa hancur hati Karin saat mengetahui kalau Karin anak haram, ibu tau tidak seberapa dalam Karin menyayangi ayah, bahkan Karin jauh lebih menyayangi ayah di bandingkan dengan ibu, tapi apa Bu? orang yang sangat Karin sayang ternyata bukan ayah kandung Karin, orang yang selama ini selalu memanjakan Karin, yang selalu memenuhi kebutuhan Karin ternyata tak setetes pun darahnya mengalir di dalam diri Karin. Karin tidak dapat membayangkan betapa hancurnya hati ayah kalau dia tau Karin ini bukan anak kandungnya. Karin takut Bu, Karin takut ayah akan membenci Karin, Karin takut kehilangan kasih sayang ayah, andai Karin di suruh milih antara ayah dan ibu, Karin lebih memilih ayah Bu, tapi hal itu tidak mungkin Karin lakukan karena Karin tau jika ayah mengetahui semuanya, ayah pasti akan membenci Karin dan ayah akan meninggalkan Karin dan ibu." Karin terisak


__ADS_2