Cinta Masa Sekolah

Cinta Masa Sekolah
bab 34 tertabrak


__ADS_3

Kini setiap hari Dila harus bolak balik dari kontrakannya ke rumah Melly, sering merasa lelah namun ia tidak peduli. Sepulang kuliah Dila gunakan untuk mendesain dan mengerjakan tugas kuliahnya.


Dila mulai tenang menjalani hari-harinya, meskipun di dalam hatinya ia sangat merindukan neneknya.


Beberapa bulan kemudian Dila tidak lagi jalan kaki, hasil lemburnya disisihkan untuk membeli sepeda, kini Dila pergi menggunakan sepedanya. Dila kadang - kadang tidak membeli makanan, kadang Melly memberikan makanan bahkan pakaian buat Dila.


Di persimpangan jalan pagi itu saat Dila sedang buru-buru mau ngejar kuliah tiba-tiba ban sepedanya kempes, Dila turun dari sepedanya tidak melihat kiri kanan.


Ada sebuah mobil mewah sedang melaju lalu menyerempet Dila, untung Dila tidak kenapa-kenapa, hanya sedikit tergores di tangannya.


"Auuu... " rintih Dila.


"Hei... gajah... kalau mau berhenti jangan di tengah jalan." teriak pemilik mobil itu.


"Maaf saya tidak senga___" Dila ketika dia melihat orang yang di dalam mobil itu adalah Vikri.


"Itu Vikri bukan ya, tapi kalau itu Vikri ngapain dia di sini. Apa aku coba sapa dia ya?" Dila malah asyik melamun.


"Woiii... gajah kenapa kau bengong, minggir kami mau lewat." teriak Vikri.


"Vikri.... apa kamu Vikri?" Dila langsung bertanya.


"Heh.... kamu siapa sok kenal aja, udah minggir dari situ."


"Ini aku Dila."


"Ha... ha ... ha... Dila, kamu itu gak cocok namanya Dila, cocoknya namamu itu gajah. Sekarang minggir gak atau kamu mau aku tabrak pake mobil ini biar badanmu bisa sedikit mengecil?"


Tanpa menjawab lagi Dila segera menyeret sepedanya ke tepi jalan. Mobil Vikri kembali melaju, Dila menatap kepergian mobil itu hingga tak terlihat lagi.


"Apa dia benar -benar Vikri ya, kalau dia Vikri kenapa dia segalak itu, Vikri orangnya kan lemah lembut. Hahh... mungkin aku salah orang, tapi itu muka dan suaranya seperti Vikri semua. Apa dia kuliah di negara ini juga?" Sambil berbicara dalam hati Dila melangkahkan kakinya tak Terasa kini Dila sudah sampai di kontrakannya, hari ini Dila agak telat pergi ke kampus. setelah menyimpan sepedanya Dila membersihkan badannya dan bergegas ke kampus. Hari ini Dila ke kampus jalan kaki.

__ADS_1


"Hai Dil, kenapa kamu telat?" Laura bertanya sambil menepuk pundak Dila yang sedang melamun.


"Ih... Laura ngagetin aja."


"Ngagetin gimana, kamunya aja yang asyik banget melamunnya. terus kamu kenapa telat, gak biasanya kamu telat kayak gini, dulu aja yang jalan kaki gak pernah telat."


"Nih... lihat!" Dila menunjukkan tangannya yang tergores.


" Dil... itu tanganmu kenapa, kamu nabrak pohon ya... ha... ha.. ha..."


"Ya elah Ra, orang sakit itu harus kita di obati bukan di ledek kayak gini?"


"Sorry... sorry.... say.... habis tangannya kenapa lecet gitu?"


"Tadi pas aku mau pulang ke kontrakan ban sepedaku kempes dan___" belum selesai Dila bercerita sudah di potong aja oleh Laura.


"Dan kamu cium aspal gitu, makanya badanmu itu di kurusin dikit dong Dil, mana mampu sepeda menampung badan seberat itu?" ucapan Laura langsung di jawab dengan jeweran Dila di telinga Laura.


"Hoiii... kalau aku yang ceritakan dari mana aku tahu jalan ceritanya?"


"Nah... makanya dengar dulu ceritanya!"


"Oke... oke... silahkan tuan putri!"


"Tadi pas di persimpangan ban sepeda kempes, aku turun gak lihat kanan kiri depan belakang, lalu ada mobil yang sedang melaju lewat terus aku kena serempetnya, dan inilah hasilnya." ucap Dila sembari menunjuk ke tangannya.


"Untung masih ada hasilnya." Laura kembali meledek.


"Maksud kamu apa Ra?"


"Iyakan kamu bilang itu hasilnya." jawab Laura sambil menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


"Kamu ini benar -benar deh.... eh ya Ra, tadi yang di dalam mobil itu kayaknya Vikri deh?"


"Vikri, siapa itu Vikri?


"Vikri itu dulunya teman aku semasa SMP, setelah tamat SMP kami gak pernah bertemu lagi, dia teman dekat aku bahkan bisa di katakan kalau dia adalah Cinta Masa Sekolah


ku."


"Hahhh... seorang Dila yang kerjaannya belajar, mendesain, mengerjakan pekerjaan rumah kok bisa mengenal cinta di masa SMPnya? No... no... no... " mata Laura membulat sempurna mendengar cerita Dila.


"Iya Ra, dulu kami saling suka, tapi.... udahlah mungkin aku salah orang tadinya, kalau memang itu Vikri gak mungkin juga dia gak kenal aku lagi dan gak mungkin juga dia ada di negara ini."


"Haloooo.... eh Dil, kamu bayangin deh, nenekmu aja mungkin sudah tidak kenal kamu lagi yang baru berpisah sekian bulan dengan kondisi badan kamu yang seperti ini, apa lagi Vikri yang sudah sekian tahun gak jumpa denganmu dan kalau masalah dia di negara ini, kan bisa aja dia kerja atau kuliah."


"Iya juga ya Ra. Gimana ya Ra caranya agar badanku bisa kembali seperti dulu lagi? apa pengaruh suntik itu bisa hilang ya? Kalau badanku kayak gini terus gimana aku bisa pulang ke negaraku, pasti nenek gak akan percaya kalau aku ini Dila seorang cucu kesayangannya."


"Olahragalah Dil, ini kamu hanya sibuk kuliah cari uang dan mendesain, sesekali kek mikirin badanmu, biar ada cowok yang klepek - klepek sama kamu."


"Niatnya sih mau Ra, tapi kalau aku gak kerja gimana uang kuliahku?"


"Iya Dil, tapi aku salut lho Dil sama kamu, niat kamu untuk kuliah benar-benar luar biasa, kalau aku yang di posisi kamu mungkin sudah lama aku berhenti, aku benar -benar gak sanggup kalau kayak kamu Dil, kamu wanita yang hebat." puji Laura.


"Itu semua karena dukunganmu Ra, aku sangat berhutang Budi padamu, aku sangat bersyukur bisa bekerja di rumah Tante Melly dia sangat baik padaku."


"Itu sudah kewajiban kita untuk saling tolong menolong, aku juga senang berteman dengan orang sebaik dan serajin kamu Dil.


"Makasih Ra. ucap Dila sembari memeluk tubuh Laura.


"Ra, kalau tidak bertemu denganmu mungkin cita-cita Tante Rani sudah tercapai sekarang yang ingin membuat aku menjadi gelandangan, mungkin di sana Tante Rani sedang menikmati harta orang tuaku, Seandainya dekat ingin rasanya sekali saja aku pergi kesana untuk melihat keadaan nenekku." batin Dila saat berada di pelukan Laura, tak Terasa air mata Dila pun menetes.


"Kamu nangis Dil?" tanya Laura seraya melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Ra, kenapa ya aku terlalu bodoh waktu itu, coba kalau aku simpan nomor telepon nenekku di laptop, mungkin sekarang aku bisa pinjam ponselmu buat telepon nenekku, padahal aku sangat rindu pada nenek, ingin sekali aku mengetahui keadaannya."


__ADS_2